Panduan Lengkap Sholat Dhuha

Sholat dhuha – Sholat dhuha merupakan salah satu dari sholat-sholat sunnah sangat dianjurkan bagi setiap muslim.

Siapa saja yang mengerjakan sholat dhuha akan mendapatkan keutamaan yang sangat agung.

Oleh karena itu, sholat dhuha menjadi kebiasaan orang-orang besar yang selalu mereka jaga dan tidak meninggalkannya.

Pada tulisan ini, kita akan mengulas tentang niat sholat dhuha, tata cara sholat dhuha, waktu sholat dhuha, dan doa sholat dhuha, bacaan sholat dhuha, keutamaan sholat dhuha dan lainnya  .

Semoga dengan mengetahui hal-hal terkait sholat dhuha, kita semakin termotivasi dan istiqomah dalam menjalankan ibadah yang mulia ini.

Niat Sholat Dhuha

Hal paling pertama dan paling penting kita perhatikan sebelum mengerjakan sholat dhuha adalah niat.

Niat sholat dhuha memiliki peran penting terkait diterima atau ditolaknya sholat dhuha yang dikerjakan.

Termasuk nilai pahala dari sholat dhuha, sangat ditentukan oleh niat saat hendak mengerjakannya.

Mengingat pentingnya kedudukan niat dalam ibadah termasuk sholat dhuha, maka niat ini harus diperhatikan sebelum melaksanannya.

Tata Cara Sholar Dhuha

Tata cara sholat dhuha sama dengan tata cara sholat pada umumnya.

Syarat dan rukun sholat dhuha juga sama dengan syarat dan rukun pada sholat yang lainnya.

Sholat dhuha harus dikerjakan dalam keadaan bersih, bersih dari hadats besar dan hadats kecil.

Jadi, wanita yang haid dan nifas atau orang yang belum mandi junub tidak boleh mengerjakan sholat dhuha.

Dan Sebelum mengerjakan shalat dhuha, wajib berwudhu terlebih dahulu karena wudhu merupakan syarat sah shalat dhuha.

Berikut tata cara sholat dhuha lengkap:

1. Diawali dengan Niat Sholat Dhuha

Berniat sebelum mengerjakan sholat dhuha merupakan salah satu syarat sholat dhuha.

Bila seseorang mengerjakan shola dhuha tanpa berniat, maka sholat yang ia kerjakan tidak bernilai di hadapan Allah.

2. Takbiratul Ihram

Takbiratul Ihram adalah takbir yang diucapkan di awal sholat disertai dengan mengangkat kedua tangan.

Takbiratul ihram merupaan bagian dari rukun sholat, jika ditinggalkan maka sholat batal.

3. Membaca Doa Iftitah

Setelah takbiratul ihram, dianjurkan membaca doa iftitah sebelum membaca surat Al-Fatihah.

Doa iftitah hukum tidak wajib, namun sangat dianjurkan untuk dibaca setiap mengerjakan sholat termasuk sholat dhuha.

4. Membaca Surat Al-Fatihah

Membaca surat Al-Fatihah adalah rukun sholat. Membaca surat Al-Fatihah wajib bagi setiap orang yang mengerjakan sholat, baik ia sebagai makmum dalam sholat jamaah maupun ia sebagai imam.

Ketika mengerjakan sholat dhuha, wajib membaca surat Al-Fatihah pada setiap rakaatnya.

Siapa yang mengerjakan shalat dhuha dan meninggalkan surat Al-Fatihah, maka sholat dhuha yang ia kerjakan akan batal.

5. Membaca Surat dari Al-Qur’an

Setelah selesai membaca surat Al-Fatihah, maka sangat dianjurkan membaca sebuat surat atau beberapa ayat dari Al-Qur’an.

Membaca surat setelah Al-Fatihah bukanlah wajib, namun sangat dianjurkan.

6. Ruku’

Setelah selesai membaca Al-Fatihah dan surat lain dari AL-Qur’an, selanjutnya ialah rukun.

Ketika rukun hendaknya membaca doa ruku’ yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

7. I’tidal

Setelah selesai dari ruku’, selanjutnya dalah I’tdal, yakni bangun dari ruku’ sambil membaca ‘Sami’allahu liman hamidah’

8. Sujud Pertama

Selanjutnya ialah sujud pertama dan membaca doa sujud yang diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Ketika sujud, wajib merapatkan 8 anggota tubuh ke lantai, yaitu kedua kaki, kedua lutut, kedua telapak tangan, jidat dan hidung.

9. Duduk di antara Dua Sujud

Setelah selesai dari sujud, selanjutnya bangun dari sujud dan duduk di antara dua sujud.

Ketika duduk di antara dua sujud, membaca doa yang diajarkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

10. Sujud Kedua

Kemudia sujud kedua dan membaca doa sujud yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu alihi wa sallam.

11. Berdiri lagi Menunaikan Rakaat Kedua

Setelah selesai dari sujud kedua pada rakaat pertama, selanjutkan berdiri lagi untuk mengerjakan rakaat kedua.

Pada rakaat kedua, tata cara pelaksanaannya sama dengan rakaat yang pertama.

12. Tasyahud Akhir

Setelahs selesai mengerjaka rakaat pertama dan kedua, selanjutnya ialah tasyahud akhir.

Pada tasyahud akhir, wajib membaca doa tasyahud dan bersholat kepada Nabi Shallallahu alihi wa sallam.

Pada tasyahud akhir, sangat dianjurkan juga membaca beberapa doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam.

13. Mengucapkan Salam

Yakni Mengucapkan “ssalamu ‘alaikun warahmatullahi wa barakatuh”, sambil menoleh ke kanan lalu menoleh ke kiri.

Hukum Sholat Dhuha

Hukum sholat ialah sunnah menurut pendapat ulama yang lebih kuat.

Ada sejumlah dalil dari As-Sunnah yang menjelaskan tentang sholat dhuha.

Berikut ini hadits-hadits yang menjelaskan tentang sholat dhuha;

Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu dzar:

يصبح على كل سلامي من أحدكم صدقة… (الديث و في: و يجزئ من ذلك ركعتان يركعهما من الضحى

“Bagi masing-masing ruas dari anggota tubuh salah seorang di antara kalian harus dikeluarkan sedeqah… Dan semua itu setara dengan ganjaran sholat dua rakaat pada waktu dhuha”. HR. Muslim

Kedua, Diriwayatkan dari Abu Darda’ dan Abu Dzar Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah bersabda, Allah Azza Wajalla berfirman:

“Wahai anak Adam, ruku’lah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya Aku akan mencukupimu di akhir siang”. HR. At-Tirmidzi

Ketiga, Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata,

“Kekasihku, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadaku tiga hal: berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, Sholat dua rakaat pada waktu dhuha, dan sholat witir setiap malam sebelum tidur”. HR. Bukhori no.1178 dan Muslim no.721

Keempat, Hadits Mu’adz Al-Adawiyah, dia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah, ‘Apakah Rasulullah mengerjakan sholat dhuha?’

Aisyah menjawab, “ya, Beliau shalat empat rakaat dan menambahkannya sesuai keinginannya”. HR. Muslim no.719 dan Ibnu Majah no.1381 .

Imam Asy-Syaukani dalam ‘Nailul Al Authar (3/76)’ berkata,

“Dan jelaslah bahwa hadits-hadits yang berkaitan dengan sholat dhuha telah telah mencapai batas yang menunjukkan kesunnahannya”.

Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari (3/66)berkata,

“Al Hakim telah mengumpulkan hadits hadits yang berkaitan dengan sholat dhuha dalam kitab tersendiri yang jumlah perawin hadits tentang shalat tersebut mencapai kurang lebih 20 orang sahabat”.

Adapun dalil disunnahkannya mengerjakannya secara rutin adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam;

أحب العمل إلى الله تعالى ما دام عليه صاحبه و إن قلّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Azza Wajalla ialah amalan yang dilakukan secara terus menerus meskipun sedikit”.

Itulah beberapa hadits yang menjelaskan jumlah sholat rakaat, dan masih ada sejumlah hadits lain yang menjelaskan hal ini.

Hadits-hadits yang telah disebutkan di atas menjadi hujjah akan dianjurkannya mengerjakan sholat dhuha dua rakaat atau lebih.

Jumalah Rakaat sholat dhuha

Para ulama sepakat bahwa jumlah sholat dhuha yang paling sedikit ialah dua rakaat.

Yang menjadi perbedaan diantara mereka ialah pada jumlah bilangan paling banyak untuk sholat dhuha, dalam hal ini para ulama terbagi menjadi tiga.

Paling Banyak 8 Rakaat

Jumlah maksimal sholat dhuha adalah pendapat para ulama dari kalangan mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hambali.

Pendapat ini berhujjah pada hadits Ummu Hani’ bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah masuk rumahnya pada hari penaklukkan kota mekah, lalu beliau sholat 8 rakaat.

Paling banyak 12 Rakaat

Yang berpegang pada pendapat ini ialah Mazhab Hanafi, dan salah satu pendapat ayng lemah dari Mazhab Syafi’i, serta salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal.

Pendapat ini berdalil pada pada hadits yang marfu’, “Barang siapa yang sholat dhuha sebanyak 12 rakaat, niscaya Allah akan membangun sebuah istana untukknya di surga”. Namun para ulama hadits mengatakan bahwa hadits ini lemah.

Tidak Ada Batasan Jumlah Maksimal Sholat Dhuha

Ini merupakan pendapat beberapa ulama salaf, dan para ulama menguatkan pendapat ini karena dua alasan;

1. Hadits Mu’adzah, dia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah Radhi

Yallahu anha, ‘apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah sholat dhuha?’ Dia menjawab, ‘Ya, sebanyak empat rakaat rakaat lalu beliau menambhkannya lagi”. HR. Muslim no.719

2. Pembatasan pada delapan rakaat yang terdapat dalam hadits Ummu Hani’ tertolak dengan dua alasan;

Ada sebagian ulama mengatakan bahwa itu adalah sholat sunnah fath / penaklukkan kota Mekah, dan bukan shalat dhuha.

• Pembatasan jumlah sholat dhuha menjadi delapan rakaat tidak menunjukkan bahwa penambahan lebih dari itu tidak disyari’atkan, karena ini dalam kasus perorangan. Wallahu a’lam

Sholat Dhuha berjamaah

Ada beberpa dalil terkait dengan hal ini, salah satunya adalah riwayat dari Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Uthbah, beliau mengatakan:

“Aku masuk menemui Umar di waktu matahari sedang terik, ternyata aku melihat beliau sedang sholat sunnah, lalu aku berdiri di belakangnya dan beliau menarikku sampai aku sejajar dengan pundaknya di sebelah kanan. Ketika Yarfa’ datang (peayan umar), aku mundur dan membuat shaf di belakang Umar radhiyallahu anhu”.

HR. Malik no.523 dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shohihah no.2590.

Imam Malik memasukkan hadits ini dalam bab sholat dhuha, sebab yang dimaksud waktu matahari sedang terik dalam hadits di atas, dipahami sebagai waktu dhuha.

Berdasarkan hadits ini, Ibnu Habib menyatakan bahwa sholat dhuha boleh dikerjakan secara berjamaah dengan tiga syarat;

1. Dilakukan sewaktu-waktu pada hari yang tidak ditentukan

2. Tidak ada kesepakatan sebelumnya untuk mengerjakan sholat dhuha berjamaah

3. Tidak menjadi amalan yang dikerjakan oleh banyak orang, terkenal di semua kalangan.

Al-Muntaqa Syarh Al-Muwatha’: 1/274.

Dengan demikian, sholat dhuha boleh dilakukan secara berjamaah dengan beberapa syarat:

• Tidak dijadikan kebiasaan yang terus menerus dilakukan.

• Tidak dikerjakan pada hari, waktu, dan momen tertentu.

Misal dilaksanakan setiap sepekan sekali, setiap hari jumat.

Pelaksanaan sholat dhuha berjamaah dengan menentukan waktu seperti ini tidak dibolehkan.

• Tidak ada kesepakatan sebelumnya, serta tidak ada pengumuman kepada masyarakat untuk menunaikan sholat dhuha berjamaah.

• Tidak menjadi amalan yang menjamur dan banyak dilakukan masyarakat.

• Jumlah orang yang ikut sholat dhuha berjamaah jumlahnya sedikit, tidak boleh mengerjakan sholat dhuha berjamaah dengan masyarakat satu desa atau satu kampung.

• Tidak dikerjakan bersama-sama di Masjid. Wallahu A’lam

Doa Sholat Dhuha

Ada doa sholat dhuha yang sangat terkenal di sebagian kalangan di tenga-tengah masyarakat yang dibaca setiap selesai sholat dhuha. lafaz doanya yaitu:

اللَّهُمَّ إنَّ الضَّحَاءَ ضَحَاؤُكَ ، وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ ، وَالْجَمَالَ جَمَالُك ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُك، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُك، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُك اللَّهُمَّ إنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ ، وَإِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ ، وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضَحَائِك وَبِهَائِك وَجَمَالِك وَقُوَّتِك وَقُدْرَتِك آتِنِي مَا آتَيْت عِبَادَك الصَّالِحِينَ

Doa ini disebutkan oleh Abu BAkr Ad-Dimyathi dalam I’anatul Thalibin (1/295) dan Asy-Syarwani dalam Syarhul Minhaj (7/293).

Namun kedua penulis ini tidak menunjukkan atau memberikan keterangan terkait asal dan dalil bacaan ini.

Tim fatwa Syabakah Islamiyah yang ada di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih mengomentari doa ini,

“Kami tidak mendapatkan dalil yang kuat yang menunjukkan adanya doa ini pada referensi-referensi yang kami miliki”.

Lihat Fatawa Syabakah Islamiyah, no.53488.

Apakah doa ini boleh diamalkan?

Tidak ada hadits yang jelas dan kuat yang menunjukkan bahwa doa ini berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan setiap orang yang beriman wajib memahami dan menjadikan prinsip bahwa ibadah dalam agama Islam bersifat tauqifiyah, artinya menunggu dalil baru dikerjakan.

Hal itu karena hukum asal ibadah adalah haram kecuali jika ada dalilnya, apapun bentuk ibadah itu dan siapa pun yang mengajarkannya, baik ibadah berupa sholat, doa, dzikir, dan lain-lain.

Batas Waktu Sholat Dhuha

Sholat dhuha dimulai sejak matahari mulai naik hingga setinggi tombak, yakni sekitar 15 menit setelah matahari terbit.

Batas waktu sholat dhuha paling terakhir ialah hingga sebelum matahri condong ke barat.

Sholat dhuha bisa dikerjaan hingga batas waktu terakhir selama tidak dilaksanakan pada waktu yang dilarang untuk melakukan sholat, yaitu sekitar 10 menit sebelum matahari bergeser ke Barat.

Pendapat ini adalah pendapat maayoritas ulama. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa waktu sholat dhuha masuk kira-kira lima belas menit sejak matahari terbit.

Waktu Sholat dhuha Terbaik

Waktu terbaik untuk melakukan solat dhuha ialah saat matahri sudah terik, ini berdasarkan hadits Zaid bin Arqam, bahwasanya Nabi shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

“Sholat Awwabiin ‘orang-orang yang kembali kepada Allah’ adalah pada saat anak-anak onta mulai kepanasan”.

Maksudnya ialah ketika padang pasir sudah panas sehingga anak-anak onta merasakan panas di telapak kakinya ketika berjalan di padang pasir.

Waktu itu terjadi menjelang matahari tergelincir atau condong ke barat dan itulah waktu terbaik melaksanakan sholat dhuha.

Keutamaan Sholat Dhuha

Setiap amalan yang disyari’atkan pasti ada keutamaan dan faedahnya yang akan kembali kepada orang yang mengerjakannya.

Allah Azza Wajalla dan Rasulullah pun selalu menjelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah akan keutamaan amalan-amalan yang disyari’atkan.

Selain karena menjalankan perintah Allah dan RasulNya, mengerjakan amalan amalan tersebut untuk mendapatkan keutaman yang disediakan oleh Allah untuk orang yang mengerjakannya.

Kutamaan-kutamaan yang terdapat pada suatu amalan akan menjadi motivasi ekstra untuk lebih memperhatikan amalan tersebut.

Seseorang rela menahan lapar dan haus saat berpuasa, karena ia tahu bahwa ada keutamaan pada puasa.

Kenapa orang rela bangun pada waktu semua orang terlelap, karena ia tahu bahwa ada keutamaan pada sholat tahajjud.

Demikian pula dengan sholat dhuha yang memiliki keutamaan yang sangat besar.

Berikut ini beberapa manfaat sholat dhuha:

1. Dua rakaat sholat dhuha, pahalanya menyamai sedekah dengan jumlah yang banyak.

Rasulullah bersabda:

يصبح على كل سلامي من أحدكم صدقة، فكل تسبيحة صدقة، وكل تحميدة صدقة، وكل تهليلة صدقة، وكل تكبيرة صدقة , وأمر بالمعروف صدقة، ونهي عن منكر صدقة، و يجزئ من ذلك ركعتان يركعهما من الضحى

“Masing masing ruas sendir dari anggota tubuh kalian harus dikeluarkan sedekahnya. Setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, setiap bacaan takbir adalah sedekah, memerintah kepada yang baik adalah sedekah, melarang dari yang mungkar juga sedekah, dan semua itu pahalanya bisa tercukupi oleh dua rakaat sholat dhuha”. HR. Muslim no.720, Abu Daud no.1285, dan Ahmad (5/167)

2. Dua Rakaat sholat dhuha, cukup untuk menutupi sedekah untuk 360 ruas tulang.

Rasulullah bersabda:

في الإ نسان ستون و ثلاثون مائة مفصل فعليه أن يتصدق عن كل مفصل منها صدقة. قالوا: فمن الذي يطيق ذلك يا رسول الله ؟ قال: النخاعة في المسجد تدفنها أو الشيئ تنحية عن الطريق، فإن لم تقدر فركعتا الضحى تجزئ عنك

“Pada diri manusia terdapat 360 ruas yang setipa ruasnya wajib disedekahi. Para sahabat bertanya, ‘siapakah yang mampu melakukan hal itu ya Rasulullah?’ Belia menjawab, ‘Membuang luda / lendir atau kotoran yang ada di masjid atau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Apabila tidak sanggup untuk melakukan hal itu, maka dua rakat dhuha cukup bagimu”. HR. Abu Daud (2/524) dan Ahmad (5/345)

Dua hadits di atas menunjukkan akan besarnya keutamaan yang ada pada sholat dhuha. Sholat dhuha memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama ini dan syari’at sangat menekankan untuk mengerjakan sholat dhuha.

Untuk mensedekahi 360 persendian pada tubuh cukup dengan sholat dua rakaat pada waktu dhuha. Keutamaan ini menunjukkan bahwa sholat dhuha merupakan sholat sunnah yang sangat dianjurkan dikerjakan rutin setiap hari. Lihat Nail Al Authar (3/78)

3. Sholat Dhuha Melancarkan Rezeki

Sebagian masyarakat mengaitkan sholat dhuha dengan rezeki, salah satu hadits yang bisa jadi menjadi sebab adanya anggapan ini ialah hadits yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah bersabda:

إن الله عز وجل يقول، ياابن آدم اكفني أول النهار بأربع ركعات أكفنك بهنّ آخر يومك

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak adam, laksanakan untuk-Ku 4 rakaat di awal siang, akan Aku cukupi dirimu dengan sholat itu di akhir harimu”. HR. Ahmad no.17390, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shohih At-Targib wat Tarhib no.666

keterangan:

Para ulama berselisih terkait 4 rakaat di awal siang yang disebutkan dalam hadits ini.

Sebagian mengatakan ‘sholat dhuha’, ada yang berpendapat ‘sholat isyraq’, dan ada juga yang mengatakan ‘sholat qabliyah subuh dan sholat subuh’.

Hal ini diterangkan oleh Mula Ali Al-Qori dalam Al-Mirqoh: 1/980. Dan ditegaskan oleh Ibnu Abdil Bar, bahwa para ulama memahami empat rakaat dalam hadits tersebut adalah sholat dhuaha, Al-Istidzkar:2/267.

2. Imam As-Sindi menjelaskan tentang kalimat ‘Aku akan penuhi dirimu’, kalimat ini memiliki beberapa kemungkinan makan;

Aku cukupi dirimu sehingga terhindar dari segala musibah, berupa kecelakaan, penyakit, dan lainnya.

Aku cukupi dirimu dengan dianugrahi penjagaan dari kemaksiatan dan dosa, serta diberikan ampunan terhadap dosa yang dilakukan hari itu.

Aku cukupi dirimu dalam segala hal.

Lihat Ta’liq Musnad Ahmad Syuaib Al-Arnauth: 28/613.

Bila diperhatikan dengan baik, hadits di atas tidak menunjukkan secara tegas bahwa sholat dhuha merupakan pintu rezeki.

Hadits ini hanya menyebutkan janji Allah bagi orang yang mengerjakan sholat 4 rakaat pada pagi hari, baik sholat qabliyah subuh, sholat subuh, atau sholat dhuha, akan dicukupi di akhir hari itu.

4. Sholat Dhuha adalah Sholatnya Orang Orang Yang Bertaubat

Diriwayatkan dari Yazid bin Arqam, dia berkata,

“suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke penduduk Quba dan mereka sedang mengerjakan sholat dhuha, lalu Rasulullah bersabda;

صلاة الأوابين حين ترمض الفصال

“Sholat Awwabin / orang orang yang taubat, dilakukan di saat teriknya matahari”. HR. Muslim no.748 dan Ahmad (4/366)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يُحَافِظُ عَلَى صَلاةِ الضُّحَى إِلا أَوَّابٌ، وَهِيَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ

“Tidak ada yang menjaga shalat Dhuha kecuali para Awwabin” beliau mengatakan: “Shalat Dhuha adalah shalatnya para Awwabin”.

HR. Ibnu Khuzaimah no.1224, Hakim dalam Mustadrak no.1182, dan dihasankan oleh Al-A’dzami

Awwabin berasal dari kata awwab, yang berarti orang yang kembali.

Dikatakatan awwabin, sebab mereka adalah orang-orang yang kembali kepada dengan melakukan ketaatan. Lihat Faidhul Qadir: 1/408

5. Siapa Yang Mengerjakan Sholat Dhuha akan Diberi Kecukupan Oleh Allah Pada Hari Itu

Rasulullah bersabda, bahwasanya Allah Azza Wajalla berfirman;

ابن آدم ، اركع لي ركعات من أول النهار، أكفل آخره

“Wahai anak Adam, ruku’lah kepadaKu beberapa rakaat di awal siang, niscaya Aku akan mencukupimu di akhir siang”.

6. Pahala Sholat Dhuha, Nilainya Lebih Besar Daripada Harta Rampasan Perang

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, dia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim sebuah pasukan perang, kemudian mereka mendapat harta rampasan lalu pulang dalam waktu singkat.

Orang-orang saling membicarakan perang mereka, yang cukup banyak mendapat harta rampasan serta pulang dalam waktu singkat, maka Rasulullah bersabda;

“Maukah aku tunjukkan pada kalian sesuatu yang mengahasilkan lebih cepat daripada perang, lebih banyak rampasannya, dan lebih cepat pulangnya? Yakni seseorang yang berwudhu lalu pergi ke masjid untuk sholat dhuha, dialah orang yang lebih dekat dalam peperangan, lebih banyak rampasannya dan lebih cepat pulangnya”.

Hadits ini dishohihkan oleh Al Albani, Lihat kitab shohih At Targib 663-664

Mengqadha Sholat Dhuha

Mengqadha sholat dhuha maksudnya ialah mengerjakan sholat dhuha setelah waktunya sudah berlalu karena tidak sempat mengerjakannya pada waktunya.

Lalu apakah boleh melakukan sholat dhuha setelah waktunya telah lewat?

Apabila waktu sholat dhuha telah lewat berarti telah lewat, sebab sholat sunnah dhuha berkaitan dengan waktu dhuha.

Berbeda dengan sholat sunnah rawatib karena mengikuti sholat wajib, maka dia bisa diqadha.

Begitu juga dengan sholat witir, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertidur atau sakit di malam hari, beliau mengerjakan sholat di siang hari dua belas rakaat”. HR. Muslim

Tinggalkan komentar