Materi Kultum Singkat Populer

Materi Kultum – Nasihat merupakan salah hal yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama islam. Saling menasihati adalah kewajiban setiap muslim.

Saling menasihati mesti terus ditumbuhkan, baik lewat lihat ataupun perbuatan agar kedamaian dan kemulian dalam hidup bisa diraih.

Salah satu sarana untuk saling menasehati ialah lewat kultum, sehingga pada tulisan ini akan dipaparkan beberapa materi kultum yang menarik dan populer di kalangan umat islam.

Kiat Menyusun Materi Kultum Singkat yang berbobot

Bila Anda ingin menyusun materi kultum yang berbobot dan menarik, silahkan baca kiat menyusun materi kultum singkat yang menarik

Kultum Singkat Tentang Ikhlas

Materi kultum singkat

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد

Ikhlas adalah perintah Allah Swt dan salah satu syarat diterimanya setiap amal. :

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

“Tidaklah mereka (manusia) diperintahkan selain agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan kepadaNya seluruh aspek pengamalan agama ini”. Q.S. Al- Bayyinah : 5

Ikhlas secara bahasa berarti kesucian. Dan ulama mendefinisikannya dengan:

“Kesucian hati dari keinginan untuk mendapatkan sesuatu dari satu amal, selain ridha Allah Swt”.

Jadi ikhlas itu adalah niat, keinginan, tujuan, harapan, untuk mendapatkan ridha Allah semata pada setiap amal ibadah kita. Maka ia harus dihadirkan di dalam hati kita pada setiap amal ibadah kita.

Bila kita tidak menghadirkannya, maka kita tidak berniat, pada saat itu kita lalai. Marilah kita mengingat dan merenungkan masalah ini :

“Benarkah kita selalu berusaha menghadirkan niat ikhlas setiap kali kita akan shalat?”.

“Benarkah kita selalu menghadirkan niat ikhlas setiap kali kita akan bersedekah ?”.

“Benarkah kita selalu berniat ikhlas setiap kali kita akan membaca Al-Qur’an ? Menghadiri pengajian ? Mencari nafkah ?”.

Dari rendahnya tingkat efektifitas/ keberhasilan/ keberkahan amal ibadah kita secara umum, dapat kita pahami bahwa salah satu kekurangan kita dalam amal ibadah selama ini ialah bahwa kita tidak menghadirkan niat ikhlas itu.

Sekiranya kita selalu menghadirkan niat ikhlas setiap akan shalat, niscaya ibadah shalat kita akan lebih berhasil mendidik kita untuk menjauhi maksiat.

Ibadah kita akan lebih berkah sehingga kita lebih bahagia dengan ibadah.

Sesungguhnya perintah peneguhan niat ikhlas di hati ini, kita pahami dari firman Allah swt :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْ تُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

“Katakanlah : “Sesungguhnya shalatku, seluruh ibadahku/ sembelihanku, seluruh aktifitas kehidupanku, dan penyebab kematianku, kupersembahkan hanya untuk Allah, Tuhan alam semesta. Tidak ada sekutu bagiNya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang pertama yang menyerahkan diri kepada Allah”. QS. Al-An’am : 162-163

Ayat yang mulia ini menjelaskan perintah untuk menegaskan bahwa ibadah shalat dan seluruh bentuk ibadah, hidup dan mati, jiwa dan raga, kita persembahkan hanya kepada Allah semata. Karena kita hanya mencari ridha Allah. Tak ada duaNya !.

Sesungguhnya inilah salah satu dasar pengamalan sebagian saudara kita pengikut madzhab Imam Syafi’i untuk membaca lafazh “Ushalli” setiap kali akan Takbiratul Ihram, baik pada shalat wajib, maupun pada shalat sunnah.

Tujuan mereka ialah, untuk meneguhkan niat ikhlas di hati. Masalahnya ialah, lafazh-lafazh “Ushalli” itu tidak bersumber dari Nabi Muhammad Saw. Lafazh-lafazh itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Saw, bahkan tidak pula dicontohkan oleh para sahabat beliau.

Kita yang tidak membaca Lafazh “Ushalli” seringkali melakukan kesalahan, karena tidak berniat ikhlas.

Kita hanya berniat mau shalat, tapi tidak berniat mau mendapatkan ridha Allah !.

Ini Adalah kelalaian. Ini adalah kesalahan. Karena setiap amal itu, dinilai dari niatnya. Rasulullah Saw bersabda :

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapat apa yang diniatkan”. Muttafaq Alaih.

Kiat Kiat Ikhlas

1. Ucapkan dalam hati :

“Saya melakukan amal ini untuk mendapatkan ridha Allah semata.”. Atau “Saya mengharapkan ridha Allah semata”.

Ungkapan ini hanya diucapkan dalam hati, karena ikhlas itu adalah ibadah hati. Tidak diucapkan dengan lisan. Karena tidak ada contohnya dari Nabi Saw.

2. Melakukan renungan pada urgensi ridha Allah Swt dalam hidup ini. Yaitu dengan membayangkan betapa bahagianya hidup kita jika kita diridhai oleh Allah Swt.

Bangunlah keyakinan bahwa hidup kita akan susah dan sengsara, jika Allah murka kepada kita. Naudzubillah.

Renungan seperti ini sangat penting untuk kita lakukan, agar tertanam kuat dalam kepribadian kita betapa besar peranan ridha Allah dalam hidup ini.

Dan bahkan, hidup ini tidak bermakna dan tidak bernilai jika tanpa ridha Allah.

Allah Swt berfirman :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ، فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا، وَنَحْشُرُه ُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Siapa yang berpaling dari peringatanku, niscaya dia pasti mendapatkan penghidupan yang sempit, dan kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Surah Thaha : 124

Semakin sering kita melakukan renungan pada urgensi ridha Allah, niscaya semakin kuat dorongan untuk mendapatkan ridha Allah, dan itulah ikhlas.

Dan keinginan itulah yang memotivasi kita untuk meningkatkan ibadah, untuk semakin taat kepada Allah, semakin kuat menjauhi dosa.

Karena dosa itu mengundang murka Allah. Dan jika kita semakin ikhlas, maka kita semakin takut berbuat dosa.

3. Menumbuhkan dan memperkuat kerinduan kepada syurga.

Yaitu dengan melakukan renungan pada kebenaran, kenikmatan dan keabadian Syurga untuk orang-orang yang dirahmati oleh Allah Swt.

Renungan seperti ini sangat penting untuk memperkuat niat ikhlas dan memotivasi kita untuk semakin taat kepada Allah Swt.

Oleh karena Allah Swt menjelaskan dalam al-Qur’an kebenaran, kenikmatan dan keabadian Syurga secara rinci, tujuanNya ialah untuk memotivasi secara kuat agar kita memperbaiki dan memperbanyak amal untuk mendapatkan Syurga.

Dan kita diajar oleh Rasulullah saw untuk berdo’a secara rutin, memohon Syurga:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu ridhaMu dan Syurga, dan aku berlindung kepadaMu dari murkaMu dan Neraka”.

Jadi kenginan untuk masuk Syurga itu tidak bertentangan dengan keikhlasan.

Tidak sama dengan pendapat sebagian ahli tasawuf bahwa beramal untuk masuk Syurga itu tidak ikhlas.

Tidak demikian !. Oleh karena keinginan untuk masuk Syurga itu adalah tanda iman.

Kerinduan pada Syurga itu diajarkan oleh Allah dan RasulNya.

Allah swt berfirman:

وَسَا رِعُوْ ا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

“Bersegeralah kamu kepada ampunan dari TuhanMu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, disiapkan untuk orang-orang yang bertaqwa “. Surah Ali Imran : 133

Dan dalam do’a di atas, Rasulullah Saw menggandengkan kata ridha dengan Syurga :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةِ

Ini berarti bahwa keduanya tidak kontradiktif, tidak bertentangan, bahkan sejalan.

Karena mustahil Allah Swt meridhai seorang hambaNya lalu tidak dimasukkan ke Syurga, dan mustahil seseorang dimasukkan ke Syurga jika Allah tidak ridha kepadanya.

Kesimpulan

Hidupkanlah kerinduan untuk masuk Syurga. Perbanyaklah membayangkan Syurga.

Karena salah satu kelalaian kita, jika dalam sehari semalam kita tidak pernah mengingat Syurga !.

Syurga adalah cita-cita tertinggi kita.

Syurga adalah tempat terakhir kita,

Baca Juga:
Pentingnya Keseimbangan antara Harap dan Takut

Kultum Singkat Tentang Agama Adalah Nasihat

kultum populer
naataudio.com

Pembahasan kita adalah hadits mengagumkan yang dikatakatan oleh Abu Daud sebagai salah satu hadits yang menjadi bahasan fikih.

Al-Hafidz Abu Nu’aim berkata tentang hadits tersebut, “Hadits ini memiliki kedudukan yang agung. Muhammad bin Aslam Ath-Thusi menyebutkan bahwa hadits tersebut adalah satu dari seperempat agama”.

Nabi Shallalahu alaihi wa sallam bersabda:

الدين النصيحة، قلنا: لمن ؟ قال: لله و لكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

“Agama adalah nasihat, ‘Kami bertanya: Untuk siapa?, Beliau menjawab, ‘Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan kalangan awamnya.” (HR. Muslim)

Nasihat untuk siapa? Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin Kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum.

Maka, nasihat mencakup perkara-perkara islam, iman dan ihsan yang disebutkan dalam hadits Jibril.

Nasihat adalah metode para Nabi bersama kaumnya, Nabi Nuh, Nabi Hud dan selain keduanya dari kalangan para Nabi dan RAsulNya.

Allah Azza Wajalla telah mengabarkan tentang Nabi Nuh dalam firmannya dalam surat Al-A’raf ayat 61-63.

Sebaik-baik nasihat adalah metode para Nabi Allah dan orang yang mengikuti jejak mereka.

Nasihat adalah menginginkan kebaikan untuk yang diberi nasihat.

Nasihat Untuk Allah

Bagaimana nasihat untuk Allah Azza Wajalla? Yaitu dengan kebenaran ijtihad dalam keesaanNya dan mengikhlaskan niat dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Nasihat Untuk Kitabnya

Nasihat untuk Kitab Allah ialah mengimaninya, mengamalkan kandungannya, membacanya sesuai dengan kaidah tajwid yang benar.

Dan juga tidak menyelewengkan makna sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang sesat, serta membenci orang yang mengingkarinya.

Nasihat Untuk Rasulnya

Nasihat untuk Rasul Allah ialah dengan mempercayai mereka sebagai utusan Allah, membenarkan apa yang mereka sampaikan dan mengiktu ajara mereka.

Nasihat Untuk Pemimpin Umat Islam

Nasihat untuk pemimpin kaum muslimin ialah dengan mencintai mereka dalam kebenaran, kebaikan dan keadilan.

Nasihat kepada para pemimpin muslimin juga ialah dengan mentaati mereka kecuali dalam maksiat.

Nasihat Untuk Semua Umat Islam

Nasihat kepada kaum muslimin ialah dengan menunjukkan kebenaran kepada mereka.

Menasihati mereka agar selalu menempuh jalan yang lurus dan menasihatinya agar menjauhi kemaksiatan. Serta mencintai mereka dalam kebaikan dan ketaatan.

Setiap muslim hendaknya selalu berupaya agar mengajak saudaranya kepada jalan kebenaran sebagaimana ia ingin selalu dalam petunjuk dan jalan yang benar. Wallahu A’lam.

Baca Juga:
Kumpulan Teks Ceramah Singkat Menarik

Contoh Kultum Tentang Taubat

Kultum singkat tentang taubat
lifestyle.okezone.com

Siapakah diantara kita yang tidak melakukan perbuatan dosa? Siapakah diantara kita yang tidak pernah berbuat salah?

Semua manusia pasti pernah dan akan melakukan kesalahan dan dosa. Karena manusia tempatnya salah dan dosa.

Namun, Pintu taubat selalu terbuka bagi yang ingin bertaubat. Rabb kita adalah Rabb yang Pemurah Maha Penerima taubat.

Ia mencintai orang-orang yang bertaubat kepadaNya karena menyesali kesalahannya.

Ia selalu membuka pintu maaf bagi seluruh hambaNya selalu salah dan berbuat dosa.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji dan menganiaya diri sendiri mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang mengampuni dosa selain Allah, dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal.” (Ali Imran: 135-136)

Sesungguhnya orang yang beriman bukanlah orang yang tidak berbuat dosa.

Tapi mereka adalah orang yang apabila melakukan dosa, dia ingat kepada Allah, lalu memohon ampunan dari dosa dan berhenti melakukan kesalahannya

Kultum singkat Tentang Tazkiyatun Nafs (Pensucian Jiwa)

Pengertian Materi

Materi ini membahas tentang dasar-dasar pensucian hati dalam Islam, menuju kepribadian muslim yang lebih dekat kepada sosok pribadi muslim yang ideal dan dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Tujuan Materi

Materi ini bertujuan untuk mencapai target berikut ini :

1. Pemahaman tentang dasar-dasar ilmu Tazkiyah.

2. Motivasi untuk meningkatkan perhatian kepada Tazkiyah.

3. Peningkatan kualitas penghayatan Ibadah dan amal shaleh.

Urgensi Materi

Materi ini dipandang penting untuk dibahas berdasarkan beberapa pertimbangan berikut ini :

1. Kurangnya perhatian umat Islam secara umum kepada ilmu Tazkiyah.

2. Berkembangnya ilmu Tasawuf dan praktek Tarekat yang jauh dari sunnah.

3. Tazkiyah adalah rahasia problem solving Islami untuk mengatasi kegelisahan, kecemasan dan berbagai perasaan negatif lainnya.

Pokok-Pokok Materi

1. Pengertian Tazkiyatun-Nafs.

Tazkiyatun-Nafs berarti Pensucian jiwa, yaitu pensucian jiwa dari segala dosa dan noda agar jiwa itu bersih, sehat, bersinar dan kuat.

Tazkiyatun-nafs adalah syarat mutlak pembentukan kepribadian muslim yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ilmu tazkiyatu-nafs adalah ilmu yang membahas tentang pensucian jiwa dari seluruh aspeknya berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman para salaf yang shaleh.

2. Landasan Syar’i Tazkiyatun-Nafs.

Tazkiyatun-Nafs adalah syarat keselamatan di hari Akhirat kelak.
Pada hari ( Akhirat ) tidak bermanfaat harta dan anak kecuali orang yang datang dengan hati yang bersih (sehat).

Tazkiyatun-nafs adalah syarat kebahagiaan dan kemenangan

”Demi jiwa dan betapa ia diciptakan, lalu Allah mengilhamkan kepadanya ( kecenderungan untuk) dosa dan (kecenderungan untuk) taqwa. Sungguh bahagialah orang yang mensucikannya dan sungguh rugilah orang yang mengotorinya.” (Surah Asy-syams : 7-11)

Rasulullah Shallahu Alahi wa Sallam mengajarkan doa Tazkiyatun-Nafs :

اللهم آت نفسي تقواها وزكها أنت خير من زكاها

”Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku taqwa dan sucikanlah jiwaku. Hanya engkau sebaik-baik Yang mensucikannya,
hanya engkaulah pemimpinnya dan penolongnya “

3.Tujuan Tazkiyatun-Nafs

Tazkiyatun-Nafs bertujuan untuk mewujudkan :

1. Hati yang hidup (Al-Anfal : 122)

2. Hati yang bersih (Asy-Syuara : 68)

3. Hati yang sehat

4. Hati yang kuat

Seluruh kondisi positif hati ini adalah syarat pembentukan kepribadian muslim sejati yang dinamis dan senantiasa berkembang.

Dan sebaliknya kondisi negatif hati senantiasa merupakan indikasi rendahnya tingkat iman dan kendala utama optimalisasi peningkatan kwalitas keIslaman

4. Sarana-Sarana Tazkiyatun-Nafs

1. Ibadah-Ibadah Wajib.

2. Ibadah-Ibadah Sunah

3. Dzikrullah (Al-Ahzab : 41, Ar-Ra’d : 28) Al-Qur’anul- Karim (Yunus : 57)

4. Menjauhi dosa

5. Efektifitas Tazkiyatun-Nafs

1. Ikhlas

2. Kedisiplinan dengan Sunah Rasulullah Shllallahu alaihi wasallam.

6. Plenning Tazkiyatun-nafs.

1. Perencanaan dan Evaluasi

Bisa dibeli buku berjudul : Therapi Mental Aktifis Dakwah (1, 2)

2. Penghayatan ( Khusyu’). (Al-Hadid : 16)

3. Lingkungan yang mendukung

Oleh: Ustadz Mudzakkir Arif, MA

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.