Menata Kehidupan Agar Tidak Merugi

Agama kita yang tercinta ini mewajibkan agar kita senantiasa berorientasi pada kualitas amal shaleh, kesempurnaan kepatuhan pada Allah swt.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [QS. Al-Mulk: 2]

Ayat mulia ini menjelaskan bahwa tingkat kesuksesan kita dalam hidup ini, dinilai dari tingkat kualitas amal kita. Dalam surah yang lain Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [QS. Ali-Imran: 102]

Ayat mulia ini menerangkan kewajiban peningkatan taqwa menuju taqwa yang lebih baik, taqwa yang sebenarnya, secara berkesinambungan.

Atas dasar inilah kita menata setiap pikiran, ucapan, dan aktifitas kita, sesuai petunjuk Allah swt.

Inilah motivasi iman dan mesin keyakinan yang menggerakkan dan mendorong kesadaran untuk senantiasa berada di jalan Allah, jalan menuju ridha Allah, jalan menuju syurga Allah swt.

Menata Hidup Agar Tidak Merugi

Detik-detik hidup senantiasa berdetak, detik itu menjadi menit, menit itu menjadi jam, jam-jam itu kemudian mendorong pergantian siang dan malam.

Sebuah peristiwa besar dan dahsyat yang terjadi setiap hari. Di mana kegelapan malam dihapus oleh cahaya matahari, lalu matahari itupun berangsur terbenam. Siang berganti malam, malam menggantikan siang.

Keduanya seakan berkejaran, menggulung umur manusia, umur seisi bumi. Dari hari lahirlah pekan, dari pekan lahirlah bulan, dari bulan genaplah tahun, dari tahun terhitunglah dekade, dari dekade dihitunglah abad, dan dari abad ke abad, terciptalah milenium. Itulah waktu, itulah kehidupan.

Pada detik-detik itulah kita beramal. Pada detik-detik itulah kita berdosa. Pada detik-detik itulah kita sadar.

Pada detik-detik itulah kita lupa. Pada waktu itulah kita sedih, pada saat-saat itulah kita bahagia.

Di sinilah kita bergelut dengan kehidupan. Dalam hidup inilah kita berlomba dan bersaing. Terkadang kita bertengkar, terkadang akur, akrab, berdamai.

Di dunia inilah kita terkadang merasa menderita, merasa di sepelekan, merasa terhinakan, merasa gagal dalam hidup.

Terkadang kita merasa sukses, merasa dimuliakan, dihargai, diangkat, dan disanjung setinggi langit.

Di sini kita lahir, kita melewati masa kanak-kanak, remaja, pemuda, dewasa, tua, dan senja. Kita pernah kuat, kita pernah bersemangat tinggi, kita pernah sehat.

Kita juga pernah lemah, pernah malas, pernah sakit, pernah merasakan berbagai pengalaman manis dan pahit. Itulah hidup.

Apa dan bagaimanapun hidup ini, yang jelas dan pasti, kita semua berjalan menuju kematian.

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. [QS. Al-Insyiqaq: 6]

Kematian adalah perjalanan kepada keabadaian. Kematian adalah persinggahan menuju pengadilan akbar yang maha adil, maha teliti, maha akurat. Pengadilan yang sangat menentukan hidup kekal selanjutnya.

Di sinilah kita melakukan tafakkur, renungan, evaluasi hidup, introspeksi diri, mengecek persiapan kita menghadap Allah swt.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al-Hasyr: 18]

Rasulullah saw bersabda:

الكيّس من دان نفسه وعمل لمابعدالموت

“Orang pandai ialah yang senantiasa mengevaluasi dirinya dan beramal untuk hidup sesudah mati”

Di sinilah kita menghadirkan kesadaran, menumbuhkan rasa takut kepada Allah, mengakui kesalahan, dosa, dan nista.

Di sinilah kita menangis, menangis, dan menangis, karena iman dan taqwa, untuk mensucikan hati, untuk memupuk iman dan taqwa, untuk memperkuat keyakinan, agar kita semakin bahagia dengan ibadah dan permohonan ampunan Allah yang Maha Pengampun, Maha Pemaaf:

أسةغفراللّه العظيم الذي لاإله إلاّهوالحي القيوم وأتوب إليه

“Aku memohon ampunan Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain DIA, yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus Mahluk, dan aku bertaubat kepada-Nya”

Istigfar dengan penuh penghayatan dilakukan dengan mengkhususkan lafazh-lafazh istighfar untuk setiap dosa mata, setiap dosa telinga, semua dosa lidah, semua dosa tangan, dosa kaki, dosa pikiran, dosa hati, dosa perasaan.

Bila kita khususkan satu istighfar saja untuk satu dosa, maka bisa dibayangkan betapa banyaknya istighfar kita !

Apalagi bila kita menikmati istighfar 10x atau 20x untuk dosa-dosa tertentu. Alangkah bahagianya hati kita dengan istighfar yang banyak.

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya (yaa ayyuha-lladziina aamanuu tuubuu ilallaahi taubatan nashuuhan), mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu (‘asaa rabbukum an yukaffira ‘ankum sayyiaatikum) dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (wa yudkhilakum jannaatin tajrii min tahtihal anhaaru), pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [QS. At-Tharim:8]

Acara pembasuhan hati dengan istighfar dan air mata yang diseleng-garakan menjelang subuh, menghasilkan ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, kekuatan iman yang luar biasa!

Bukanlah istighfar yang baik jika membuat kita pesimis, membuat kita malas.

Tidak! Istighfar yang efektif ialah yang memacu dan memotivasi kita untuk semakin bersungguh-sungguh beribadah dan beramal shaleh, berpacu dengan waktu, sisa umur kita di dunia yang sangat singkat ini.

Kesungguhan itu kita awali dari pembenahan tauhid kita. Pastikan, tidak ada syirik dalam hati dan pikiran kita !

Buktikan, tidak ada lagi kepercayaan dan keyakinan yang bertentangan dengan Tauhid!

Termasuk materialisme, feodalisme, sukuisme, animisme, perdukunan dan paranormal!

Usahakan dan perjuangkan, niat ikhlas pada setiap aktifitas! Mari menekan keinginan untuk berbuat jelek dan jahat!.

Mari melipatgandakan semangat dan ketekunan beribadah dan beramal shaleh!.

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [QS. Al-Kahfi 110]

Dalam hidup ini, kita harus punya target iman dan taqwa. Kita harus memiliki banyak rencana dan program untuk peningkatan ibadah dan amal shaleh.

Kita harus menentukan kebiasaan jelek kita yang harus kita tinggalkan. Kita harus memperjelas kebiasaan-kebiasaan baik yang harus kita bangun dari sekarang.

Dengan demikian, kita senantiasa sadar dan termotivasi. Kita selalu merasa kurang dalam beramal. Kita tida tertipu dengan dunia ini.

Selain itu, kita selalu menumbuh suburkan cinta kita kepada ilmu Islam, pemahaman Islam yang benar. Karena ilmu itulah dasar pengamalan kita.

Ilmu dan pemahaman inilah yang penting untuk selalu diperdalam, diperjelas, diperbaharui.

Sehingga kita rajin ke pengajian, senang membaca buku Islam, aktif membaca majalah dan buletin Islam, gemar mengikuti ceramah dari TV, radio kaset, CD dan VCD.

Semua itu kita lakukan dengan penghayatan cinta kepada Islam, sehingga kita bahagia dan membahagiakan. Sehingga kita bersemangat berIslam dan membagi semangat itu kepada orang lain.

Akhirnya, dzikir dan do’a menjadi senjata pertama dan terakhir kita. Dzikir dan do’a menjadi kebutuhan pokok iman kita.

Dzikir dan do’a menjadi makanan, minuman, pakaian dan udara bagi kita. Karena kita yakin bahwa semua yang kita harapkan, hanya ada di Tangan Allah swt semata.

Karena kita telah membuktikan berulang-ulang dan berkali-kali, bahwa Allah swt Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mengabulkan permintaan kita.

Mari tambah dzikir dan do’a kita. Mari perkuat dzikir dan do’a kita. Agar hati dan pikiran kita senaniasa tersambung dengan Allah swt pemilik tunggal seluruh kesempurnaan. Fastaqim (beristiqamahlah) !.

Oleh: Ustadz Mudzakkir M. Arif, MA

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.