Nikah Muda Dalam Islam

Nikah muda islami adalah salah satu pengamalan ajaran Islam yang belum dipahami dan belum diterima oleh banyak masyarakat muslim.

Ada kera-guan besar terhadap baiknya pernikahan dini islami. Ada penolakan terhadap pernikahan remaja yang masih berusia 15 tahun sampai 24 tahun.

Bahkan ada persepsi yang menyebar luas, yaitu; ”Jangan menikah sebelum mempunyai penghasilan tetap”.

Selain itu, masih sangat kuat keyakinan terhadap pen-tingnya pernikahan sesuai adat istiadat yang berlaku di masyarakat secara turun temurun.

Bahkan ada yang mewajibkan hadirnya para penyanyi pria dan wanita diiringi dengan alat-alat musik yang lengkap.

Dalam masyarakat seperti ini, nikah muda akan sangat aneh, mengherankan dan menimbulkan banyak keraguan, kecurigaan, cemoohan, dsb.

Insya Allah buku kecil ini berupaya untuk memberi penjelasan yang optimal tentang pernikahan dini islami yang dilengkapi dengan petunjuk singkat penerapannya dan kiat-kiat peng-hayatannya.

Kepada Allah swt kita memohon hidayah dan I’anah (bantuan) untuk semakin patuh kepadaNya dan meraih ridha dan rahmatNya. Amin.

Panduan Pemahaman Nikah Muda Islami

Pengertian nikah muada islami, yaitu: Pernikahan yang dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam, pada usia remaja (sesudah aqil baligh), putera maupun puteri, walaupun masih berse-kolah di Tsanawiyah/Aliyah (SMP/SMA), yang tidak didahului dengan perzinahan, didukung oleh orang tua/wali kedua mempelai, tanpa paksaan, dan dengan niat ibadah.

a. Penjelasan ini menegaskan bahwa pernikahan dini tidak islami, jika prosedurnya didahului dengan zina. Nauzubillah.

b. Penjelasan ini menegaskan bahwa bahwa pernikahan yang dengan sengaja melangggar ajaran Islam, seperti; dengan sengaja pamer aurat, campur baur laki-laki dan perem-puan, pengantin bersanding di depan umum, bukanlah pernikahan yang islami!

c. Pernikahan islami adalah kesunggu-han untuk menjauhi syirik, bid’ah, budaya maksiat, budaya pembo-rosan, dan budaya ketakburan, dalam melaksanakan setiap pernikahan.

d. Pernikahan islami memisahkan tem-pat duduk tamu-tamu pria dan wanita, tidak menyandingkan kedua mempelai, dan semua panitia wanita wajib memakai jilbab.
Pernikahan dini tidak islami, jika

prosedurnya tidak didukung oleh orang tua/wali kedua mempelai. Apalagi jika ”Kawin Lari”

e. Pernikahan dini tidak islami, jika prosedurnya ada paksaan terhadap kedua mempelai, atau salah satunya.

f. Pernyataan tidak islami di sini, tidaklah sinonim dengan ungkapan ”Tidak Sah”. Oleh karena bisa saja pernikahan itu tidak islami, tapi tetap sah secara hukum fikih.

g. Pernikahan dini islami haruslah dilan-dasi dengan niat ibadah, keinginan untuk mendapatkan ridha Allah, semangat pembuktian kepatuhan ke-pada Allah, dan kemauan keras untuk membangun rumah tangga islami.

Landasan normatif Nikah Muda islami

a. Firman-firman Allah swt dalam Al-Qur’an:

وَأَنكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمْ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui”
QS. An-Nur: 32

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk” QS. Al-Isra’: 32

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ(5)إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ(6)فَمَنْ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْعَادُونَ

“Dan orang-orang yang menjaga kehormatan mereka, kecuali terhadap pasangan-pasangan (sah) mereka atau budak-budak mereka, maka mereka itu tidak tercela. Barangsiapa yang mencari (penyaluran) selain itu, maka mereka itulah orang yang melampaui batas” QS. Al-Mu’minun: 5-7

Ayat-ayat mulia ini cukup mewakili keseluruhan firman Allah swt yang melarang perbuatan zina, melarang mendekati perbuatan zina, anjuran untuk menikah, dan memperjuangkan sesama muslim untuk menikah.

b. Sabda-sabda sahih dari Rasulullah saw :

مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ. وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

”Wahai sekalian remaja. Siapa di antara kamu sudah sanggup untuk menikah, maka segeralah menikah. Karena nikah itu lebih menjamin pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Siapa yang belum sanggup menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu perisai baginya” HR. Bukhari Muslim

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَهُ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ إِلاَّ تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌ

”Jika datang kepadamu (melamar) orang yang kamu senangi (pengamalan) agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika kamu tidak melakukannya, niscaya kamu membuat fitnah (bencana) di bumi dan kerusakan yang besar”
HR. At-Tirmidzi

ألنِّكَاحُ سُنَّتِيْ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

”Nikah itu adalah sunnahku, siapa yang tidak senang kepada sunnahku, bukanlah golonganku”. HR. Bukhari Muslim.

Ketiga hadis mulia ini, sangat memotivasi pernikahan islami. Motivasi pernikahan dini dipahami dari kewajiban pelaksanaan perintah Rasulullah saw dengan mempercepatnya, tanpa sengaja menunda-nundanya.

Tujuan Nikah Muda islami

a. Menjauhi dosa pacaran.

b. Mengejar ridha dan rahmat Allah swt.

c. Berjuang untuk melaksanakan perin-tah Allah dan RasulNya.

d. Menegakkan kewajiban da’wah kultu-ral secara bijak.

e. Menegakkan rumah tangga Islami.

Syarat-syarat Nikah Muda islami

a. Memahami dan menghayati tujuan-tujuan pernikahan dini islami.

b. Kesediaan dan keberanian untuk ber-korban di jalan Allah swt, karena per-nikahan dini islami pasti menghadapi banyak tantangan.

c. Kesepakatan orang tua/wali kedua calon mempelai untuk berjuang di jalan Allah swt melalui pembinaan rumah tangga kedua mempelai secara moril dan materil.

d. Rasa tanggung jawab yang terwujud dalam sikap rajin beribadah, rajin belajar, rajin bekerja, rajin member-sihkan rumah dan halaman, kemauan yang keras untuk pandai memasak (bagi wanita) pandai mencuci dan menyetrika.

e. Rasa tanggung jawab dalam mencari nafkah dan pengelolaan keuangan dengan baik (tidak boros dan tidak bakhil).

Jawaban terhadap beberapa kritikan Nikah Muda islami

a. Tak sedikit yang berpendapat:

”Pernikahan dalam usia di bawah 20 tahun itu tidak baik dari segi kese-hatan jiwa, ia akan menjadi sangat tertekan, karena jiwanya belum kuat untuk memikul beban kehidupan berumah tangga.”

Jawabannya:

Kasus seperti itu terjadi ketika anak itu dipaksa untuk segera meni-kah, atau ia tidak didukung oleh salah

satu dari orang tua/wali suami/isteri belia ini. Tapi, kalau sang anak itu sendiri yang meminta untuk segera menikah, atau orang tua memo-tivasinya agar segera menikah dan anaknya yakin pada pentingnya nikah muda, insya Allah, pernikahan itu tidak membebani dia secara berlebihan.

Apalagi, pernikahan dini islami yang perlu digalakkan ialah yang senan-tiasa dibimbing oleh orang tua pasangan remaja ini.

b. Pendapat lain menyatakan:

”Pernikahan dini itu membebani orang tua, karena anak yang masih remaja ini masih sekolah/kuliah, tentu belum dapat mencari nafkah.”

Jawabannya:

Pernikahan dini islami adalah jihad kultural yang dilakukan oleh orang tua kedua remaja yang menikah.

Ini adalah jihadnya orang tua sebelum menjadi jihadnya pasangan remaja.

Sesuai tabiat jihad, ini adalah pengorbanan dalam rangka melak-sanakan syariat Allah dan RasulNya. Ini adalah pendidikan jihad untuk putera-puteri kita.

Masalah nafkah, orang tua kedua remaja ini tetap berkewajiban memberi nafkah seba-gaimana sebelum menikah, dan kedua remaja ini berkewajiban untuk mengelola keuangan mereka dengan baik, berusaha untuk mencari nafkah yang halal dan tidak menghalangi ibadah.

Orang tua tidak perlu merasa tertekan dengan tambahan pembia-yaan anak yang telah menikah, kare-na kita yakin bahwa kita hanyalah penyalur rezeki anak yang telah ditentukan oleh Allah swt.

Marilah kita sadari bahwa bukan kita (orang tua) yang memberi rezeki kepada anak.

Setiap anak kita, ada jatah rezekinya masing-masing di sisi Allah swt Allah memberi rezeki pada anak-anak kita lewat perantaraan kita.

Yakinlah, bahwa ketika anak kita sudah menikah, akan ada saluran-saluran lain yang mengantarkan rezeki mereka dari Allah swt, selain lewat saluran kita.

c. Banyak pula yang menyatakan:

”Pernikahan dini itu menghambat/mengalangi kelanjutan pendidikan anak, sebab kalau sudah menikah, ia tidak bisa lagi kuliah dengan tenang.”

Jawabannya:

Yakinlah, anak kita itu akan lebih tenang belajar dan kuliah setelah menikah secara islami, jika kita memberi dukungan penuh (100%).

Lihatlah para dosen yang kuliah lagi (program pascasarjana). Lihatlah orang-orang yang super sibuk, ter-nyata mereka masih sempat melan-jutkan kuliah.

Ini adalah bukti nyata bahwa pernikahan, bahkan anak yang banyak, usia yang semakin tua, dan kesibukan yang tiada habisnya, tidak menghalangi kuliah!

Jadi, yang menghalangi kuliah itu sesungguhnya ialah kalau kita tidak mendukung anak kuliah setelah menikah.

Bukanlah pernikahan yang meng-halangi kuliah. Mungkin anak itu sen-diri yang sudah bosan kuliah, atau ingin mengembangkan bisnis, atau ia ingin segera bekerja sebagai pegawai/karyawan.

Semua itu sah-sah saja, karena kuliah bukanlah sega-lanya dalam menentukan masa depan yang sejahtera.

Jadi, tidak perlu cemas jika ternyata dia memutuskan berhenti kuliah, karena insya Allah ada pilihan lain yang lebih tepat.

Ingatlah; putus kuliah itu, bukan karena pernikahan dini semata!

d. Ada pula yang menyatakan:

”Kita dianjurkan untuk mempelopori pernikahan dini islami dengan tujuan membentengi anak dari dosa pacaran.

Bagaimana kalau anak saya tidak pacaran? anak saya mampu mengendalikan diri dalam pergaulannya. Jadi, tidak perlu cepat-cepat menikah.”

Jawabannya:

Kita semua sangat paham ter-hadap nafsu birahi anak yang pubertas. Kita paham betul kecende-rungannya terhadap lawan jenis-nya.

Hal ini sepatutnya memotivasi kita untuk melakukan pendekatan ter-hadap anak kita, membangun per-sahabatan dengan penuh keterbukaan dan kasih sayang. Kewajiban ini banyak dilalaikan oleh orang tua.

Sangat penting kita mewaspadai kedekatannya terhadap lawan jenis-nya. Jangan pandang enteng anak kita pergi berduaan dengan lawan jenisnya.

Jangan sepelekan kalau anak kita berboncengan dengan lawan jenisnya.

Jangan pura-pura tidak tahu kalau anak kita berpoto berduaan dengan lawan jenisnya.

Jangan anggap remeh kalau anak kita surat-suratan, sms-sms-an dengan lawan jenisnya.

Kepedulian, kepri-hatinan, dan kewaspadaan yang seperti ini, semakin sedikit orang tua muslim yang memilikinya.

Jadi, ada kemungkinan kita berbeda persepsi tentang pacaran. Anak kita sudah pacaran, lalu kita masih menganggap dia tidak pacaran.

Selain itu, kalau pun anak kita tidak pacaran, sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk mencari pasangan yang tepat untuk anaknya, karena itu adalah bagian dari pendidikan anak, dan untuk ke-lanjutan keturunannya yang shaleh.

Coba kita bayangkan; seorang ayah/ibu yang memiliki anak puteri yang telah berusia 24 tahun/25 tahun.

Apakah mereka tidak me-risaukan puterinya jika belum menikah? Apakah pernikahan pada usia itu masih dikatakan pernikahan dini?

Sepatutnya, orang tua men-carikan laki-laki saleh yang tepat menjadi suami setia terhadap pu-terinya.

Orang tua harus meminta bantuan kepada ulama/da’i, keluarga dekat, sahabat terdekat untuk mendapatkan jodoh yang saleh untuk puterinya.

Orang tua harus melamar laki-laki yang tepat itu secara langsung/tidak langsung. Ini adalah tanggung jawab. Ini adalah kewajiban.

e. Kadang pula ada yang mengatakan:

“Bagaimana mungkin saya me-nikahkan anak saya yang masih remaja, padahal saya tidak punya biaya untuk itu.

Bagaimana mungkin anak saya dinikahkan, padahal salatnya saja belum teratur, dia masih sering kesiangan salat subuh.

Dia masih kekanak-kanakan, dia belum tahu memasak, belum tahu mencuci, belum tahu menyeterika, dst. Bagaimana mungkin saya menikahkannya?”

Jawabannya:

Pernikahan dini islami adalah jihad budaya, bertujuan untuk membangun budaya baru yang lebih islami, termasuk dalam pembiayaan pernikahan.

Sesuai dengan ajaran Islam, pernikahan islami, tidak harus dilaksanakan secara meriah dan besar-besaran dengan biaya puluhan juta.

Bahkan, dilarang melakukan pemborosan. Pernikahan islami itu harus dilaksanakan, walaupun sangat sederhana.

Karena pernikahan islami tidak bertujuan untuk mendapatkan pujian sesama manusia, tapi bertujuan mendapatkan ridha Allah swt.

Untuk melaksanakan pernikahan sederhana, carilah calon besan yang saleh yang sepaham dan secita-cita dengan kita.

Kemudian, masalah anak yang belum menampakkan tanda-tanda kedewasaan berpikir dan belum memiliki rasa tanggung jawab, perlu dibenahi sebelum menikah.

Nikah muda islami itu, sangat perlu didahului dengan pendidikan remaja muslim-muslimah secara optimal.

sehingga anak remaja kita dapat mecapai standar minimal rasa tanggung jawab, kedewasaan ber-pikir, dan pengendalian diri yang baik.

Problem kita ialah bahwa banyak orang tua yang terlambat/tidak melakukan pendidikan pendewasaan anak, karena anak itu telah divonis; Tidak boleh menikah sebelum sar-jana!

Tidak boleh menikah sebelum punya pekerjaan tetap! Vonis sema-cam ini, turut menghambat pende-wasaan cara berpikir anak-anak remaja kita.

Tapi jika anak kita dididik untuk nikah muda, pasti kita segera mempersiapkan mereka untuk memiliki rasa tanggung jawab, sifat rajin salat, rajin belajar, rajin membersihkan, tampil bersih, rapih.

Diajak berpikir untuk masalah-masalah rumah tangga, membiasakan diri berhemat dan menabung, tidak merokok, tidak senang mengha-biskan waktu di depan TV/main sia-sia, dsb.

Semua itu perlu dilakukan sebelum pernikahan dini islami.

Jadi, nikah muda islami itu, bukanlah langkah nekat, tanpa persiapan, dan tanpa perhitungan!

Tetapi Nikah muda islami adalah kelanjutan pendidikan pendewasaan anak, secara berkesinambungan. Allahu Akbar !

Panduan Pengamalan Nikah Muda Islam

1. Komitmen perjuangan untuk mem-bangun rumah tangga islami.

Pelaksanaan pernikahan dini islami adalah perjuangan orang tua untuk mengantar dan menuntun putera-puterinya di jalan perjuangan kesalehan yang optimal, termasuk dalam melayarkan bahtera rumah tangga islami.

Perjuangan ini berdasarkan komitmen orang tua untuk istiqamah dalam perjuangan membangun rumah tangga islami.

Perjuangan ini berdasarkan komitmen orang tua untuk istiqamah dalam perjuangan membangun rumah tangga islami.

Tuntutan rumah tangga islami ialah kehadiran putera-puteri yang cinta Islam dan berorientasi pada perjuangan islam.

Inilah urgensi yang akan mengantar ke jenjang rumah tangga islami dan yang akan memberikan bimbingan terhadap mereka agar senantiasa istiqamah di jalan Allah swt.

Tidakkah kita sedih melihat rumah tangga orang saleh bahkan rumah tangga ulama yang melahirkan anak-anak yang tidak saleh.

Tidakkah kita sedih, melihat puteri da’i pacaran, puteri ustadz tidak pakai jilbab, putera kyai dikenal sebagai anak nakal. Naudzubillah!

Ada yang berkilah; ”Anaknya nabi Nuh as juga mati kafir!” Jawabannya; ”Benarkah usaha dan perjuangan kita dalam mendidik anak, sudah sama dengan perjuangan nabi Nuh as?”

Problem kita sesungguhnya ialah; sangat banyak dari kalangan kita yang tidak memiliki komitmen perjuangan membangun rumah tangga islami.

Inilah yang membuat pernikahan dini islami itu dianggap sangat aneh dan masih sulit untuk diterima.

Apalagi bagi kalangan yang memandang bahwa pacaran itu diperlukan sebelum menikah, agar rumah tangganya langgeng.

Tentu saja pemikiran ini masih sangat jauh dari pemahaman yang benar terhadap Al-Quran dan As-Sunnah yang sahih.

2. Pendidikan anak untuk pernikahan dini islami.

Pernikahan dini islami dilakukan setelah proses pendidikan yang panjang; yaitu pendidikan cinta ibadah, cinta Al-Quran, cinta As-sunnah, dan tentu saja cinta Islam.

Sehingga anak remaja kita lebih dewasa dibanding remaja seusianya yang tidak mendapatkan pendidikan cinta Islam.

Selain itu, anak remaja kita harus mencapai standar minimal sifat rajin dan terampil. Menanamkan kepri-badian seperti ini, tidak mesti dilakukan oleh orang tua sepenuhnya.

Kepribadian seperti ini bisa dicapai oleh anak remaja di pesantren atau dari lingkungan masjid yang baik dan lingkungan organisasi Islam yang mendukung.

Kesalehan, kedewasaan, kematangan, dan keterampilan, ha-rus dicapai oleh anak remaja yang akan nikah dini islami.

3. Kesepakatan orang tua pasangan remaja yang nikah dini, untuk meneruskan pembinaan rumah tangga anak-anak mereka.

Perjuangan pernikahan dini islami tidak hanya selesai pada acara walimah, tapi perjuangan ini diteruskan melalui pembinaan rumah tangga remaja tersebut, termasuk pembiayaannya, menasihatinya, dan mem-bantu merawat anak-anaknya kelak (cucu orang tua pasangan ini).

Hal ini haruslah diupayakan, sebagai bentuk perjuangan di jalan Allah yang tiada henti. Pembinaan bagi generasi pelanjut, hingga ajal menjemput.

Jadi, sangatlah keliru pema-haman sebagian orang tua, bahwa tanggung jawab orang tua telah terhenti setelah putera/puterinya menikah! Apalagi nikah muda!

Orang tua tetap bertanggung jawab dan aktif secara lang-sung/tidak langsung memberi pem-binaan dengan penuh kasih sayang.

Tapi, pembinaan ini tentu dibatasi dengan tidak melakukan intervensi terhadap hubungan suami-istri anak-anaknya.

Tidak pula ada kebencian terhadap menantu, tidak pula ada pemaksaan kehendak terhadap anak dan menantu.

Pembatasan ini penting, karena ada beberapa rumah tangga yang retak, bahkan pecah, karena inter-vensi orang tua! Banyak pula contoh di sekitar kita, dimana orang tua tidak akur dengan menantunya.

Semua ini haruslah disikapi dengan semangat perjuangan, untuk pembinaan dan kasih sayang yang mendidik.

Kesimpulannya, pernikahan dini islami, adalah perjuangan orang tua, sebelum perjuangan anak.

Pernikahan dini memerlukan persiapan lebih awal untuk pendewasaan, dan memerlukan kesepakatan dengan besan untuk bersama-sama mela-kukan pembinaan.

Panduan Penghayatan Nikah Muda

1. Melakukan renungan keprihatinan terhadap bahaya pergaulan bebas putera-puteri kita.

2. Melakukan renungan kewajiban menyelamatkan isteri/suami dan putera-puteri kita dari adzab neraka.

Allah Swt Berfirman:

يَاأَيُهَا اَّلذِينَ آمَنوُا قُوا أَنفُسَكُم وَ أَهلِيكُم نَارًا

“Wahai sekalian orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” QS. At-Tahrim: 6

3. Mari merenungkan apa saja yang telah kita lakukan untuk menjauhkan keluarga dan putera-puteri kita dari dosa dan maksiat.

4. Melakukan renungan peneguhan iman, bahwa Allah swt pemberi rezeki yang Maha Kaya dan Maha Adil.

Mari memperkuat keyakinan kita, bahwa rezeki anak-anak kita itu bukanlah dari kita! Bukan kita yang atur! Bukan kita yang kuasai!

Rezeki anak-anak kita, tidak mungkin kita makan. Rezeki kita tidak mungkin diambil oleh anak-anak kita, bahkan antar anak; masing-masing punya jatah rezeki sendiri.

Pasti, ada yang mendapat jatah rezeki yang lebih besar dari yang lain. Demikian pula dengan isteri kita. Dia mempunyai

jatah rezeki sendiri dari sisi Allah swt. Bukan kita sumber rezekinya! Kita para suami dan para orang tua hanyalah penyalur rezeki semua orang yang berada di bawah tanggungan kita.

Buktinya, anak yatim-piatu yang ditinggal mati oleh orang tuanya, mendapatkan saluran lain pembawa rezekinya. Anak yatim itu tidak mati sebelum habis jatah rezekinya di sisi Allah swt.

Demikian pula sebaliknya, ada orang tua yang berkecukupan/kaya dan dikaruniai beberapa orang anak, bahkan pada saat anaknya masih di bawah umur, sudah dibelikan rumah atas nama anaknya, dan dibelikan kebun/aset–aset lainnya, atas nama anak-anaknya tersebut.

Tapi bila rezeki sang anak itu telah habis, maka ia pasti telah dipanggil oleh Allah swt. Dia wafat sebelum ayahnya.

Dia wafat walaupun ayahnya masih kaya. Dia wafat walapun dia sehat, kuat, berkecukupan!

Ini fakta! Ini kenyataan! Dan masih banyak lagi fakta lain yang semestinya menguatkan iman kita kepada Allah swt.

Fakta dan kenyataan ini sangat sesuai dengan firman Allah swt:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِى الأَرضِ إِلاَّ عَلى اللهِ رِزقُهَا

“Tidak ada makhluk melata di bumi ini, melainkan (hanya) Allah yang menanggung/menetukan rezekinya” QS. Hud:6

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ

“Allahlah yang menciptakan kamu, kemudian memberi rezeki kepadamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu” QS. Ar-Ruum:40

تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena kamu miskin. Kamilah (Allah) yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka” QS. Al-An’am: 151

وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah (Allah) yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu”QS. Al-Isra’: 31

Penghayatan ayat-ayat mulia ini sepatutnya semakin menguatkan ke-yakinan kita bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki, sehingga kita tidak lagi membatasi kelahiran anak kita, hanya karena pertimbangan nafkah semata.

Kita tidak lagi menghalangi anak kita untuk nikah dini islami, hanya karena pertimbangan nafkah semata!

Penutup

Demikianlah penjelasan singkat tentang nikah muda islami, sebagai upaya da’wah yang mencerahkan dan dapat memandu. Insya Allah.

Ada sejumlah buku yang layak dan penting dibaca untuk menambah wawasan dan keyakinan pada apa, mengapa, dan bagaimana pernikahan dini islami.

Diantara buku-buku itu, ialah:

1. Indahnya Pernikahan Dini, oleh: M. Fauzil Adhim

2. Kupinang Engkau dengan Hamdalah, oleh: M. Fauzil Adhim

3. Kado Pernikahan untuk Isteriku, oleh: M. Fauzil Adhim

4. Gelombang kejahatan Seks Remaja Modern, oleh: Abu Al-Ghifari

5. Pernikahan Dini: Dilema Generasi Ekstravaganza, oleh: Abu Al-Ghifari

6. Remaja dan cinta: Memahami Gelora Cinta Remaja dan Menyelamatkannya dari berhala Cinta, oleh: Abu Al-Ghifari

7. Kenapa Harus Pacaran?, oleh: Rabi’ah Al-Adawiyah

8. Menikah Muda, Siapa Takut!, oleh: Azam Syukur Rachmatullah Ikhsan

9. Panduan Pemahaman, Pengamalan, dan Penghayatan Nikah Islami, oleh: Mudzakkir M. Arif, MA.

10. Panduan Praktis Menuju Rumah Tangga Islami, oleh: Mudzakkir M. Arif, MA.

Akhirnya, kami berdo’a kepada Allah swt, semoga tulisan ini diterima oleh Allah swt sebagai amal saleh dan jariyah bagi penulisnya, pengetiknya, pencetaknya, penjilidnya, pembacanya, penyebarnya, pengamalnya, dan semua pihak yang turut serta dalam jihad kultural ini. Semoga Allah swt meridhai, memberkati, dan merahmati kita semua. Amin.

Ucapan terima kasih tulus kepada pembaca yang ikhlas memberi komen-tar, tambahan, saran, penyempurnaan terhadap tulisan yang tidak luput dari

Dan kepada Allah jualah kita memohon ampunan dan taufiqnya. Allahumma Amin.

Oleh: Ustadz Mudzakkir M. Arif, MA.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.