Tata Cara Mandi Wajib Sempurna Sesuai Sunnah

Tata cara mandi wajib – Setiap muslim wajib menjaga kebersihan badannya karena kebersihan merupakan bagian dari iman, salah satunya ialah dengan mandi untuk membersihkan badan dari motoran atau najis.

Mandi dalam islam terkadang bersifat mubah atau boleh, terkadang sifatnya sunnah dan pada keadaan tertentu hukumnya wajib. Olehnya itu, hendaknya setiap muslim memahami tata cara mandi wajib sesuai sunnah agar ia bisa mandi dengan benar saat berada pada kondisi ia wajib mandi.

Pada tulisan ini, akan dijelaskan dengan rinci tentang mandi wajib, mulai dari niat mandi wajib hingga tata cara mandi wajib dan hal-hal yang terkait dengannya.

Niat Mandi Wajib

tata cara mandi wajib sempurna
amazon.com

Mandi merupakan salah satu jenis ibadah, sehingga disyaratkan agar berniat dengan ikhlas saat hendak memulai mandi terutama pada mandi wajib dan mandi sunnah.

Niat mandi wajib adalah niat mandi untuk membersihkan badan dari hadats besar setelah melakukan hal-hal yang mewajibkan mandi.

Sebagaimana niat pada ibadah yang lainnya, niat mandi wajib juga harus ikhlas karena mengharapkan ridho Allah azza wajalla.

Tata Cara Mandi Wajib yang Sempurna

cara mandi wajib sempurna
watersoftenerevaluations.com

Ada beberapa hadits yang menjelaskan tata cara mandi wajib Rasulullah yang menjadi panduan bagi kaum muslim yang hendak melakukan mandi wajib.

Hadits-hadits yang menjadi panduan cara mandi wajib yang sempurna, diantaranya ialah hadits Aisyah radhiyallahu anha yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori (248) dan Muslim (316), serta hadits Maimunah radhiyallahu anha riwayat Al-Bukhori (266) dan Muslim (317).

Dari kedua hadits ini dan selainnya, dapat disimpulkan tata cara mandi wajib yang sempurna adalah sebagai berikut:

1. Mencuci kedua tangan tiga kali

Sebelum memulai mandi, hendaknya mencuci kedua tangan sebanyak tiga kali sebelum memasukkan tangan ke dalam bejana. Hal ini dijelaskan dalam hadits maimunah bahwasanya rasulullah mencuci tangannya sebanyak dua atau tiga kali.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari(1/429), “Ada kemungkinan beliau mencuci kedua tangannya untuk membersihkan kotoran yang melekat pada kedua tangannya. Kemungkinan lain, itu merupakan mencuci tangan yang dianjurkan ketika bangun tidur”.

2. Mencuci kemaluan dan tempat yang terkena mani dengan tangan kiri

Sebelum mengguyur badan dengan air, dianjurkan agar membersihkan mani yang melekat pada kemaluan atau pada bagian badan yang lainnya. Mencuci kemaluan dari najis menggunakan tangan kiri, sebab menyentuh kemaluan dengan tangan kanan hukumnya adalah makruh.

Rasulullah bersabda:

إذا بال أحدكم فلا يأخذنّ ذكره بيمينه ولا يستنجي بيمينه ولا يتنفس في الإناء

“Jika salah seorang dari kamu buang air kecil, maka janganlah ia memegang kemaluannya dengan tangan kanannya, jangan beristinja’ dengan tangan kanannya dan jangan bernafas di dalam bejana”. HR. Al-Bukhori (154) dan Muslim (267)

3. Mencuci Tangan

Setelah mencuci kemaluan, dianjurkan mencuci tangan dan membersihkannya dengan menggunakan sabun atau alat pembersih yang lainnya.

4. Berwudhu dengan sempurna sebagaimana wudhu untuk sholat

Disunnahkan berwudhu dengan sempurna sebelum mandi wajib seperti wudhu untuk sholat menurut jumhur ulama. (Fathul Bari: 1/426)

Beberapa hal terkait dengan wudhu sebelum mandi:

1. dianjurkan berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung saat wudhu untuk mandi wajib, dan tidak wajib hukumnya.

2. Bila mandi wajib di tempat yang tidak bersih, maka hendaknya mengakhirkan mencuci kaki. Jika mandi di tempat yang bersih, maka ia boleh mengkhirkan mencuci kaki dan juga boleh mendahulukan mencuci kaki bersamaan dengan wudhu.

5. Menuangkan air ke atas kepala tiga kali

Hendaknya memastikan bahwa semua rambut sudah basah hingga kulit kepala saat menyiram kepala dengan air saat mandi wajib.

6. Memulai bagian kanan kepala kemudian yang kiri

Tata cara mandi wajib yang sempurna dimulai dari kepala bagian kanan setelah pindahkan ke bagian yang kiri, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ketika belaiu mandi wajib.

7. Menyela-nyela rambut

Rasulullah melakukan hal tersebut ketika beliau menyiram kepalanya sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Aisyah radhiyallahu anha. Lihat HR. Bukhori (258), (277) dan Muslim (318)

8. Membasuh tubuh bagian kanan

Setelah membasuh atau menyiram bagian kepala hingga rambut dan kulit kepala semuanya basah dengan air, selanjutnya membasuh badan bagian kanan.

Semua hadits yang menjelaskan tata cara mandi wajib Nabi shallallallahu alihi wa sallam menetapkan bahwasanya nabi menuangkan atau membasuh badannya dengan air.

Rasulullah shallahu alihi wa sallam suka memulai sesuatu dari yang kanan, termasuk cara mandi wajib beliau juga dimulai dari yang kanan.

Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam suka memulai dari yang sebelah kanan dalam memakai sandal, berhias, bersuci, dan dalam semua urusan beliau”. HR. Al-Bukhori (168) dan Muslim (268)

9. Membasuh badan bagian kanan

Tata cara mandi wajib yang selanjutnya ialah dengan membasuh badan bagian kiri setelah selesai membasuh badan bagian kanan.

Cara membasuh badan bagian kiri sama dengan cara membasuh badan bagian kanan, yakni dengan menyiram badan dengan air bersih yang secukupnya hingga semua bagian badan basah.

Catatan:

Pertama, menuangkan air ke seluruh tubuh cukup dilakukan sekali saja sebagaimana menurut sebagian ulama, diantaranya adalah para sahabat Malik, zohir dari madzhab imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah juga memilih pendapat ini.

Adapun jumhur mengatakan bahwa dianjurkan menyiram badan sebanyak tiga kali.

Kedua, Menggosok badan ketika mandi wajib hukumnya ialah sunnah dan bukan wajib menurut jumhur ulama. Sehingga bila seseorang mandi wajib dan hanya menuangkan dan membasuhkan air ke seluruh bagian tubuhnya, maka mandi wajibnya telah sah.

Baca Juga:
Tata Cara Sholat Witir

Tata Cara Mandi Wajib Wanita

cara mandi wajib wanita haid
showerremedy.com

Tidak adan perbedaan antara tata cara mandi wajib wanita dan cara mandi junub laki-laki. Bila seorang wanita memiliki rambut yang dikepang, ia tidak diahruskan menguraikan rambutnya dan cukup baginya meratakan air ke pangkal rambut.

Hal ini berdasarkan hadits Maimunah radhiyallahu anhu, ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku adalah wanita yang selalu mengepang rambut. Apakah aku harus melepaskannya untuk mandi wajib? Rasulullah bersabda:

لا إنما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات من ماء ثم تفيضين عليك الماءفتطهرين

“Tidak, cukup bagimu menyiram air pada kepalamu sebanyak tiga kali cidukan, kemudian engkau guyurkan air ke seluruh tubuhmu. Dengan begitu, engkau telah suci”.

Aisyah radhiyallahu anha membantah Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu yang memerintahkan agar kaum wanita menurai rambut mereka saat mandi wajib. HR. Muslim (331) dan An-Nasa’i (I/203)

Tata Cara Mandi Wajib Wanita dari Haid dan Nifas

Mandi wajib setelah bersih dari haid dan nifas sama dengan cara mandi wajib karena junub. Namun, bebera perkara tambahan untuk wanita mandi wajib setelah haid dan nifas, yaitu:

1. Menggunakan sabun dan alat pembersih lainnya selain air

Wanita yang mandi wajib setelah bersih dari haid atau nifas diharuskan menggunakan alat pembersih seperti sabun atau yang lainnya selain air. Sedangkan mandi wajib karena junub, cukup dengan air.

Hal ini berdasarkan hadits Aisyah bahwasanya Asma’ bertanya kepada Rasulullah shallallahu alihi wa sallam tentang cara mandi wajib bagi wanita setelah bersih dari haid. Lihat HR. Al-Bukhori (314) dan Muslim (332)

2. Menguraikan rambutnya sehingga air sampai kepada kulit kepala.

Hal ini wajib berdasarkan pendapat Imam Ahmad, Al-Hasan dan Thawus. Sepertinya inilah pendapat terkuat dalam masalah ini sebagaimana yang telah ditahqiq oleh Ibnu Qoyyim rahimahullah.

Adapun jumhur, diantaranya Imam Asy-Syafi’i, Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa menguraikan rambut hukumnya sunnah dan bukan wajib.

3. Membersihkan bekas darah dengan kapas yang dibubuhi minyak wangi atau sejenisnya

Wanita yang telah bersih dari haid, dianjurkan mengoleskan pada kemaluannya kapas yang dibubuhi minyak wangi. Semua anggota badan yang terkena darah haid juga harus dibersihkan dengan cara yang sama.

Hal itu dilakukan untuk menghilangkan bau tidak sedap dari darah haid yang memang dikenal memiliki bau yang menyengat.

Perkara yang Mewajibkan Mandi Wajib

tata cara mandi wajib sesuai sunnah
wisegeek.com

Ada beberapa perkara yang apabila hal itu terjadi pada seseorang, maka wajib baginya mandi sesuai dengan tata cara mandi wajib yang telah ditetapkan syariat.

1. Keluar Mani

Perkara pertama yang mewajibkan seseoarang harus mandi wajib ialah keluar mani, baik saat terjaga ataupun dalam keadaan tidur.

Ketika seseorang keluar mani, maka ia harus mandi sesuai dengan tata cara mandi wajib yang benar. Seperti keluar mani karena berhubungan intim dengan pasangan atau keluar mani karena mimpi.

Ada sejumlah ayat dan hadits yang berkaitan dengan hal ini, diantaranya ialah QS.Al-Maidah ayat 6, QS.An-Nisa ayat 43 dan beberapa hadits Nabi shallallahu alihi wa sallam.

Hukum yang berlaku pada wanita dalam hal ini sama dengan hukum yang berlaku pada pria.

2. Bertemunya Dua Jenis Kelamin

Jika kemaluan pria dan wanita bertemu, maka wajib mandi sesuai dengan tata cara mandi wajib yang bebar.

Kewajiban mandi wajib dalam hal ini bukan karena keluar mani tapi karena bertemu dua kelamin, sehingga ketika kemaluan pria telah masuk ke kemaluan wanita maka harus mandi wajib meskipun tidak keluar mani.

Catata:

a. Jika kemaluan suami menyentuh kemaluan istrinya dan tidak masuk ke dalamnya, maka keduanya tidak wajib mandi, menurut kesepakatan ulama. (Al-Mugni, Ibnu Qudamah: I/204)

b. Jika seorang laki-laki mencumbui istrinya, lala ia memasukkam sesuatu selainnya kemaluannya ke dalam kemaluan istrinya, kemudia maninya keluar dan tumph ke kemaluan istrinya, maka ia wajib mandi karena keluar mani dan istrinya tidak wajib mandi (jika istri tidak mengeluarkan mani).

c. Jika suami istri melakukan hubungan intim, lalu istrinya mandi, kemudian mani suaminya keluar dari kemaluan istrinya, maka ia (istri) tidak wajib mandi lagi.

Namun menurut jumhur, ia wajib berwudhu karena mani keluar dari salah satu dari dua jalan. Sedangkan Ibnu Hazm berpendapat bahwa ia tidak wajib mandi dan juga tidak wajib berwudhu.

Ibnu Hazm berkata, “Wudhu itu hanyalah diwajibkan kepadanya karena hadatsnya sendiri, bukan hadats orang lain. Keluarnya mani suami dari kemaluannya bukan maninya dan bukan hadatsnya. Karena itu, ia tidak wajib mandi dan tidak wajib berwudhu”.

d. Jika sepasang suami istri yang masih kecil, yakni belum baligh dan belum haid, maka mereka wajib mandi sesuai dengan tata cara mandi wajib yang benar bila mereka melakukan hubungan intim.

e. Seorang istri tidak boleh menolak ajakan suaminya untuk berjima’ dengan alasan tidak ada air untuk mandi. Hal ini telah dijelaskan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa (xxx/454)

3. Haid

Seorang wanita diharuskan mandi wajib sesuai dengan tata cara mandi wajib yang benar apabila telah bersih dari haid.

Mandi wajib untuk wanita haid dilakukan setelah haidnya telah berhenti, bukan saat haidnya masih berlangsung.

4. Nifas

Hukum nifas sama dengan hukum haid, menurut ijma’. Sehingga semua hukum terkait dengan haid, berlaku pada wanita nifas.

Setelah darah nifas berhenti, seorang wanita diharuskan segera mandi wajib sesuai dengan tata cara mandi wajib yang benar, lalu setelah itu ia boleh melaksanakan ibadah sholat dan lainnya.

5. Orang Kafir yang Masuk Islam

Mengenai hukum mandi wajib bagi orang kafir yang baru masuk islam, para ulama terbagi menjadi tiga pendapat:

a. Wajib mandi secara mutlak

Ini pendapat yang dipilih oleh Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Hazm dan beberapa ulama yang lain.

b. Dianjurkan mandi bagi orang kafir yang masuk Islam.

Orang kafir yang masuk islam tidak diwajibkan mandi, kecuali jika ia dalam keadaan junub sebelum masuk islam maka ia harus mandi wajib.

Ini adalah madzhab Imam Asy-Syafi’i dan pendapat para ulama Hanafiyah.

c. Ia tidak wajib mandi secara mutlak.

Ini adalah pendapat Madzhab Abu Hanifah.

6. Sholat Jum’at

Mandi jumat hukumnya wajib dan berdosa bagi yang meninggalkannya, menurut pendapat ulama yang paling shohih. Ini merupakan pendapat Abu Hurairah, Amr bin Yasir, Abu Said Al-Khudri, da Al-Hasan Al-Basri. Ini juga merupakan riwayat dari Malik, Ahmad dan Madzhab Ibnu Hazm.

Adapun jumhur ulama, termasuk Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas, mereka berpendapat bahwa mandi jumat hukumnya sunnah dan bukan wajib.

7. Kematian

Apabila seorang muslim meninggal dunia maka wajib dimandikan. Kewajiban ini berlaku bukan pada si mayit atau orang yang meninggal, namun kewajiban ini untuk keluarga serta kaum muslimin yang ditinggalnya.

Baca Juga:
Tata Cara Sholat Hajat

Mandi yang Disunnahkan

Ada beberapa keadaan dimana seorang muslim diharuskan mandi wajib sesuai dengan tata cara mandi wajib yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan dijelaskan oleh para ulama, dan ada juga beberapa keadaan yang mana seorang muslim disunnah untuk mandi.

Berikut ini beberapa jenis mandi yang disunnahkan:

1. Mandi pada Dua Hari Raya

2. Mandi setelah Siuman dari Pingsan

3. Mandi sebelum Menggunakan Baju Ihram

4. Mandi untuk Memasuki Kota Mekah

5. Mandi pada tiap-tiap Jima’ jika dilakukan berulang-ulang

6. Mandi setelah Memandikan mayit

7. Mandi setiap Hendak sholat bagi Wanita Istihadhah

Beberapa Perkara yang Berkaitan dengan Mandi Wajib

1. Tidak Harus Berwudhu setelah Mandi Wajib

Apabila seseorang telah mandi sesuai dengan tata cara mandi wajib yang diajarkan syariat islam, maka ia tidak perlu lagi berwudhu ketika hendak sholat.

Baik ia berwudhu sebelum memulai mandi atau ia tidak berwudhu, sebab bersuci dari jinabat telah mengugurkan bersuci dari hadats.

Penghalang-penghalang jinabat juga lebih banyak daripada penghalang-penghalang hadats. Jadi, yang lebih sedikit masuk pada yang lebih banyak.

2. Cukup Sekali Mandi Wajib Untuk Dua Perkara yang Mewajibkan Mandi

Apabila pada diri seseorang terkumpul beberapa perkara yang mewajibkan mandi, misalnya haid dan junub, atau junub dan mandi jumat, dan lainnya, maka ia tidak mesti mandi satu persatu untuk setiap satu perkara yang mewajibkan mandi.

Cukup baginya mandi sesuai tata cara mandi wajib yang benar, maka ia telah suci dan bersih dari semua perkara yang mewajibkan mandi apabila ia meniatkan keduanya sekaligus.

3. Wanita Junub tidak Diwajibkan Mandi Wajib jika Ia Haid sebelum Mandi

Apabila seorang wanita dalam keadaan junub, lalu haid mendatanginya maka ia tidak diharuskan mandi wajib pada saat itu.

Wanita tersebut hanya diharuskan mandi sesuai dengan tata cara mandi wajib menurut syariat setelah ia bersih dari haid dengan meniatkan keduanya, yakni niat mandi wajib untuk junub dan haid.

4. Seoarang laki-laki boleh Mandi Wajib dari Sisa Air Wanita

Apabila seorang mandi wajib dengan air sisa wanita, maka mandinya telah sah.

5. Suami Boleh Mandi Bersama Istrinya

Tidak ada larangan bagi pasangan suami istri untuk mandi wajib bersama. Suami istri boleh melihat aurat satu sama lain dan tidak ada kemakruhan akan hal itu.

6. Tidak Boleh Mandi Telanjang di Depan Orang lain

Seseorang tidak dibolehkan mandi di depan orang lain dengan aurat terbuka. Kecuali jika ia mandi dengan menutupi bagian auratnya dari padangan orang lain, maka hal itu tidak masalah.

7. Orang yang berhadats ketika sedang Mandi

Apabila seseorang sedang mandi wajib sesuai dengan tata cara mandi wajib dalam syariat, lalu ia berhadats di pertengahan mandinya, maka hendaklah ia menyempurnakan mandinya dan tidak perlu mengulangi mandi wajib dari awal.

Baca Juga:
• Hikmah Puasa Senin Kamis

Beberapa Masalah yang Berkaitan dengan Junub

1. Orang yang Junub boleh Menunda Mandi Wajib

2. Orang yang junub boleh tidur sebelum Mandi Wajib, jika ia Berwudhu

3. Orang yang Junub boleh Membaca Al-Qur’an dan Memegang Mushaf

4. Apakah wanita yang sedang haid dan orang yang junub boleh masuk masjid dan berdiam di dalamnya?

Jumhur ulama dari imam yang empat dan selainnya berpendapat akan haramnya wanita yang sedang haid atau nifas dan orang yang junub berdiam di masjid.

Pendapat ini diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud dari kalangan sahabat. Adapun madzhab zhahiriyah, mereka berbeda dengan jumhur dalam hal ini.

Akhir Kata

Demikian ulasan tata cara mandi wajib sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu alihi wa sallam.

Kita juga telah membahas niat mandi wajib dan hal-hal yang berkaitan dengan mandi wajib dalam tulisan ini.

Harapan kita agar setiap muslim bisa menjalankan syariat dengan benar, termasuk mandi wajib wajib. Wallahu a’lam bishshawab.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.