Perhatikan Amal Perbuatanmu dan Tanya Dirimu

Diantara ahli ibadah ada orang-orang yang bersemangat memperbanyak kebaikan tanpa memperhatikan aib diri dan amalnya, dan tidak pula mewaspadai hal-hal yang dapat merusaknya.

Hal yang menyebabkan mereka merasa telah banyak berbuat kebaikan dan ketaatan ialah karena mereka selallu memperhatikan dan membanggakan kebaikannya.

Seandainya mereka mau meluangkan waktu untuk melakukan koreksi dan introspeksi dan mau membedakan mana yang menjadi hak dan kewajibannya, niscaya mereka akan sbuk dengannya dan tidak merasa telah berbuat kebaikan dan ketaatan.

Oleh karena itu, orang yang tidak menghadirkan hati, tidak merasa diawasi oleh Allah, dan tidak memusatkan perhatiannya bahwa ia bersama Allah dalam beramal.

Orang seperti itu pasti akan menganggap ringan amal itu dan merasa telah banyak berbuat kebaikan, sehingga amalnya dianggap telah banyak dan akhirnya menjadi kebiasaan.

Tetapi, jika dia telah membersihkan dirinya dari noda-noda dan kotoran, dari duri ria dan ujub, dan memusatkan hati serta perhatiannya kepada Allah secara total maka ia akan melihat hal itu sebagai beban yang berat seperti gunung, dan dalam pandangannya amal pebuatan itu sedikit sekali.

Jika dia telah merasakan manisnya kebersihan hati, maka akan mudah baginya memikul beban dan melaksanakan tugas-tugasnya, bahkan merasa lezat dan nikmat.

Apabila anda ingin mengerti masalah ini sebagaimana layaknya, maka perhatikanlah sewaktu anda membaca al-qur’an atau mengerjakan ibadah seperti sholat dan lainnya.

Jika anda pusatkan seluruh perhatian dan pikiran pada 2 rakaat shalat dengan menghadirkan hati, khusyuk, dan muraqobah, maka hampir-hampir anda tidak melakukan shalat selain 2 rakaat itu kecuali dengan sungguh-sungguh.

Apabila hati sunyi dari semua itu, maka anda akan mudah menghitung banyak rakaat.

karena merasa sudah banyak melakukan ketaatan tanpa memperhatikan kekurangannya, dan hal itu merupakan bukti sedikitnya pemahaman.

Maka taubat dari perasaan telah banyak melakukan kebaikan dan ketaatan, tanpa memperhatikan kekurangannya merupakan jenis taubat golongan awam.

Kadang pelakunya merasa dirinya telah mempunyai hak kepada Allah untuk mendapatkan balasan dari kebaikannya berupa surga, knikmatan dan keridhaan.

Karena itu, semua hal inilah yang tampak dipelupuk matanya, sedang dia lupa terhadap amalannya serta tidak sadar bahwa amalan setiap hamba semata-mata tidak dapat memasukkan ke surga atau menyelamatkannya dari neraka

Tidak ada seorangpun yang selamat dari neraka hanya semata karena amalnya, melainkan karena pengampunan dan rahmat Allah.

Tidak diragukan lagi bahwa melakukan amal dengan anggota badan, tanpa kehadiran hati dan merasa diawasi Allah serta tidak menghadapkan perhatian kepadaNya, maka bisa jadi yang demikian itu sedikit sekali manfaatnya di dunia dan akhirat, bahkan banyak resikonya.

Amalan yang demikan itu bagaikan amalan yang tidak mengikuti perintah dan tidak disertai keikhlasan semata karena Allah, karena amalan ini ( meskipun banyak ) hanya melahkan dan tidak memberikan faedah.

Demikian pula amalan lahiriyah semata, bagaikan dedak yang kelihatannya tetapi sedikit sekali faedahnya.

Sesugguhnya Allah tidak menulis shalat kecuali apa yang ada dihatinya (dipahami) dari shalat tersebut.

Begitulah semua amalan yang diperintahkan oleh Allah harus dilakukan dengan menghadirkan hati yang ikhlas dan khusyuk, seperti shalat, manasik haji dan sebagainya.

Jika suatu amalan disertai anggapan bahwa apa yang dilakukannya itu sudah baik, merasa telah banyak, tidak memperhatikan kekurangannya, serta tidak bertaubat dan beristighfar kepada Allah, maka berbagai kerusakan akan menimpanya.

Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah mereka yang memperbanyak amal sholeh serta senantiasa mengawasi amal-amal tersebut.

Baca Juga: Kumpulan Teks Materi Kultum Menarik

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.