Adab Perbedaan Pendapat

Perbedaan pendapat – Adab merupakan salah satu bagian terpenting yang wajib diperhatikan oleh setiap muslim.

Sebagian ulama bahkan menganjurkan agar mempelajari adab terlebih dahulu saat baru mulai menuntut ilmu.

Diantara adab yang wajib difahami dan diperhatian oleh para penunut ilmu adalah adab khilafiyah atau adab dalam menghadapai perbedaan pendapat.

Banyak penuntu ilmu yang memiliki keilmuan yang tinggi, namun pengamalannya kurang disebabkan dia kurang memperhatikan adab-adab dalam menuntut ilmu sehingga dia sulit mengamalkan ilmu.

oleh karena itu, para penuntut ilmu memperhatikan adab-adab yang baik dalam kehidupannya.

Pada tulisan kali ini, kita akan fokus pada salah satu adab yang sangat penting, yakni adab khilafiyah.

Banyak orang yang saling membenci dan menjatuhkan lantaran mereka tidak memperhatikan, atau mungkin tidak memahami adab-adab ini.

Dengan memahami adab khilafiyah, kita akan lebih bijak dalam menyikapi banyaknya perbedaan pendapat dikalangan kaum muslimin.

Tidak ada lagi usaha saling menjatuhkan diantara sesama kaum muslimin. Kita akan lebih giat lagi mengkaji hal-hal menjadi perselisihkan oleh para ulama.

Tuntunan Menghadapi Perbedaan Pendapat

Perbedaan pendapat itu biasa dalam kehidupan ini. Selama kita hidup bersama orang lain, kita pasti akan menghadapi berbagai perbedaan diantara kita.

Baik itu dengan orang tua, anak, saudara, istri, teman, guru, murid, dan siapa pun. Perbedaan memang sunnatullah yang tidak bisa dihindari.

Dalam masalah agama islam pun terdapat sangat banyak perbedaan pendapat.

Mulai dari perbedaan pendapat dalam masalah fiqih yang setiap orang wajib menghargai pendapat orang lain, sampai pada perbedaan aqidah yang tidak bisa lagi ditolerir.

Perbedaan pendapat juga sangat banyak di kalangan para ulama, tabiin, bahkan di kalangan sahabat sekali pun tak luput dari perbedaan pendapat.

Dalam menyikapi perbedaan pendapat, ada satu hal yang harus dijunjung tinggi, yaitu adab khilafiyah atau adab dalam berbeda pendapat.

Perbedaan pendapat yang dimaksud di sini adalah perbedaan pendapat yang memang masih bisa ditolerir.

Adapun perbedaan pendapat yang tidak bisa lagi ditolerir, tidak boleh diterima. Seperti para ahli bid’ah, pendapat mereka tidak bisa diterima.

Jenis-Jenis Permasalahan Dalam Majelis Ilmu

Adab khilafiyah ini wajib diketahui. Karena masalah yang disampaikan di majlis-majlis ilmu tidak lepas dari empat bentuk.

Pertama: Ijma’

kadang-kadang masalah yang disampaikan itu adalah masalah yang ijma’, ini aman. Orang-orang yang khilafiyah dengan kita hanya para ahli bid’ah.

Kita dinamakan ahlussunnah wal jama’ah, karena kita tidak berani menentang ijma’, berbeda dengan ahli bid’ah. Mereka dinamakan ahli bid’ah karena mereka keluar dari jama’ah alias ijma’.

Diantara contoh ijma’ adalah pengumpulan Al-Qur’an pada masa pemerintahan kholifah Abu Bakr Ash_shiddiq yang kemudian dibukukan pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Ini merupakan Ijma’ karena tidak seorang ulama pun yang menginkari hal tersebut.

Contoh Ijma yang lain yaitu haramnya minyak babi karena diqiaskan dengan dagingnya yang hukumnya haram.

Kedua: Ittifaq

Ittifaq lebih rendah dari ijma’. Memang sebagian ulama menyamakan antara masalah yang disepakati/ittifaq dengan masalah yang ijma’.

Pada satu sisi Ijma’ sama dengan Ittifaq, namun dalam bahasan dan cakupannya, ijma’ lebih umum dari ittifaq.

Ijma’ mencakup ittifaq, namun ittifaq tidak mencakup ijma’. Hal itu, karena ijma’ memiliki dalil-dalil yang lebih umum daripada ittifaq.

Ketiga: Khilafiyah

Masalah ketiga yang dibicaraka dalam majelis ilmu adalah masalah khilafiyah, yaitu perbedaan yang terjadi karena adanya perbedaan pandangan dalam memahami dalil.

Atau perbedaan pendapat dalam satu masalah karena dalil yang digunakan berbeda.

Masalah khilafiyah adalah masalah yang diperdebatkan di kalangan ahli ilmu dan masing-masing mengacu kepada dalil, artinya ada dalil yang membicarakan masalah tersebut namun dalil yang dipegang masing-masing pihak berbeda.

Salah satu contoh adalah suami istri yang hubungan badan dengan suaminya namun tidak sampai ejakulasi, wajibkah keduanya mandi junub? Ini adalah khilafiyah.

Kenapa dikatakan khilafiyah? Karena masing-masing yang berbeda pendapat dalam masalah ini punya dalil, dan dalil masing-masing berkaitan dengan masalah.

Zaid bin tsabit mengatakan tidak wajib mandi. Akan tetapi umar bin khatthab mengatakan wajib mandi.

Maka ketika masalah ini menjadi polemik di masa Umar. Umar memanggil Zaid bin Tsabit.

Umar bertanya kepada Zaid bin Tsabit, apakah benar anda berfatwa bahwa suami istri yang berhubungan badan, tidak wajib mandi jika tidak ejakulasi.

Jika suaminya yang ejakulasi, suaminya yang wajib mandi. Apabila istrinya yang ejakulasi, istrinya yang wajib mandi. Jika tidak ada yang ejakulasi, tidak ada mandi.

Umar bertanya: apakah benar anda berfatwa demikian wahai Ziad.

Kata Ziad bin Tsabit: benar.

Umar bertanya: dalilnya mana?.

Kata Ziad bin Tsabit: “Bibi-bibi saya dari kalangan anshar berkata kepada saya bahwa apabila mereka iksaal pada zaman Nabi, Mereka tidak mandi”.

Apa itu iksaal? Iksaal adalah hubungan badan yang tidak sampai ke tingkat ejakulasi.

Kemudian Umar bin Khatthab bertanya: apakah Nabi tau masalah ini dan beliau diam?

Zaid binTsabit menjawab: beliau tidak tahu.

Kata Umar bin Khatthab: kalau begitu, bagaimana mungkin diamnya Nabi dianggap sebagai dalil.

Masalah ini dikatakan khilafiyah karena baik Umar maupun Zaid mengeluarkan fatwa berdasarkan dalil yang sampai kepada mereka.

Keempat: Ijtihadiyah

Perbedaan pendapat dalam satu masalah disebabkan tidak adanya dalil yang membahas masalah itu secara khusus.

Para ulama mengeluarkan fatwa sesuai dengan pemahamannya terkait masalah tersebut.

Dan masalah keempat adalah masalah ijtihadiya, yaitu masalah yang tidak dibicarakan dalil sama sekali.

Contoh masalah yang tidak dibicarakan dalil adalah masuk parlemen. Ini adalah masalah ijtihadiyah karena dalam masalah ini sama sekali tidak ada dalil.

Sehingga masing-masing menetapkan hukum masalah berdasarkan ijtihad.

Perbedaan Khilafiyah Dan Ijtihadiyah

Masalah khilafiyah dan ijtihadiyah berbeda dari segi sebab terjadinya perbedaan dalam masalah tersebut.

Dalam masalah khilafiyah, terjadi perbedaan pendapat karena dalil yang berbeda-beda atau pandangan terhadap dalil berbeda-berda, sedangkan ijtihadiyah terjadi perbedaan pendapat dalam satu masalah karena tidak ada dalil yang langsung berkaitan atau membahas mengenai hal itu. Jadi khilafiyah lebih berbobot daripada ijtihadiyah.

Pada masalah ijma’ dan ittifaq, kita tidak menemukan kesulitan dalam masalah ini. Yang menjadi kesulitan besar adalah masalah ketiga dan keempat, yakni masalah khilafiyah dan masalah ijtihadiyah.

Dalam masalah khilafiyah, kadang-kadang sebagian orang ghuluw/kita berlebihan.

Khilafiyah atau perbedaan yang ada diantara kita jauh lebih kecil dibanding khilafiyah yang terjadi diantara salaf, yakni orang-orang terdahulu.

Contoh misalnya, khilafiyah yang terjadi antara Ali dan Muawiyah yang berujung perang shiffin antara sesama kaum muslimin, kaum muslimin saling membunuh, dampak dari perbedaan ijtihad Ali dan Muawiyah.

Ali mengatakan pemerintahan harus dibentuk dulu baru kemudian mengeksekusi para pembunuh Utsman, dan Muawiyah mengatakan eksekusi dulu para pembunuh utsman baru saya membai’at anda. Akhirnya

Fitnah paling dahsyat di zaman sahabat pada tahun 72 H, kaum muslimin saat itu naik haji dan wukuf di Arafah dibawah tiga pemimpin.

Orang-orang madinah pemimpinnya adalah Muhammad bin Al-Hanafiyah, orang-orang Mekah pemimpinnya adalah Abdullah bin Zubair, adapun orang-orang Syam pemimpinnya adalah Muawiyah.

Pada saat itu kaum muslimin dibawah tiga kemimpinan. Ada satu kejadian yang menakjubkan baik ketika di mina maupun di Arafah.

Adab-Adab Perbedaan Pendapat

Dalam berbeda pendapat, ada adab-adab yang wajib diperhatikan. Perbedaan pendapat yang terjadi akan terkontrol dan tidak menimbulkan konflik, jika adab-adab tersebut diperhatikan dengan baik.

Jangan kita berbeda pendapat layaknya orang-orang khawarij, menggunakan mental dan moral orang-orang khawarij.

Diantara adab-adab berbeda pendapat sebagai berikut:

1. Al-Ikhlas

Segala sesuatu harus dijalani dengan ikhlas. Demikian juga dalam menhadapi perbedaan pendapat.

Jika kita ikhlas, maka kita akan lebih legowo dalam menyikapi pendapat orang lain yang berbeda dengan kita.

Keikhlasan dalam menyikapi perbedaan pendapat akan membuat hati semakin lapang. Tidak memaksakan orang lain menerima pendapat kita.

Dan tidak ada keinginan untuk menjatuhkan dan mempermalukan orang-orang yang tidak sependapat.

2. Memiliki Persepsi Yang Jelas Tentang Masalah

Jika kita belum memiliki persepsi atau pandangan yang jelas, jangan ikut berkomentar, sebaiknya kita diam dalam masalah tersebut.

Kalau kita belum memiliki pandangan yang lengkap tentang masalah yang diperselisihkan, jangan ikut bicara, karena dalam islam salah satu dosa besar adalah bicara tanpa ilmu.

Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa bicara tanpa ilmu dosanya lebih besar daripada syirik. Karena syirik itu disebabkan karena bicara tanpa ilmu.

Jadi, kalau sampai kita ikut terlibat membicarakan masalah khilafiyah padahal kita tidak memiliki pandangan apa-apa tentang masalah tersebut, maka bicara kita adalah bicara tanpa ilmu dan itu bukan dosa kecil tapi itu adalah dosa besar.

Jadi, ini adab khilafiyah yang pertama. Kalau tidak punya pandangan yang jelas, jangan ikut bicara.

3. Merujuk Kepada Pendapat Para Ulama

Saat kita menemukan sebuah dalil, dalil tersebut wajib dipahami dengan melihat perkataan-perkataan ulama.

Khawarij itu sesat bukan karena tidak ada dalil tapi mereka memahami dalil tanpa bantuan ahli ilmu, para ulama.

Dalil-dalil yang harus kita cari pemahamannya dari komentar para Ulama.

Dan ulama yang paling indah komentarnya adalah ulama terdahulu dari kalangan sahabat, kemudian yang datang setelah mereka.

Karena di kalangan mereka, perbedaan pendapat tidak sebanyak yang ada saat ini.

4. Hindari Fanatisme Dan Hawa Nafsu

Fanatisme syafi’i, fanatisme Imam Ahmad, fanatisme ust.fulan dan lain-lain. Dalam khilafiyah fanatisme dan hawa nafsu wajib dihindari karena orang yang fanatik dan mengikuti hawa nafsu sulit menerima nasehat, dan sulit menerima pendapat orang lain meskipun dia tahu bahwa pendapat orang tersebut lebih kuat daripada pendapatnya.

Fanatisme dan hawa nafsu jugalah yang menjadi penyebab terjadi permusuhan dalam khilafiyah. Mereka yang Fanatik dan mengikuti hawa nafsu seringkali suka menyalahkan pendapat orang lain.

5. Tidak Berlebihan Menjuluki Orang Yang Berlebihan Dengan Kita

Misal; kita tidak qunut dan mereka qunut, pandangan kita qunut itu adalah bid’ah. Tapi kita kan ngomongnya bukan sekedar bid’ah, “Ahlun Nar” orang yang qunut itu semuanya penghuni neraka.

Kenapa? Karena Nabi mengatakan “kullu bid’atin dhalalah wa kullu dhalalatin fin nar”. Yang seperti ini tidak diperbolehkan.

Tidak boleh berlebihan dalam menggambarkan orang yang berbeda dengan kita. Hukumi pendapatnya tapi jangan hukumi orangnya.

Kadang-kadang terjadi perbedaan pendapat, “aah” fulan bin fulan itu tidak berilmu. Na’uzu billah, Orang belajar bertahun-tahun katanya nggak berilmu.

Ada masalah misalnya, bagaimana ini? Kata ust.fulan begitu. Ust.fulan itu jahil, nggak tahu hadits, nggak berilmu.

Kita mau menghukumi orangnya atau pendapatnya?. Seharusnya kita hukumi pendapatnya tapi jangan hukumi orangnya.

Perhatikanlah ucapan imam Adz-Dzahabi terhadap imam Hakim. Hadits yang berbunyi “Ali, akan ditolong orang yang menolongnya dan dilaknat orang yang melaknatnya”.

Imam Adz-Dzahabi mengatakan “……” jadi sebelum imam Adz-Dzahabi mendhoifkan perkataan Imam Hakim.

6. Jangan Berlebihan Menjuluki Pendapat Yang Kita Anggap Kuat

Membela pendapat yang dianggap kuat boleh-boleh saja, namun jangan berlebihan.

Jangan sampai kita mengatakan bahwa inilah pendapat yang paling benar, tidak ada lagi pendapat yang lebih mendekati kebenaran kecuali pendapat ini.

7. Lakukan Nasehat Dan Jangan Lakukan Ingkar

Kita boleh menasehati dan memberi pemahaman kepada orang lain agar mengikuti pendapat yang kita anggap kuat karena dalil-dalilnya yang shohih, namun jangan melakukan ingkar.

Jangan paksakan orang lain mengikuti pendapat yang kita pilih. Berilah pemahaman dan biarkan dia memilih untuk mengikuti atau tidak.

8. Bersikap Adil 

Selanjutnya dalah Bersikap Adil Dengan Menyebutkan Kelebihan Dan Kekurangan Orang Yang Berkhilafiyah

Kalau kita berbeda pendapat dengan orang lain lalu kita tidak mau lagi memuji dia, maka kita adalah orang yang tidak ikhlas dalam berbeda pendapat. Kita tidak berlaku adil.

Kita boleh melemahkan pendapat orang lain, tapi jangan lupa memuji orang yang kita lemahkan pendapatnya.

Tidak boleh mencela seseorang hanya karena pendapatnya lemah dalam satu masalah.

9. Tawadhu

Dalam khilafiyah wajib tawadhu, tidak boleh membanggakan diri. Kita wajib menjaga diri dari hasad.

Hasad merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan bisa menjangkiti siapa saja.

Para ulama sekalipun tak semuanya bebas dari penyakit ini. Bahkan Al-Hasan Al-Bashri mengatakan “kedengkian diantara para ulama sangat besar”.

Kalau para ulama yang ilmunya sangat banyak, tidak bisa lepas dari penyakit ini, lalu bagaimana dengan para da’i pemula yang ilmunya belum seberapa.

Untuk menghindari penyakit ini, solusinya ialah dengan selalu tawadhu. Selalu merasa bahwa kita ini kecil, apa yang kita miliki sangat sedikti, dan masih banyak orang lain yang ilmunya jauh lebih banyak. Sehingga tidak ada alasan untuk sombong dan hasad.

Seharusnya semakin banyak ilmu seseorang, semakin tawadhu pula orangnya. Orang yang sombong dengan ilmunya, menunjukkan kalau ilmunya masih dangkal atau ilmunya tidak bermanfaat.

Syaikh bakr bin zaid mengatakan “ilmu itu tiga hasta. Orang yang mengambil satu hasta ia merasa dia hebat.

Begitu dia mengambil hasta kedua, bingung. Kok bisa begini. Dan ketika mengambil hasta ketiga, dia mengatakan saya bodoh”.

10. Mempertimbangkan Manfaat Dan Mafsadah Dalam Membantah

Dalam membantah pernyataan seseorang, bantahan terhadap pendapat orang tersebut wajib di dasarkan pada pertimbangan mashlahat dan mafsadat.

Apakah membantah pendapatnya mendatangkan manfaat dan tidak menimbulkan kerusakan.

Apabila bantahan tersebut mendatangkan manfaat dan tidak menimbulkan kerusakan, lakukanlah.

Namun, jika bantahan terhadap pendapat orang lain tidak mendatangkan manfaat tapi justru menyebabkan kerusakan, atau kerusakannya jauh lebih besar, maka sebaiknya jangan membantahnya.

11. Cari Alasan

Carilah alasan untuk Orang Yang Berbeda Pendapat Dengan Kita. Kenapa pendapatnya begitu? Alasannya apa?.

Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata,

“Apabila sampai kepadamu sesuatu dari saudaramu yang berbeda denganmu atau kamu ingkari, maka carilah alasan untuk tidak menyalahkannya sampai 70 alasan. Bila kamu tidak menemukan alasan, maka katakanlah, “Barangkali dia mempunyai alasan yang aku tidak ketahui”. (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Iman no. 8344)

Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata,

“ Orang yang beriman adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan orang munafik adalah yang selalu mencari-cari kesalahan saudaranya.” (Dikeluarkan oleh Abu Abdirrahman As-Sulaimi dalam adab ash-shubhah).

Dalam perbedaan pendapat, hindarilah sifat suka dan cepat menyalahkan orang lain.

Seringkali kita melihat kenyataan ada orang yang begitu gampang menyalahkan orang lain, sehingga menyebabkan permusuhan yang membuat ummat terpecah belah.

Kesimpulan

Dalam kehidupan ini, akan selalu ada perbedaan. Demikian juga dalam masalah-masalah agama, perbedaan itu sangat banyak.

Namun, perbedaan itu tidak seharusnya membuat kita saling menjauhi satu sama lain.

Sikapilah perbedaan-perbedaan yang ada dengan bijaksana. Perhatikanlah adab-adab dalam berbeda pendapat.

Jangan paksa orang lain untuk menerima pendapat kita. Selama perbedaan itu masih dalam lingkup yang bisa ditolerir, maka hargailah pendapat orang lain.

Semoga tulisan ini bisa menjadi solusi atas banyak permusuhan yang terjadi akibat adanya perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin.

Semoga persaudaraan kita tidak rusak hanya karena ada sedikit perbedaan dengan saudara kita. Wallahu a’lam

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.