Parsialime Dalam Membangun Kepribadian

Alhhamdulillahi Rabbil ‘Alamin
Wasshalatu Wassalam ‘Ala Sayyidina Mursalin.

Materi ini adalah upaya sederhana dan motifasi untuk mengkaji satu sisi penting dalam upaya mengembangkan kepribadian kita masing – masing, menuju optimalisasi pribadi muslim sejati.

Urgensi materi

Materi ini di pandang penting, berdasarkan beberapa faktor berikut ini:

1. Seorang muslim dituntuk untuk melakukan mujahadah, menuju muslim secara kaffah.

2. Kepribadian seorang Muslim,perlu dibangun secara sadar,terencana, integral dan berkesinambungan.

3. Parsialisme dalam kepribadian seotrang da’I,adalah salah satu penghambat utama dalam da’wah.

Target Materi

Sangat diharapkan , setelah mengikuti materi ini secara sempurna, kita bisa mencapai beberapa targetberikut ini :

1. Motivassi yang kuat untuk membaca dan memprogram kepribadian.

2. Motivasi yang kuat untuk juur terhadap diri sendiri.

3. Motivasi yang kuat untuk menjalin kerjasama dengan orang orang terpercaya, untuk bersama-sama membangun kepribadian,walau secara perlahan.

Pokok –pokok Materi

1. Pengertian Materi:

“Parsialisme dalam membangun kepribadian”, berarti:

Perhatian yang persialsati, dua sisi kepribadian;dan mengabikan yang lain, secara sadar ataupun tidak.

2. Beberapa contoh parsialisme :

 Keaktifan yang cukup oftimal dalam shalat berjamaahdan ibadah-ibadah sunnah tapi sangat gemar menyakiti hati orang.

• Keaktifan yang cukup tinggi dalam berda’wah di masyarakat tapi sangat kurang perhatian pada da’wah istri , anak dan keluarga dekatnya.

• Keaktifan yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu dan mengejar prestasi akademik, tapi sangatrendah minatnya untuk berda’wah.

• Kepandaiannya dalam bergaul sangat tinggi, tapi kemalasannya dalam beribadahpun, sangat tinggi pula .

• Sangat rajin beribadah, sangat aktif berda’wah, tapi sangat mudah tergoda wanita / senang menggoda wanita .

• Sangat rajin beribadah , sangat pandai bergaul , tapi sangat mudah khianat dalam urusan uang.

Sangat rajin beribadah, sangat aktif berda’wah , tapi ia hidup dalam belas kasih orang lain /tidak mampu mencari nafkah.

• Sangat rajin beribadah, sangat aktif berdawaah, tapi sangat serampangan dalam penampilan.

• Sangat rajin beribadah , sangat aktif berda’wah , tapi sangat panatik kesukuan , fanatik keluarga, fanatik organisasi.

• Sangat aktif berda’wah, sangat pandai menasehati orang lain, tapi sangat mudah putur( lemah semangat untuk mengamalkan ilmu dan da’wahnya sendiri) .

Dan masih banyak lagi contoh-contoh parsilisme yang lain

3. Sebuah pembelaan terhadap parsialisme :

• Parsialisme adalah sebuah kelemahan yang sangat manusiawi, ia adalah sunnatullah.

Tidak ada orang yang dapat mencapai kesempurnan, setelah para Nabi dan Rasul. Makanya kita diwajibkan untuk banyak beristigfar.

• Perintah Ilahi untuk melaksanakan islam secara integral itu, tidak jauh berbeda dengan perinytah untuk bertakwa dengan sebsnar-benarnya’ itu semua berma,na perintah mujahadah sekuat kemmpuan.

• Kita dan masyarakat, dituntut untuk mema’lumi dan saling menerima kekurangan kita masing-masing, antara anggoita masyarakat. Tidak justru membesarkan kekurangan-kekurangan tersebut.

4. Upaya dialog yang tenang

• Bahwa parsialisme adalah kelemahan yang sangat manusiawi , itu adalah benar, tapi nbahwa ialam mewajibkan kita untuk bersegerah meraih integralitas keislaman, itu adalah kebenaran pula.

Hal ini berarti bahwa pengakuan terhadap kelemahan, tidaklah boleh mengantarkan kita kepada pesimisme dan apatisme .

Tapi ia hendaknya menjadi motifasi untuk bersegerah dan tidak menyia-nyiakan waktu, untuk membangaun masa depan yang membahagiakn.

• Perintah untuk bermujahadah dalam dan As-Sunnah,cukup banyak. Bahkan sesungguhnya syari’at Islamini, sangat memerlukan mujahadah.

Hal yang mendasar pemahaman dan pengamalan mujahadah yang benar, ialah integralitas(syumuliyah) dan keseimbangan (tawzun).

Mujahadah yang kita inginkan adalah mujahadah yang menyentuh seluruh aspek kepribadian, berjalan sescara seimbang.

Karenamujahadah yang tinggi pada satu, dua sisi kepribadian saja, lalu mengabaikan sisi-sisi lainnya, sangat membahayakan ! ia adalah jalan kebinasaan !!

Contoh:

• Berjihad, menuntut ilmu, berimfak tapi Riya’ !

• Rajin beribadah, tpi berakhlk buruk terhadap tetangga !

• Aktif Berda’wah, tapi lupa diri dan keluarga sendiri !

• Rajin beribadah, aktif da’wah, tapi durhak kepada kedua orang tua, memutuskan silaturrahmi !

• Rajin beribadah, aktif da’wah tapi takbur dan hasad !

• Banyak beramal shaleh, tapi banyak berdosa rahasia !

• Upaya mendewasakan masyarakat, perlu dibarengi dengan upaya pendewasaan diri dan pendewasaan lingkungan para da’i.

Pendewasaan diri, tidak dapat lepas dari pembangunan kepribadian secara integral !

5. Penyebab parsialisme

• Tidak ada program pembinaan kepribadian, karena tidak merasakan pentingnya.

• Kepuasan yang terlalu cepat apda sisi yang ia berprestasi padanya.

• Tidak meminta nasehat dari orang lain.

• Sikap mengecilkan dosa / kesalahan pribadi.

• Lingkungan keluargandan pergaulan yang monoton.

• Bacaan yang monoton.

• Kurang berminat untuk mencontohdan belajar dari orang lain .

• Terlalu sering mendapat pujian / penghargaan.

• Tidak bisa menguasai diri.

• Pandangan yang picik / pendek.

6. Solusi parsialisme

• Tadabbur ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunnah yang berkaitan dengan pengembangan kepribadian.

Contoh:

Tadabbur >
Qs: 3 : 133-136
Qs: 8 : 2-4
Qs: 23 : 1-11
Qs: 25: 63-77
Qs: 51 : 15-19
Qs: 70: 19-35

• Menyusun planning pengembangan pribadi yang integral, seimbang, realistis dan bertahap.

• Membaca buku-buku pengembangan pribadi, baik yang bersifat syar’I, nafsi maupun kauni/umum.

• Meragamkan lingkungan pergaulan.

• Meragamkan bacaan dan sumber imformasi.

• Menumbuhkanminat yang tinggi untuk belajar dari setiap orang yang kita jumpai

• Melakukan evaluasi umum terhadao kemampuan dan keberhasilan kita dalam pergaulan.

• Berlatih untuk menguasai diri.

• Meminta nasehat dari orang lain.

• Bekerja sama dengan sahabat terdekat untuk mengembangkan kepribadian.

Kesimpulan :

1. Menyusun planning pengembangan kepribadian, adalah kebutuhan yang mendesak.

2. Pengembangan kepribadian adalah ilmu dan keterampilan yang perlu di peljari, perlu latihan dan kerja sama.

3. Pengembangan kepribadian berawal dari motivasi> pemahaman > kemauan keras.

Penutup

Demikianlah penjelasan singkat tengtang satu sisi esensial ( mendasar ) dalam upaya meningkatkan mujahadahkita sebagai seorang muslim /muslimah, da’i/ da’iyah, meniti jalan Rasulullah SAW menuju Ridha dan Rahmat Allah SWT.

Semoga uraian sederhana ini, dapat mencapai target- targetnya; dan yang lebih utama ialah semoga ia diterima oleh Allah Yang Maha Pemurah, sebagai amal shaleh dan amal jariah, serta semoga Allah SWT senantiasa memberikan Taufik dan Istiqamah kepada kita semua.

Aamiin Ya Hayyu Ya qayyuum, Ya Dzal Jalali Wal Ikram.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.