30 Materi Ceramah Singkat

Ceramah singkat – Dakwah di jalan Allah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, bukan hanya kewajiban para ulama, ustadz kiai dan muballigh.

Dalam perkembangannya, dakwah memiliki turunan nama yang lumayan banyak, seperti ceramah, tausiyah, kultum, khutbah, pidato dan lainnya.

Semoga tulisan ini bisa membantu kita semua untuk mengembangkan dakwah islam di negeri tercinta ini.

Contoh Ceramah Singkat Tentang Sabar

1. Musibah Tak Selamanya Menyakitkan

Musbiha, menurut definisi Al-Qurthubi adalah peristiwa yang menyakitkan orang mukmin.

Dalam penggunaan bahasa keseharian, orang Arab sering menggunakan istilah musibah untuk peristiwa bencana, baik bencana kecil mau besar.

Sederhananya, musibah merupakan kejadian yang membawa kerugian dan kejelekan.

Defenisi ini sering dikaitkan dengan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ikrimah,

“Pada suatu malam lampu Rasulullah padam. Kemudian, beliau berucap, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun.’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Apakah itu termasuk musibah wahai Raulullah?’ Beliau menjawab, ‘Iya, segala sesuatu yang menyakitkan adalah musibah.”

Para ulama sepakat bahwa kehidupan dunia takkan pernah terbebas dari musibah. Tidak ada kesenangan hakiki di dalamnya.

Semua kesenangan duniawi dalam pandangan islam hanyalah baying-bayang semu. Sebagaimana orang yang menyelami samudra, ia akan basah oleh air.

Demikian pula dengan mereka yang terjun di medan perang yang pasti dibayang-bayangi oleh derita dan kematian.

Ujian tak selama menyakitkan

Ujian tak selamanya menyakitkan. Begitu kata sebagian orang yang mampu memahami ujian dari Allah secara benar.

Bagi mereka, ujian yang pahit terasa manis. Cobaan berat yang mereka alami bagaikan tangga yang mengantarkan mereka menuju tingkatan yang lebih tinggi.

Mengapa demikian? Karena ujian memili tiga tingkatan.

Tingkatan Ujian

Pertama, Tingkat penyeleksian.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.”

Ujian adalah ajang penyeleksian untuk nmengetahui siapa di antara kita yang benar-benar berjuang di jalan Allah, paling bersabar menghadapi cobaan dan paling kokoh imannya.

Maka dari tiu, barang siapa menunaikan perintah Allah, berjuang di jalan-Nya demi menolong agama dan mengakkan kalimat-Nya, itulah orang mukmin sejati.

Sebaliknya, barang siapa bermalas-malasan melakukan semua itu maka imannya tidak sempurna.

Kita mesti sadar bahwa berjalan di jalan Allah banyak resiko dan cobaan. Kita harus membekali diri kita dengan kesabaran, keuletan, dan ketakwaan.

Masih segar dalam ingatan kita apa yang dialami Rasulullah ketika berdakwah di negeri Tha’if.

Dakwah yang beliau sampaikan disambut dengan ejekan dan cacian, bahkan mereka melempari beliau dengan kotoran dan batu.

Meski begitu, Rasulullah tidak patah semangat atau marah, justru beliau menyikapinya dengan penuh kesabaran.

Itulah Rasulullah teladan kita, yang mampu mengendalikan amarahnya ketika diperlakukan sangat buruk oleh penduduk Tha’if. Karena beliau yakin sekali bahwa itu semua merupakan ujian dari Allah.

Kedua, Tingkat Penyucian

Di balik ujian dan penyeleksian ada sesuatu yang tidak terdapat di balik kesehatan dan kebugaran.

Waktu dalam sehari yang paling dahsyat kesulitannya adalah sesaat sebelum fajar yang kemudian darinya terbit fajar. Allah Maha mengetahui sedang kita tidak mengetahui.

Rasulullah bersabda:

“Tidaklah seorang muslim tertimpa rasa letih, penyakit, rasa gundah, sedih, rasa sakit, kegagalan, sampai duri mengenai dirinya, melainkan dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhori)

Ujian akan berubah menjadi ‘sabun’ yang membersihkan dosa-dosa kita yang kotor, jika kita menghadapinya dengan kesabaran dan ketakwaan.

Namun sebaliknya, jika kita menyikapinya dengan keluh kesah, menyalahkan Allah, dan mengumpat takdir, maka ujian yang pada asalnya sudah pahit akan semakin pahit dan ketir.

Janganlah kita mengira bahwa kita akan masuk surga dengan membawa dosa-dosa kita.

Hal itu karena dosa-dosa tersebut harus dibersihkan dulu sebagaimana alat pandai besi membersihkan karat besi, hingga kita berjalan di muka bumi ini tanpa satu dosa pun yang melekat pada diri kita.

Ketiga, Tingkat pendekatan, penghormatan, dan peninggian derajat.

Tingkatan ini merupakan buah dari penyeleksian dan penyucian. Maka dari itu, berbagahialah kita karena Allah mencintai kita.

Jika Allah telah mencintai kita, maka akan diikuti oleh Jibril, kemudian kecintaan para Malaikat, kemudian seluruh isi bumi akan menerima kita.

Siapa yang lulus menghadapi ujian dari Allah, ia termsuk orang-orang yang dekat kepada Allah, dihormati, dan ditempatkan pada derajat yang tinggi.

Maka tidaklah aneh jika apda hari kiamat kelak orang-orang yang saat di dunia tida diberi ujian, merasa iri terhadap mereka yang diberi ujian dan cobaan.

Hal ini sebagaimana terlukis dalam sabda Rasulullah:

“Orang-orang yang sehat amat menginginkan nanti pada hari kiamat, ketika orang-orang yang mendapat musibah diberi pahala, seandainya kulit mereka dipukul ketika di dunia dengan pemukul hingga terkelupas.” (HR. Tirmidzi)

Setelah melihat realita ini, masihkan kita berkeluh kesah dan menyalahkan Allah kala ditimpa cobaan?

Atau kita akan menghadapinya dengan sabar agar mendapat balasan yang agung dari Allah?. Yang pasti, kita harus pandai dalam bersikap.

Ceramah Singkat tentang Taubat

Setiap saat kita dianjurkan untuk memohon ampunan kepada Allah Azza wajalla dan bertaubat.

Karena kita semua faham bahwa kita seringkali terjatuh dalam kesalahan dan dosa, secara sadar dan tidak sadar.

Dan kapan pun mudah bagi Allah untuk mewafatkan siapa saja diantara kita tanpa memandang umur dan status.

Pengertian dan syarat-syarat taubat

Pengertian taubat secara syar’i adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah dengan meminta ampun atas segala dosa yang telah ia lakukan dengan janji tidak akan mengulangi lagi, dan mengganti perbuatan dosa yang dilakukan dengan amal shaleh yang bisa mendekatkan diri kepada Allah.

Taubat ini disebut juga dengan taubat nasuha.

Taubat merupakan ibadah agung. Allah akan mengampuni dosa seserang sebesar apa pun, kecuali dosa syirik, bagi siapa saja yang diterima taubatnya.

selain itu, Allah masih menyiapkan pahala yang besar bagi orang-orang yang bertaubat. Allah menerangkan hal ini dalam firman-Nya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً. يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12)

Syarat agar taubat diterima oleh Allah adalah sebagai berikut:

Pertama, Ikhlas karena Allah (bukan karena manusia).

Seseorang yang sunguh-sungguh bertaubat, hendaknya memperbaiki niatnya terlebih dahulu, hanya karena Allah semata.

Kedua, Menyesali secara serius kesalahan masa lalu, dan berjanji kepada Allah tidak akan mengulangi kembali dosa-dosa yang telah ia lakukan pada masa lalu.

Ketiga, diharuskan bagi orang yang bertaubat adalah ketika dirinya masih dalam keadaan sehat wal afiat, tidak berada dalam kondisi sakaratul maut.

Taubat tidak akan diterima dan tidak berguna ketika nyawa sudah berada di kerongkongan.

Keempat Meninggalkan dosa secara total dan semua perbuatan buruk yang dilarang dalam agama islam.

ini sebagai bukti bahwa dirinya benar-benar bertaubat kepada Allah.

Kelima, Berniat kuat untuk tidak mengulangi dosa.

Setelah bertubat, maka harus ada tekad yang kuat untuk tidak kembali pada jalan kegelapan yang telah lalu.

Nah, pertanyaannya sekarang adalah, kapan kita harus bertaubat?

Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya agar bersegera dalam kebaikan termasuk taubat.

Karena taubat adalah suatu perbuatan yang baik, maka taubat harus dilakukan sesegera mungkin. Selagi masih ada waktu bagi kita.

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 133 yang berbunyi:

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”

Berikut ini kiat-kiat yang dapat dilakukan agar kita mampu melaksanakan taubat nasuha. diantara:

Memohon pertolongan Allah, karena Dialah yang Yang Maha membolak balikkan hati manusia.

2. Meninggalkan teman-teman yang buruk, dan menggantinya dengan mencari teman yang baik akhlaknya.

3. Peindah tempat tinggal jika memungkinkan untuk dilakukan.

4. Selalu mengingat sifat Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar.

5. Mengingat kematian yang datang kapan saja.

Cara-cara di atas kita praktekkan agar usaha taubat kita berjalan dengan maksimal.

taubat yang diterima Allah akan terlihat dari baiknya amalan seseorang setelahnya.

Jika perbuatannya masih saja tidak ada perubahan kepada yang lebih baik, maka perlu dikoreksi apakah Allah menerima tuabatnya atau tidak.

Kita semua tentu berharap taubat kita diterima Allah Ta’ala, agar ketika bertemu dengan Allah pada hari perhitungan kelak, Allah akan menyelamatkan kita dari siksa api neraka yang menyala-nyala, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan.

Semoga kita semua termasuk golongan orang yang diterima taubatnya. Amin.

Baca Juga:
» Kata Kata Sedih Menyentuh Hati

Ceramah Singkat : Agar Doa Tidak tertolak

Seringkali kita mendapati doa yang dipanjatkan tidak terkabul atau tertolak. Nah, pada kesempatan kali ini, makan dijelaskan beberapa adab dan syarat agar doa tidak tertolak.

Bagi seorang mukmin sejati, sebenarnya tidak ada istilah doa yang tertolak atau sia-sia.

Setiap doa yang dipanjatkan seorang Mukmin dengan cara yang benar dan adab berdoa baik, pasti akan mendapati satu dari tiga hal:

1. Dikabulkan doanya sebagaimana yang ia inginkan

2. Ditunda sampai di akhirat

3. Tertolak bala’ 9Musibah) darinya

Jika memang doanya sia-sia alis tidak mendapatkan salah satu dari tiga hal di atas, mungkin memang cara dan adabnya dalam berdoa belum benar.

Kaum muslimin yang berbahagia

Sudah menjadi hal yang lazim apabila seseorang menginginkan tercapainya sesuatu, maka harus memaksimalkan usahanya. Tidak terkecuali dengan doa.

Usaha yang maksimal akan membuahkan hasil yang maksimal pula. Dalam berdoa, ada adab-adab yang perlu diperhatikan, antara lain:

1. Menghadap kea rah kiblat, memanjatkan doa sebanyak tiga kali, dan diutamakan dalam keadaan suci.

2. Mengawali doa dengan Asmaul Husna

3. Melirihkan suara ketika melantunkan doa, dan mengngkat kedua tangan saat berdoa.

4. Apabila berdoa secara sendirian, hendaklah mengawali doanya untuk dirinya sendiri kemudian untuk orang lain.

5. Merendahkan diri, khusyuk, rasa takut jika doa tidak terkabul, dan berharap aagr doanya dikabulkan.

6. Mengawali dan menutup doa dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu membaca shalawat dan diakhiri dengan shalawat pula.

Inilah beberapa hal mesti diperhatikan dalam berdoa.

Kaum Muslimin yang Berbahagia

Selain menjaga adab dalam berdoa, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan agar doa kita tidak tertolak, diantaranya sebagai berikut:

1. Ikhlas dalam berdoa.

Ikhlas menjadi syarat pertama seluruh amalan, termasuk doa. Berdoalah kepada Allah dengan penuh keikhlasan, agar doa didengar Allah.

Abdullah bin Mas’ud pernah meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Allah tidak mendengar doa seseorang yang berdoa karena sum’ah, riya’, dan main-main. Namun, Allah menerima orang yang berdoa dengan ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR Bukhori)

2. Berdoa sesuai syariah.

Doa adalah ibadah yang perlu memperhatikan tata cara dalam pelaksanaannya. Salah satu tata caranya adalah melakukannya sesuai syari’at.

Banyak orang yang mengatakan bahwa dengan menggunakan klenik ketika berdoa, akan manjur dan cepat terkabulkan apa yang diinginkan.

Tentu saja ini tipuan setan, salah satu upaya setan dalam penyesatan umat manusia.

3. Tidak berdoa untuk satu dosa

Rasulullah sahallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila seorang Muslim berdoa dan tidak memohon suatu yang berdosa atau memutus kekerabatan, maka akan dikabulkan oleh Allah.” (HR Tirmidzi)

4. Tidak Mendikte Allah dalam Berdoa

Janganlah seseorang meminta kepada Allah agar doanya segera dikabulkan, karena hal itu justru akan menghambat terkabulnya suatu doa.

5. Hanya Makan Makanan yang halal Saja

Karena salah satu penyebab doa tidak terkabu adalah masih mengonsumsi makanan yang bharam.

6. Optimis akan terkabulnya doa

Rasulullah memerintahkan agar berprasangka baik kepada Allah.

Jika kita optimis doa kita akan terkabul, maka dengan izin Allah akan terkabul doa kita.

Jamaah kaum Muslimin yang dimuliakan Allah

Itulah beberapa syarat dan adab yang harus diperhatikan dan dilakukan dalam berdoa.

Dari semua uraian di atas, dapat ditarik kesimpulkan bahwa inti dari semua syarat dan adab agar dikabulkannya suatu doa adalah ketaatan kepada Allah.

Oleh sebab itu, mari kita tingkatkan ketaatan kita kepada Allah. Semoga Allah selalu memudahkan kita dalam segala urusan, serta selalu mengabulkan setiap doa yang kita lantunkan. Amin

Tinggalkan komentar