Kisah Imam Asy-Syafi’i

Imam Asy-Syafi’i – Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, aku bertanya kepada ayahku (Imam Ahmad), “wahai ayahku, kedudukan apakah yang dimiliki Asy-Syafi’i ? Karena aku mendengarmu sering mendoakannya.”

Dia (Imam Ahmad) berkata, “Wahai putraku, Asy-Asyafi’i itu laksana matahari bagi dunia, dan laksana afiyat (kesehatan) bagi manusia. Perhatikanlah, apakah keduanya ini memiliki pengganti atau memiliki penerus?.” (Tarikh Baghdad, 2/66)

Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Ishaq bin Rahawaih, dia mengatakan, Imam Ahmad bin Hanbal memegang tanganku seraya berkata,

“Kemari, hingga aku dapat membawamu kepada seseorang yang belum pernah kedua matamu melihat orang sepertinya.” Ternyata dia membawaku ke tempat Imam Asy-Syafi’i.

Nama Lengkap Imam Asy-Syafi’i

Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Al-Muththalib bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib.

Beliau memiliki kunyah atau nama panggilan yaitu, Abu Abdillah.

Dia adalah anak paman Rasulullah,nasabnya bertemu dengan beliau pada kakeknya, Abdul Manaf.

Rasulullah berasal dari Bani Hasyim bin Abdu Manaf, sedangkan Imam Asy-Syafi’i berasal dari Abdul Muththalib bin Abdu Manaf.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا بَنُو المُطَّلِبِ وَبَنُو هَاشِمٍ شَيْءٌ وَاحِدٌ

“Bani Muththalib dan Bani Hasyim itu adalah satu.”

An-Nawawi berkata, “Ketahuilah, bahwa Asy-Syafi’i memiliki tempat yang tinggi, berupa macam-macam kebaikan dan kedudukan yang mulia, karena Allah telah menghimpun padanya aneka macam kemuliaan.

Diantaranya, kemuliaan nasan yang suci, unsur yang cemerlang, dan berhimpunnya dia dengan Rasulullah dalam nasab.Itu adalah puncak kemuliaan dan puncak kedudukan.

Diantaranya juga, kemuliaan tempat kelahiran dan pertumbuhan, karena di dilahirkan di bumi yang suci yaitu palestina dan besar di Makkah Al-Mukarramah.”

Kelahiran dan Pertumbuhannya

Adz-Dzahabi berkata, “Tempat kelahiran sang imam tepatnya di Ghaza. Ayahnya, Idris meninggal saat masih pemuda, lalu Muhammad tumbuh sebagai yatim dalam asuhan ibunya.

Kemudian ibunya khawatir anaknya tersia-siakan, lalu dia berpindah ke keluarganya ketika Asy-Syafi’i berumur dua tahun, lalu besar di Makkah.

Dia menggeluti dunia memanah hingga mengungguli teman-teman sebayanya. Dia membidik tepat sasaran dengan sembilan anak panah dari sepuluh anak panah.

Kemudian dia menyukai bahasa Arab dan syair sehingga menguasainya dan unggul, kemudian dia diberi kecintaan kepada fikih sehingga mengungguli penduduk sezamannya.”

Imam Asy-Syafi’i dilahirkan di Ghaza, salah satu kota di Palestina, menurut pendapat yang paling shahih, apda tahun 150 H, yaitu tahun kematian Abu Hanifah An-Nua’im rahimahullah.

Baca Juga:
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal

Ciri-Ciri Fisik Imam Asy-Syafi’i

Abu Nua’im meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibrahim bin Murad, dia mengatakan, “Asy-Syafi’i itu berperawakan tinggi, mulia, dan bertubuh besar.”

Az-Za’rafani berkata, “Asy-Syafi’i biasa mewarnai dengan inai, berpipi tipis.”

Al-Mulzani berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bagus wajahnya daripada Asy-Syafi’i, dan terkadang dia menggenggam jenggotnya sehingga tidak lebih dari genggamannya.”

Pujian Para Ulama Kepada Imam Syafi’i

Al-Hafidz Abu Nua’im berkata, “Diantara mereka terdapat imam yang sempurna, berilmu sekaligus mengamalkan ilmunya, memiliki kemuliaan yang luhur, akhlak yang bagus, memiliki kedermawanan dan kemurahan.

Dia merupakan cahaya dalam kegelapan, menjelaskan yang musykil, menguraikan yang tidak jelas, menyebarkan ilmunya di timur dan barat, melimpahkan madzhabnya di daratan dan lautan.

Dia mengikuti sunnah-sunnah dan atsar, mencontoh apa yang telah menjadi kesepakatan kaum muhajirin dan anshar, mengambildari para ulama pilihan, lalu para ulama pilihan menceritakan hadits darinya.

Dia adalah Al-Hijazi, Al-Muththalibi, Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Sayafi’i rahimahullah.

Dia meraih kedudukan yang tinggi, dan memperoleh sifat yang luhur, sebab sifat-sifat dan kedudukan-kedudukan hanyalah menjadi hak orang yang memiliki ketaatan agama dan keturunan, dan sungguh Asy-Syafi’i mendapat keduanya sekaligus.

Kemuliaan ilmu dan pengamalannya serta kemuliaan keturunan karena kekerabantannya dengan Rasulullah.

Kemuliaannya karena ilmu adalah keistimewaan yang telahnAllah berikan kepadanya, berupa pencurahan perhatiaannya kepada berbagai disiplin ilmu.

Kemudian dia memperluasnya pada cabang-cabang hukum, lalu menggali makna-makna yant tersembunyi, dan menjelaskan berdasarkan pemahaman ushul dan pondasi dasarnya.

Dia meraih semua itu karena keistimewaan yang Allah berikan kepada seorang Quraisy karena kemuliaan akalnya.” (Hilyah Al-Auliya’ wa Thabaqat Al-Ashfiya’, Abu Nua’im, 9/63,64).

Baca Juga:
Kisah Urwah bin Zubair

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.