Aqidah Imam Asy-Syafii Tentang Asmaul Husna

Aqidah Imam Asy-Syafi’i tentang Asmaul Husna – Imam Asy-Syafi’i rahimahullah adalah salah seorang imam salaf yang tetap konsisten menempuh madzhab salaf dalam bab ini.

Bahkan Imam Asy-Syaf’i pernah mengadakan perdebatan dengan sejumlah tokoh yang berseberangan dengan madzhab ini, serta menegakkan hujjah atas mereka.

Malah diriwayatkan darinya, bahwa ia pernah memvonis kafir lawan debatnya dari kelompok yang berlawanan dengan manhaj salaf rahimahumullah.

Ini diantara bukti yang menjelaskan betapa gigihnya beliau memegang dan mempertahankan manhaj salaf, menetapkan sifat untuk Allah dan apa-apa yang ditetapkan-Nya di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa takyif dan tamtsil, juga tanpa tasybih, ta’wil dan ta’thil.

Aqidah Imam Asy-Syafi’i Tentang Asmaul Husna secara global

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang dua orang laki-laki yang berbeda dalam keyakinan.

Salah seorang dari mereka berkata, “Siapa yang tidak meyakini bahwa Allah Ta’ala di langit, maka ia dianggap sesat”. Sementara yang lain berkata, “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla tidak dibatasi oleh ruang dan tempat”.

Padahal kedua-duanya adalah pengikut Imam Asy-Syafi’i, maka jelaskan kepada kami mana yang harus kami ikuti dari Aqidah Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan mana yang betul diantaranya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun menjawab, “Alhamdulillah, keyakinan imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan keyakinan para salaf (sama) seperti Malik, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rahwaih, yaitu keyakinan yang dipegang oleh para masyaikh (Guru) yang patut diikuti jejaknya, seperti Fudhail bin Iyadh, Abu Sulaiman Ad-Darani, Sahl bin Abdullah At-Tusturi dan sebagainya, sebab tidak pernah terjadi di kalangan Imam dan semisal mereka pertikaian atau perbedaan pendapat di dalam pokok-pokok agama”.

Demikian pula dengan Abu Hanifah rahimahullah, keyakinan yang tetap darinya di dalam tauhid, takdir, dan lain-lain ialah sejalan dengan keyakinan mereka.

Sedangkan keyakinan mereka seperti itulah yang dipegang oleh generasi sahabat serta para generasi yang mengikutinya dengan sebenarnya, yaitu keyakinan yang dituturkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah.

Di awal khutbah Ar-Risalah, Imam Asy-Syafi’i berkata, “Segala puji bagi Allah sebagaimana Dia mensifati diri-Nya dan atas apa yang disifatkan untuk-Nya oleh makhluk-Nya.” Ar-Risalah (7-8)

Di sini beliau rahimahullah menjelaskan, bahwa Allah bersifat dengan sifat yang Dia tetapkan untuk Diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya.

Dari keterangan nash dan keterangan lainnya, kita mengetahui madzhab Imam Syafi’i rahimahullah dalam masalah ini dan kita mengetahui pula bersihnya madzhab Imam Syafi’i rahimahullah dari bid’ah serta kesesatan yang lebih diutamakan oleh para ahli kalam daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanadnya dari Sa’id bin Asad, ia berkata: “aku katakan kepada Syafi’i rahimahullah, ‘Apa yang engkau katakan tentang hadits ru’yah (penglihatan).

Ia menjawab, ‘Hai putera Asad, putuskanlah untukku selama aku hidup atau sesudah aku mati, bahwa setiap hadits shahih yang berasal dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka aku mengatakannya dan mengikutinya kendati belum pernah sampai kepadaku.” Al-Manaqih (131), Al-Manaqib (1/421-423)

Ibnu Katsir berkata, “Diriwayatkan dari Ar-Rabi’ dan juga tidak Cuma seorang dari kalangan sahabat terkemuka, ketarangan yang menunjukkan bahwa beliau menyikapi ayat-ayat sifat dan hadits-hadits tentangnya sebagaimana datangnya tanpa melakukan takyif, tasybih, ta’til dan tahrif sesuai dengan metode kalangan salaf.” Al-Bidayah wa An-Nihayah (10/265)

Imam Muhammad bin Syihab Az-Zuhri serta serta Imam Mak-hul pernah ditanya tentang penafsiran dari hadits-hadits yang memuat tentang sifat-sifat, mereka mengatakan, serta sebagaimana datang.

Dan diriwayatkan jawaban yang sama dari Imam Malik, Al-Laits serta Ats-Tsauri, mereka semua mengatakan tentang hadits-hadits sifat, biarkan sebagaimana datangnya.

Dari paparan di atas, jelaslah bagi kita tentang madzhab Imam Syafi’i rahimahullah dalam masalah ini, yang dapat disimpulkan dalam beberapa poin berikut:

1. Ia menetapkan bagi Allah seluruh nama dan sifat yang telah diterangkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih dengan penetapan tanpa tasybih dan penyucian tanpa ta’til sejalan dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Asy-Syura: 11.

2. Ia menyucikan Allah Ta’ala dari keserupaan dengan makhlukNya yang disertai dengan penegasan hakekat sifat-sifat ini.

3. Bersikap menahan diri dari tindakan terlalu mendalami objek yang tidak ada peluang bagi akal untuk menalar objek tersebut disertai pula dengan tindakan memupus ambisi untuk memahami kaifiyah (apa dan bagaimana) sifat-sifat ini.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanadnya dari Abu Ishaq bin Muhammad, ia berkata, “Aku mendengar Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan ‘Sesungguhnya akal itu mempunyai keterbatasan di mana jangkauannya berakhir pada batasnya, sebagaimana pandangan mata mempunyai batas di mana jangkauannya berakhir padanya.”

Baca Juga:
• Penjelasan 99 Asmaul Husna

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.