Kisah Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib merupakan sahabat senior yang memiliki banyak keutamaan. Beliau adalah orang pertama yang masuk islam dari kalangan anak.

Beliau juga merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan merupakan sahabat termulia setelah Abu Bakar, Umar dan Utsman, dan menjadi khalifah keempat setelah utsman.

Selain merupakan sepupu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib juga merupakan menantu Rasulullah karena ia menikah dengan Fatimah Putri Rasulullah yang dijuluki Sayyidah Nisaul ‘Alamin (pemimpin para wanita di alam semesta).

Dari pernikahannya dengan Fatimah Az-Zahra, lahirlah Hasan dan Husain yang merupakan cucu kesayangan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Ali bin Abi Thaib adalah pria yang cerdas, prajurit yang sangat kuat, berwajah rupawan dan sangat mirip dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Beliau ikut serta dalam perang Badar dan seluruh peperangan yang terjadi pada Rasulullah, kecuali perang Tabuk. Sebab, pada saat itu Nabi menjadikannya sebagai wakil beliau di Madinah.

Dengan berbagai keutamaannya, maka selayaknya setiap muslim membaca kisah perjalanan beliau radhiyallahu anhu.

Nama dan Nasab Ali bin Abi Thalib

Kata mutiara Ali bin Abi Thalib

Nama lengkap beliau adalah Ali bin Abi Thalib. Nama asli Abu Thalib (Ayah Ali bin Abi Thalib) adalah Abdul Manaf bin Abdul Muththalib, sedangkan nama asli Abdul Muththalib (Kakek Ali bin abi Thalib) adalah Syaibah bin Hasyim.

Beliau adalah anak paman Nabi shallallahu alihi wasallam dan tinggal bersama beliau sejak kecil, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam diasuh oleh Abu Thalib (ayah Ali) sepeningga Abdul Muththalib.

Ibunda Ali bin Abi Thalib bernama Fathimah binti Asad bin Hisyam, wanita pertama Bani Hasyim yang melahirkan seorang anak bani Hasyim.

Fathimah terasuk orang yang pertama-tama masuk islam dari kalangan wanita dan ikut berhijrah ke Madinah bersama kaum Muhajirin yang lain.

Ali bin Abi Thalib selalu ikut bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam sejak kecil, sehingga pemahaman beliau terhadap hukum-hukum islam sangat dalam.

‘Ali adalah khalifah pertama dari kalangan bani Hasyim, juga ayah dari dua cucu kesayangan Nabi shallallahu alihi wasallam.

Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Zaid bin Arqam, Salman Al-Farisi, dan mayoritas sahabat radhiyallahu anhum menyatakan bahwa Ali termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam.

Sebagian mereka pun meriwayatkan adanya ijma’ tentang hal itu

Keutamaan Ali bin Abi Thalib

1. Keberanian dalam Menyatakan Kebenaran dan Mencegah Kemungkaran

Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Abu Maryam, dari Ali bin Thalib radhiyallahu anhu, ia bercerita:

“Suatu ketika aku pergi bersama Nabi shallallahu alihi wasallam, hingga kami sampai di Ka’bah.

Kemudia, beliau berkata kepadaku: ‘Duduklah’. Beliau lantas naik ke atas dua pundakku. Lalu, aku bersiap-siap untuk mengangkat tubuh beliau.

Namun, karena melihatku tidak kuat, beliau turun dari pundakku lalu duduk dan berkata: ‘Naiklah ke atas pundakku’. Aku pun naik ke atas pundak beliau, lalu beliau mengangkat tubuhku.

Saat itulah aku membayangkan kemungkinan menggapai langit jika aku menghendakinya, hingga aku berhasil naik ke puncak Ka’bah.

Di atapnya aku menemukan berhala berwarna yang terbuat dari shufr atau tembaga. Aku memutar-mutarnya dari kanan, kiri, depan, dan belakang.

Setelah aku berhenti memutar-mutarnya, Rasulullah bersru: ‘Buanglah berhala itu’. Maka aku segera membuangnya hingga berhala itu pecah seperti kaca, lalu aku turun.

Kami segera pergi dari situ dan bersembunyi di rumah-rumah penduduk, khawatir ada orang yang melihat perbuatan kami.”

Salah satu cerita lain yang sangat populer yang menunjukkan keberanian Ali bin Abi Thalib ialah ketika beliau menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya ketika Nabi hendak hijrah bersama Abu Bakar ke Madinah.

2. Kezuhudan, Kewara’an dan Ketawadhu’an

Dari Abu Shalih As-Saman radhiyallahu anhu, ia bercerita

“Muawiyah bin Abu Sufyan berseru kepada Dhirar bin Dhamrah, ‘Terangkanlah sifat Ali bin Abi Thalib!’

Dhirar menanggapi, ‘Apakah dengan begitu engkau akan membebaskanku?’

Muawiyah kembali berseru, ‘Terangkan saja sifatnya!’

Dhirar tetap bertanya, ‘Apakah dengan begitu engkau akan membebaskanku?’

Muawiyah pun menjawab, ‘Aku tidak akan membebaskanmu’

Dhamrah lalu menjelaskan, ‘Baiklah kalau begitu. Ali, demi Allah, Ia adalah seorang yang jangkauan pemikirannya jauh ke depan dan sangat matang.

Ali berbicara dengan tutur kata yang sangat jelas (fasih).

Ali memutuskan hukum di antara manusia dengan adil, sebab ilmu seolah memancar dari sekelilingnya.

Ali mengucapkan sesuatu secara bijaksana dari segala sisinya.

Ali merasa tidak nyaman dengan dunia dan perhiasannya. Sebaliknya, dia merasa terhibur oleh malam dan kegelapannya.

Demi Allah, Ali sering sekali menangis dan merenung.

Ali suka membolak-balikkan telapak tangannya dan berbicara sendiri.

Ali lebih suka memakai pakaian yang kasar dan makanan yang keras.

Ali, demi Allah, sama seperti kami; dia menjawab ketika kami bertanya kepadanya, dia menyambut ketika kami menemuinya, dan dia datang ke tempat undangan ketika kami mengundangnya.

Kami, demi Allah, bersama kedekatannya kepada kami dan kedekatan dirinya dengan kami, tidak pernah takut untuk berbicara kepadanya.

Namun, kami juga tidak mendahuluinya dalam berbicara, karena mengingat kemuliaannya.

Jika tersenyum, gigi-gigi Ali seperti mutiara yang tertata rapi.

Ali memuliakan ulama dan mencintai kaum fakir miskin.

Di hadapan Ali, orang terkuat pun tidak akan sanggup bertahan pada kebathilannya, dan orang terlemah juga tidak akan berputus asa dalam hidupnya.

Aku bersaksi, demi Allah, akan penglihatanku terhadap sebagian perbuatan Ali tatkala malam membentangkan tirainya dan bintang-bintang telah menampakkan sinarnya.

Ketika itu, Ali terlihat di mihrabnya, memegang jenggotnya, merasa gelisah meskipun dalam keadaan sehat walafiat, dan menangis seperti tangisan orang yang sangat sedih, bahkan seakan-akan aku mendengarnya berseru lirih;

‘Wahai dunia, wahai dunia, apakah kamu menawarkan sesuatu kepadaku, ataukah untukku kamu sengaja berhias?

Tidak mungkin, tidak mungkin! Rayulah orang selainku, karena aku telah menceraikanmu dengan talak tiga, sehingga tertutup kesempatan bagiku untuk rujuk kepadamu.

Usiamu begitu pendek dan kehidupanmu amat hina, tetapi bahayamu sangat besar.

Aduhai, betapa sedikitnya bekalku, betapa jauhnya perjalananku, dan betapa asingnya jalan hidupku ini.’

Setelah mendengar jawaban Dhirar, Muawiyah menagis hingga air matanya mengalir di jenggotnya.

Lantas dia berkata, ‘Semoga Allah merahmati Abul hasan (Ali bin Abi Thalib). Demi Allah, memang demikianlah sifatnya.

Lalu bagaimanakah rasa sedihmu terhadap kematiannya, hai Dhirar?’

Dhirar menjawab, “Rasa sedihku seperti rasa sedihnya seorang ibu yang menyaksikan anaknya dibunuh di pangkuannya. Sungguh, air mata ini tidak bisa mendamaikan hati dan kesedihannya pun tidak kunjung berhenti.”

Amr bin Qais radhiyallahu angu bercerita, “Pada suatu hari, Ali bin Abi Thalib terlihat sedang memakai sarung yang ada tambalannya. Kemudian, orang-orang mencela pakaiannya. Mendengar hal itu, Ali berkata, ‘Orang mukmin akan mengikutiku, sebab hati orang yang memakainya menjadi lebih khusyu’.”

Abu Nawwar radhiyallahu anhu berkata, “Aku melihat Ali bin Abu Thalib membeli dua helai pakaian kasar, dan salah satunya dia pilihkan untk Qanbar (yakni salah satu pelayan Ali).”

Abu Mutharrif (Panggilan Zirr bin Hubaisy) radhiyallahu anhu berkata, “Aku melihat Ali bin Abi Thalib memakai sehelai kain sebagai pakaian atas dan pakaian bawahnya sambil membawa alat pemukul, seolah-olah ia seorang badui yang tengah berkeliling negeri, hingga kulihat ia berhenti di pasar tempat penjualan pakaian kasar.

Kemudian Ali berkata seorang penjual yang umurnya sudah tua, ‘Wahai orang tua, juallah dengan ridha kepadaku sehelai pakaian seharga tiga dirham.’

Ketika ia mengetahui orang tua itu mengenali dirinya, Ali pun tidak jadi membeli pakaian darinya.

Lalu Ali mendatangi seorang anak muda, dan ia membeli dari anak muda (yang tidak mengenalnya) itu sehelai pakaian seharga tiga dirham.

Tatkala ayahya datang, anak muda itu memberitahukan tentang jual beli tersebut. Spontan saja ayah anak muda itu mengambil uang satu dirham, lantas dia mengembalikannya kepada Ali seraya berkata, ‘Ini satu dirham (milik engkau) wahai Amirul Mukminin.’

Maka Ali bertanya, ‘Apa maksudnya satu dirham ini?’

Ayah anak muda itu menjawab, ‘Harga pakaian yang engkau beli tadi hanya dua dirham.’

Namun, Ali menanggapi, ‘Anak muda tadi telah menjual dengan keridhaanku dan di telah menerima harga itu dengan keridhaannya.”

Amanah Ali bin Abi Thalib dalam Menjaga Harta Kaum Muslimin

Mujammi’ radhiyallahu anhu berkata, “Ali bin Abi Thalib menyapu di Baitul Mal (yakni membersihkannya), kemudian di mengerjakan sholat di situ. Yang diharapkannya adalah tempat itu kelak menjadi saksi bahwa ia tidak pernah menahan harta kaum muslimin.”

Ketegasan Ali Terhadap orang yang beragama secara berlebihan dan berlepas diri dari Ahli bid’ah

Kharijah bin Mush’ab radhiyallahu anhu menuturkan dari salam bin Abul Qasim dan Utsman bin Abu Utsman radhiyallallahu anhuma, “Orang-orang mendatangi Ali bin Abi Thalib lalu berseru, ‘Engkau adalah Dia (Allah)! Ali pun bertanya, ‘Siap aku?’

Mereka kembali menjawab, ‘Engkau adalah Dia’ Ali bertanya lagi, ‘Aku ini siapa?’

Mereka tetap menyerukan, ‘Engkau adalah ilah kami.’

Mendengar ucapan kufur tersebut, Ali segera mengusir mereka dengan berseru, ‘Pulangah kalian!’ Akan tetapi mereka menolak beranjak dari situ.

Maka, Ali menebas tegkuk atau leher mereka. Selanjutnya, Ali membariskan jasad mereka di tanah, kemudia dia meminta kepada Qanhar (pelayannya), ‘Hai Qanhar, ambilkan aku seikat kayu!’ Ali lantas membakar orang-orang itu sambil berkata:

‘Saat aku melihat sesuatu yang mungkar
Aku pun menyalakan apiku, dan memanggil Qanbar’

Jurmuz radhiyallahu anhu bercerita, “Aku melihat Ali bin Abi Thalib keluar dari suatu gedung dengan memakai kain izar yang panjangnya hingga pertengahan betis dan kain rida yang singsingkan, sambil membawa alat pemukul.

Dengan alat pemukul itu, dia berjalan di pasar-pasar seraya memerintahkan orang-orang agar senantiasa bertakwa kepada Allah dan berlaku baik dalam melakukan transaksi jual beli.

Dalam pada itu, Ali berseru, ‘Sempurnakanlah takaran san timbangan, janganlah menggelembungkan (menggemukkan) daging (secara tidak alami).”

Para ahli sejarah menegaskan wafatnya Alin bin Abi Thalib radhiyallahu anhu karena dibunuh secara zalim olh Ibnu Muljam.

Pembunuhan itu terjadi pada hari Ahad, tepatnya sebelas malam sebelum bulan ramadhan berakhir.

Khalifah ketiga kaum muslimin ini wafat dalam usia 63 tahun.

Namun, tidak ada kesepakatan di kalangan mereka mengenai letak makam Ali, tidak pula tempat dia dimakamkan.

Kaum Syi’ah membuat sebuah kuburan besar di Kufah dan mengklaimnya sebagai kuburan Ali radhiyallahu anhu.

Mereka menyebutnya dengan nama Al-’Atabah Al-Muaqaddasah (tempat peristirahatn suci), dan menjadikannya tempat menunaikan haji.

Ja’far bin Muhammad rdhiyallahu anhu menuturkan dari ayahnya, ia bercerita:

“Al-Hasan mensholatkan jenazah ayahnya, Ali bin Abi Thalib. Kemudian jenazah Ali dikuburkan di Kufah, yaitu salah satu sisi istana kerajaan, dan kuburan itu disembunyikan oleh pihak kelurga (atas persetujuan para sahabat).”

Abu Bakar bin Ayyas radhiyallahu anhu menjelaskan bahwa penyembunyian kuburan Ali ini bertujuan agar kaum Khawarij membongkarnya.

Akan tetapi, Syuraikh dan ulama lainnya menyatakan, “Al-Hasan bin Ali memindahkan makam ayahnya ke Madinah.”

Muhammad bin Hubaib radhiyallahu anhu pun menegaskan, “Orang pertama yang makamnya dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain adalah Ali bin Abi Thalib.”

Shalih bin Ahmad An-Nawawi radhiyallahu anhu menukil dari Shalih bin Syu’aib yang mendengar kisah dari Al-Hasan bin Syu’aib Al-Farawi.

Disebutkan bahwa jenazah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu diikat di dalam sebuah kotak, lalu orang-orang menaburinya dengan kapur barus dalam jumlah yang cukup banyak (hingga menutupi seluruh tubuhnya).

Jenazah itu kemudian diletakkan dia atas unta untuk dibawa ke Madinah. Sesampainya di Thayyi’, orang-orang yang mengantar kotak berisi jenazah itu sengaja menyesatkan unta tersebut pada malam hari.

Tidak lama berselang, penduduk Thayyi’ pun memungut kotak itu karena menyangka terdapat sesuatu yang berharga di dalamnya. Ketika melihat isinya, mereka terkejut sekaligus ketakutan.

Mereka pun segera menguburkan jenazah Ali, lalu mereka menyembelih unta yang membawanya dan memakan dagingnya. (lihat siyar A’lamin Nubala’: II/636-637 dan Tarikh Bagdad: I/135)

Ijtihad antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah

Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhu, Gubernur Syam, menuntut qishas terhadap para pembunuh Khalifah Utsman bin Affan.

Bahkan, dia menolak melepaskan jabatannya sebagai gubernur sebelum Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu menghukum mereka (para pembunuh Utsman).

Terkait perselisihan ini, dinukekil bahwa ALi mengirimkan surat kepada Muawiyah untuk menjelaskan bahwa para pemberontak tengah memegang kendali politik.

Karena itulah, Ali meminta muawiyah agar datang ke Madinah dan membaitnya sehingga situasi genting saat itu bisa diredam, baru kemudian para pembunuh Utsman dihukum qishas.

Akan tetapi, Muawiyah menolak membait Ali rahiyallahu anhu.

Muawiyah menyampaikan ijtihadnya kepada Ali bin Abi Thalib bahwa dia tidak akan berbaiat sebelum ditetapkan seornag paglima yang ditugaskan khusus untuk menuntaskan masalah para pemberontak.

Boleh jadi juga, Muawiyah berpendapat bahwa kemaslahatan terbaik saat itu adalah tidak meninggalkan Syam.

Hal ini dikarenakan pasukan Romawi memang sedang menanti-nantikan kesempatan tersebut.

Uraian di atas menerangkan bahwa dua sahabat itu telah berijtihad dalam suatu persoalan sesuai dengan perhitungan dan pertimbangan masing-masing.

Kita tidak boleh berburuk sangka kepada salah satu dari keduanya, mengingat Rasulullah bersabda:

‘Barangsiapa berijtihad dan ijtihadnya benar, maka baginya du pahala. Dan barang siapa yang berijtihad dan ijtihadnya salah, maka baginya satu pahala.”

Sesungguhnya mereka, karena keikhlasannya dalam berijtihad, akan mendapatkan pahala atas ijtihad masing-masing, insya Allah, baik ijtihad mereka itu benar atau salah.

Meskipun demikian, pahala bagi orang yang ijtihadnya benar lebih banyak daripada pahala bagi orang yang ijtihadnya salah.

Sungguh, tidak ada seorang sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang bebas dari kesalahan, baik para sahabat, tabiin dan para ulama setelah mereka.

Tragedi Perang Jamal

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.