Kiat Menyusun Materi Ceramah

Materi ini cocok bagi Anda yang ingin menyusun materi ceramah yang menarik dan berbobot.

Pemahaman terhadap model

Materi da’wah secara umum terbagi menjadi 2 model:

A. Materi da’wah yang sifatnya tematik, yaitu membahas satu topik tertentu yang dikuatkan dengan dalil-dalil naqli dan aqli

Contoh: membahas tentang iman, akhlaq, ilmu, syukur.

Panduan untuk menyusun tema tematik kita harus menjawab 3 pertanyaan yaitu apa, mengapa dan bagaimana.

B. Materi da’wah yang sifatnya tafsir ialah menafsirkan ayat, menafsirkan hadist, manafsirkan kisah, manafsirkan kata-kata mutiara/syair, menafsirkan kejadian atau fenomena kehidupan.

Hal yang perlu diperhatikan yaitu:

• Menafsirkan asbabul nuzul, asbabul wurud, asbabus sirah,

• Suasana/konteks(sudut pandanag dan suasana)

• Aplikasi/implementasi atau pengamalan.

Cara mengambil pelajaran dari buku/referensi

1. Seorang da’i dituntut untuk rajin membaca.

2. Menggaris bawahi pelajaran-pelajaran penting dari bacaan.

3. Memasukkan hasil bacaan pada pola materi da’wah yang kita inginkan.

Misalnya: kita mau membahas tentang sabar, maka kita mengambil poin-poin yang penting, seperti definisi yang kita peroleh dari sebuah buku/referensi.

4. Membandingkan antara buku yang satu dengan buku yang lain.

3. Kiat menulis materi da’wah, yaitu:

a. Menentukan pola materi da’wah

b. Menulis garis-garis besar materi da’wah sesuai dengan pola. Misalnya: saya mau menulis tentang ikhlas, maka tulislah:definisi dll.

c. Menguatkan setiap pernyataan dengan ayat atau hadist agar supaya umat menjadi yakin karena kita mendidik mereka untuk mengenal aqur’an dan hadist.

d. Menulis kesimpulan dari materi dan himbauan yang akan disampaikan agar materi jadi lebih berkesan.

Pertanyaan

1. Bagaimana cara membedakan antara hadist yang sahih dengan hadist palsu/daif?

Jawaban:

a. Untuk hadist ada yang disepakati oleh ulama bahwa hadist yangdiriwayatkan oleh Bukhari/Muslim adalah sahih atau biasa disebut Muttafakun alaih.

b. Perhatikan hadist-hadist sahih yang ditulis oleh ulama Muhammad Nashiruddin al albany.

c. Ada kitab-kitab yang menjelaskan antara hadist yang sahih dengan hadist yang daif.

Misalnya kitab Riyadus shalihin karangan Ibnu hajar al astqalany, Bhulugul maram karangan Imam An Nawawiy.

2. Bagaimana dengan hadist qudsi?

Jawaban:

Hadist qudsi adalah hadist yang dilafazkan oleh Nabi dan maknanya dari Allah SWT. Ada yang sahih ada pula yang daif/lemah.

3. Apa kiat yang harus dilakukan untuk menghindari materi yang telah dibawakan oleh orang lain.

Jawaban:

a. Sebenarnya bukan materi yang baru yang kita butuhkan karena yang paling penting adalah bagaimana kita ikhlas dalam berceramah.

b. Diperlukan adanya amalan ibadah sembunyi-sembunyi yang kita lakukan.

c. Bagaimana kita mendapatkan dan mengelola ilham yang datang tiba-tiba atau melalui latihan yang biasanya jauh lebih menyentuh.

d. Membawakan do’a, dzikir, data-data yang aktual.

4. Bila ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab dalam masyarakat, apa solusinya?

Jawaban: Bertanya kepada ulama yang kita percaya.

5. Bagaimana shalat Nabi sebelum ada perintah shalat 5 waktu?

Jawaban: Nabi sholat malam/lail. Pada mulanya 3 waktu.

6. Bagaiamana menghadapi orang yang merasa jauh lebih pintar dari kita?

Jawaban: Sabar, usahakan kita mengangkat dan memujinya dan hindari untuk mencela/mempersalahkan.

7. Apa dan bagaimana itu Tasawuf?

Jawaban: Bahwa ada akar sejarahnya dari nabi walaupun pada tataran Tarekat terputus dari nabi.

Sejarahnya:

Ada sahabat Nabi bernama Abu Darda yang cenderung menyendiri. Akan tetapi tasawuf sebagai ilmu,organisasi dll sayang sekali terputus dari akarnya.

Tasawuf juga ada hubungannya dengan filsafat namun keduanya adalah berbeda.

Ada 5 metodologi yang tidak bisa ketemu dalam kajian keislaman, yaitu: tasawuf, filsafat, budaya, tradisi, dan radikalisme.

Tehnik berdiskusi

1. sebaiknya kita tahu jalan pikiran dari teman diskusi kita dan darimana ia mengambil rujukan/Mazhab.

Kesimpulan:

Tidak ada alasan untuk kita tidak berda’wah!

Note: Bila Anda memiliki usulan yang bagus mengenai pembahasan ini, agar ditulis di komentar

Oleh: Ustadz Mudzakkir M. Arif, Lc, MA

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.