Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Ceramah tentang Keutamaan Bulan Dzulhijjah – Sahabat iman yang berbahagia, sebanarnya kita sedang dalam suatu perjalanan menuju tempat tinggal yang sesungguhnya di alamt akhirat nanti.

Telah banyak orang yang dulunya bersama kita atau bahkan dahulu tinggal satu rumah dengan kita, telah melewati dan meninggalkan dunia ini.

Mereka meninggalkan tempat amal di dunia ini menuju tempat perhitungan dan pembalasan amal.

Akan datang pula saatnya kita menyusul mereka mereka. Maka, marilah kita memanfaatkan dunia ini sebagai tempat mencari bekal untuk kehidupan akhirat kita.

Sungguh seseorang akan menyesal ketika pada hari perhitungan amal nanti dia datang dalam keadaan tidak membawa amal sholeh.

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Dalam perjalanan hidup di dunia ini, kita akan menjumpai hari-hari yang Allah berikan keutamaan di dalamnya.

Keutamaan itu berupa dilipatgandakan balasan amal dengan pahala yang berlipat, tidak seperti hari-hari biasanya.

Di antara hari-hari tersebut adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam sabda Rasulullah:

مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلَا الجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidaklah ada hari yang amal shaleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari tersebut (yaitu sepuluh hari pertama Bulan Dzulhijjah). Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah tidak lebih utama?” Rasulullah bersabda, “Tidaklah jihad lebih utama (dari beramal di hari-hari tersebut), kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan keduanya (karena mati syahid)”. (HR. Al-Bukhori)

Kaum Muslimin yang berbahagia

Pada sepulh hari pertama ini, kita juga disyari’atkan untuk banyak berdzikir kepada Allah, baik itu berupa ucapan takbir, tahmid, maupun tahlil.

Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ

“dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan” (Al-Hajj: 28)

Diterangkan oleh pada Ulama bahwa hari-hari yang ditentukan pada ayat tersebut adalah sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah.

Maka hadits dan ayat tadi menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut dan betapa besarnya rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Karena Allah masih memberikan kesempatan bagi orang yang belum mampu menjalankan iabdah haji untuk mendapatkan keutamaan yang besar pula, yaitu beramal shalih pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Sehingga sudah semestinya kaum Muslimin memanfaatkan sepuluh hari pertama ini dengan berbagai amalan ibadah, seperti doa, dzikir, sedekah dan yang lainnya.

Termasuk amal ibadah yang disyari’atkan untuk dikerjakan pada hari-hari tersebut – kecuali hari kesepuluh- adalah puasa.

Apalagi ketika menjumpai hari Arafah, yaitu hari kesembilan di bulan Dzulhijjah, sangat ditekankan bagi kaum Muslimin untuk berpuasa yang dikenal dengan istilah Puasa Arafah, kecuali bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah.

Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ketika ditanya tentang puasa Arafah, beliau bersabda:

يُكَفَِرُ السَنَةَ المَاضِيَةَ وَالبَاقِيَةَ

“(Puasa Arafah) menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan akan datang” (HR. Muslim)

Nabi Shallallahu Alaihi wa salllam menyebutkan bahwa hari itu adalah hari pengampunan dosa-dosa dan hari dibebaskannya hamba-hamba yang Allah kehendaki dari api Neraka.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ يَوْمِ عَرَفَةَ

“Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hamba dari api Neraka lebih banyak daripada di hari Arafah.” (HR Muslim)

Hadirin Rahimakumullah

Pada bulan Dzulhijjah juga ada hari yang sangat istimewa yang dikenal dengan istilah hari nahr.

Yaitu hari kesepuluh di bulan tersebut, di saat kaum muslimin merayakan Idul Adha dan menjalankan shalat Id serta memulai ibadah penyembelihan qurbannya, sementara pada jamaah hari menyempurnakan amalan hajinya.

Begitu pula hari-hari yang datang setelah, yang dikenal dengan istilah hari tasyriq, yaitu hari kesebelas, keduabelas, dan ketigabelas.

Allah mengkhususkan hari-hari tersebut sebagai hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir.

Hari-hari itulah yang menurut keterangan para ulama adalah hari yang disebutkan dalam firman Allah:

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (AL-Baqarah: 203)

Dan Nabi juga menyebutkan tentang hari-hari tersebut:

“Hari-hari Mina (hari nahr dan tasyriq) adalah ahri-hari makan dan minum serta berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Akhirnya, marilah kita berusaha memanfaatkan hari-hari yang penuh dengan keuatamaan ini untuk menambah dan meningkatkan amal shaleh kita.

Bagitu pula kita manfaatkan waktu yang ada untuk memperbanyak dzikir kepada Allah.

Sehingga kita akan menjadi orang yang mendapatkan kelapangan hati, senantiasa takut kepada-Nya dan terjaga dari gangguan syaitan.

Serta faedah lainnya dari dzikir kepada Allah dan amalan-amalan yang lain. Amin.

Tinggalkan komentar