Keseimbangan Antara Harap dan Takut

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد

Dalam hidup keseharian sering kita merasa bahwa kita telah berislam dengan baik. Seringkali kita merasa bahwa kita adalah orang yang sangat baik.

Kita telah banyak berbuat baik. Kalau hati nurani kita berbisik bahwa kita telah banyak berbuat dosa, kita menjawab:

“Itu soal biasa, semua orang pasti berbuat dosa. Dosa-dosaku sangat sedikit dibandingkan dengan amalku. Dosa-dosaku telah diampuni Allah. Saya yakin bahwa kondisi amalku saat ini sudah cukup baik. Tidak baik kalau kita terlalu fanatik”.

Ungkapan batin seperti ini, memberi dampak negatif pada kepribadian kita, yaitu: tidak termotifasi untuk mengupayakan peningkatan-peningkatan kepribadian.

Bahkan bisa mengakibatkan penurunan iman secara simultan, tanpa disadari, akhirnya dosa demi dosa dilakukan tanpa penyesalan. Tanpa taubat.

Keseimbangan Antara Harap dan Takut

Membahagiakan diri dengan amal ibadah, mesti diimbangi dengan menyedihkan diri dengan dosa dan kelalaian kita selama ini.

Optimisme pada diterimanya amal ibadah kita, mesti diiringi dengan kecemasan dan rasa takut yang mendalam jika dosa dan kelalaian kita tidak diampuni oleh Allah swt.

Jika keseimbangan ini berhasil kita lakukan secara berkesinambungan, maka rasa bahagia kita dengan amal shaleh, ibadah, amal jariyah, kebaikan-kebaikan, dzikir dan do’a, da’wah dan perjuangan, akan melahirkan kesyukuran kepada Allah yang pada gilirannya sangat memotivasi untuk meneruskan dan meningkatkan semua kebaikan itu, karena kebahagiaan kita ada pada amal ibadah.

Apalagi kita yakin bahwa waktu beramal kita semakin sedikit, karena kematian dapat saja datang secara tiba-tiba, tanpa pendahuluan.

Dalam waktu yang sama, kita menyedihkan dosa-dosa, menyesali semua dosa kepada Allah, dosa kepada ibu dan bapak, dosa kepada saudara, dosa kepada guru, dosa kepada nenek dan kakek, dosa kepada tetangga, dosa kepada atasan/ bawahan, dosa kepada pembantu/ pekerja/ karyawan, dosa kepada kawan, dosa kepada orang yang telah berjasa kepada kita, dosa kepada ibu tiri/ bapak tiri/ anak tiri, dosa kepada mertua, menantu, dosa kepada suami/ istri, dosa kepada anak, dst.

Penyesalan terhadap semua dosa itu, apalagi kalau pernah melakukan dosa-dosa besar seperti syirik, menyembah kuburan, menyembah pohon, batu, gunung sungai, laut, membawa sesajen ke kuburan, menyembelih hewan di sana.

Atau dosa syirik berupa azimat/ jimat-jimat/ tulisan-tulisan penolak bala/ meyakini ada hari yang baik dan buruk.

Atau pernah melakukan dosa sihir, atau ke dukun peramal/ paranormal. Atau pernah melakukan dosa zina.

Atau pernah melakukan pembunuhan, pencurian, penganiayaan, kezaliman terhadap orang lain, penipuan.

Atau pernah melakukan korupsi. Atau pernah meninggalkan shalat wajib. Atau pernah meninggalkan puasa Ramadhan dengan sengaja, tanpa halangan.

Atau pernah menggauli istri dari lubang anusnya. Atau pernah menggauli istri pada saat haidh.

Atau pernah meminum minuman keras. Atau pernah berjudi. Atau pernah bergibah. Atau pernah memfitnah orang lain.

Atau wanita tidak berjilbab selama bertahun-tahun. Atau dosa besar lainnya.

Buah dari Penyesalan Terhadap Dosa

Menyesali dosa yang pernah kita lakukan, melahirkan kecemasan, ketakutan, kekhwatiran jika Allah belum mengampuni semua dosa itu.

Perasaan itulah yang mendorong kita untuk menghentikan dosa. Menjauhi dosa.

Perasaan itulah yang menggerakkan lisan kita untuk senantiasa beristighfar dan beristighfar.

Perasaan itulah yang melahirkan semangat beribadah dan berbuat baik sebanyak mungkin, sesering mungkin, untuk menebus semua dosa masa lalu. Untuk menutupi semua kesalahan masa lalu.

Jika kita berhasil mewujudkan keseimbangan perasaan seperti ini, maka tidak ada lagi ketakburan, baik karena jabatan, pangkat, harta, ilmu, keturunan, kecantikan, maupun karena amal.

Yang ada pada diri kita hanyalah tawadhu, rendah hati, penghargaan pada orang lain, istighfar yang tiada henti, ingatan pada kematian tiada putus, dzikir dan do’a yang tiada akhir.

Jika kita berhasil mempertahankan keseimbangan perasaan seperti ini, niscaya grafik iman kita akan senantiasa naik dan naik terus.

Sedang grafik dosa dan kelalaian kita selalu menurun dan menurun terus. Kita cepat sadar bila kita berbuat dosa atau kita sedang lalai.

Apa yang harus dilakukan?

Kita selalu mengetahui apa yang mesti kita lakukan dan bagaimana kita melakukannya. Sehingga kita tidak susah. Tidak bingung. Tidak resah. Tidak panik. Tidak pesimis.

Inilah jawaban yang sesungguhnya dari pertanyaan yang sering kita dengarkan:

“Apa yang mesti kita lakukan agar iman kita selalu meningkat? Apa yang mesti kita lakukan kalau iman kita menurun? Apa yang mesti kita lakukan kalau kita susah?”

Jawabannya ialah : Keseimbangan antara khauf (rasa takut kepada Allah) dan raja’ (rasa harap kepada Allah). Inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah saw dalam sabda mulia beliau :

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Siapa yang merasa senang dengan kebaikannya dan merasa susah dengan kejelekannya, maka dia orang yang beriman.” HR. Muslim

Hadits ini menganjurkan kepada kita agar kita menumbuhkan rasa bahagia di hati dengan mengingat, mengenang, menghayati, amal ibadah yang kita lakukan.

Tumbuhkan dan perbesar optimisme pada diterimanya amal ibadah itu, dikabulkannya do’a-do’a kita.

Tapi, dalam waktu yang sama, tumbuhkan pula rasa penyesalan, kesedihan dan kecemasan, atas dosa-dosa yang telah kita lakukan.

Tumbuhkan dan perbesar pula rasa takut kepada Allah. Kekhawatiran kalau Allah belum mengampuni dosa kita.

Kekhawatiran kalau Allah marah kepada kita, lalu Allah mengazab kita. Na’udzubillah.

Kedua perasaan yang kontradiktif itu diupayakan seimbang dalam diri kita. Agar kita bahagia tapi tidak takabbur.

Tawadhu’ tapi tidak pessimis. Tetap rajin beribadah dan berbuat baik, sekaligus menjauhi dosa dan mengurangi kelalaian. Memperbanyak dzikir dan do’a kepada Allah swt.

Allahu Akbar. Alangkah indahnya kehidupan ini jika kita beriman dengan baik dan benar. Alangkah bahagianya hidup ini jika senantiasa berusaha menjadi mu’min sejati. Rasulullah saw bersabda :

عَجَباً ِلأَمِرِ المُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلُّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ

”Sangat menakjubkan kehidupan orang yang beriman. Semua urusannya baik baginya. Hal itu tidak didapatkan kecuali orang yang beriman”. HR. Muslim

Penyebab Susah, Gelisah dan Cemas

Marilah kita menyadari bahwa penyebab kesusahan, kegelisahan, dan kecemasan, ialah lemahnya iman, banyaknya dosa, kelalaian yang panjang.

Karena sesungguhnya iman yang kuat adalah jaminan kebahagiaan, ketenangan, kemudahan hidup, kemuliaan dan keselamatan. Allah swt berfirman :

وََلاَ تَهِنُوا وََلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمْ الأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) kamu bersedih hati padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang yang beriman”. QS : Ali-Imran : 139

Ayat mulia ini memberi hiburan bagi setiap muslim yang kuat imannya. Allah swt memberikan jaminan kemuliaan bagi orang yang beriman.
Dalam ayat lain, Allah swt berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. QS : An-Nahl : 97

Ayat mulia ini juga memberikan jaminan pasti kebahagiaan bagi setiap muslim yang kuat imannya, yang membuktikan imannya dengan amal shaleh yang berkesinambungan.

Jadi sesungguhnya perasaan susah karena dunia, perasaan gelisah karena harta dan jabatan, perasaan cemas karena merasa miskin, semua itu bertentangan dengan iman yang kuat.

Salah satu sarana yang efektif untuk memperkuat iman, ialah menyeimbangkan antara rasa harap pada bantuan Allah, dengan rasa takut pada murka dan azabNya.

Tumbuhkan dan kuatkan sangkaan yang baik kepada Allah.Tumbuhkan dan kuatkan rasa butuh pada bantuan Allah.Tumbuhkan dan kuatkan rasa ketergantungan kepada Allah swt.

Perasaan ini akan mendorong kita untuk bersungguh-sungguh berdo’a, bermohon kepada Allah.

Diiringi dengan keyakinan bahwa Allah pasti mendengar permintaan kita, Allah maha mengetahui kebutuhan kita, Allah yang maha pengasih, maha penyayang, pasti mengabulkan permohonan kita.

Dalam waktu yang sama, kita juga menumbuhkan dan meguatkan rasa bersalah kepada Allah.

Tumbuhkan dan kuatkan perasaan telah melanggar aturan-aturan Allah. Tumbuhkan dan kuatkan penyesalan terhadap setiap kesalahan dan kelalaian kita. Ingat dan bayangkan semua dosa yang sanggup diingat.

Ingat dan bayangkan semua pelanggaran yang pernah dilakukan. Penyesalan-penyesalan itu, mesti dibarengi permohonan ampunan Allah swt.

Penyesalan terhadap setiap dosa, diimbangi dengan rasa harap yang kuat pada ampunan Allah swt. Sehingga setiap itighfar yang kita ulang-ulangi, mendatangkan ketenangan, kesejukan, kedamaian di hati.

Demikianlah perpaduan indah dari dua perasaan yang kontradiktif, dipadukan secara seimbang, menghasilkan kepribadian yang seimbang.

Demikianlah kita memahami iman, mengamalkan iman dan menghayati iman, sehingga iman itu indah, nikmat, sangat bermanfaat, bahkan amat sangat dibutuhkan sekali, sehingga kita tidak mau berpisah dengan iman walau sedetik.

Selamat bejuang wahai saudaraku untuk iman yang lebih baik. Fastaqim (beristiqamahlah)!.

Oleh Ustadz Mudzakkir Arif, MA

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.