Contoh Karya Tulis Ilmiah

Contoh Karya Ilmiah – Tujuan utama kuliah Bahasa Indonesia di perguruan tinggi adalah agar para mahasiswa bisa menyusun sebuah karya ilmiah dalam bentuk dan isi yang logis, sistematis, dan lugas dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Oleh karena itu, setelah mahasiswa menguasai kaidah bahasa Indonesia pada perkualiahan paruh pertama dan sudah menempuh ujian tengah semester (UTS), mereka ditugasi menyusun karya ilmiah sederhana dengan topik yang sesuai dengan program studi masing-masing.

Makalah yang harus disusun mahasiswa, sebagai pensyaratan mengikuti ujian akhir semester (UAS), berkisar 10-12 halaman di luar prakata dan daftar isi. Tugas tersebut harus diselesaikan selama enam sampai tujuh minggu, dan sudah dapat diserahkan pada pertemuan terakhir (sebelum UAS).

Semoga beberapa contoh karya ilmiah di bawah bisa membantu kamu dalam menyusun sebuah karya ilmiah yang baik dan benar.

Contoh Karya Tulis Ilmiah Tentang Korupsi Angelina Sondakh

MAKALAH TENTANG “KORUPSI ANGELINA SONDAKH”

PRAKATA

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nyalah saya mampu menyelesaikan makalah ini dengan baik. Adapun penyusunan makalah ini melalui proses yang cukup lama, yaitu sekitar 8 minggu berturut-turut dimulai sejak tanggal 6 Oktober 2015.

Makalah tentang “Korupsi Angelina Sondakh” ini disusun dengan tujuan untuk melengkapi pensyaratan mengikuti ujian akhir semester (UAS) dan diharapkan melalui makalah ini, saya selaku penulis dapat lebih memahami kaidah bahasa Indonesia dan mampu menerapkan metode penulisan karya ilmiah dengan konsisten.

Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam proses penyusunan makalah ini, khususnya kepada dosen Bahasa Indonesia yang bersedia membimbing dan mengarahkan saya dalam penyusunan makalah ini.

Semoga penyusunan makalah ini dapat memberikan inspirasi bagi penulis yang lain.

Jakarta, 10 November 2015
Winda Nur Azizah

Daftar Isi

PRAKATA……………………………………..i
DAFTAR ISI…………………………………..ii
BAB 1 PENDAHULUAN…………………………1
1.1 Latar belakang……………………………..1
1.2 Rumusan Masalah……………………………1
1.3 Tujuan Penelitian…………………………..2
1.4 Kerangka Teori………………………..2
1.5 Sumber Data/Populasi dan Sampel…………………..4
1.6 Metode dan Teknik Penelitian…………………………4
BAB II PEMBAHASAN…………………………………5
2.1 Defenisi Korupsi……………………………..5
2.2 Landasan Teori…………………………….5
2.3 Motif Terjadinya Korupsi………………….5
2.4 Kasus Korupsi Angelina Sondakh……………………7
2.4.1 Kronologi Terseretnya Angelina Sondakh………….. 8
2.4.2 Tindakan KPK Terhadap Angelina Sondakh…………..9
2.5 Dampak Korupsi…………………………10
BAB III SIMPULAN dan SARAN……………………….13
3.1 Simpulan…………………………………13
3.2 Saran…………………………………………13
DAFTAR PUSTAKA……………………………14

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Korupsi di Indonesia adalah fakta dan memiliki rusak yang signifikan. Dampaknya tidak hanya merugikan keungan Negara, tetapi tidak terbatas juga pada deletimigasi hokum, perusakan kepercayaan public pada kekuasaan, serta dekonstruksi proses demokratisasi dan keberlangsungan peradaban.

Itu sebabnya, korupsi adalah musuh peradaban, dan pemerintahan yang tidak serius, tidak sistematik dan tidak konsisten “melawan” korupsi dapat dituduh telah melakukan “hijacking” Pembangunan peradaban melalui proses demokratisasi-demokratisasi yang dapat berujung pada kembalinya era otoritarian yang disertai atau ditopang system oligarki.

Korupsi telah mengakibatkan kerugian meril keuangan Negara yang sangat besar. Namun, yang lebih memprihatinkan lagi adalah terjadinya perampasan dan pengurasan keuangan Negara yang dilakukan secara kolektif oleh kalangan legislatif.

Banyak orang mendebatkan kedua masalah ini hanya berdasarkan feeling, bukan dari segi hukumnya. Masyarakat memandang seseorang yang diajukan ke pengadilan dengan dakwaan korupsi harus dijatuhi pidana sedangkan hakim memutus berdasarkan dakwaan. Hakim tidak boleh memutus di luar surat dakwaan.

Jika penuntut umum tidak dapat membuktikan dakwaannya, hakim akan memutus bebas. Bagaimana pun jahatnya perbuatan korupsi dan terorisme, tetap harus diselesaikan sesuai dengan due process of low, penegakan hokum tidak dapat dilakukan dengan feeling semata, tetapi harus dengan penguasaan hokum yang sempurna, harus sesuai dengan rasio.

Dari pantauan penulis pada beberapa kasus korupsi, terjadi ketidakseimbangan antara penuntut umum dan advokat. Beberapa advokat adalah pensiunan jaksa senior yang telah benyak berpengalaman dalam pembuatan surat dakwaan dan penyidikan perkara, sedangkan para penuntut umum adalah jaksa junior.

Perbedaan karya ilmiah saya dengan buku tentang korupsi lain yang dibaca adalah di sini dibahas lebih terperinci mengenai pengertian hingga kasus korupsi Angelina Sondakh.

Mengapa saya memilih kasus ini karena untuk menjelaskan secara terperinci mengenai korupsi serta kasus Angelina Sondakh.

Oleh karena itu, semoga karya ilmiah ini bermanfaat kepada pembaca ataupun saya selaku penulis agar wawasan kita semua bertambah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar belakang tersebut tentang “Kasus Korupsi Angelina Sondakh”, beberapa hal yang perlu dirumuskan dalam penelitian ini sebagai berikut.

1. Apa pengertian dari korupsi?

2. Apa saja teori-teori korupsi?

3. Apa dampak dari terjadinya korupsi?

4. Apa motif yang menjadi dasar terjadinya korupsi?

5. Bagaimana pola penindakan kasus Angelina Sondakh?

1.3 Tujuan Penelitian

Berkenaan dengan permasalahan pada 1.2 di atas, tujuan penelitian tentang “Kasus Korupsi Angelina Sondakh” adalah

1. Ingin mengetahui pengertian dari korupsi;

2. Ingin mengetahui teori-teori dasar korupsi;

3. Ingin mengetahui dampak dari korupsi;

4. Ingin mengetahui pola penindakan kasus Angelina Sondakh

1.4 Kerangka Teori

Karya ilmiah ini meneliti objek masalah yang berada dalam ruang lingkup ilmu hukum, yaitu korupsi. Maka konsep-konsep yang akan digunakan sebagai sarana analisis adalah konsep-konsep, asas-asas, dan norma-norma hukum yang dianggap paling relevan.

Korupsi merupakan suatu tidakan yang sangat tidak terpuji yang dapat merugikan suatu bangsa dan negara. Korupsi di Indonesia bukanlah hal yang baru, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah kasus korupsi yag terbilang cukup banyak. Akan tetapi banyak juga kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat aau pemegang kekuasaan yang telah dibongkar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (Alfitra, 2014:1)

Sebelum membicarakan lebih jauh, maka dapat dilihat dari penjelasan tentang korupsi. Alatas (2014:2) mengatakan bahwa korupsi ialah subordinasi kepentingan umum di bawah kepentingan pribadi yang mencakup pelanggaran norma tugas, dan kesejahteraan umum, yang dilakukan dengan keahasiaan, penghianatan, penipuan, dan kemasabodohan akan akibat ang diderita oleh rakyat.

Kemudian, menurut Wijayanto dan Zachrie (2010:4) pengertian korupsi, yaitu setiap orang yang dengan melawan hukum untuk melakukan perbuatan dengan tujuan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang mengakibatkan kerugian keuangan negara aau perekonomian negara (UU No.31 Tahun 1999)

Setelah mengetahui pengertian korupsi itu, kita dapat mengetahui ciri-ciri korupsi itu sepertqi apa agar kita dapat lebih memahami entang korupsi, Alatas (2007:05) memberikan ciri-ciri korupsi, sebagai berikut:

Selalu melibatkan lebi dari satu orang. Inilah yang membedakan antara korupsi pencurian atau penggelapan, pada umumnya bersifat rahasia, tertutup terutama motof yang melatarbelakangi perbuatan korupsi tersebut, melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik.

Kewajiban dan keuntungan tersebut tidaklah selalu berbentuk uang, berusaha untuk berlindung di balik pembenaran hukum, mereka yang terlibat korupsi, mereka yang terlibat korupsi ialah mereka yang memiliki kekuasaan atau wewenang serta memengaruhi putusan-putusan itu, pada setiap tindakan mengandung penipuan, biasanya pada badan publik atau pada masyarakat umum, setiap bentuknya melibatkan gungsi ganda yang kontradiktif dari mereka yang melakukan tidankan tersebut, dilandaskan dengan niat kesengajaan untuk menempatkan kepentingan umum di bawah kepentingan pribadi.

Lalu, diambil satu kasus, yaitu Angelina Sondakh yang pernah hangat dibicarakan oleh masyarakat dan muncul pertanyaan mengapa ia hingga bisa melakukan korupsi.

Berkenaan dengan kasus itu, karena kurang pendidikan untuk melatih keberanian berbeda secara positif. Akhirnya, semuanya ikut-ikutan.

Dalam lingkungan yang semuanya ikut-ikutan, ada kepuasan jika sebagai pengikut seseorang itu bisa memberikan sesuatu yang lebih.

Mungkin inilah yang mendorong Angelina Sondakh mau melakukan keterlibatan di dalam Wisma Atlit.

Dapat diambil kesimpulan bahwa Angelina Sondakh ikut-ikutan di dalam kegiatan korupsi dengan anggota lainnya. (http://www.kompasiana.com/alginting.blogspot.com/angelina-sondakh-dan-miranda-gultom-mempergunakan-kecerdasannya-dengan-bodoh_550dcf51a333116e1c2e3d730/01/11/2015)

Selanjutnya, Angelina Sondakh diberikan putusan oleh mejelis hakim kasasi yaitu 12 tahun penjara dan denda 500 juta seerti dilansir pada surat kabar online kompas 21 November 2013 (http://nasional.kompas.com/read/2013/11/29/1106246/Pesan.dari.Putusan.Angie/01/11/2015)

Selanjutnya, yang perlu diselidiki dalam korupsi ini adalah seberapa jauh dampak dari korupsi itu sendiri serta motif atau kondisi yang mendukung seseorang hingga munculnya korupsi yang terdapat atau terlibat di dalam putusan pemerintah, perusahaan besar, ataupun dalam pedagang skala kecil. (https://id.wikipedia.org/wiki/korupsi/01/11/2015)

1.5 Sumber Data/Populasi dan Sampel

Data-data yang saya sajikan dalam makalah ini merupakan data yang bersumber dari buku-buku, surat kabar, majalah online, internet, yang berhubungan dengan topik yang diangkat.

1.6 Metode dan Teknik Penelitian

Metode yang digunakan untuk menyelesaikan makalah ini adalah metode bukan penelitian lapangan, melainkan metode penelitian kepustakaan.

BAB II
Pembahasan

2.1 Defenisi Korupsi

Istilah korupsi berasal dari bahasa latin, corupptio atau corruptus, yang kemudian disalin menjadi bahasa Inggris, Corruption atau corrupt, dalam bahasa Prancis menjadi Corruption, dan dalam bahsa Belanda disalin menjadi corruptie.

Secara bahasa, korupsi berarti kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata yang menghina atau memfitnah.

Korupsi dapat didefinisikan sebagai perilaku yang menyimpang dari kewajiban formal suatu jabatan publik karena kehendak untuk memperoleh keuntungan ekonomis atau status bagi diri sendiri, atau keluarga dekat.

Karena korupsi umumnya merupakan transaksi antara dua belah pihak, korupsi adalah transaksi, yaitu satu pihak memberikan sesuatu yang berharga untuk memperoleh imbalan berupa pengaruh atau putusan-putusan pemerintah.

Menurut Gurnar Myrdad dalam bukunya Asian Drama, volume II, korupsi adalah To include not only all forms of improper or selfsh exercise of power and influence attached to a public office or the special position one occupies in the public life but also the activity of the bribes.

“Korupsi tersebut meliputi kegiatan-kegiatan yang tidak patut yang berkaitan dengan kekuasaan, aktivitas-aktivitas pemerintahan, atau usaha-usaha tertentu untuk memperoleh kedudukan secara tidak patut, serta kegiatan lainnya seperti penyogokan.”

Kemudian, arti korupsi yang telah diterima dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia, disimpulkan oleh Haryatmoko, yitu korupsi secara sederhana dipahami sebagai upaya campur tangan karena posisinya untuk menyalahgunakan informasi, putusan, pengaruh, uang, atau kekayaan untuk keuntungan dirinya.

2.2 Landasan Teori

1, Teori Vroom, kinerja seseorang bergantung pada tingkat kemampuannya dikalikan dengan motivasi.

Kemampuan seseorang berbanding lurus dengan tingkat pendidikan yang dimilikinya. Jadi, dengan tingkat motivasi yang sama seseorang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi akan menghasilkan kinerja yang lebih baik.

Namun, permasalahannya tidak sesederhana itu, masih ada rumusan Vroom mengenai motivasi seseorang, yitu motivasi bergantung pada harapan orang yang bersangkutan dikalikan dengan nilai yang terkandung dalam setiap pribadi seseorang, jika harapan seseorang adalah ingin kaya, ada dua kemungkinan yang akan dia lakukan.

Jika nilai yang dimiliki masif, dia akan melakukan hal-hal yang tidak melanggar hukum agar bisa menjadi kaya.

Namun, jika dia seorang yang memiliki nilai negatif, dia akan berusaha mencari segala cara untuk menjadi kaya sehingga muncullah korupsi sebagai jalan pintas.

2. Teori kebutuhan Maslow tersebut menggambarkan hierarki kebutuhan dari paling mendasar hingga paling tinggi adalah aktualisasi diri.

Kebutuhan paling mendasar dari seorang manusia adalah sandang dan pangan. Selanjutnya kebutuhan keamanan adalah perumahan atau tempat tinggal, kebutuhan sosial adalah berkelompok, bermasyarakat, berbangsa.

Ketiga kebutuhan paling bawah adalah kebutuhan utama setiap orang. Setelah kebutuhan utama terenuhi, kebutuhan seseorang akan meningkat kepada kebutuhan penghargaan diri, yaitu keinginan agar kita dihargai, berperilaku terpuji, demokratis dan lainnya.

Kebutuhan paling tinggi adalah kebutuhan pengakuan atas kemapuan kita, misalnya kebutuhan untuk diakui sebagai kepala, direktur, ataupun walikota yang dipatuhi bawahannya.

3. Teori Robert Kitgaard, monopoli kekuatan oleh pimpinan ditambah dengan tingginya kekuasaan yang dimiliki seseorang tanpa ada pengawasan yang memadai dari aparat pengawas, maka akan terjadi korupsi.

Prubahan pola pemerintahan yang tersentralisasi menjadi terdesentralisasi dengan adanya otonomi derah telah menggeser praktik korupsi yang dahulu hanya didominasi oleh pemerintah pusat, kini menjadi marak terjadi di daerah.

Hal ini selaras dengan teori Ktgaard bahwa korupsi mengikuti kekuasan. Korupsi adalah keajahatan kalkulasi atau perhitungan, bukan hanya sekadar keinginan.

Seseorang akan melakukan korupsi jika hasil yang didapat dari korupsi tinggi dan lebih besar dari hukuman yang didapat serta kemungkinan tertangkap kecil.

4. Teori Jack Bologne terkait keserakahan dan kerkusan para pelaku korupsi. Koruptor adalah orang tidak puas akan keadaan dirinya.

Sistem yang memberi peluang untuk melakukan korupsi, sikap mental yang tidak pernah merasa cukup, selalu sarat dengan kebutuhan yang tidak pernah usai.

Hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku korupsi tidak memberi efek jera pelaku maupun orang lain.

2.3 Motif Terjadinya korupsi

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.