Shalatku harus lebih baik

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد

Shalat adalah rukun Islam yang kedua, setelah syahadat. Kita meyakini bahwa shalat adalah kewajiban kedua setelah mengucapkan dua kalimat syahadat.

Kita semua yakin bahwa shalat adalah penyembahan kita kepada Allah swt yang Maha pengasih, Maha penyayang, Maha kuasa, Maha bijaksana.

Ceramah singkat Tentang Sholat

Lewat shalat kita memohon semua kebaikan yang kita butuhkan dan yang kita harapkan.

Lewat shalat kita mendekat kepada Allah swt yang Maha sempurna, agar Allah senang kepada kita, agar Allah membantu kita, membimbing dan membantu kita.

Dengan shalat kita bahagia. Dengan shalat kita kuatkan jiwa. Dengan shalat kita mulia.

Dengan shalat kita sucikan hati. Dengan shalat kita sukses. Dengan shalat kita selamat. Allahu Akbar !

Renungan Sholat

Bila statemen di atas telah kita sepakati, marilah kita menggunakan keyakinan ini sebagai kacamata dalam memandang, mengamati dan mencermati seberapa besar perhatian kita dalam ibadah shalat?.

Seberapa besar cinta kita kepada ibadah shalat?. Seberapa besar kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan kita untuk peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah shalat?.

Seberapa besar keseriusan dan keprihatinan kita terhadap fenomena kemalasan ibadah shalat di kalangan keluarga dekat dan masyarakat kita?.

Seberapa besar upaya kita untuk da’wah kepada shalat, nasehat shalat, untuk memasyarakatkan shalat dan menshalat-kan masyarakat?.

Seberapa tinggi penguasaan kita terhadap ilmu shalat, yaitu tata cara shalat berdasarkan hadits-hadits yg shahih?. Astagfirullahal’azhim.

Renungan singkat pada semua point diatas, menghasilkan kesadaran bahwa masih sangat banyak kelalaian kita terhadap shalat.

Masih sangat sedikit kepedulian dan kesungguhan kita untuk shalat yang lebih baik, masih kurang usaha kita untuk da’wah shalat/ nasehat shalat. Masih minim ilmu kita terhadap dalil-dalil shalat yang benar.

Supaya kita lebih yakin dan lebih menyadari kondisi yang memprihatinkan ini, mari kita lanjutkan renungan kita :

1. Tidakkah kita menyadari bahwa jumlah jamaah subuh di masjid sangat sedikit, dibanding banyaknya masyarakat muslim di sekitar masjid yang semestinya shalat jamaah di masjid?.

2. Tidakkah kita menyadari bahwa shalat jamaah di masjid belum dimasukkan dalam agenda harian kebanyakan kita?.

3. Tidakkah kita menyadari bahwa sering kali kita shalat dengan tergesa-gesa?.

4. Tidakkah kita menyadari bahwa kesungguhan kita untuk menyem-purnakan shalat sunnah 12 rakaat sehari semalam, masih rendah?.

5. Tidakkah kita menyadari bahwa keluarga dekat kebanyakan kita, bahkan dalam rumah tangga kebanyakan kita, ada saja satu dua orang yang malas shalat? Mana kesungguhan kita menase-hati mereka & mendidik mereka?.

6. Tidakkah kita menyadari bahwa kebanyakan kita belum membiasakan shalat dhuha.

7. Tidakkah kita menyadari bahwa kebanyakan kita belum membiasakan diri shalat tahajjud,
minimal witir?

8. Tidakkah kita menyadari bahwa kebanyakan kita tidak memiliki buku panduan shalat sesuai sunnah yang shahih?.

9. Tidakkah kita menyadari bahwa shalat adalah amalan pertama yang dihisab pada hari kiamat?. Rasulullah saw bersabda :

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْرُ يَوْمَ القِياَمَة الصَّلاَة

“Yang pertama dihisab setiap hamba pada hari kiamat adalah tentang shalat.”

10. Tidakkah kita menyadari bahwa Allah swt mengancam orang yang shalat, tapi tidak berusaha meningkatkan shalatnya?. Allah swt berfirman :

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Para ulama menafsirkan ayat-ayat mulia ini dengan menyatakan bahwa Allah swt mengancam orang yang shalat tapi tidak memperhatikan kesempurnaan ruku’nya, ketenangan sujudnya, peningkatan khusyu’nya, ketepatan waktunya, dst.

Itulah orang yang lalai dari shalatnya. Tidak memperhatikan keikhlasan hatinya. Bahkan ia sering kali shalat dengan harapan ingin dipuji dan dikagumi oleh orang lain.

Dan satu lagi, ini sangat menarik dan sangat penting untuk kita renungkan, yaitu : Ayat-ayat terakhir dari surah Al-Mu’min. Ini memberi pemahaman bahwa orang yang rajin shalat itu harus dermawan.

Wajib memiliki rasa senang membantu orang lain. Sehingga kepatuhan menegakkan shalat, berdampak positif pada kesalehan sosial kedermawanan bermasyarakat. Itulah shalat yang mendidik.

Dari mana kita fahami semua ini?. Kita fahami dari ancaman Allah kepada orang yang shalat?

Siapa yang diancam itu?

(1). Orang yang melalaikan peningkatan dan penyempurnaan shalatnya.

(2). Orang yang riya’ dalam shalatnya atau amalannya yang lain.

(3). Orang yang bakhil. Tidak mau membantu orang lain.

Ini adalah ancaman yang serius dari Allah yang Maha perkasa, Maha pedih siksanya. Ini wajib kita renungkan dan cemaskan secara sungguh-sungguh. Astaghfirullahalazhim.

Planning shalat adalah solusi

Dari semua renungan pada ceramah singkat tentang sholat ini, kita menyimpulkan bahwa:

1. Shalat kita harus lebih baik!. Kita harus berjuang untuk meningkat-kan kualitas & kuantitas shalat kita!

2. Tidak ada keselamatan tanpa peningkatan shalat!.

Bagaimana caranya? Dari mana kita mulai?

Jawabannya ialah: Planning shalat !. Shalat harus diplanning. Karena tidak ada peningkatan shalat tanpa perencanaan yang memacu dan memandu.

Dan tak ada rujukan evaluasi harian tanpa perencanaan, tak ada tolak ukur peningkatan tanpa perencanaan, kalau untuk urusan duniawi kita melakukan perencanaan, mengapa untuk urusan akhirat dan kebahagiaan hakiki, kita tidak melakukan perencanaan?.

Lalu bagaimana kita menyusun perencanaan shalat? Berikut ini contohnya :

1. Memperdalam ilmu shalat.

Yaitu penguasaan tentang dalil-dalil shahih tentang ibadah shalat, termasuk tentang shalat yang khusyu’. Beberapa buku pilihan tentang shalat;

a. Pedoman shalat oleh Prof. Dr. Hasbi Assiddiqi.

b. Pengajaran shalat oleh A.Hassan.

c. Tata cara shalat Rasulullah saw oleh Nashiruddin Al-Albani.

d. Fiqhussunnah oleh Sayyid Sabiq.

e. Ensiklopedi Muslim olehAbu Bakar Al-Jazairi.

f. 33 kiat shalat yang khusyu’ oleh M.Shaleh Al Munajjid.

2. Mengucapkan dalam hati: “Saya akan shalat untuk mendapatkan ridha Allah semata”. Itu diucapkan dalam hati setiap kali akan shalat.

3. Shalat berjamaah di masjid 5x sehari semalam.

4. Shalat sunnah rawatib :

2 rakaat sebelum shalat subuh. 2 rakaat + 2 rakaat sebelum shalat zhuhur. 2 rakaat setelah shalat zhuhur. 2 rakaat setelah shalat maghrib. 2 rakaat setelah shalat isya.

5. Shalat tahajjud 11 rakaat menjelang subuh, minimal shalat witir 3 rakaat, sebelum tidur malam.

6. Shalat dhuha minimal 2 rakaat.

7. Mengoptimalkan khusyu’ pada setiap shalat

Hal itu dilakukan melalui gerakan shalat yang lebih tenang, lebih lama, dan bacaan shalat yang dihayati, dipahami maknanya, dan menyadari bahwa kita sedang bermunajat kepada Allah yang Maha melihat
Maha mendengar.

8. Berwudhu dengan sempurna, lebih tenang, lebih khusyu’. Memperbaha-rui wudhu setiap kali batal wudhu’ semaksimal kemampuan.

Karena memelihara wudhu’ sangat efektif menyambung hati dengan Allah swt.

9. Membaca do’a sesuai sunnah setiap keluar dan masuk rumah.

Doa tersebut dibaca ketika berjalan ke masjid, setiap masuk dam keluar masjid, do’a-do’a tersebut sangat membantu dalam meningkatkan khusyu’ dan sangat bermanfaat untuk kesucian hati, kebahagiaan dan keselamatan kita.

10. Menyesali setiap kelalaian dalam pelaksanaan planning shalat, menyesali setiap keterlambatan ke masjid.

Menyesali setiap kelalaian mengamalkan shalat sunnat. Menyesali bila tidak shalat dhuha dan shalat witir.

Penyesa-lan ini sangat penting, karena penyesalan inilah yang memotifasi kita untuk meningkatkan shalat.

11. Membaca dzikir setelah shalat sesuai sunnah Nabi saw secara sempurna, termasuk membaca ayat kursi dan tiga surah terakhir.

12. Memperhatikan kesempurnaan shalat jum’at, lebih dari yang lain.

Shalat jum’at adalah ibadah yang istimewa. Mendapat perhatian dan anjuran khusus dari Rasulullah saw.

Untuk shalat jum’at yang efektif, kita bersungguh-sungguh untuk mandi dan berpakaian rapih kemudian berusaha menjadi orang-orang pertama di masjid, membaca surah Al-Kahfi pada hari jum’at, mendengarkan khutbah dengan penuh perhatian dan shalat jum’at dengan khusyu’.

13. Berupaya untuk mengamalkan da’wah shalat.

Yaitu Mengajak orang lain untuk shalat. Mendidik keluarga dan anak untuk rajin shalat.

Mendidik, membantu, pekerja dan semua tanggungan kita untuk rajin shalat. Mengajarkan bacaan dan tata cara shalat yang benar.

Mengajarkan dzikir dan do’a yang berkaitan dengan shalat. Mengajarkan kiat-kiat khusyu’ dalam shalat. Itu semua dilakukan setiap hari.

Itulah contoh sederhana planning shalat. Demikianlah cara kita memotivasi diri kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas shalat kita.

Itulah yang kita evaluasi setiap hari. Itulah yang kita do’akan setiap hari, agar kita menjadi orang yang sukses shalat, efektif shalatnya, membawa berkah shalatnya, menjadi terdidik dengan shalatnya menjadi bahagia, mulia dan selamat dengan shalatnya.

Patut pula kita tekankan bahwa planning shalat seperti ini berlaku untuk pria dan wanita, karena wanita muslimah mendapatkan kewajiban yang sama dengan pria dalam peningkatan shalat.

Olehnya itu, wanita juga dihimbau untuk menyusun dan mengamalkan planning shalat.

Akhirnya kepada Allah jualah kita bermohon agar kita semua dibimbing dan dituntun oleh Allah yang Maha Pengasih Maha Penyanyang untuk senantiasa meningkatkan shalat kita. Fastaqim (Beristiqamalah)!.

والله أعلم بالصواب، والله الموفق
والحمد لله رب العالمين

Oleh: Ustadz Mudzakkir M. Arif, M

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.