Sejarah Perang Badar

Perang Badar – Perang badar merupakan salah satu peperangan terpenting dalam sejarah perkembangan islam.

Perang ini merupakan perang pertama yang terjadi antara pasukan kaum muslimin dan orang-orang kafir Quraiys.

Peperangan ini terjadi pada bulan ramadhan yan mana kemengan menjadi milik kaum muslimin, meskipun jumlah mereka kalah jauh dari jumlah kaum Kafir Qurasy.

Ada banyak kejadian menarik terkiat perang Badar, sehingga pembahan mengenai perang ini sangatlah menarik.

Latar Belakang Terjadinya Perang Badar

Seperti yang sudah kami ungkapkan sebelumnya, bahwa kafilah dagang Quraisy bisa lepas dari hadangan Nabi sallalahu alihi wasallam dalam perjalanannya dari Mekkah ke Syam.

Tatkala mendekati saat kepulangan mereka dari Syam ke Mekkah, maka beliau mengutus Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid agar pergi ke utara dengan tugas penyelidikan. Keduanya tiba di Al-Haura’ dan berada di sana untuk beberapa lama.

Tatkala khafilah dengan Quraisy yang dipimpin Abu sufyan sudah lewat, maka keduanya cepat-cepat kembali ke madinah dan menyampaikan kabar ini kepada rasulullah sallalahu alaihi wasallam.

Kafilah dagang itu sendiri membawa harta dagang kekayaan penduduk mekkah,yang jumlahnya sangat melimpah, yaitu sebanyak 1000 onta yang membawa harta benda milik mereka. Yang nilainy tidak kurang dari 5000 dinar emas. Sementara yang mengawalnya tidak lebih dari 40 orang.

Ini merupakan kesempatan emas bagi penduduk madinah untuk melancarkan pukulan yang telak terhadap orang-orang musrik, pukulan dalam bidang politik , ekonomi dan militer jika mereka sampai kehilangan kekeyaan yang terkira banyaknya ini.

Oleh karena itu rasulullah sallalahu alaihi wasallam mengumumkan kepada orang-orang muslim, “ini adalah khafilah dagang quraisy yang membawa harta benda mereka, Hadanglah khafilah itu, sehingga Allah memberikan barang rampasan itu kepada kalian.”

Beliau tidak menekankan kepada seorang pun diantara mereka untuk tergabung , tetapi beliau menyarahkan masalah ini kepada kerelaan mereka.sebaba kali ini tidak akan terjadi bentrokan yang seru dengana pasukan Qurasy dan memang bentokan ini baru terjadi saat di Badr.

Banyak sahabat yang memilih tetap tinggal di madinah, sebab ketetapan kalian ini tak berbeda denga ketetapan beliau dalam mengirimkan satuan-satuan pasukan sebelumnya.

Karena itu mereka tidak mengingkari keputusan beliau untuk tidak ikit dalam penghadangan ini.

Kadar Kekuatan Pasukan Islam

Rasulullah sallalahu alihi wasallam mengadakan persiapan untuk keluar, beserta 313 hingga 317 orang, terdiri dari 82 hingga 86 dari muhajirin, 61 aus dan 170 dari khazraj.

Mereka tidak mengadakan pertemuan khusus, tidak pula membawa perlengkapan yang banyak.

Kuda mereka pun hanya 2 ekor, seekor milik azzubair bin al-awwam dan satu lagi milik miqdad bin al aswad al kindy.

Sedangkan untanya ada 70 ekor, satu ekor di naiki 2 atau 3 orang sementara rasulullahsallalahu alaihi wasallam naik seekor unta bersama ali bin abu thalib dan martsad bin martasad al ghanawy.

Beliau mengangkat ibnu ummi maktum menjadi wakil beliau di madinah. Namun setibanya di Ar-Rauha’, pengankatan ibnu ummi maktum sebagai wakil yang menggatikan kedudukan kedudukan beliau di madinah ini di sanggah abu lubabah bin abdu –mundzir.

Maka kemudian beliau menggati ibnu ummi maktum dengan abu lubabah.

Bendera komando tertinggi yeng berwarna putih di serahkan kepada mush’ab bin umair al-qursyi al-abdary. Sementara pasukan muslimin dibagi menjadi 2 batolion:

1. Batolion muhajirin, yang benderahnya di serahkan kepada ali bin abu thalib.
2. Batolion anshar yang benderanya di serahkan kepada sa’d bi mu’adz.

Komando front kanan di serahkan kepada az-zubair bin al-awwam dan front kiri di serahkan kepada miqdad bin amr, karena hanya mereka yang berdaulah yang naik kuda dalam pasukan itu.

Pertahanan garis belakang diserahkan kepada qaiis bin sha’a aha. Komando tertinggi berada di tangan beliau.

Pasukan Islam Bergerak Ke Badar

Tanpa rasa gentar sedikit pun rasulullah sallalahu alaihi wasallam berangat dari jantung madinah bersama pasukan ini, berjalan melewati jalur pokok menuju ke mekkah hingga tiba di sumur Ar-Rauha’ yang sekalipun belum pernah di datangi oleh beliau.

Dari sini beliau tidak mengambil jalan ke arah kiri yang menuju mekkah, tetapi justru mengambil jalur ke arah kanan menuju Badr, melewati rahaqah dan tiba ash-sha-fra’.

Dari sana beliau mengirim Basbas bin amr dan Ady bin Abu Az-zu’ba’ Al-Juhanny agar pergi ke Badr, untuk mencari berita tentang khafilah dagang Quraisy.

Peringatan Di Makkah

Abu Sufyan yang bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan khafilah dagang Quraisy, tindakan sangat hati-hati dan waspada. Dia tau baha jalur ke mekkah penuh dengan resiko.

Maka dari itu dia pun mencari-cari informasi, bertanya kepada siapa pun yang di temunya di jalan, hingga akhirnya ia pun mendapatkan kabar yang menyakinkan bahwa muhammad Muhammad shallalahu alaihi wasallam telah pergi bersama rekan-rekanya untuk menghadang khafilah dagang mereka.

Pada saat itu Abu Sufyan mengupah Dhamdah bin Amr Al-Ghifary agar pergi ke Makkah, memberi tahu orang-orang Quraisy dan mengirim pertolongan untuk menyelamatkan khafilah dagang mereka dan menghadap Muhammad beserta rekan-rekannya.

Maka Dhamdham mengadakan perjalanan cepat hingga selamat tiba di Mekkah. Dengan baju yang berkoyak-koyak dan bekalnya yang acak-acakan, dia berdiri di atas punggung ontanya yang hidungnya sudah tampak buruk

Di tengah lembah, sambil berteriak, “Wahai sekalian orang-orang Quraisy, khafilah, khafilah ….!harta benda kalian yang telah dibawa Abu Sofyan telah di hadang oleh Muhammad beserta rekan-rekanya. Menurutku kalian harus menyusulnya. Tolong tolong…!

Gambaran Pasukan Quraisy

Seketika itu pula semua orang bersiap-siap. Mereka berkata, “apakah Muhammad dan Rekan-rekanya mengira bahwa bisa menjadi seperti khafilah Ibnul-Hadharmy? Sama sekali tidak. Demi Allah mereka pasti akan mendapatkan kenyataan yang berbeda.”

Mereka hanya ada dua pilihan berangkat sendiri ataukah mewakilkanya kepada orang lain. Semua penduduk Makkah hendak bergabung, tak seorang pun pembesar mereka yang tertinggal kecuali Abu Lahb.

Namun begitu dia mewakilkanya kepada seseorang yang masih berhutang kepadanya.

Bahkan beberapa kabilah arab di sekitar mereka ikut andil kecuali Bani Ady. Tak sseorang pun dari mereka yang ikut keluar.

Kekuatan pasukana Makkah ini ada 1300 orang pada awal mulanya, seratus kuda,memiliki enamratus baju besi dan onta yang cukup banyak dan tidak dikatahui secara persis berapa jumlahnya.

Komando tertinggi dipegang Abu Jahl bin Hisyam, ada sembilan pemuka Quraisy yang bertanggung jawab terhadap ragsum yang di butuhkan seluru anggota pasukan sehari mereka menyembeli sembilan ekor onta dan terkadang sepuluhekor.

Setelah semua orang Quraisy sepakat untuk berangkat, di antara mereka ada yang mengingatkan permusuhan mereka dengan Bnai Bakr, mereka khawatir Bani Bakr memukul mereka dari belakang, sehingga mereka bisa terjepit di antara dua kobaran api, Mereka benar-benar bimbang,

Namun muncul seorang iblis bernama Suraqoh bin Malik bin Ju’tsum Al-Mudlijy, pemimpin Bani kinanah, lalu berkata kepada mereka “Aku yang akan menjadi jaminan bagi kalian andaikan Bani kinanah memukul kalian bari belakang, yang dapat merugikan kalian”.

Pasukan Quraisy Bergerak

Setelah persiapan di anggap selesai mereka pun berangkat meninggalkan tempat mereka sikap mereka telah di gambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an:

“……dengan rasa angkuh dan dengan maksut riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah” (al-anfal: 47)

Mereka datang seperti yang di gambarkan rasulullah sallalahu alaihi wasallam, “dengan membawa kemarahan dan senjata mereka, mereka memusuhi Allah dan Rasulnya”.

Mereka pergi dengan membawa kemurkaan dan kedengkian terhadap Rasulullah sallalahu alaihi wasallam serta para sahabat,di samping untuk menyelamatkan kafilah dagang mereka.

Mereka bergarak dangan capat , lurus ke arah utara menuju Badr, mereka mlewati jalur usfan, Qadid dan Al-Juhfah.

Disana datang surat dari Abu Sufyan yang isinya:

“Sesungguhnya kalian keluar hanya untuk menyelamatkan khafilah dagang, orang-orang kalian dan harta benda kalian, Allah telah menyelamatkan semuanya, karna itu lebih baik kembalilah?..”

Kafilah Dagang Quraiys Dapat Meloloskan Diri

Seperti yang di tuturkan Abu Sufyan, tadinya ia mengambil jalur pokok menuju Makkah, oleh karna itu ia meningkatkan kewaspadaan dan selalu menyelidiki, takkala khafilah sudah mendekati Badar dia mendahului rombongan hingga bertemu dengan Majdy bin Amr, dan menanyakan pasukan Madinah kepadanya.

“Aku tak melihat seorang pun yang di curigai, hanya saja tadi kulihat ada dua orang yang berhenti di bukit itu”, jawab Majdy.

Setelah mengisi kantong air, keduanya pun pergi, Abu Sufyan segera mendatangi tempat menderum Onta dua orang yan di maksut oleh Majdy dan meneliti kotoranya, yang ternyata di sana ada biji-bijiannya yang masih utuh, dia berkata “Demi Allah, ini adalah makanan hewan dari Yatsrib”.

Secepat itu pula ia kembali menemui kafilahnya dan mengalihkan arah perjalanannya menuju ke barat menuju ke pesisir pantai, tidak jadi mengambil jalan pokok yang melawati Badar ,tepatnya ke arah kiri.

Dengan cara itu kafilah Abu Sufyah bisa selamat dari hadangan pasukan Madinah, lalu mengirim surat ke pasukan makkah yang sudah tiba di Al-Juhfah.
Kebimbangan Pasukan Makkah

Setelah menerima surat ini, terbersit keinginan pasukan Makkah untuk kembali, tapi dengangan sikap angkuh dan sombong Abu Jahl berkata, “demi Allah, kita tidak akan kembali kecuali telah tiba di Badr.

Kita akan berada di sana salama tiga hari sambil menyembalih hewan, makan besar, menenggang arak dan para biduawanita bernyanyi untuk kita, biar semua bangsa arab mendengar apa yang sedang kita lakukan dan perjalanan kita sehingga mereka senantiasa gentar menghadapi kita.

Sebenarnya Al-Akhnas bin syariq sudah meranyarankan Abu Jahl untuk kembali saja, namumbanyak di antara mereka yang juga tidak mau mendengar saran Al-Akhnas ini, maka dia pun kembali bersama Bani Zuhrah.

Sehingga tak seorangpun dari Bani Zuhrah yang ikut pada peperangan, jumlah mereka ada tiga ratus orang, di kemudian hari Bani Zuhrah sangat salut dengan ke tajaman berfikir Al-Akhnas ini, sehingga dia semakin di segani dan di taati.

Sebenarnya Bani hasyim juga ingin kembali, namun Abu Jahl memaksa mereka, seraya berkata, “Janganlah gara-gara peperangan ini membuat kita terpecah hingga kita pulang nanti”.

Maka pasukan Makkah dengan kekuatan 1000 orang melanjutkan perjalanan menuju Badr, mereka terus berjalan hingga mendakati badr dan bersembunyi di balik bukit pasir, di pinggiran wadi Badr.

Posisi Pasukan Islam Yang Cukup Rawan

Mata-mata pasukan madinah manyampaikan berita tentang lolosnya kafilah dagang Abu Sufyan kepada Rasulullah sallalahu alaihi wasallam yang saat itu masih dalam perjalanan melewati Wadi Dzafiran.

Sementara itu tidak ada kesempatan bagi beliau dan para sahabat untuk menghindari peperangan. Jadi mau tidak mau harus terus maju ke depan dengan mengobarkan semangat, keberanian dan heroisme.

Sebab jika pasukan Makkah di biarkan bercokol di sekitar daerah itu, sama saja dengan memberi angin kepada mereka untuk memantapkan posisi Militernya, melebarkan pengaruh politiknya, bisa melemahkan persatuan orang-orang Muslim dan menimbulkan perasaan takut di hati mereka.

Bahkan boleh jadi gerakan muslim pada saat itu hanya sebatas gerakan jasad tampa ruh, lalu siapa pun yang memendam kedengkian dan kebencian terhadap islam bisa melancarkan serangan setiap saat ke madinah.

Apakah setelah itu ada orang yang bisa memberikan jaminaan kepada orang muslim untuk menghadang pasukan Makkah agar tidak meneruskan perjalanan mereka menuju Madinah.

Kalau pun meletus peperangan, maka peperangan itu terjadi di luar Madinah dan tidak di pelataran mereka?sama sekali tidak.

Sementara itu andaikan pasukan madinah kalah, pengaruhnya akan lebih buruk bagi pamor kaum muslimin.

Majelis Permusyawaratan Perang Badar

Melihat perkembangan yang cukup rawan dan tidak terduga-duga ini, maka Rasulullah sallalahu alaihi wasallam menyelenggarakan majelis tingkat permusyawaratan militer, dalam majelis ini beliau mengisyaratkan posisi mereka yang harus di pertaruhkan secara mati-matian.

Pada saat itu Nabi membuat kesempatan kepada anggota pasukan dan para komandonya untuk mengemukakan pendapat, pada saat itu ada sebagian di antara mereka yang hatinya menjadi kecil dan takut terjerumus dalam pertempuran, mereka inilah yang di isyaratakna Allah dalam firmanya:

“Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesunguhnya sebagian dari orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu tentang kebenaran sesudahnyata (bahwa mereka pasti menang)seolah-olah mereka di halau oleh kematian, sedangkan mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (Al-Anfal: 5-6)

Sedangkan para komando pasukan, seperti Abu Bkar dan Umar bin Khaththab sanma sekali tidak mengendor dan lebih baik maju terus, kemudian Al-Miqdad bin Amr berdiri seraya berkata:

“wahai Rasulullah majulah terus seperti yang di perlihatkan Allah kepada engkau,kami akan bersama engkau, demi Allah, kami tidak akan berkata kepada engkau sebagai mana bani israil berkata kepada Musa, pergi engkau sendiri kepada Rabbmu lalu berperanglah berdua, dan sungguh kami akan berperang bersama kalian berdua, demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikan engkau pergi membawa kami kedasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur hingga engkau bisa mencapai tempat itu.”

“Bagus” sabda Rasulullah sallalahu alaihi wasallam sembari mendoakan kebaikan kepada Al-Miqdad.

Itulah tiga pendapat yang di sampaikan oleh pasukan muhajirin. Padahal jumlah mereka lebih sedikit, maka Rasulullah sallalahu alaihi wasallam ingin mendengar pendapat dari komandan Anshar, sebab mereka adalah jumlah mayoritas dalam pasukan, terlebih lagi beban peperangan pasti akan membebani pundak mereka.

Sementara klausul Bait Aqadah tidak mengharuskan mereka ikut dalam peperangan di luar perkapungan mereka,

Setelah mendengar pendapat tiga komandan Ansar itu, beliau bersabda kepada mereka “berilah aku masukan wahai semua orang!”…di dalam hati, beliau mengarahkan sabda ini kepada Anshar.

Maksud hati beliau ingin di tangkap komandan Anshar dan sekaligus membawa benderanya, yaitu Sa’d bin Mua’dz, dia pun berkata demi Allah , sepertinya yang enkau maksut itu adalah kami ya Rasulullah.”

“Begitulah” jawaban beliau.

Sa’d berkata, “kami sudah beriman kepada engkau, kami sudah membenarkan engkau, kamu sudah bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran, kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat.

Majulah terus wahai Rasulullah seperti yang engkau kehendaki, demi yang mengutus engkau dengan kebenaran andaikan kata engkau bersama kami terhalang lautan lalu engkau terjun ke dalam lautan itu, kami pun akan terjun bersama engkau.

Tak seorangpun di antara kami yang akan mundur. Kami suka jika besok engkau berhadapan dengan musuh bersama kami, sesungguhnya kami dikenal orang-oreng yang sabara dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran, semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau senangi maka dengan barakkah Allah.

Dalam suatu riwayat di sebutkan bahwa Sa’id bin Mu’adz berkata kepada Rasulullah sallalahu alaihi wasallam,

“Boleh jadi engkau khawatir orang-orang Anshar hanya berperang kepada hak mereka untuk tidak menolongmu kecuali di tengah perkampungan mereka.

Sesunguhnya aku berbicara dan memberi jawaban atas nama orang-orang Asnhar.

Maka dari itu majulah seperti yang engkau hendaki, sambunglah tali siapaun yang engkau kehendaki, putuslah tali siapa pun yang engkau kehendaki, ambillah dari harta kami menurut kehendak engkau berikanlah pada kami menurut kehendak engkau.

Apapun yang engkau ambil dari kami, maka itu labih kami sukai dari pada apa yang engkau tinggalkan bagi kami.

Apa pun yang engkau perintahkan, maka urusan kami hanyalah mengikuti perintah engkau.

Demi Allah, jika engkau maju hingga mencapai dasar sumur yang gelap, tentu kami akan maju bersama engkau, demi allah, jika engkau terhalang lautan bersama kami, lalu engkau terjun ke lautan itu, tentu kami juga akan terjun bersama engkau.”

Rasulullah sallalahu alaihi wasallam merasa gembira dengan apa yang di katakan Sa’d dan semangatnya menggebu-gebu. Maka beliau bersabda,

“majulah kalian dan terimalah kabar gembira, karana Allah telah menjanjikan salah satu dari dua pihak kepadaku. Dami Allah, seakan-akan saat ini aku bisa malihat tempat kematian mereka.”

Setelah itu Rasulullah sallalahu alaihi wasallam meniggalkan Dzafiran untuk melanjutkan perjalanan.

Beliau melewati jalan bukit yang di sebut Al-Ashafir, kemudian cepat-cepat menuju suatu tempat yang di sebut Ad-Dabbah dan meniggalkan Al-Hannan di seblh kanannya, yaitu sebuah bukit pasir yang menyyerupai gunung yang kokoh, kemudia tiba di dekat Badr

Rasulullah Melakukan Kegiatan Mata-Mata

Dari sana beliau melakukan kegiata mata-mata sendiri bersama sahabat karib beliau di dalam gua, Abu Bakar ash-shiddiq.

Tatkala beliau sedang berputar-putar disekitar pasukan Makkah, tiba-tiba beliau berpapasan dengan seorang arab yang sudah tua.

Beliau bertanya kepadanya tentang pasukan Quraisy dan muhammad. Beliau harus menanyakan kedu pasukan untuk penyamaran.

“Aku tidak akan membaritahukan kepada kalian sebelum kalian memberitahukan kepadaku, dari mana asal kalian berdua,”kata orang tua itu”.

“Beritahukan kepada kami, nanti akan kami beritahukan kepadamu dari mana asal kami,”sabda beliau.

“Jadi begitu kah?” tanya oran tua itu. “benar,”jawab baliau.

Menurut informasi yang ku dengar, Muhammad dan rekan-rekanya berangkat pada hari ini dan ini, jika informasi itu benar, bererti pada hari ini dia sudah tiba di trmpat ini (tempat di pemberentian pasukan madinah).

Menurut informasi yang ku dengar, Quraisy berengkat pada hari ini dan ini, jika informasi ini benar, berarti mereka sudah tiba di tempat ini(tempet di pemberentian pasukan Makkah).”setelah itu di bertanya,” lalu UI kita dari mana asal kalian berdua?….”

Beliau menjawab, “kami berasal dari setetes air,”

Setelah itu beliau beranjak pergi, meninggalkan orang tua itu terlengong keheranan,”
Dari setetes air yang mana?… atau kah dari setetes air dari irak?..”
Memperolah data yang akurat tentang pasukan Makkah

Pada sore harinya beliau mengirim beberapa mata-mata lagi, untuk mencari data tentang musuh, tugas ini di serahkan kepada tiga orang komandan muhajirin,yaitu ali bin abu thalib, az-zubair bin awwam dan sa’ad bin abi waqqas, dengan beberapa orang lagi.

Mereka pergi ke mata air badr, dan di sana mereka bertemu dengan dua pesruh yang tugasnya mengambil air untuk pasukan Makkah.

Mereka langsung membelenggu dua pesuruh itu dan membawanya kehadapan Rasulullah sallalahu alhi wasallam.

Karena beliau masih sholat, maka mereka mengorek keterangan dari keduanya, mereka berdua menjawab,

“(kami adalah pesuruh Quraisy mereka memerintahkan agar kami mengambil air bagi kebutuhan mereka.)”

Namun mereka tidak puas dengan jawaban itu, mereka menginginkan mereka berdua mengakui bahwa mereka adalah pesuruh Abu shofyan.

Bagaimana pun juga mereka masih menyisahkan harapan untuk dapat mengusai kafilah dagang yang dipimpin oleh abu shofyan. Karenanya memukuli kedua orang tua itu hingga kesakitan.

Saat mendapatkan pukulan yang bertubi-tubi, mereka menjawab,”kami memang pesuruh Abu shofyan barulah mereka menghentikan pukulan”.

Setelah selesai sholat, rasulullah sallalahu ailaihi wasallam bersabbda seakan menyindir mereka,” jika menreka berdua berkata jujur kepada kalian,,maka kalian memukuli mereka.

Namun mereka berdusta pada kalian, maka kalian membiarkan mereka. Demi Allah,mereka berdua berkata jujur. Mereka adalah pesuruh Quraisy.”

Kemudian beliau bersabda kepada keduanya,”kabarkanlah kepadaku tentang posisi pasukan Quraisy!”

Mereka berada di balik bukit pasir yang bisa engkau lihat jika memandang ke arah AL-Udwatul-Quswha,”jawab mereka berdua.

“Berapa jumlah mereka?”tanya beliau.

“Banyak sekali.” Jawab mereka

“Berapa tepatnya.” Tanya Rasulullah

“Kami tidak tahu persis.” Jawab mereka

“Berapa ekor binatang yang mereka sembelih setiap harinya.” Tanya Rasulullah

“Sehari sembilan ekordan besknya sepuluh ekor,”jawab mereka berdua.

“Berarti jumlah mereka antara sembilan ratus hingga seribu orang,”sabda beliau.kemudian beliau bertanya lagi,”siapa saja pemuka Quraisy yang bergabung di tengah mereka?”

“Ada Utbah dan yaibah,kedua anak Rabiah,Abul-Bakhtary bin Hisyam,Hakim bin Hizam,Naufal bin Khuwailid,Al-Harits bin Amir Thu’aimah bin Ady,An-Nadhir bin Al-Harits,Zam’ah bin Al-Aswad,Abu jahl bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf…..” dan beberapa orang lagi yang mereka sebutkan.

Setelah itu Rasulullah Sallallallahu Alaihi Wa sallam menghadap ke arah semua orang seraya bersabda,”Wahai semua orang,inilah Makkah yang telah menghantarkan jantung hatinya kepada kalian.”

Pada malam itu Allah menurunkan hujan yang deras, sehingga orang-orang musyrik basah kuyup dan menghambat langkah mereka untuk maju.

Tapi bagi orang-orang muslim,hujan itu seakan memoleskankebersihan mereka dan mengenyahkan daki-daki syetan dari diri mereka, bumi menjadi kesat, pasir menjadi kuat,pijakan kaki pun menjadi mantap,tempat mereka menjadi rata dan hti mereka semakin menyatu.

Menempati Posisi Yang Lebih Strategis

Rasulullah sallalahu alaihi wasallam membawa pasukanya ke mata air badar agar bisa mendahului pasukan orang-orang quraisy, sehingga mereka bisa menghalangi orang-orang Quraisy untuk menguasai mata air itu.

Maka pada petang hari mereka suda tiba di dekat mata air badr, disinilah Al-hubab bin almunzir tampil layaknya seorang penasehat militer, selaya bertanya,”wahai rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang keputusan berhenti di tempat ini?.. jika begitu keadaanya, maka tidak ada pilihan bagi kami untuk maju atau mundur dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat, siasat dan taktik perang?”

Beliau menjawab,”ini adalah pendapatku dan siaiat taktik perang.”

Dia berkata,” wahai rasulullah, menurutku tidak tepat berhenti disini. Pindahkanlah oran-orang ke tempat yang lebih dekat lagi daripada mereka(orang-orang musyrik Makkah).

Kita berhenti di tempat itu dan kita timbun kolam-kolam di belakang mereka, lalu kita buat kolam yang kita isi air hingga penuh. Setelah kita berperang menghadapi mereka. Kita bisa minum dan mereka tidak bisa.”

Beliau bersabda,” Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu”. Maka Rasululluah Sallallahu Alaihi Wasallam memindahkan pasukannya,sehingga jarak mereka dengan mata air lebih dekat daripada jarak musuh. Separoh malam mereka berada di situ, lalu mereka membuat kolam air dan menimbun kolam-kolam yang lain.

Tatkala orang-orang muslim sudah berhenti di tempat yang dimaksudkan,dekat dengan mata air, maka Sa’d bin Mu’az mengusulkan kepada Rasulullah Sallallahu Alai Wasallam, bagaimana kalau orang-orang muslim membuat tempat khusus bagi beliau untuk memberikan komando,sekaligus mengantisipasi adanya serangan mendadak serta kemungkinan mereka terdesak dan sebelum memastikan kemenangan.

Dia berkata,”Wahai nabi Allah, bagaimana jika kami membuat sebuah tenda bagi engkau dan kami siapkan kendaraan di sisi engkau, kemudian biarlah kami yang menghadapi musuh?

Jika Allah memberikan kemenangan kita atas musuh, maka memang itulah yang kami sukai. Tapi jika hasilnya lain, maka engkau bisa langsung duduk di atas kendaraan, lalu bisa menyusul orang-orang dibelakang kami. Di sana masih vada beberap orang yang tidak ikut dengan kami.

Wahai nabi Allah, mereka jauh mencintai engkau daripada cinta kami kepada engkau. Jika mereka menganggap bahwa engkau harus menghadap perang, tentu mereka tidak akan mangkir dari sisi engkau. Allah pasti akan membela engkau bersama mereka,memberikan nasihat kepada engkau dan berjihad kepada engkau.

Maka Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam memohon dan mendoakan kebaikan bagi sa’d. Lalu orang-orang muslim membuat sebuah tenda di tempat yang tinggi, tepatnya di sebelah timur Laut dari medan perang.

Ada beberapa orang-orang Anshar yang menyertai Sa’d bin Muaz, yang berjaga-jaga disebelah Rasulullah Sallallahu Alaihi wasallam.

Persiapan Pasukan Untuk Perang Badar

Kemudian Rasullah Sallallahu Alaih Wasallam mempersiapkan pasukan, berkeliling di sekitar arena yang akan di jadikan ajang pertempuran.

Beliau manunjukkan jarinya sambil bersabda,” Ini tempat kematian fulan esok hari insya Allah, dan ini tempat kematiannya fulan insyaallah”.

Pada malam itu beliau lebuh banyak mendirikan solat di dekat pangkal pohon yang tumbuh di sana.

Sedangkan orang orang muslim tidur dengan hembusan nafas yang tenang seakan menyinari angkasa, hati mereka di taburi keyakinan.

Mereka cukup istrahat pada malam itu, dengan harapan esok paginya dapat melihat kabar gembira dari Allah, yang artinya:”(ingatlah) ketika allah menjadikan kalian mengantuk sebagai suatu penentraman dari-nya, dan Allah menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk mensucikan kalian dengan hujan itu dan menghilankan dari kalin ganguan syetan dan untuk menguatkan hati kalina dan memperteguh dengannya telapak kaki (kalian)” (AL-ANFAL: 11)

Malam itu adalah malam jum’at, tanggal 17 ramadhan 2 H.sementera keberangkatan beliau pada tanggal 8 atau 12 dari bulan yang sama.

Pasukan Quraisy Mulai Memasuki Pertempuran Dan Perpecahan Dikalangan Mereka

Malam ini pasukan Quraisy menghabiskan waktunya di Al-Udawa tul Qushwa, pada pagi harinya mereka turun dari atas lembah pasir dengan seluruh satuanya hingga tiba lembah Badar.

Tiba-tiba ada beberapaorang dari Quraisy muncul di hadapan Rasulullah sallalahu alaihi wasallam, beliau bersabda,”biarkan saja mereka.”

Tak seorang pun di antara mereka yang hendak mengambil air minum dari mata air melainkan pasti terbunuh, kecuali hakim bin hizam, dia tidak di bunuh dan setelah itu dia masuk islam, setiap kali berjuang di sisi beliau diapun berkata, tidak, demi yang telah menyelamatkan aky di perang badr”.

Setelah pasukan Quraisy agar tenang, mereka mengutus Umar bin Wahb Al-Jumahy untuk menyelididki dan menaksirkan seberapa besar kekuatan pasukan madinah.

Maka Umar berputar-putar di sekitar kaum muslimin dengan menaiki kudanya, kemudian kembali menemui rekan-rekanya dan berkata:”tiga ratus orang kurang atau lebih sedikit, tapi tunggu dulu , biar ku selidiki lagi kalau-kalau mereka memiliki pasukan cadangan atau pasukan pendukung di belakanya”.

Lalu ia memacu kudanya hingga cukup jauh, dan setelah itu tak ada sesuatu yang dilihatnya, maka dia segera kembali lagi menemui pasukan Quraisy.

Ia berkata kepada mereka, “aku tidak melihat apa pun tapi wahai orang-orang Quraisy, kulihat bencana yang membawa mimpi, kolam-kolam yasrib membawa membawa kematian yang memilukan mereka, adalah orang orany yang tidak memiliki tameng dan benteng kecuali pedang-pedang mereka.

Demi Allah, tidak ada seorang di antara mereka yang terbunuh melainkan dia membunuh salah seorang di antara kita.

Jika jumlah mereka sama sengan jimlah kita, maka tidak ada arti hidup setalah itu, maka pikir kan lah-hal ini?..

Pada saat itu ada pula pertentangan terhadap abu Jahl yang ngotot untuk berperang, aksi penentangan ini mengajak pasukan untuk kembali ke Makkah tanpa harus bertempur dengan musuh.

Hasim bin Hakim bin Hizam kembali bersama beberapa orang, lalu ia menemui Utbah bin Rabi’ah dan berkata, “wahai Abdul-Walid, engkau adalah pasukan Quraisy pemimpin dan orang yang di patuhi, apakah engkau ingin memiliki kenangan sepanjang masa?.

“apa itu wahai hakim?” tanya Utbah.

“pulanglah dengan orang tuamu dan bawalah sekutumu Amr bin Al-Hadramy”.Amr adalah orang yang terbunuh saat di panah satuan perang muslim di nakhlah.

Utbah berkata, “aku pasti akan melakukanya dan engkau pinjaminku atas tindakan ini, memang dia adalah sekutuku, maka aku lah yang akan mananganinya masalah tebusanya dan harta yang seharusnya milik dia”.

Kemudian utbah berkata kepada Hakim bin Hizam, kalo begitu temuilah Abu Jahl, aku tidak takut jika urusan orang-orang ini menjadi terpecah karnanya.”

Lalu Utbah bin Rabi’ah berdiri di hadapan mereka dan berkata ”wahai semua orang Quraisy, demi Allah sebenarnya tak ada gunanya kalian memerangi muhammad dan rekan-rekanya.

Demi Allah, kalau pun kalian bisa mengalah kanya, toh sesorang pun di antara kalian yang memandang ke wajah seseorang yang membuatnya benci takkala melihatnya, karena anak pamannya atau seorang di antara kerabatnya ikut menjadi korban, pulanglah biarkanlah urusan Muhammad dengan orang-orang arab.

Jika mereka dapat mengalahkanya, maka itulah yang kelian hendaki, jika hasilnya meleset, maka biarkan saja kalian tidak mendapat apa yang kalian inginkan.”

Abu Jahl berkata , “demi Allah, rupanya di benar-benar ketakutan takkala melihat Muhammad dan rekan-rekanya.

Demi Allah , kita tidak akan kembali sebelum Allah memutuskan perkara antara kita dan Muhammad, biarkan saja Utbah dan perkataanya.

Yang pasti,dia sudah melihat bahwa Muhammad adalah pemakan hewan yang sudah di potong dan di tengah mereka ada anaknya, sehingga mereka menakut nakuti kalian untuk berhadapan denganya.”

Yang di maksud anak adalah Hudzaifah bin Utbah yang sudah sejak lama masuk islam dan juga ikut Hijrah.

Tatkala Utbah mendengar ucapan Abu Jahl, “demi Allah, Rupanya ia benar-benar ketakutan”, maka ia berkata, “perlu di lihat siapa yang lebih takut, entah dia atau aku.”

Karena merasa khawatir aksi penentanagan ini semakin kuat dan untuk meng hentikan dialog ini, maka Abu Jahl segera memanggil Amir bin Al-Hadhramy, saudara Amir bin Al-Hadrami yang menjadi korban di Nakhlah, seraya berkata kepadanya,

“ini sekutumu ingin mengajak untuk orang-orang pulang . padahal engkau tahu sendiri siapa orang yang engkau yang hendak kau tuntu balas. Maka bangkitlah dan carilah orang yang engkau balas dan yang membunuh saudaramu.”

Maka Amir bangkit smbil menampakkan pantatnya, lalu berkata “dami Allah , demi Allah, perang sudah bekobar dan orang-orang tidak sabar lagi, mereka sudah berkumpul untuk menuntut balas, sementara mereka sudah di kacaukan karena pendapat yang di sampaikan Utbah.”

Ternyata sikap gegabah telah mengalahkan sikap bijaksana, sehingga penetanga hakim itu tidak banyak berarti”

Dua Pasukan Saling Mengintai

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.