Akibat Mencela Kemaksiatan Orang Lain

Setiap kemaksiatan yang engkau cela saudaramu karena melakukannya, maka ia akan datang kepadamu. Demikian perkataan Syaikh Abu Ismal Al-Harawi.

Mungkin yang beliau maksudkan adalah bahwa kemaksiatan itu akan datang kepada yang mencela dan ia akan melaksanakannya.

Hal ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi di dalam Jami’-nya dari Nabi shallallahu alihi wa sallam,

“Barangsiapa yang mencela saudaranya dengan dosa, maka ia tidak akan meninggal dunia sebelum melakukannya.”

Menurut syaikh Al-Albani hadits ini palsu (maudhu’), lihat Silsilah Al-Hadits Dha’ifah, jilid I, hlm. 213, 214, nomor 179.

Imam Ahmad berkata dalam menafsirkan hadits ini, “Yaitu dosa yang telah ditobati (ditinggalkan) oleh orang yang bersangkutan.”

Bahaya dan Akibat Mencela Kemaksiatan Orang Lain

Di dalam celaan terdapat semacam rasa gembira terhadap orang yang dcelanya. Di dalam Jami’ Tirmidz juga terdapat riwayat marfu’,

لَا تُظْهِرُ الشَّمَاتَةِ لِأَخِيْكَ، فَيَرْحَمَهُ اللهُ وَ يَبْتَلِيْكَ

“Janganlah kamu menampakkan kegembiraan terhadap kejelekan (kesusahan) orang lain, karena boleh jadi Allah akan menyayangi da dab mengujimu.”

Boleh jadi yang beliau maksud adalah bahwa celaanmu terhadap saudaramu itu lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukannya, dan lebih besar kemaksiatannya daripada kemaksiatan yang dilakukannya.

Karena dengan mencela orang lain, seseorang menganggap dirinya memiliki ketaatan yang kuat, menganggap dirinya suci, pandai bersyukur, terbebas dari dosa, sedang orang lain membawa dosa.

Tapi bleh jadi resah gelisahnya terhadap dosa-dosanya, kehinaan dan kerendahan dirinya, kebersihan dari penyakit menganggap yang bermacam-macam, seperti sombong, dan ujub.

Demikian pula sikapnya merindukan diri di hadapan Allah, dengan mata tertunduk dan hati remuk redam itu lebih bermanfaat baginya dari pada besarnya ketaatanmu.

Ketaatan yang engkau rasa banyak dan selalu engkau hitung-hitung, serta engkau merasa telah berjasa kepada Allah dan makhluk-Nya dengan ketaatanmu itu .

Alangkah dekatnya orang-orang yang pernah berbuat maksiat ini kepada nikmat Allah Azza wajalla, dan alangkah dekatnya orang yang “pemberani” ini kepada kemurkaan Allah Ta’ala.

[su_quote]”Dosa yang membuatmu merendahkan diri di sisi Allah Azza Wajalla itu lebih dicintai-Nya daripada ketaatan yang membuatmu sombong”[/su_quote]

Sesungguhnya orang yang tidur malam dan paginya merasa menyesal terhadap kejelekan-kejelekannya, itu lebih baik daripada menunaikan sholat malam tetapi paginya merasa ujub, karena amal yang ujub tidak akan naik kepada Allah.

Ratap tangis orang-orang yang berdosa lebih dicintai Allah daripada riuh rendahnya suara orang-orang yang bertasbih tapi membanggakan diri.

Barangkali dengan dosanya (yang disesalinya) ini, Allah meminumkan obat untuk mengeluarkan penyakit yang mematikan yang kini ada pada orang yang merasa lebih sholeh tapi dia tidak merasakannya.

Karena itu, pada diri ahli ketaatan dan ahli maksiat, Allah Azza wajalla mempunyai rahasia-rahasia yang tidak ada yang mengetahuinya selain Dia, dan tidak ada yang melihatnya kecuali orang-orang yang memiliki bashirah, yang dengannya mereka mengetahui sesuai dengan kadar pengetahuannya.

di balik itu, ada sesuatu yang tidak ada seorang pun makhluk mengetahuinya, sehingga para Malaikat yang mulia yang bertugas menulis sekalipun

Sumber: Madariju Salikin, Imam Ibnu qoyyim Al-Jauziyah

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.