Kata Kata Bijak Mutiara Islami

Kata kata bijak – 

Kumpulan Kata Kata Bijak Ulama Islam


Kata-kata Mutiara Masruq bin Al-Ajdha’

Kata Mutiara Masruq bin Al-Ajdha’ Rahimahullah

“Cukuplah bagi seseorang sebagai ilmu bahwa dia takut kepada Allah Ta’ala, dan cukuplah bagi seseorang sebagai kejahilan bila dia kagum atau takjub dengan amalnya sendiri.” At-Thabaqat Al-Kubra, Muhammad bin Sa’ad, 6/80

“Seseoarang harus memiliki majelis-majelis di mana dia menyendiri lalu dia mengingat dosa-dosanya di sana, sehingga dia memohon ampun kepada Allah.”

Masruq pernah memberi pertolongan kepada seseorang, lalu dihadiahkan kepdanya seorang budak wanita, maka dia marah seraya berkata,

“Seandainya aku tahu bahwa ini ada dalam dirimu, niscaya aku tidak sudi berbicara mengenai hal itu, dan niscaya aku tidak akan berbicara kelanjutan mengenai hal itu selamanya. Karena aku mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata,

‘Barangsiapa memberikan suatu pertolongan untuk mengembalikan hal atau untuk menolak kedzaliman, lalu dia diberi hadiah dan dia menerimanya, maka itu adalah suht atau keharaman’

Mereka mengatakan, “Kami tidak memandang suht kecuali mengambil hadiah atas perkara hukum.”

Dia berkata, “Mengambil hadiah atas perkara hukum adalah suatu kekufuran.” Ath-Thabaqat Al-Kubra, Muhammad bin Sa’ad, 6/82

“Sungguh aku memutuskan suatu perkara, lalu aku sesuai atau tepat dengan kebenaran, itu lebih aku sukai daripada ribath (berjaga-jaga di garis depan musuh) selama setahun di jalan Allah.”

“Tidak ada suatu pun yang lebih baik bagi seorang mukmin daripada liang lahad, di mana dia telah terbebas dari kesusahan dunia dan aman dari azab Allah.” Hilyah Al-Auliya’ wa Thabaqat Al-Ashfiya’, Abu Nu’aim, 2/97

“Sebaik-baik keadaanku menurutku ialah ketika pelayan mengatakan kepadaku, ‘Di rumah sudah tidak ada satu qafiz makanan (kadar ukuran kurang lebih 496 liter, biasanya digunakan menakar gandum), dan tidak pula dirham.”

“Barangsiapa yang senang mengetahui ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian, ilmu dunia dan akhirat, maka bacalah surat Al-Waqi’ah.”

Adz-Dzahabi mengatakan, “Ini dikatakan oleh Masruq dengan ungkapan mubalaghah (exaggeration), karena agungnya kandungan isi surat ini, berupa berbagai urusan dunia dan akhirat.

Makna perkataannya, ‘Bacalah surat Al-Waqi’ah,’ yakni bacalah dengan tadabbur, tafakkur, penuh penghayatan, tidak seperti keledai yang membawa buku-buku tebal.” Siyar A’lam An-Nubala, Syamsuddin Adz-Dzahabi, 4/68

Kata-Kata Mutiara Sa’id bin Al-Musayyib 

Sa’id bin Al-Musayyib merupakan salah satu dari ulama generasi tabi’in yang sangat dikagumi karena ilmu dan kesungguhannya dalam mengamalkan ilmu.

Orang-orang yang hidup pada zamannya menjadi saksi begitu tingginya keilmuan beliau dan juga kesungguhan beliau dalam beribadah dan beramal.

Karena itu, sangat pantas perkataan beliau kita jadikan sebagai nasihat atau motivasi dalam belajar, beramal dan beribadah kepada Allah.

“Tidaklah para hamba dimuliakan oleh dirinya sendiri sebagaimana menaati Allah Azza Wajalla

Tidaklah dirinya menghinakannya sebagaimana kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.

Cukuplah seorang mukmin mendapatkan pertolongan dari Allah bila ia melihat musuhnya melakukan kemaksiatan kepada Allah Azza Wajalla” (At-Tabaqat Al-Kubra, 5/137)

“Jangan mengatakan Mushaihif (untuk mushaf) dan Musaijid (untuk masjid). Segala yang diperuntukkan bagi Allah haruslah sesuatu yang agung, baik, lagi indah.” (At-Tabaqat Al-Kubra, 5/137)

“Tidaklah setan putus asa dari sesuatu melainkan dia mendatanginya dari arah wanita”

Kemudian Sa’id mengatakan, padahal saat itu di telah berusia 84 tahun dan salah satu matanya telah buta dan matanya lainnya dia rasakan kabur.

“Tidak ada sesuatu pun fitnah (godaan) yang lebih aku takkutkan daripada wanita.” (Hilyah Al-Auliya’ wa Thabaqat Al-Ashfiya’, 2/166) 

Dari Abdurrhaman bin Harmalah bahwa dia pernah bertanya kepada Sa’id bin Al-Musayyib,

“Aku melihat seseorang sedang mabuk, bagaimana menurutmu bila aku tidak melaporkannya kepada penguasa?”

Said bin Al-Musayyib berkata,

“Jika engkau sanggup menutupinya dengan pakaianmu, maka tutupilah ia.” (Ath-Thabaqat Al-Kubra, 5/134)

Said bin Al-Musayyib pernah berkata,

“Janganlah kalian memenuhi mata kalian dengan (memandang) para penolong kedzaliman kecuali dengan pengingkaran dari hati kalian, agar mal-amal shalih kalian tidak menjadi terhapus” (Hilyah AlAuliya’ wa Thabaqat Al-Ashfiya’, 2/170) 

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.