Materi Ceramah Singkat Yang Menarik

Ceramah singkat – Salah satu cara menyampaikan dakwah yang sangat efektif ialah ceramah singkat. Dalam ceramah singkat, anda bisa menyampaikan berbagai macam ilmu di tengah-tengah masyarakat.

Materi yang disampaikan dalam ceramah singkat hendak menarik dan berbobot agar para hadirin yang mendengarkan ceramah singkat yang anda sampaikan tertarik dan antusias dengan apa yang anda sampaikan.

Namun seringkali seseorang kesulitan dalam menyusun materi ceramah singkat yang menarik dan berbobot.

Nah, kalau anda membutuhkan materi ceramah singkat yang menarik, di sini terdapat beberapa contoh ceramah singkat yang patut anda coba.

Beberapa  contoh ceramah singkat yang telah kami kumpulkan sangat cocok dijadikan sebagai bahan nasehat islami dalam berbagai forum dan sesuai dengan semua kalangan.

Daftar Isi

Kiat Menyusun Ceramah singkat yang menarik

Bila Anda ingin menyusun sebuah materi ceramah yang berbobot, silahkan baca Kiat Menyusun Materi Ceramah yang Menarik

Ceramah Singkat : Kiat Memaafkan Orang Lain

contoh ceramah tentang memaafkan
hidayatullah.com

Kehidupan sosial kita diwarnai dengan “gesekan” berupa ketersinggungan, kekecewaan, kesalahpahaman, kemarahan, kecemburuan, bahkan perselisihan pendapat, pertengkaran, makian, hujatan, perceraian, pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan dan peperangan.

Itulah “gesekan-gesekan” kehidupan sosial. Kita akrab dengan gesekan-gesekan itu. Kita temukan di media massa setiap hari, dan kita alami sebagiannya.

Sisi gelap suasana kehidupan sosial ini sangat menggangu kesenangan dan kebahagiaan kita.

Bayangkan bagaimana perasaan anda jika orang yang anda sangat cintai dan dia pun mencintai anda tiba-tiba berubah menjadi sangat membenci anda.

Bayangkanlah bagaimana perasaan Suami-Isteri yang baru saja bercerai, dengan dua anak yang masih kecil-kecil.

Bayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang bermusuhan, lalu saling memaki, saling menghujat, saling mempermalukan.

Ada baiknya kita memandang sisi gelap suasana batin ini dengan Posotif Thinking / At-Tafkir Al-Ijabi, yaitu bahwa semua itu sebagai pelengkap kehidupan. Dan gesekan itulah yang membuat hidup ini menjadi indah.

Oleh karena keindahan hidup ini salah satu sumbernya ialah fenomena berpasangan.

Yaitu bukan hanya pria yang berpasangan dengan wanita, jantan berpasangan dengan betina, tapi langit berpasangan dengan bumi, matahari berpasangan dengan bulan, siang dengan malam, bahkan arus positif berpasangan dengan arus negativ.

Di sisi lain, cinta berpasagan dengan benci, bahagia berpasangan dengan sedih, dst. Pasangan-pasangan kontradiktif itulah yang menjadikan hidup ini indah.

Kita tidak akan pernah merasakan nikmat kesehatan jika sekiranya tidak ada penyakit, tidak ada orang yang sakit. Kita tidak merasakan nikmatnya kedamaian jika sekiranya tidak ada kekacauan.

Dengan berfikir positif seperti ini, kita akan menerima gesekan-gesekan hidup ini sebagai penyedap rasa kehidupan ini yang menggairahkan, memotivasi dan mengarahkan hidup ini agar kita senantiasa berada di jalan Allah Swt.

Cara berfikir seperti inilah yang akan membuat kita menjadi orang yang peramah, pemaaf, pendamai yang bahagia dan membahagiakan.

Bila kesalahan dan kekhilafan merupakaan sifat yang ada pada setiap orang, maka semestinya peramah dan pemaaf juga menjadi sifat yang seharusnya kita miliki.

Sebah hanya dengan demikian, maka gesekan itu akan memperindah kehidupan kita, akan memperkuat kepribadian kita, dan akan memperkokoh hubungan social kita.

Untuk memaafkan kesalahan orang lain kita memerlukan :

1. Memperbesar rasa cinta dan kasih sayang kepada orang lain.

2. Mengakui dan menyadari seluruh kekurangan dan kekhilafan kita, dan bahwa kita pun menuntut untuk dipahami, dimaklumi, dan dimaafkan.

3. Meyakini bahwa sifat pemaaf itu membahagiakan dan sifat pemarah dan pendendam itu menyusahkan.

4. Meyakini bahwa sifat pemaaf itu – walaupun berat – tapi itulah jalan yang benar untuk memperkuat kepribadian, kedewasaan diri, dan menjadikan kita sebagai orang yang lebih bijak.

5. Meyakini bahwa sifar pemaaf itu, cara efektif untuk meraih Maghfirah / Ampunan dari Allah Swt.

Perjuangan untuk menjadi seorang hamba pemaaf akan mengajarkan kita banyak hikmah, banyak kebahagiaan, kemuliaan dan keindahan suasana batin dan kejernihan pikiran. Itulah ciri orang yang bertaqwa.

الَّذِيْنَ يُنْفِقُونَ فيِ السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الغَيْظَ وَالعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ( ال عمران : 134

Artinya : yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan memaaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

خُذْ العَفْوَّ وَأْمُر بِالمَعْرُوفِ وَأْعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِيْنَ

“ Jadilah engkau pemaaf dan surulah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” Dan demikianlah janji Allah Swt.

وَلاَ يَأْتَلِ أُوْلُوا الفَضْلِ مِنْكُم وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أولى القُرْبىَ وَالمَسَاكِين وَالمُهَاجِرِيْنَ فيِ سَبِيْلِ الله وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا عَلىَ أَنْ تحُِبُّ أَنْ يَغْفِرَالله ُلَكُم وَاللهَ ُغَفُوْرٌ رَحِيْمٌ 

“ Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu ? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nur: 22).

Inilah jalan perjuangan kita. Mari kita jalani bergandengan, bersama-sama menuju Rahmat dan Ridha Allah Swt. Semoga contoh ceramah singkat ini bermanfaat.
Wallahul Muwaffiq

Baca Juga:
• Beberapa Contoh Kultum Populer

Materi Ceramah Tentang Ibadah Sosial

kultum menarik tentang ibadah
hijaz.id

Pada contoh ceramah singkat kali ini, kita akan mengulas tentang ibadah sosial. Ibdah sosial ialah ibadah atau amal kebaikan yang tidak hanya berhubungan dengan Allah tapi juga dengan sesama manusia.

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alihi wa salllam bersabda:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ ؟ وَأَيُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ . وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ :سُرُوْرٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِيْ عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا. وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِيْ الْمُسْلِمِ فِيْ حَاجَتِهِ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي الْمَسْجِدِ شَهْرًا. وَمَنْ كَفَّ غَضَبَهُ، سَتَرَ اللهُ عَوْرَتَهُ .وَمَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ، مَلأَ اللهُ قَلْبَهُ رِضًى يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ فِيْ حَاجَتِهِ حَتَّى يُثْبِتَهَا لَهُ، أَثْبَتَ اللهُ تَعَالَى قَدَمَهُ يَوْمَ تَزِلَّ الأَقْدَامُ. وَإِنَّ سُوْءَ الْخُلُقِ لَيُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ )حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا فِيْ ” قَضَاءِ الْحَوَائِجِ ” وَالطَّبَرَانِيُّ فِيْ ” الْكَبِيْر ” صَحِيْحُ الْجَامِعِ الصَّغِيْر: 174

Dari Umar Bin Al-Khatthab Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan :

“Pernah datang seorang pria kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian dia bertanya : “ Siapakah yang paling dicintai oleh Allah ?” Dan “ Amal apakah yang paling disenangi oleh Allah ?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “ Orang yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang paling banyak manfaatnya ( kepada orang lain ). Dan amal yang paling disenangi oleh Allah ialah : Kegembiraan yang engkau masukkan ke hati sesama muslim, atau engkau menghilangkan darinya satu kesusahan, atau engkau membayarkan utangnya, atau engkau menghilangkan rasa laparnya.

Dan sungguh bahwa aku berjalan bersama saudaraku sesama muslim untuk menyelesaikan satu urusannya, lebih aku senangi dari pada i’tikaf di masjid selama sebulan. Dan barangsiapa menahan marahnya, niscaya Allah akan menutupi aibnya.

Dan barangsiapa menahan marahnya yang jika ia mau melampiaskannya, ia mampu melampiaskannya, (tapi ia menahannya), niscaya Allah akan memenuhi hatinya dengan ridha pada hari kiamat.

Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya sesama muslim untuk satu keperluannya sampai ia menyelesaikannya, niscaya Allah akan meneguhkan kakinya pada hari banyak kaki yang tergelincir ( Hari Akhirat ). Dan sesungguhnya akhlak yang buruk itu merusak amal, sebagaimana cuka merusak madu ”

Hadits hasan, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abid-Duniya dalam Kitab “ Qadha-ul Hawa-ij “ dan Imam At-Thabarani dalam “ Al-Mu’jam Al-Kabir “ Lihat : Shahih Al-Jami’ As-Shaghir Hadits No : 174

Beberapa Pelajaran:

1. Kesungguhan para sahabat Radhiyallahu Anhum untuk menjadi orang yang paling dicintai olah Allah, dan melakukan amal-amal yang paling disenangi oleh Allah.

Kesungguhan ini nampak jelas pada pertanyaan-pertanyaan mereka kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang sekaligus membuktikan kesungguhan mereka untuk menambah ilmu. Semua ini adalah refleksi dari jiwa yang hidup, jiwa yang sehat.

2. Orang yang paling dicintai oleh Allah ialah yang paling banyak memberikan kontribusi positif kepada orang lain.

Ungkapan ini tidaklah terpisah dengan kaidah-kaidah kesempurnaan iman secara keseluruhan, oleh karena Islam adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain.

Ungkapan ini adalah motivasi yang sangat kuat agar kita menjadi anggota masyarakat yang aktif, kreatif, inovatif dalam rangka menebar kebaikan sebanyak-banyaknya kepada seluruh lapisan masyarakat kita.

Kesungguhan untuk menjadi hamba Allah yang dicintai oleh Allah sangat memotivasi kita untuk menjadi orang yang dinamis, cerah dan bahagia dengan amal-amal shaleh yang senantiasa kita lakukan. Semua ini adalah refleksi jiwa yang hidup, jiwa besar, jiwa yang kuat.

3. Amal-amal shaleh yang sangat disenangi oleh Allah SWT dalam Hadits ini, seluruhnya merupakan agenda kerja orang yang ingin menjadi orang yang paling bermanfaat bagi masyarakatnya sebagai wasilah untuk dicintai Allah SWT. Agenda kerja itu ialah:

• Aktif menggembirakan orang lain.

• Senang membantu orang lain (dalam bentuk positif apapun).

• Memberi makan orang yang lapar.

• Menahan marah/menyalurkannya secara positif.

Agenda kerja ini hanya akan berjalan jika jiwa kita hidup, jiwa kita sehat, jiwa kita kuat.

4. Bahaya Akhlak yang buruk. Akhlak yang buruk itu berbentuk prilaku yang secara sadar dilakukan untuk menyakiti hati orang lain, menyusahkan orang lain. Seluruh kebiasaan yang berdampak seperti itu adalah ancaman terhadap keutuhan dan kesempurnaan amal shaleh kita.

Seluruh amal shaleh yang dengan susah-payah kita bangun dan kita kumpulkan, dapat rusak dan runtuh karena kebiasaan-kebiasaan buruk kita yang menyakiti orang lain seperti memaki, merendahkan, menggunjing, mengadu domba, menipu, bersikap kasar, dst.

Ini adalah ancaman dari sikap-sikap juz’iyah (parsialisme) dalam pembangunan kepribadian. Ini berarti bahwa kita dituntut untuk membangun kepribadian kita secara sadar dan optimal, secara syamil dan tawazun, menuju cinta kasih Allah Rabbul Izzati wal Jalal.

Semoga Hadits yang mulia ini dapat memotivasi kita untuk menjadipribadi-pribadi Sya’bi, figur-figur Jamahiri yang dekat dengan masyarakat, dicintai oleh lingkungannya, berkepribadian yang dinamis, berjiwa bersih, senantiasa maju menuju Cinta Kasih Allah Dzul Jalal wal Ikram. Amin.

Demikianlah contoh ceramah singkat atau kultum singkat menarik yang mudah-mudahan bisa diamalkan sekaligus dijadikan bahan materi dakwah.

Wallahu A’lam Bis-Shawab
Wa Shallallahu Wa Sallama ‘Ala Nabiyyina Muhammad

Ceramah Singkat Tentang Efektifitas Ibadah

ceramah singkat tentang ibadah
nu.or.id

Setiap ibadah yang disyariatkan dijamin pasti membawa manfaat bagi setiap muslim yang mengamalkannya. Sebagai contoh, dzikir, dijamin oleh Allah swt pasti membahagiakan (Q.S. Ar-Ra’ad: 28).

Ibadah shalat disebutkan oleh Allah swt sebagai pencegah dari perbuatan fahsya’(zina dan seluruh pendahuluannya) dan munkar (seluruh bentuk dosa). (Q.S. Al-Ankabut : 45).

Ibadah shaum disyari’atkan oleh Allah swt untuk mencapai tingkat taqwa yang optimal. Ibadah zakat diwajibkan untuk mensucikan hati dari sifat bakhil dan serakah dan membersihkan harta dari hak orang lain. (Q.S. At-Taubah : 103).

Secara umum seluruh ibadah dan amal shaleh berkhasiat sebagai penenang hati dan penghapus dosa.

Keyakinan ini sepatutnya menjadi dasar evaluasi dan introspeksi bagi kita, untuk mengukur seberapa besar manfaat ibadah itu terasa dalam hidup kita.

Oleh karena semangat ibadah kita berbanding lurus dengan khasiatnya dalam diri kita. Artinya, semakin terasa ni’mat ibadah itu, semakin besar pula keinginan kita untuk terus menikmatinya.

Dan kiranya inilah dari pertanyaan mengapa kita cenderung malas beribadah ?. malas beramal ?

Karena kita belum merasakan nikmatnya, belum mendapat kan khasiatnya, jadi, agar kita rajin beribadah, tidak ada jalan lain, temukan khasiatnya !

Kiat untuk mendapatkan manfaat ibadah dan amal shaleh ialah penghayatan ibadah melalui :

1. Memahami Fadhilah (Keutamaan) Ibadah.

2. Meyakini Fadhilah Tersebut.

3. Menghadirkan dalam benak fadhilah tersebut pada saat kita beribadah.

4. Menghadirkan dalam benak bahwa ibadah tersebut adalah langkah mendekat kepada Allah swt, sekaligus sebagai upaya mensucikan hati dari penyakit-penyakit dan kotoran-kotoran dosa.

5. Memperbanyak ibadah dan amal yang berkesan, yang menggugah hati, yang sulit untuk dilupakan.

Seperti ibadah atau do’a yang dibarengi dengan tangis, karena menyesali dosa dan takut pada azab Allah swt.

Penghayatan ibadah dengan kiat-kiat di atas diharapkan akan memberi rasa nikmat pada ibadah, do’a dan amal shaleh kita. Jika kenikmatan itu telah kita rasakan, niscaya ia akan menjadi kebutuhan yang kita rindukan.

Rasa butuh dan kerinduan itulah yang memotivasi kita secara kuat untuk memperbanyak ibadah dan amal shaleh, dan dari persembahan itulah kita menemukan kebahagiaan dan kedamaian hidup yang hakiki..Amin.

Baca Juga:
• Asmaul Husna dan Penjelasannya

Ceramah Singkat: Dzikir Kepada Allah

Ceramah pendek tentang dzikir

Pada materi ceramah singkat kali ini, yang akan dibahas ialah tentang dzikir kepada Allah Ta’ala. Dzikir kepada Allah merupakan hal yang wajib bagi setiap hamba.

Untuk lebih jelasnya, silahkan simak penjelasan tentang dzikir kepada Allah Azza Wajalla pada contoh ceramah singkat di bawah ini.

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Hari ini adalah hari kelima yang penuh berkah dari bulan istimewa Ramadhan. Teriring do’a kepada Allah Swt semoga kehidupan kita pada hari ini lebih baik dan lebih banyak berkahnya dari hari-hari yang lalu.

Semoga kita semua senantiasa dibimbing oleh Allah Swt untuk semakin deat kepadaNya. Amin.

Renungan kita pada hari ini akan difokuskan pada DZIKIR. Renungan ini diawali pada kesadaran kita pada kurangnya kuantitas dzikir kita. Indikasinya bisa kita runtut seperti ini :

Betapa sering kita bangun dari tidur tidak berdzikir, lalu masuk kamar mandi tidak berdzikir, keluar kamar mandi tidak berdzikir, lalu mengganti pakaian tidak berdzikir, lalu bercermin juga tanpa dzikir.

Sebelum makan biasanya kita berdzikir, tapi sesudah makan, kadang kita lupa berdzikir.

Pada saat kita keluar rumah, seringkali kita tidak berdzikir. Apalagi ketika masuk rumah, masih sangat banyak muslim yang tidak tahu bahwa ada dzikir tertentu ketika kita masuk rumah.

Jika perkiraan ini benar, maka ini adalah bukti yang kuat bahwa dzikir kita masih kurang.

Padahal Allah SWT mewajibkan kepada kita untuk berdzikir yang banyak. Mari kita renungkan firman Allah Swt dalam surah Al Ahzaab (33) 41-42)

Kita semua telah menyadari bahwa dzikir itu adalah bukti iman dan sekaligus sebagai barometernya.

Artinya, semakin tinggi iman seseorang, semakin banyak dan semakin baik dzikirnya, sebaliknya, jika dzikir seseorang itu masih kurang, itu adalah indikasi kelemahan imannya.

Dan inilah yang perlu kita risaukan bersama. Mari kita renungkan firman Allah Swt dalam surah Ali Imran (3) : 190-191)

Penyebab Kurang Dzikir

Selain faktor lemahnya iman, ada baiknya kita mencari faktor apa saja yang menyebabkan kurangnya dzikir, atau kita membedah lebih dalam lagi, bagaimana kelemahan iman itu menurunkan semangat untuk berdzikir :

1. Tidak tahu bahwa dzikir itu adalah fardhu ‘Ain (kewajiban setiap muslim).

2. Tidak tahu / tidak hafal dzikir tertentu.

3. Sering lupa membaca “Bismillah” dan “Al Hamdulillah”.

4. Kurang bersungguh-sungguh menyelesaikan dzikir-dzikir setiap selesai shalat fardhu.

5. Kurang yakin pada manfaat / khasiat dzikir.

Bagimana Solusinya?

Meyakini kewajiban dzikir, meyakini manfaat dzikir, mempelajari dan menghafal dzikir-dzikir dari Rasulullah SAW, selalu berniat untuk berdzikir dan selalu bersungguh-sungguh untuk menyempurnakannya.

Dzikir adalah fardhu ‘ain. Dalilnya ialah : Q.S : Al Ahzaab (33) 41-42, Al Baqarah (2) 152, Al Jumu’ah (64) 9-10 dan Al Ankabut (29) 45.

Beebrapa Manfat Dzikir

1. Orang rajin berdzikir pasti dibantu oleh Allah Swt dalam segala urusannya. Q.S Al Baqarah (2) : 152.

2. Orang yang rajin berdzikir pasti bahagia dan tentram hidupnya. Q.S Ar Ra’d (13) : 28.

3. Orang yang rajin berdzikir pasti diampuni dosa-dosanaya dan pasti mendapat pahala yang besar. Q.S Al Ahzaab (33) : 35.

Keutamaan Dzikir Tertentu

1. Keutamaan Wirid Tahlil dan Wirid Tasbih

: لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لهَ، لَهُ المُلـْكُ وَلَهُ الَحمْدُ وَهُوَ عَلىَ كُل ِّشَيْءِ قَدِير: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْه أَنَّ رَسُولُ اللِه صَلَّى الله عليه وسلم قال : مَنْ قَالَ

Dari Abu Hurairah R.A, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : Siapa yang membaca : “Tidak ada Tuhan selain Allah, sendiriNya, tidak ada sekutu bagiNya, milikNya seluruh kekuasaan dan milikNya seluruh pujian, dan hanya Dialah yang maha berkuasa atas segala sesuatu”

ِفْي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّة، كَانَتْ لَهُ عِدْلُ عَشْرَ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةَ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةَ سَيِّئَة، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَومَهُ ذَلكَ حَتَّى يُمْسِي، وَلَمْ يَأْتِ أَحَد أَفْضَل ِممَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ

Bacaan ini dibaca seratus kali sehari maka ia mendapat pahala sama dengan pahala memerdekakan 10 orang budak. Dan dicatat untuknya seratus kebaikan.

Dihapuskan seratus dosanya dan bacaan tersebut menjadi benteng baginya dari kejahatan syetan sepanjang hari itu, dan tidak ada orang yang lebih banyak pahalanya pada hari itu dari dia, kecuali seorang yang membaca (bacaan) ini lebih banyak lagi.)

مَنْ قَالَ : ” سُبْحَانَ الله وَ بِحَمْدِه” – فِي يَوْم مائَةَ مَرَّة، خُطَّت خَطَايَاهُ وَلَو كَانَ مِثْل زَبَدِ البَحْرِ

Dan siapa yang membaca : “ Maha Suci Allah dan dengan memujiNya “ seratus kali sehari, niscaya digugurkan dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.HR. Bukhari Muslim]Kiat untuk yakin :

1. Renungan pada hakekat iman kita yang berarti percaya sepenuhnya kepada firman firman Allah dan sabda-sabda shahih Rasulullah Saw.

2. Banyak belajar Islam, sering bertanya kepada ustadz / ulama yang terpercaya.

3. Mencoba dan merasakan manfaat dan khasiat dzikir, terutama pada ketenangan dan kebahagiaan hati.

4. Banyak berdo’a memohon keyakinan, hidayah dan taufiq Allah Swt:

رَبنَّاَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْلَنَا مِنَ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الوَّهَابُ

“Wahai Tuhan kami, janganlah engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan. Engkau Maha memberi petunjuk kepada kami, karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya hanya Engkaulah Maha Pemberi” . [QS Ali Imran (3) 8]

وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيْهَا َمعَادِي وَاجْعَل الحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِيْنِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي ،وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي

“Ya Allah, perbaikilah untukku (pengamalan) agamaku yang menjadi pegangan semua urusaku. Dan perbaikilah untukku (urusan) duniaku yang menjadi tempat kehidupanku. Dan perbaikilah untukku (urusan) akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Dan jadikanlah kehidupanku ini menjadi tambahan untukku dalam semua bentuk kebaikan. Dan jadikanlah kematianku sebagai istirahat dari semua kejelekan” [H.R Imam Muslim]

Allahumma Amin …

Contoh Ceramah Agama: Cara Berpikir Positif

ceramah singkat cara berfikir positif
haibunda.com

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu beliau mengatakan : Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“Orang beriman yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari- pada orang mu’min yang lemah. Dan masing-masing punya kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah bantuan kepada Allah dan jangan merasa lemah (pessimis) dan jika kamu mendapat satu musibah (kesulitan), jangan berkata : “sekiranya saya melakukan ini, maka akan terjadi seperti ini “Tapi katakanlah : “ Sesungguhnya Allah telah menentukan (keputusan-Nya) dan DIA melakukan apa yang DIA kehendaki “. Oleh karena ucapan “sekiranya” itu membuka peluang kerja bagi syetan “ Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim : 8/56

Beberapa Pelajaran hadits :

1. Agama Islam sangat menekankan kekuatan ummatnya, dalam pengertian yang seluas-luasnya. Untuk itulah sehingga kita diwajibkan memperkuat diri untuk menghadapi musuh. Lihat Surah Anfal (8) Ayat: 60.

2. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk senantiasa memikirkan, mementingkan dan mengerjakan hal-hal yang bermanfaat saja. Jangan pikirkan sesuatu yang tidak berguna.

Jangan pentingkan sesuatu yang tidak penting. Jangan kerjakan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat. Ini adalah doktrin cara berpikir positif (At-Tafkir Al-Ijabi/Positif Thingking). Lihat Surah Al-Mu’minun (23) Ayat: 3.

3. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan.

Ini adalah perintah untuk membangun sifat rajin, agar kita tidak terbiasa menunda-nunda pekerjaan yang bisa diselesaikan pada waktunya, dan agar kita tidak membiarkan benih-benih kemalasan dalam diri kita tumbuh berkembang.

Sikap sungguh-sungguh dan serius dalam pekerjaan akan mewujudkan profesionalisme dan produktifitas yang tinggi.

Dan sesungguhnya penyebab utama kelambanan pengembangan kepribadian kita, lebih disebabkan oleh karena sifat malas yang kita sadari ataupun tidak kita sadari. Solusinya ialah: Paksa Diri (yang tidak membahayakan diri).

4. Meminta Bantuan Allah (Al-Isti’anah Billah) adalah kiat “oper bola” kepada Yang Maha Kuasa. Kiat ini akan selalu menyelamatkan dari sikap putus asa dan kecemasan yang berlebihan.

Kekuatan do’a yang diyakini oleh seorang mu’min mujahid akan senantiasa memberi harapan dan kekuatan batin yang luar biasa dalam menghadapi tantangan apapun, sehingga ia terhindar dari perasaan-perasaan negatif, dan pikiran-pikiran negatif ( Negatif Thingking ).

5. Larangan untuk mengandai-andai terhadap sesuatu yang telah berlalu, adalah penegasan yang kesekian kalinya dalam satu hadits yang mulia ini terhadap pentingnya, bahkan wajibnya cara berpikir positif !. Tinggalkan penyesalan yang mengundang cara berpikir yang negatif.

Ketahuilah bahwa syetan senantiasa mencari peluang dan kesempatan untuk mempengaruhi jiwa dan pikiran kita. Jangan beri peluang kepadanya untuk bekerja dalam diri kita.

Semoga Hadits yang mulia ini senantiasa mengilhami kita untuk bertanya pada diri sendiri: Bagaimana Seharusnya Saya Berpikir Positif Saat Ini ?.

Wa Shallallahu Wa Sallama ‘Ala Nabiyyina Muhammad.

Baca Juga:
• 6 Rukun Iman dan Penjelasannya

Ceramah Pendek Tentang Taubat

ceramah singkat tentang taubat
islamidia.com

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kita mengejar kebahagiaan dan ketenangan hidup melalui ibadah dan amal shaleh. Namun ada satu hal yang sangat menghalangi kita untuk meningkatkan Ibadah dan amal shaleh, yaitu dosa – dosa kita !!.

Dosa yang berarti pelanggaran terhadap hukum Allah Swt menorehkan noda hitam di hati, dan membuat hati kita tertutup secara perlahan, memperlemah kekuatan jiwa kita, sehingga kita akan malas beribadah, tidak senang dengan amal shaleh, benci dengan orang-orang shaleh.

Sebaliknya, dosa dan maksiat menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan, senang menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, senang membuang-buang waktu tanpa manfaat, senang pada ahli dosa dan maksiat.

Dosa dan pelanggaran itu sumber kesusahan kita, penyebab kecemasan kita, dan penyebab kekosongan hati kita. Dan bila kita merasa sulit untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an atau hafalan Qur’an kita hilang, penyebabnya adalah dosa.

Bila kita tidak senang mendengar nasehat, penyebabnya adalah dosa. Jika kita merasa sulit untuk khusyu’ penyebabnya adalah dosa.

Dosa-dosa kita benar-benar menghalangi kita untuk beribadah dan beramal shaleh.

Tapi Allah Swt yang bersifat Rahman dan Rahim melarang kita berputus asa. Allah Swt menyayangi kita yang banyak berbuat dosa, dengan menyuruh kita bertaubat. Allah Swt berjanji akan menerima taubat kita.

Mari kita renungkan Firman Allah Swt dalam Surah Az-Zumar (39) : 53-55 dan dalam Surah At-Tahrim (66) : 8.

Taubat akan meringankan beban batin kita. Taubat akan memudahkan langkah kita untuk ibadah dan amal shaleh.

Taubat akan melahirkan inspirasi-inspirasi positif untuk berbuat baik. Taubat akan menjernihkan pikiran, membahagiakan hati.

Mari kita renungkan Firman Allah Swt dalam Surah An-Nur (24) : 31.

5 Langkah Taubat

Untuk taubat yang efektif, kita perlu mengikuti 5 langkah berikut ini ;

1. Menghentikan dosa saat ini, tidak ditunda.

2. Menyesali semua dosa yang telah kita lakukan.

3. Memperbanyak Istighfar. Mengamalkan Wirid Istighfar 100 x Setiap pagi dan sore/malam.

4. Mengembalikan hak orang lain, atau memohon halalnya atau memohon maaf.

5. Membuat rencana-rencana perbaikan diri yang lebih jauh.

Bila kita berniat Ikhlash, ingin mendapatkan Ridha Allah Swt lalu kita bersungguh-sungguh mengamalkan langkah-langkah taubat ini, yakinlah bahwa Allah Swt pasti memudahkan urusan kita, memberkahi usaha kita, menyelesaikan problem dan kesusahan kita, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw.

Akhirnya, mari kita mulai meninggalkan semua perbuatan yang kita tahu bahwa itu dosa. Mari kita mulai membiasakan diri dengan wirid Istighfar. Mari kita membaca Sayyidul Istighfar.

Mari kita saling mema’afkan. Mari stop kezhaliman kepada orang lain. Mari kita mulai mengamalkan rencana kebaikan. Jangan tunda niat untuk beramal Shaleh.

Perjuangan untuk mengamalkan semua ini, wajib didukung dengan do’a khusyu’, terutama dengan do’a yang diajarkan oleh Allah Swt dan diajarkan oleh Rasulullah Saw, antara lain :

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُو نَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

“Wahai Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami (dengan dosa-dosa kami) dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami pasti termasuk orang yang rugi”. [QS. Al-A’raf (7) : 23]

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْماً كَثِيرْاً وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْلِي مَغْفِرةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيْم

“Ya Allah sesungguhnya aku telah menganiaya diriku dengan kezhaliman yang banyak (dosa-dosa) dan tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku, sesungguhnya hanya Engkaulah yang Maha Mengampuni, lagi Maha Penyayang.

Baca Juga:
• Tanda Tanda Hari Kimat

Ceramah Singkat Tentang Syukur

ceramah singkat tentang syukur
aswajamuda.com

Renungan Hari pertama bulan Mulia Ramadhan

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Al-Hamdulillah, Bulan Suci yang kita nanti-nantikan telah tiba. Al-Hamdulillah, Allah Swt telah memberikan nikmat umur kepada kita, sehingga kita masih dapat menikmati bulan yang penuh berkah ini.

Al-Hamdulillah, kita telah mulai Shalat Taraweh / Qiyamullail yang tenang dan khusyu’ tadi malam, dan kita telah mulai membaca Juz pertama dari Al-Qur’an yang mulia, kita telah mulai ibadah shaum yang wajib ini dan menikmati dzikir dan do’a yang khusyu’ pada hari yang sangat istimewa ini.

Bahagia hati ini menyaksikan Ummat Islam beramai-ramai memenuhi Masjid dan Mushallah, tak terkecuali anak-anak pun turut memadati rumah-rumah Allah.

Bahagia hati ini berkumpul dengan Isteri / Suami, anak-anak dan seisi rumah di hadapan hidangan sahur.

Kita sahur bersama dengan suka cita dan bahagia. Bahagia hati ini shalat shubuh berjamaah dengan menyertakan Isteri / Suami dan putera / puteri.

Al-Hamdulillah, terima kasih Ya Allah.. Kami bersyukur kepada-Mu atas nikmat Iman yang Engkau karuniakan kepada kami. Dengan iman inilah, kami dapat menikmati semua pemberian-Mu ya Allah.

Dengan iman inilah kami dapat bahagia dengan Bulan suci Ramadhan, kami dapat gembira dengan Ibadah, Tilawah, Dzikir dan Do’a.

Dengan Iman, berkumpulnya ummat Islam di masjid menjadi pemandangan yang sangat indah, sangat menyenangkan, Subhanallah.

Kami yakin bahwa tanpa Iman, kami pasti sesat. Tanpa iman hati kami pasti keras, ibadah terasa sangat berat, tak ada cinta kepada-Mu, tak ada takut kepada-Mu, tak ada harapan kepada-Mu. Lalu kepada siapa kami bergantung selain kepada-Mu.

Ya Allah.. terima kasih atas nikmat Iman, Ya Allah.. Kami bersyukur atas nikmat Iman. Kami merasa mulia dengan nikmat Iman.

Dan kami yakin bahwa nikmat inilah pemberian Allah yang paling mahal. Nikmat inilah modal satu-satunya yang kami miliki untuk hidup tenang, bahagia, damai, mulia, kuat dan selamat di dunia dan di Akhirat. Allahu Akbar.

Mari kita renungkan Firman Allah Swt dalam surah Al-Hujurat (49):7,8 dan 17.

Pada siang hari yang penuh berkah ini kita sedang lapar, haus, dan lelah, tapi semoga kita semua bahagia. Kebahagiaan itulah berkahnnya Ibadah.

Kita bahagia karena kita yakin bahwa kita berada di jalan Allah Swt, jalan keselamatan dan kemuliaan, kita bahagia kerena kita yakin bahwa Allah Swt pasti mengampuni dosa-dosa kita yang sungguh amat sangat banyak sekali itu.

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَلهَ ُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه

“Siapa yang berpuasa atas dasar iman dan keikhlasan pasti diampuni
seluruh dosanya yang telah lalu”. (HR. Imam Al-Bukhari).

Kita bahagia dengan Ibadah Puasa karena kita yakin bahwa ibadah puasa ini memperberat timbangan kebaikan kita nanti di hari akhirat, kita juga yakin bahwa orang yang sedang berpuasa itu do’anya dikabulkan oleh Allah Swt.

Kebahagiaan inilah yang kita syukuri. Nikmat iman inilah yang kita syukuri. Amal ibadah inilah yang kita syukuri.

Kita bersyukur karena kita beriman, kita beribadah karena kita bersyukur. Kita bersyukur karena ibadah kita membahagiakan kita …Al-Hamdulillah.

Kebahagiaan kita dengan ibadah dan amal shaleh itulah barometer efektifitas ibadah kita. Disitulah berkah dan kesuksesan amal shaleh kita.

Penghayatan kesyukuran atas segala nikmat Allah Swt, itulah yang mendorong kita secara kuat untuk rajin beribadah, efektif beramal shaleh, lari dari dosa, sangat takut dari pelanggaran.

Dan penghayatan kesyukuran inilah yang membuat semua ibadah itu terasa nikmat, indah membahagiakan sehingga kita benar-benar mendapatkan manfaat, khasiat dan berkahnya.

Mungkin inilah seberkas cahaya hikmah dari jaminan Allah yang berjanji pasti :

“Jika kamu bersyukur, aku pasti menembahkannya kepadamu. Dan jika kamu ingkar, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Q.S Ibrahim (14) : 7.

Yakin Bahwa Kesyukuran Itu Rahasia Kebahagiaan
Dan mungkin ini pula satu dari sekian banyak penyebab kesusahan, yaitu : Tidak bersyukur. Allah Swt berfirman :

“Sangat sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur” Q.S. Saba (24): 13.

Dan mungkin ini pula hikmahnya Allah Swt mengajarkan kepada kita untuk berdo’a:

رَبِّ أَوْزِعْني أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَليَ وَعَلىَ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالحِاً تَرْضَاه وَأَدْخِلْني بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادك الصَّالِحِيْن

“Wahai Tuhanku, berikanlah ilham kepadaku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang Engkau telah berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku. Dan agar aku melakukan amal shaleh yang Engkau ridhai. Dan masukkanlah aku dengan Rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh. Amin..

Selain itu Rasulullah Saw mengajarkan pula do’a memohon syukur yang dianjurkan untuk dibaca setiap selesai shalat Fardhu :

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir kepada-Mu,
untuk mensyukuri-Mu dan untuk memperbaiki Ibadah kepada-Mu”.

Allahumma Amin..

Baca Juga:
• Tata Cara Shalat Witir

Contoh Ceramah Singkat Tentang Shalat

ceramah singkat tentang sholat
palembang.tribunnews.com

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Hari ini adalah hari ketujuh yang penuh berkah dari bulan suci Ramadhan ini. Hari-hari ini adalah hari-hari termahal dalam hidup kita sebagai orang yang beriman kepada Allah Swt.

Karena pada hari-hari ini kita dijanji oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw untuk mendapatkan ampunan, kebahagiaan, keberkahan hidup, dan pahala yang besar bagi orang yang bersungguh-sungguh beribadah dengan ikhlash dan benar.

Atas dasar keyakinan inilah, kita bekerja keras pada hari-hari ini, sepanjang bulan mulia Ramadhan untuk membiasakan diri dan mendisiplinkan diri dengan berbagai bentuk ibadah dan amal shaleh.

Dan untuk mengoptimalkan efektifitas ibadah dan amal –amal shaleh tersebut, kita melakukan renungan-renungan setiap hari untuk meningkatkan penghayatan dan interaksi batin kita dengan setiap ibadah dan amal yang kita kerjakan .

Renungan Kita Pada Hari Ini ialah Tentang Ibadah Shalat

Bulan Ramadhan selain diwarnai dengan ibadah Shaum, juga diwarnai dengan ibadah shalat, yaitu dengan shalat taraweh berjamaah 11 rakaat, atau 21 rakaat, atau bahkan lebih dari itu.

Pada bulan mulia ini pula kita membiasakan diri untuk shalat berjamaah, shalat sunnah rawatib 10-12 rakaat sehari semalam, dan kita pun membiasakan diri untuk shalat Dhuha. Demikianlah perjuangan kita menegakkan ibadah shalat pada bulan penuh berkah ini.

Yang perlu kita renungkan tentang ibadah shalat, antara lain :

1. Mengapa masih banyak dari ummat Islam yang malas menegakkan Shalat?.

Dan bila yang tidak shalat itu adalah anak kita atau orang yang berada dalam tanggung jawab kita, bagaimana solusinya?

2. Mengapa masih banyak ummat Islam yang malas Shalat di Masjid ?.

Padahal Masjid itu dibangun untuk menjadi tempat berkumpulnya Ummat Islam untuk shalat dan untuk seluruh aktivitas kebaikan.

3. Mengapa masih banyak di antara kita yang malas shalat sunnah Rawatib ?.

4. Mengapa kita sulit untuk khusyu’ di dalam shalat ?.

5. Mengapa ibadah shalat belum efektif mencegah kita dari perbuatan dosa ?.

6. Mengapa banyak orang yang shalat tergesa-gesa ?.

7. Mengapa banyak orang yang tidak berdzikir secara sempurna setelah shalat?.

8. Mengapa shalat belum membahagiakan sebagian di antara kita?.

9. Mengapa jumlah jamaah taraweh di Masjid semakin berkurang ?.

10. Mengapa banyak orang rajin berjamaah tapi bermusuhan ?.

Mari kita luangkan waktu untuk merenungkan semua pertanyaan ini, atau sebagiannya. Karena itu sebagian dari relitas kehidupan kita. Ini adalah bagian dari tanggung jawab kita.

Jawaban-jawaban yang patut kita renungkan, antara lain :

1. Penyebab kemalasan beribadah adalah ketidaktahuan (kejahilan) dan kelemahan iman (ketidakyakinan).

2. Penyebab rendahnya khasiat dan efektifitas Ibadah shalat ialah rendahnya kualitas khusyu dan penghayatannya.

3. Penyebab rendahnya Khusyu’ dalam shalat kerena ketidaktahuan arti bacaan shalat, dan kurangnya upaya untuk khusyu’.

4. Penyebab rendahnya semangat dzikir setelah shalat ialah shalat yang tidak khusyu’ dan tidak ada upaya untuk menyempurnakan shalat.

5. Penyebab permusuhan antara jamaah masjid ialah penyakit-penyakit hati, dan ibadah yang belum efektif.

Apa Solusinya?

Dengan renungan-renungan serius kita akan menemukan banyak solusi dan kita akan mendapatkan banyak inspirasi tentang langkah-langkah perbaikan. Antara lain:

1. Meningkatkan semangat belajar Islam.

2. Membiasakan diri mengikuti ceramah-ceramah di TV, radio, kaset, membaca buku, majalah Islam, aktif hadir di majelis ta’lim, rajin bertanya dan berkonsultasi kepada Ustadz/Ulama.

3. Menyadari kelemahan Iman. Dan selalu mengakui kelemahan tersebut, sehingga lahirlah sifat Tawadhu’ (rendah hati), lahirlah rasa Khauf (takut kepada Allah Swt) rasa cemas menghadapi kematian.

4. Memikirkan peningkatan iman secara berkesinambungan. Memperbanyak rencana-rencana amal shaleh dan segera melaksanakannya.

5. Meningkatkan perhatian kepada kuantitas dan kualitas ibadah shalat, mengupayakan kiat-kiat khusyu’ dan berusaha menemukan kebahagiaan melalui shalat dan dzikir.

6. Meningkatkan rasa persaudaraan seIslam. Membiasakan sifat pemaaf, pemurah, tenang di kala marah, berbaik sangka dan menghargai orang lain.

Akhirnya, kita harus banyak berdoa kepada Allah Swt agar kita dibimbing oleh Allah Swt untuk senantiasa memperhatikan ibadah shalat, dan seluruh ibadah dan amal shaleh.

Dan Allah Swt mengajarkan kepada kita untuk berdo’a dengan do’a ini :

رَبِّي اجْعَلْنِي مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيََّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّل دُعَاءِ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُومُ الحِسَابِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankan do’a ini.

Ya Tuhan, ampunilah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.

Allahumma Amin..
والحمد لله رب العالمين

Baca Juga:
• Tata Cara Mandi Wajib

Contoh Ceramah Menarik: Ramadhan, Bulan Keharmonisan Rumah Tangga

contoh ceramah singkat
kapanlagi.com

Alhamduka ya Allah hamdan yaliqu bijalali wajhika wa‘azhimi sultanik. Allahumma ya Allah, shalli wasallim ‘Ala ‘Abdika wa Rasulika Muhammad

Kehidupan rumah tangga adalah salah satu ni‘mat karunia Allah yang sangat besar. Dengannya kita bahagia. Dengannya kita bergenerasi. Dengannya terwujudlah keluarga besar yang jelas keturunanya.

Dengannya tersalurlah tuntutan biologis secara suci. Dengannya tersalurlah rasa cinta di hati secara alami dan Islami. Dan sejumlah manfaat rumah tangga lainnya.

Rumah tangga itu pada dasarnya, pada umumnya dan pada awalnya harmonis, rukun, damai, akrab, penuh cinta kasih.

Namun rumah tangga itu tidak disebut rumah tangga jika tidak mengalami problem.

Rumah tangga itu identik dengan masalah. Karena ia adalah bagian dari hidup kita yang memang mempunyai tabiat perjuangan.

Problem-problem rumah tangga itu disebabkan oleh hawa nafsu, kesalah fahaman, kurang pengertian, berbagai penyakit hati, dan perbedaan cara berfikir.

Untuk meningkatkan kwalitas kehidupan rumah tangga kita, hal ini perlu dicermati dengan seksama, oleh karena mungkin semua suami pernah dibisik oleh syetan untuk meninggalkan/menceraikan isterinya.

Dan mungkin semua isteri pernah dibisik oleh syetan untuk lari meninggalkan suaminya/meminta untuk dicerai !!. Mungkin kita semua pernah -minimal satu kali- menyesali pernikahan kita dengan pasangan kita !!.

Jangan biarkan syaitan berdaulat !, jangan biarkan hawa nafsu memimpin !. Mari kita tegakkan jihad suci dalam rumah tangga kita.

Mari kita wujudkan persamaan persepsi dalam membangun syurga rumah tangga ini, bahwa kebahagiaan dan keharmonisan, keutuhan dan kekuatan rumah tangga, ada pada nilai-nilai spiritual kita, seperti Ibadah, kesucian hati, Iman yang kuat, ketaatan kepada Allah, pendekatan kepada Nya, taubat dari dosa, dst..

Kebahagiaan dan keharmonisan itu bukan pada rumah mewah, mobil mahal, perabot lengkap, makanan lezat, dst..

Setelah kesamaan persepsi itu siraih, maka selanjutnya ialah saling pengertian. Saling memahami tabiat, kebiasaan, sifat-sifat positif dan negatif pasangan kita.

Semua itu kita terima apa adanya, lalu kita beradaptasi dengan sifat-sifat itu secara positif, dalam wujud banyak mengalah, banyak sabar terhadap yang tidak disenangi dan mendukung serta memuji setiap hal, sikap, sifat yang positif.

Langkah berikutnya ialah saling membina, saling menasehati, secara bijaksana, pada suasana, waktu, tempat dan cara yang tepat.

Pada saat-saat santai, bahagia, kita hanya berdua, terkadang pada saat rekreasi, atau dalam perjalanan, atau setelah Qiyamullail, setelah berdzikir bersama, mari manfaatkan suasana tenang itu untuk saling menasehati.

Manfaatkan kesempatan itu untuk membuat/memperbaharui kesepakatan-kesepakatan positif unuk meningkatkan keharmonisan rumah tangga di jalan Allah swt.

Bila rumah tangga ini diterpa angin topan kesalah fahaman. Bila ternyata kita harus saling berdiam-diaman, tak ada yang berani ngomong duluan.

Bila kita berdua sedang diamuk amarah, langkah pertama : INGAT ALLAH !. Mari beristighfar, berdzikir dan berdo‘a, memohon petunjuk, jalan keluar dan kekuatan jiwa.

Mari hentikan sikap saling berbantahan, saling membentak dengan suara keras, mari hindari saling memukul, atau melemparkan barang.Mari kuasai diri, jangan biarkan syetan menguasai kita. Bila ada yang marah yang lain harus diam. Mari mengingat Allah.

Dikala marah itu sudah mulai reda, masing-masing sudah berwudhu’/sudah shalat, mari berlomba untuk terlebih dahulu meminta maaf.

Masing-masing mengakui dan menyadari kesalahan dan kekhilafan, diiringi dengan belaian dan kecupan kasih sayang, membangun kembali cinta yang tadinya berkurang.

Setelah itu, perbaharui kembali kesepakatan-kesepakatan untuk merubah yang negatif dari pribadi masing-masing.

Bulan mulia ini adalah momentum terbaik untuk merenovasi, merehabilitasi, atau membangun kembali pilar-pilar keharmonisan rumah tangga kita, diatas pondasi Iman yang kuat, dengan semangat Ibadah yang berkobar, semangat perjuangan yang menyala-nyala, optimisme yang tinggi dan kerja keras yang triada henti.

Semoga Allah swt memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat menyelesaikan pekerjaan mulia ini dalam bulan penuh berkah ini. Amin.

Baca Juga:
• Kata Kata Bijak Islami

Ceramah Singkat: Bulan Mas’uliyah Ramadhan

contoh ceramah ramadhan
jabar.tribunnews.com

Alhamduka ya Rabbi Hamdan Katsira’

Wa Asykuruka ya Illahi Syukran Jazila’

Wa Ushalli wa Usallimu ‘Ala Nabiyyina Muhammad.

Alangkah Indahnya hari yang kita menyempatkan diri padanya untuk melakukan renungan serius, walau beberapa menit.

Renungan yang efektif tidak hanya akan mempengaruhi secara positif langkah dan sikap kita dalam sehari, namun betapa banyak renungan efektif yang membuahkan hidayah, taubat, istiqamah, menghasilkan kekuatan jiwa yang luar biasa.

Orang yang merasakan jiwanya kecil, jiwanya lemah, hidupnya seakan tiada arti, merasa takut dan sangat malu menegakkan kebenaran, susah untuk disiplin, kiranya ia perlu belajar merenung yang serius, efektif.

Bila kita kembali merenungkan ma‘na kehidupan ini, niscaya kita akan menemukan bahwa salah satu hakekat kehidupan ini ialah tanggung jawab (mas‘uliyah).

Ya, hidup ini adalah tanggung jawab. Hidup ini adalah resiko. Hidup ini menuntut kerja keras, keseriusan, kesungguhan dan kedisiplinan.

Orang yang pemalas, selalu ingin santai, bermain-main, tidak mau terikat, hidup boros, tidak mau susah, tidak mau menderita, ia tidak mungkin mulia, ia tidak mungkin menjadi orang yang berguna bagi masyarakatnya, bahkan ia tidak akan mampu bermasyarakat dengan baik, bahkan akhir kehidupannya adalah kehancuran dan penyesalan yang tiada berguna.

Bila ia bahagia sehari, setahun, ia akan menderita batin bertahun-tahun. Kebahagiaannya sama dengan kebahagiaan hewan setelah mereka makan, minum, kawin, bermain-main dan tidur.

Kita semua hadir di dunia ini, karena Allah swt yang menghadirkan kita. Kehadiran kita ini dengan misi Ibadah dan khilafah, sesuai dengan syariat Allah.

Pelaksanaan misi ini memerlukan rasa tanggung jawab yang tinggi yang termanivestasi dalam bentuk kerja keras dan kedisiplinan.

Selain itu, kehidupan ini adalah kehidupan sosial. Kita hidup mempunyai Bapak, Ibu, Isteri, Suami, Anak, Saudara, Paman, Tante, Kakek, Nenek, Kerabat, Tetangga, Kawan sekantor, Rekan seprofesi, Atasan, Bawahan, Guru, Murid, Pemerintah, Penegak Hukum, dst.

Kita semua hidup bermasyarakat, kehidupan sosial ini diatur oleh hukum, akhlaq, kewajiban dan hak yang ditetapkan oleh yang menciptakan kehidupan ini.

Pelaksanaan aturan-aturan tersebut, menuntut rasa tanggung jawab yang terlahirkan dalam wujud kerja keras dan kedisiplinan.

Orang yang melanggar hukum Allah, berarti tidak disiplin. Orang yang tidak disiplin, berarti tidak mau bekerja keras. Orang yang tidak mau bekerja keras, berarti kurang merasakan tanggung jawab.

Orang yang tidak bertanggung jawab berarti tidak tahu diri, tidak tahu arti hidup. Orang yang sampai pada tingkat ketidak tahuan seperti ini, pantas diberi gelar orang Jahil (bodoh), orang zhalim (penganiaya) Itulah sebabnya sehingga seluruh perbuatan dosa disebut kebodohan dan kezhaliman.

Bila ungkapan diatas masih kurang jelas, mari kita perjelas lagi : orang malas shalat adalah orang bodoh. Orang yang malas mengaji adalah orang jahil.

Wanita yang tidak memakai jilbab adalah orang zhalim, dan demikianlah seluruh dosa dan pelanggaran !!.

Kewajiban-kewajiban ke Islaman kita hanya dapat ditunaikan secara optimal, bila kita memiliki mas‘uliyah.

Rasa tanggung jawab ini hanya dapat kita miliki, bila kita tahu diri, menyadari hakekat diri dan hakekat kehidupan yang sementara ini.

Dan akhir perjalanan hidup kita ini sesungguhnya, dipengadilan Akbar, dihadapan Ahkamul Hakimin swt, lalu kita semua masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban tentang hidup ini.

Setelah itu jatuhlah vonis yang sangat mendebarkan itu, vonis yang hakiki : Jannah atau Neraka. Allahumma Ajirna minan Nar.

Semoga bulan mulia Ramadhan ini, kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan rasa tanggung jawab kita, agar kita dapat Istiqamah dengan penuh keshabaran, menuju husnul khatimah.. Amin.

Washallallahu Wasallama ‘Ala Nabiyyina Muhammad

Contoh Ceramah Menarik: Renungan Bulan Dzikir Ramadhan

ceramah singkat tentang dzikir
ltnnujabar.or.id

Allahumma Lakal Hamdu Walakasysyukru.

Allahumma Shalli asallim ‘Ala Nabiyina Muhammad, Waba‘d

Taubat ini mengajari kita untuk tawadhu’ merendah dihadapan Allah, bermohon dengan penuh kesungguhan, mengajari kita untuk menyadari siapa kita sesungguhnya, yang berlumuran dosa dan aib ?.

Taubat mengajari kita bagaimana seharusnya takut kita pada adzab Allah ?. Bagaimana seharusnya Iman kita mencegah kita untuk berlarut dalam dosa dan menambah dosa.

Dalam kaitan antara dosa dan taubat, ada satu hal yang penting untuk dicermati, yaitu seringnya kita berbuat dosa setelah kita taubat. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya/tidak adanya penghayatan taubat.

Taubat kita belum memenuhi syarat. Namun jika kita merasa bahwa taubat kita telah memenuhi syarat lalu kita masih terjatuh pada dosa yang sama jangan putus asa.

Jangan merasa bahwa taubat kita tak bakal diterima lagi. Itu disebabkan oleh kurangnya hidayah dan taufiq dari Allah. Setelah berbuat dosa, taubat dan taubat lagi.

Perbanyak do‘a memohon taufiq, hidayah, kekuatan Iman, husnul khatimah. Allah swt berjanji mengabulkan do‘a hamba Nya yang Ikhlas, khusyu’ dan sungguh-sungguh.

Dalam bulan Taubat ini, semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah swt untuk mengulang-ulangi kalimat istighfar yang sempurna, minimal 100 (seratus) kali sehari semalam, agar hari kita semakin suci, Iman kita semakin kuat, perasaan dan kesadaran kita semakin dekat dengan Allah yang Maha Pemurah.

Dzikrullah adalah sumber kebahagiaan yang hakiki. Karena kebahagiaan itu tempatnya di hati, sedang hati itu cenderung kepada Allah, Jika disana masih ada fitrah, masih ada seberkas cahaya Iman. Ia tidak menemukan kebahagiaan yang konstan, tetap, tanpa dzikrullah.

Dengan mengingat Allah, kita merasakan bahwa kita ini lemah, amat lemah, dan kita dilindungi oleh Allah yang Maha Pemurah.

Dengan mengingat Allah, kita mengingat kasih sayang Allah kepada kita. Inilah yang menggerakkan lidah dan bibir kita untuk, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, berhauqallah, beristighfar dan berdo‘a.

Dikala dzikir lisani bertemu dengan dzikir qalbi, pada saat itulah kita mencapai kebahagiaan yang tiada tara, dengan Rahmat Allah, seakan kita tak ingin meninggalkan tempat dzikir tersebut, seakan kita tak ingin berpisah dengan Allah swt.. Allahu Akbar.

Dzikir adalah konsumsi jiwa. Dzikir adalah kebutuhan Pokok. Tanpa dzikir jiwa ini kurus, kering, dan mati. Tanpa dzikir, kita tak ada menemukan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.

Dzikrullah memerlukan Ilmu, agar sesuai dengan sunnah. memerlukan ke Ikhlasan, agar diterima Allah. Memerlukan penghayatan, agar memberikan hasil yang positif pada jiwa dan prilaku kita.

Dzikrullah yang demikian itu, merupakan tanda Iman. Dan jalan utama untuk merasakan ni‘matnya Iman, manfaatnya Iman. Orang yang kurang berdzikir, berarti Imannya rendah, Imannya lemah.

Dan jika ada yang belum merasakan manfaatnya hidup beriman, ketahuilah bahwa ia masih kurang berdzikir.

Lebih dari itu, dzikir yang banyak itu adalah kewajiban dari Allah untuk kita semua. orang yang kurang berdzikir, telah melakukan dosa. Dosa itu semakin banyak jika ia semakin lalai dan semakin jarang berdzikir.

Dan sungguh merupakan ni‘mat yang besar bahwa kita di idzinkan berdzikir kapan dan dimana saja -selain di WC- dan dalam posisi, dan kondisi apa saja. Kita diizinkan berdzikir sambil berbaring, sambil bekerja, tanpa ada syarat tertentu.

Meskipun jika kita mengkhususkan waktu untuk dzikir, pada saat yang hening, pada waktu mustajab, dalam keadaan berwudhu’, berpakaian rapih, duduk bersimpuh dengan khusyu’, meneteskan air mata, tentu itu jauh lebih afdhal.

Dalam sunnah Rasulullah saw, kita menemukan anjuran berdzikir pada setiap aktifitas keseharian kita, selain anjuran berbasmalah diawal setiap pekerjaan, diajarkan pula dzikir tertentu untuk setiap keadaan, yang diberi nama oleh para Ulama dengan Adzkar Al Munasabat (dzikir-dzikir pada berbagai peristiwa/keadaan)

Dzikir sebelum tidur, setelah bangun tidur, sebelum masuk WC dan setelah keluar, setelah keluar rumah dan sebelum masuk, sebelum masuk Masjid dan setelah keluar, pada saat naik kendaraan, sebelum makan dan sesudahnya, bahkan sebelum berhubungan intim suami isteri,

Dzikir pada saat singgah disuatu tempat, pada saat hujan, pada saat menerima ni‘mat, menerima musibah, membesuk orang sakit, pada saat berbuka dan seterusnya. Semua itu, ada dzikirnya. Sudahkah kita rutin mengamalkannya ?.

Adz karus shabah wal masa’ (dzikir-dzikir pagi hari dan sore/malam) adalah sejumlah dzikir dan do‘a yang diamalkan secara rutin oleh Rasulullah saw. Beliau membacanya setiap pagi dan sore/malam. Sudahkah kita mengetahuinya dan mengamalkannya ?.

Demikian pentingnya kita terus belajar, menambah Ilmu, berguru dan bertanya tanpa malu, kemudian mari kita amalkan secara rutin Ilmu yang sudah diajarkan oleh Allah swt kepada kita.

Dan sebagai satu aplikasi langsung dari renungan hari ini, terima dan amalkanlah dzikir Istimewa berikut ini :

,,La Ilaha Illallah Wahdahu La Syarikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa ‘Ala kulli suai‘in Qadir”

Dzikir ini dibaca 100 x dipagi hari dan 100 x disore/malam hari.

Selamat berdzikir. Semoga Allah merahmati.

Allahumma Shalli Wasallim ‘Ala Nabiyyina Muhammad

Ceramah Singkat: Tafsir Tematik Surah Al-A’raf, Ayat 1-3

ceramah singkat tafsir surah al-a'raf 1-3

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد

Panduan Pemahaman:

1. Penafsiran para ahli tafsir tentang potongan huruf-huruf hijaiyyah pada awal beberapa surah seperti pada awal surah ini: { المص}

a. Ini adalah rahasia Allah dalam al-Qur’an. hanya Allah yang mengetahui maksudnya.

b. Huruf-Huruf ini memberi isyarat bahwa al-Qur’an yang mulia ini terdiri dari huruf-huruf hijaiyyah yang dikenal dan digunakan oleh bangsa arab, lalu mereka ditantang untuk menyusun ayat yang menyamai keindahan dan kedalaman makna al-Qur’an tapi mereka tidak sanggup!.

Mari merenungkan firman-firman Allah : * Qs : Al-Baqarah : 6

2. Ayat kedua menerangkan:

a. Al-Qur’an adalah Kitabullah.

b. Larangan meragukan kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu Allah, atau larangan merasa berat menda’wahkan al-Qur’an

c. Tujuan diturunkannya al-Qur’an ialah untuk dida’wahkan.

d. Al-Qur’an adalah peringatan yang efektif bagi orang yang beriman.

3. Ayat ketiga menerangkan:

a. Al-Qur’an diturunkan untuk segenap manusia. *Qs : Yunus : 57

b. Al-Qur’ana wajib diikuti. Qs : Al-Hujurat : 1

c. Mengikuti al-Qur’an berarti meninggalkan seluruh keyakinan, ideologi, aliran pemahaman adat istiadat, selain al-Qur’an.

d. Sangat sedikit orang yang sadar mengikuti al-Qur’an memerlukan kesadaran.

Panduan pengamalan:

1. Tingkatkan perhatian terhadap al-Qur’an, melaui program tilawah harian yang berkesinambungan.

2. Tingkatkan perhatian terhadap da’wah al-Qur’an secara bijak, sistematis dan atas dasar ilmu.

3. Tingkatkan Bara’ anti loyalitas terhadap semua yang bertentangan dengan al-Qur’an.

Contoh : kurangi waktu menonton TV. Kurangi waktu yang terbuang percuma.

Panduan penghayatan:

1. Lakukan renungan terhadap kesalahan dan kelalaian kita terhadap al-Qur’an.

Contoh : Hafalan yang hilang. Tahsin yang tidak ihsan.

2. Lakukan renungan terhadap kesalahan dan kelalaian kita terhadap da’wah al-Qur’an.

Contoh: kemalasan dalam berda’wah, menghindar dari tugas-tugas.

3. Lakukan Tajdidut-Taubah/ iltizam yang diperkuat, dan pemaksaan diri untuk pengembangan diri.

Contoh : wirid istighfar 100 x sehari. Shalat taubat. Tilawah 2 Juz sehari, dst.

والله الموفق والحمد لله رب العالمين

Oleh: Ustadz Mudzakkir M. Arif, MA

Contoh Ceramah: Tafsir Tematik Surat Al-A’raf Ayat 4-9

Tafsir surat al-araaf-ayat-4-5-6-7-8-9

الحمد الله والصلاة والسلا م على رسول الله

Panduan Pemahaman

1. Ayat empat menjelaskan tentang betapa banyaknya daerah dan masyarakat yang diadzab oleh Allah pada waktu malam ataupun siang.

Ayat mulia ini berkaitan erat dengan ayat-ayat mulia lainya disurah yang lain: QS: Al-Ankabut (29) : 33-40

Ayat ini memberi isyarat ancaman untuk kita, jika kita tidak mengamalkan ayat-ayat sebelumnya.

Oleh karena umat-umat yang diadzab itu adalah akibat ketidaktaatan mereka kepada Allah Swt.

2. Ayat lima menjelaskan bahwa semua masyarakat yang dilanda adzab itu mengakui kesalahan dan dosa-dosa mereka.

Ayat mulia ini diperkuat pula dengan ayat-ayat mulia lainya di surah yang lain:
QS: Al-Qalam (68) : 17-33

3. Ayat enam menjelaskan bahwa Allah Swt pasti meminta pertanggungan jawab masyarakat yang telah dida’wah dan para Nabi, Rasul dan para Da’i yang telah berda’wah.

Kepastian ini dipahami dari “Waw Tawkid” dan “Nun Tawkid” yang diulangi dua kali.
Ayat mulia ini berkaitan erat dengan ayat-ayat mulia yang lain :

QS: Azzumar (39) : 71
QS: Al-Mulk (67) : 6-11
QS: Al-Ma-idah (5) : 116-117

4. Ayat tujuh menjelaskan kepastian penjelasan Allah Swt diakhirat tentang segala prilaku kita di dunia. Dan dialah Allah yang maha mengetahui.

Ayat mulia ini dipertegas oleh banyaknya ayat-ayat dalam Al-Qur’an :

QS: At-Taubah (9) : 94
QS: Ali Imran (3) : 29-30
QS: Al-An’am (6) : 164

5. Ayat delapan dan sembilan menjelaskan tentang kepastian timbangan perbuatan kita di hari akhirat.

Dan vonis syurga atau neraka, berdasarkan hasil timbangan yang Maha Sensitif, Maha Akurat dan Maha Adil itu.

Ayat ini dipertegas oleh banyak ayat mulia yang lain :

QS: Al-Qari’ah (101) : 6-11
QS: Al- Zalzalah (99) : 7-8

Panduan Pengamalan

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, dzikir, tilawah, ukhuwah, da’wah, akhlak mulia, sebagai manifestasi kepatuhan terhadap Al-Qur’anul Karim.

2. Menyusun planning peningkatan iman secara tertulis dan membuat tabel muhasabah harian, untuk mengukur peningkatan yang diperjuangkan.

3. Meningkatkan perhatian terhadap pelajaran/buku sejarah para Nabi dan Rasul, dengan penekanan pada nilai-nilai perjuangan da’wah dan adzab Allah Swt sebagai akibat pengingkaran dan penyimpangan.

4. Melakukan taubat dan memperbanyak istigfar yang khusyu’ setiap kali mendapat kesulitan musibah, penyakit, kecelakaan, dan semua yang tidak diinginkan.

5. Meningkatkan rasa tanggungjawab da’wah, dengan menguatkan keyakinan bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban di Akhirat tentang kewajiban menyampaikan ilmu kita.

6. Meningkatkan wawasan keakhiratan/ilmu yang benar tentang rincian hari akhirat, dalam rangka peneguhan iman kepada akhirat.

Materi Ceramah: Tafsir Tematik Surat Al-Anfal Ayat 1-4

tafsir surat-al-anfaal-ayat-1-2-3-4

1. Penyebab turunnya Awal Surah Al-Anfal 

a. Riwayat ‘Ubadah bin As-Shamit R.A.
b. Riwayat Sa’adbin Abi Waqqash R.A.
c. Riwayat Abdullah bin Abbas R.A.

2. Arti kata “Al-Anfal“ 

Al-Anfal adalah ungkapan jama’dari kata : Nafl yang berarti : Tambahan.

Namun arti Nafl yang lebih khusus dan dikuatkan oleh jumhur Ulama, ialah: Harta rampasan perang, yang dibagikan oleh Imam, setelah pembagian yang pertama.

Perbedaan arti kata ghanimah dengan Anfal :

Ghanimah ialah : harta rampasan perang sebelum dibagikan.

Anfal ialah : pemberian khusus dari Imam, sebagai tambahan Ghanimah , sesuai dengan ijtihad Imam.

3. Beberapa ‘ibrah dari ayat pertama 

a. Tauhid Mashdar At-Talaqqi (Kesatuan sumber pengambilan keputusan), yang juga berkonsekuensi kewajiban untuk senantiasa merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam segala hal.

Lihat : QS : 49 : 1.

b. Kelemahan jiwa manusia dihadapan materi. Harta yang terkadang tidak seberapa nilanya, dapat merusa akhlaq, meretakkan ukhwah, mengurangi ibadah, menyebabkan sifat bakhil pengecut, dst…

Lihat : Kasus perang Badr, kasus perang Uhud, dan kasus perang Tabuk.

c. Realisasi dan peningkatan Takwa, tak dapat lepas dari renungan serius dan terprogram .

Taqwa identik dengan Zikir dan Fikir, yang kedua-duanya tidak akan efektif tampa penghayatan dan program yang menjamin kesinambungannya.

Lihat: QS:59 : 18 QS: 3 : 15-17.

d. Gerakan Ishlah adalah aspek sosial yang sangat luas dari nilai Taqwa. Ishlah adalah inti ukhuwah Islamiyah, yang berytumpu pada kewajiban untuk salin menasehati.

Lihat : QS : 49 : 9-10.

e. Iltizam secara syamil pada manhaj Allah dan RasulNya, adalah inti Iman.

Lihat : QS : 4 : 136 QS : 8 : 20.

4. Beberapa ‘ibrah dari ayat kedua 

a. Karakteristik mukminin bersifat syamil, membentuk kepribadian seimbang.

b. Perhatian pada Amal-amal hati, perlu diprioritaskan.

c. Iman itu bersifat fluktuatif. Ia meningkat dengan amal, menurun dengan dosa.

5. Beberapa ‘ibrah dari ayat ketiga 

a. Iqamatus Salah adalah ungkapan perhatin penuh pada ibadah shalat dan gambaran hubungan yang kuat dengan Yang Maha Pemurah SWT.

b. Infak/zakat adalah ungkapan perhatian penuh kepada kesucian jiwa dan harta, serta gambaran kepedulian sosial yang sangat tinggi.

6. Beberapa ‘ibrah dari ayat keempat 

a. Orientasi dan mujahdah menuju kemajuan Iman, adalah satu kewajiban.

b. Maghfirah, Derajat yang tinggi dan Jannah sebagai cita-cita terakhir, adalah pelipur lara, penenang jiwa setiap mu’min.

Teks Ceramah Singkat : Tafsir Tematik Surah Ali Imran ayat 102

contoh ceramah singkat

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُم مُسْلِمُونَ

“Wahai sekalian orang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu mati sebelum menjadi muslim sejati.”

Panduan Pemahaman 

1. Ayat yang mulia ini mengandung satu seruan, satu perintah, satu larangan.

Perintah bertaqwa berarti :

الخوف من الجليل والعمل بالتنزيل والاستعداد ليوم الرحيل

2. Rasa takut kepada Allah yang Maha Mulia, mengamalkan al-Qur’an dan persiapan menghadapi hari keberangkatan (kematian).

3. Perintah bertaqwa berarti kewajiban peningkatan keislaman setiap hari. Mari merenungkan pula QS. An-Nisa’ : 136

4. Haqqa Tuqatih “Berarti Optimalisasi (kesungguhan yang optimal) dalam kerja keras peningkatan kepribadian muslim.

Inilah yang dimaksudkan ” Semaksimal kemampuan ” dalam QS: At-Tagabun : 16 , QS: Al- Baqarah :286.

5. Larangan untuk mati sebelum menjadi muslim sejati, adalah perintah yang sangat kuat untuk istiqamah.

Yaitu konsistensi dan kesinambungan kerja keras pada jalan optimalisasi pengembangan kepribadian muslim.

Disisi lain larangan ini berarti perintah untuk selalu siap menghadapi kematian (dzikrul maut). Mari merenungkan pula QS. Hud 112

Panduan Pengamalan 

1. Kita diwajibkan untuk mengakui dosa-dosa kita. Mari merenungkan pula QS. Al-A’raf ayat 23

2. Kita diwajibkan untuk mempunyai program taubat harian. Seperti : Membaca wirid istighfar minimal 100 kali sehari, membaca sayyidul istighfar setiap pagi dan sore.

Mari merenungkan pula QS. At-Tahrim : 8

3. Kita diwajibkan untuk mengamalkan program muhasabah harian, seperti : menghitung-hitung amal shaleh dan dosa kita selama sehari.

Merenungkan beberapa banyak kelalaian kita dalam sehari. Mari merenungkan pula QS. Al-Hasyr ayat 18

4. Kita diwajibkan pula untuk menetapkan planning/ perencanaan pengembangan kepribadian muslim (PKM) yang kita patuhi dengan disiplin setiap hari.

Oleh karena Allah Swt telah banyak memberikan kepada kita program kerja harian setiap muslim. Seperti dalam surah al-Mu’minun ayat 1-11

5. Kita diwajibkan pula untuk menghadiri majelis ta’lim pengajian secara rutin. Oleh karena majelis inilah yang akan memotivasi kita untuk bersungguh-sungguh beriman.

Dan majelis inilah yang memperbaharui semangat keIslaman kita. Mari merenungkan pula QS. Al-Mulk ayat 10-11

Panduan Penghayatan 

1. Meningkatkan rasa khusyu’ dalam shalat dan muraqabah (merasakan pengawasan Allah Swt) adalah syarat mutlak pengembangan kepribadian muslim.

2. Meningktakan rasa cinta kepada Allah, rasa cinta kepada Rasulullah saw, rasa cinta kepada Agama Islam dan umat Islam, adalah program penghayatan yang prioritas dalam PKM.

3. Dzikrul Maut (mengingat kematian yang pasti datang) adalah program penghayatan harian agar hidup kita lebih bermakna, agar hidayah Allah dapat dijaga dan ditingkatkan dan pengamalan Ayat mulia ini dapat dioptimalkan.

Ceramah Menarik: Lapang dada, Sebuah program Tazkiyah

contoh ceramah tentang lapang dada
pinterest.com.au

Secara sederhana, lapang dada berarti :

1. Kemampuan untuk menampung masalah sebanyak mungkin tanpa merubah ketenangan jiwa

2. Kemampuan untuk memaafkan kesalahan orang lain

3. Kemampuan untuk berbeda pendapat secara positif

Urgensi Lapang Dada

1. Seorang da’i/da’iyah menghadapi beraneka ragam tantangan dalam kehidupan da’wiyah yang harus dihadapi dengan sikap lapang dada

2. Lapang dada adalah tuntutan kehidupan bermasyarakat

3. Lapang dada selain sebagai ni’mat dan taufiq Allah SWT, ia adalah ilmu dan keterampilan yang perlu dipelajari dan melatih diri serta mujahidah untuk meraihnya.

1. Beberapa aspek lapang dada :

1. Dalam kehidupan rumah tangga

2. Dalam kehidupan bertetangga

3. Dalam kehidupan berjamaah/berda’wah

4. Dalam kehidupan bermasyarakat

5. Dalam menghadapi problem

6. Dalam menghadapi perbedaan pendapat

2. Beberapa bahaya dada yang sempit 

1. Menyiksa diri sendiri dengan kemarahan dan kesedihan

2. Tidak disenangi oleh lingkungannya

3. Mendatangkan dosa

4. Memperlambat gerakan da’wah

5.Melakukan berbagai kesalahan yang menyebabkan penyesalan yang terulang dan tidak berguna

3. Penyebab dada yang sempit 

1. Ujub dan takabbur

2. Hasad

3. Ketidak mampuan memahami jalan fikiran orang lain

4. Menerima tanggung jawab yang lebih dari kemampuannya

5. Kurang beriman pada Qadha dan Qadhar

4. Ciri khas orang yang lapang dada

1. Tenang dalam menghadapi problem/perbedaan pendapat

2. Tidak cepat marah, menguasai diri dalam marah

3. Cepat menghilangkan marah/pemaaf

4. Mampu bergaul dengan orang yang berbeda pendapat

5. Merasakan kebahagiaan dalam kelelahan di jalan Allah SWT

5. Beberapa langkah praktis menuju lapang dada 

1. Muhasabah serius dengan penuh kejujuran pada diri sendiri

2. Mujahadah terencana secara terus menerus

3. Bertaubat kepada Allah SWT setiap saat

4. Membiasakan diri untuk meminta maaf setiap kali merasa bersalah

5. Mengingak kebaikan orang yang bersalah

6. Meningkatlan iman pada Qadha dan Qadhar

Kesimpulan 

1. Lapang dada adalah tuntutan kehidupan sosial

2. Lapang dada adalah ilmu dan keterampilan, memerlukan pembelajaran dan latihan yang berkesinambungan

3. Lapang dada adalah syarat kepribadian yang bijaksana

Oleh: Ustadz Mudzakkir Muhammad Arif

Contoh Ceramah SIngkat Tentang Kemiskinan

ceramah singkat tentang kemiskinan
pixabay.com

Kita semua tentu sering melihat kemiskinan. Kita semua sering melihat orang miskin.

Bahkan besar kemungkinan kita semuapun merasakan bahwa kita miskin, Yah, kemiskinan itu ada di mana-mana.

Mayoritas Umat Islam memang masih berada dalam kemiskinan, bahkan banyak yang dari mereka yang berada di bawah garis kemiskinan, sungguh sangat menyedihkan.

Apakah realitas ini normal dan wajar?. Apakah ini Sunnatullah yang tidak dapat berubah?.

Atau dalam realitas ini ada faktor kejiwaan, ada faktor skill, ada faktor etos kerja, ada faktor pola hidup yang konsumtif ?.

Apakah dalam realitas ini ada faktor pemahaman iman dan Islam yang minus? Nampaknya ini penting untuk kita renungkan.

Sebelum renungan kemiskinan ini kita teruskan, ada baiknya kita menyadari puluhan kemiskinan lain – selain kemiskinan materi yang turut mewarnai kehidupan kita. Kemiskinan itu antara lain:

Kemiskinan Iman, Amal Shaleh, Akhlak, Ilmu Wawasan, Pengalaman, kemiskinan Keterampilan, kemiskinan Pergaulan, kemiskinan Kreativitas, kemiskinan malu, kemiskinan, kemiskinan keberanian.

Nah, mari kita fikirkan dengan tenang. Kemiskinan materi dan dampaknya terhadap hidup kita ?. Jawabannya ialah : kemiskinan menghasilkan dampak yang paling ekstrim ialah : Tidak makan !.

Kemiskinan Dzikir -misalnya- apa dampaknya terhadap kehidupan kita ?. Jawabnya ialah : Tidak tenang, Tidak bahagia !.

Orang yang kaya dzikir tapi miskin materi, dapatkah ia bahagia?. jawabannya : PASTI !. Mengapa ? karena Allah yang Maha Benar telah berfirman :

الا بذكر الله تطمئن القلوب

Ketahuilah, dengan Dzikir kepada Allah Swt, hati kita pasti tenang!. (Q.S Alr-Raad: 28).

Jadi kalau begitu, biarlah kita miskin materi ?. Tidak perlu kita berusaha lepas dari kemiskinan materi ?.

Oh Tidak !. Tapi jangan hanya kemiskinan materi saja yang difikirkan. Mari fikirkan pula kemiskinan Iman, kemiskinan Dzikir, kemiskinan Ibadah dst. Secara seimbang.

Oleh karena terbukti bahwa dampak kemiskinan jiwa lebih parah dari kemiskinan materi. Bukankah kita semua pernah melihat orang yang Infailid yang bahagia ?.

Orang yang berada di bawah garis kemiskinan tapi mampu tertawa, seakan tak punya susah ?. Itulah kebahagiaan jiwa.

Sebaliknya banyak orang yang memiliki uang Miliaran rupiah, tapi tetap merasa miskin, banyak orang yang telah masuk golongan orang kaya di masyarakatnya, tapi tidak tenang, tidak bahagia, selalu takut, selalu cemas, selalu iri hati, dst.. itulah kemiskinan jiwa.

Konsep Dasar Islam tentang Kemiskinan

1. Islam Mengentaskan Kemiskinan.

Islam menganjurkan Ummatnya berkecukupan agar mampu menunaikan Ibadah sebagaimana mestinya.

Agar mampu mengeluarkan Zakat, Naik Haji, dan berjihad Fi Sabilillah. Islam menganjurkan kepedulian sosial, kepedulian pada pengentasan kemiskinan Ummatnya.

Oleh karena Islam menganjurkan ummatnya menjadi ummat yang kuat . Rasulullah Saw bersabda :

المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف

Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Swt dari Mu’min yang lemah.

2.Islam Menganjurkan Kerja.

Dalam rangka pengentasan kemiskinan, Islam mewajibkan setiap ummatnya umtuk bekerja. Setiap muslim haruslah produktif.

Islam mengharamkan sifat malas. Jadi kemalasan bekerja adalah dosa dalam Islam bahkan wanitapun diwajibkan untuk bekerja.

Allah Swt berfirman :

…. للرجال نصيب مما اكتسبوا وللنساء نصيب مما اكتسبن

“ Para pria mendapatkan bagian sesuai Usahanya, dan para wanitapun mendapatkan bagian sesuai hasil usahanya. ( Qs. An-Nisaa: 32)

3. Kesimbangan

Dalam upaya mengentaskan kemiskinan, kita perlu memahami konsep keseimbangan.

Yaitu bahwa perhatian kita kepada pengentasan kemiskinan seimbang dengan perhatian kita pada kemiskinan Iman, kemiskinan Dzikir, kemiskinan Ibadah Dst.

Perhatian kita kepada dunia, seimbang dengan perhatian kita kepada Akhirat.

Dalam hal ini kita diajari berdo’a :

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

“ Wahai Tuhan kami berikanlah kepada kami kebaikan dalam hidup di Dunia dan kebaikan dalam hidup di Akhirat, dan selamatkanlah kami dari adzab Neraka. (Qs. Al-Baqarah : 201).

Atas konsep keseimbangan itulah kita menjauhi pekerjaan haram, praktek bisnis haram, meskipun menjanjikan dari segi duniawi.

Atas dasar itulah kita bekerja keras mencapai nafkah, tapi setiap tiba waktu shalat, kita tinggalkan seluruh pekerjaan kita.

Tidak menghalangi kita untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban lainnya.

Atas dasar keseimbangan itulah kita kerja keras mencari nafkah, namun kita pun rajin mengeluarkan zakat, sedeqah dan infaq.

Mencari nafkah bukan atas dasar tamak dan untuk takabbur. Dan sebaliknya, sifat qana’ah tidak membuat kita malas dan bakhil.

4.Hidup Adalah Ujian.

Kita semua sedang diuji oleh Allah Swt. Ujian ini nanti akan berakhir dengan berakhirnya hidup kita di dunia ini.

Pengumuman hasil ujian kita dan balasannya, nanti kita ketahui pada Mahkamah Akbar di hari Akhirat nanti.

Yang miskin diuji dengan kemiskinannya, yang kaya diuji dengan kekayaannya. Ada orang miskin tiba-tiba jadi kaya. Ada pula orang yang kaya tiba-tiba jatuh miskin. Itulah dunia.

Jadi kekayaan sama sekali bukan tanda keberuntungan. Demikian pula kemiskinan bukanlah tanda kehinaan dan kebinasaan.

Yang menentukan nanti ialah cara kita melalui ujian Allah Swt ini. Yang sukses ialah yang sabar di kala miskin, Syukur di kala kaya. Selain itu, pasti binasa !!.

Itulah sebabnya seorang mu’min yang miskin akan bekerja keras mengentaskan kemiskinan dirinya dan bersabar dengan ujian Allah Swt.

Ia tidak mundur, ia tidak iri hati, ia tidak menghalalkan segala cara untuk kaya. Ia tidak meninggalkan Ibadah, Al-Qur’an dan kewajiban-kewajiban lainnya.

Sebaliknya orang mu’min yang kaya, tetap bekerja memperbesar usahanya, meningkatkan produksinya, sambil bersyukur atas ujian Allah Swt.

Ia tidak bakhil, ia tidak takabbur, ia tidak memutuskan silaturrahmi, ia mendukung da’wah dan jihad, ia mengangkat yang lemah, ia tidak meninggalkan Ibadah, Dzikir, Al-Qur’an dan kewajiban-kewajiban lainnya.

Nah, apakah anda merasa diri kaya, atau merasa diri miskin ?.
Percayalah, kaya dan miskin, itu ada pada jiwa kita, ada pada perasaan kita.
Olehnya itu, mari terus belajar, lalu FASTAQIEM.. (BerIstiqamahlah)!!!..

Oleh: Mudzakkir . M. Arif, M.A

Baca Juga:
• Keseimbangan antara Harap dan Takut
• Bahaya Kesenjangan antara Ilmu dan Amal

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.