Kumpulan Pidato Singkat dan Menarik

Pidato singkat – Pidato adalah berbicara di depan khalayak untuk mengutarakan pendapat atau untuk menyampaikan arahan atau nasihat.

Dalam kehidupan bermasyarakat, pidato memiliki kedudukan yang sangat penting. Baik pidato dalam bentuk nasihat atau pidato singkat untuk menyampaikan gagasan di depan umum.

Pada tulisan ini, kami telah menyusun sejumlah materi pidato agama yang menarik. Pidato singkat ini kami kumpulkan dari berbagai sumber yang terpercaya.

Kumpulan Materi Pidato Agama Tentang Berbagai Topik

Berikut contoh-contoh pidato singkat dan menarikK

Pidato Singkat Tentang Ikhlas

contoh pidato tentang ikhlas
berberita.com

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد

Ikhlas adalah perintah Allah Swt dan salah satu syarat diterimanya setiap amal. :

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

“Tidaklah mereka (manusia) diperintahkan selain agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan kepadaNya seluruh aspek pengamalan agama ini”. Q.S. Al- Bayyinah : 5

Ikhlas secara bahasa berarti kesucian. Dan ulama mendefinisikannya dengan:

“Kesucian hati dari keinginan untuk mendapatkan sesuatu dari satu amal, selain ridha Allah Swt”.

Jadi ikhlas itu adalah niat, keinginan, tujuan, harapan, untuk mendapatkan ridha Allah semata pada setiap amal ibadah kita. Maka ia harus dihadirkan di dalam hati kita pada setiap amal ibadah kita.

Bila kita tidak menghadirkannya, maka kita tidak berniat, pada saat itu kita lalai. Marilah kita mengingat dan merenungkan masalah ini :

“Benarkah kita selalu berusaha menghadirkan niat ikhlas setiap kali kita akan shalat ?”. “Benarkah kita selalu menghadirkan niat ikhlas setiap kali kita akan bersedekah ?”.

“Benarkah kita selalu berniat ikhlas setiap kali kita akan membaca Al-Qur’an ? Menghadiri pengajian ? Mencari nafkah ?”.

Dari rendahnya tingkat efektifitas/ keberhasilan/ keberkahan amal ibadah kita secara umum, dapat kita pahami bahwa salah satu kekurangan kita dalam amal ibadah selama ini ialah bahwa kita tidak menghadirkan niat ikhlas itu.

Sekiranya kita selalu menghadirkan niat ikhlas setiap akan shalat, niscaya ibadah shalat kita akan lebih berhasil mendidik kita untuk menjauhi maksiat. Ibadah kita akan lebih berkah sehingga kita lebih bahagia dengan ibadah.

Sesungguhnya perintah peneguhan niat ikhlas di hati ini, kita pahami dari firman Allah swt :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْ تُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

“Katakanlah : “Sesungguhnya shalatku, seluruh ibadahku/ sembelihanku, seluruh aktifitas kehidupanku, dan penyebab kematianku, kupersembahkan hanya untuk Allah, Tuhan alam semesta. Tidak ada sekutu bagiNya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang pertama yang menyerahkan diri kepada Allah”.
QS. Al-An’am : 162-163

Ayat yang mulia ini menjelaskan perintah untuk menegaskan bahwa ibadah shalat dan seluruh bentuk ibadah, hidup dan mati, jiwa dan raga, kita persembahkan hanya kepada Allah semata. Karena kita hanya mencari ridha Allah. Tak ada duaNya !.

Sesungguhnya inilah salah satu dasar pengamalan sebagian saudara kita pengikut madzhab Imam Syafi’i untuk membaca lafazh “Ushalli” setiap kali akan Takbiratul Ihram, baik pada shalat wajib, maupun pada shalat sunnah.

Tujuan mereka ialah, untuk meneguhkan niat ikhlas di hati. Masalahnya ialah, lafazh-lafazh “Ushalli” itu tidak bersumber dari Nabi Muhammad Saw. Lafazh-lafazh itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Saw, bahkan tidak pula dicontohkan oleh para sahabat beliau.

Kita yang tidak membaca Lafazh “Ushalli” seringkali melakukan kesalahan, karena tidak berniat ikhlas.

Kita hanya berniat mau shalat, tapi tidak berniat mau mendapatkan ridha Allah !.

Ini Adalah kelalaian. Ini adalah kesalahan. Karena setiap amal itu, dinilai dari niatnya. Rasulullah Saw bersabda :

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapat apa yang diniatkan”. Muttafaq Alaih.

Kiat Kiat Ikhlas

1. Ucapkan dalam hati : “Saya melakukan amal ini untuk mendapatkan ridha Allah semata.”. Atau “Saya mengharapkan ridha Allah semata”.

Ungkapan ini hanya diucapkan dalam hati, karena ikhlas itu adalah ibadah hati. Tidak diucapkan dengan lisan. Karena tidak ada contohnya dari Nabi Saw.

2. Melakukan renungan pada urgensi ridha Allah Swt dalam hidup ini.Yaitu dengan membayangkan betapa bahagianya hidup kita jika kita diridhai oleh Allah Swt.

Bangunlah keyakinan bahwa hidup kita akan susah dan sengsara, jika Allah murka kepada kita. Naudzubillah.

Renungan seperti ini sangat penting untuk kita lakukan, agar tertanam kuat dalam kepribadian kita betapa besar peranan ridha Allah dalam hidup ini.

Dan bahkan, hidup ini tidak bermakna dan tidak bernilai jika tanpa ridha Allah.

Allah Swt berfirman :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ، فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا، وَنَحْشُرُه ُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Siapa yang berpaling dari peringatanku, niscaya dia pasti mendapatkan penghidupan yang sempit, dan kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Surah Thaha : 124

Semakin sering kita melakukan renungan pada urgensi ridha Allah, niscaya semakin kuat dorongan untuk mendapatkan ridha Allah, dan itulah ikhlas.

Dan keinginan itulah yang memotivasi kita untuk meningkatkan ibadah, untuk semakin taat kepada Allah, semakin kuat menjauhi dosa.

Karena dosa itu mengundang murka Allah. Dan jika kita semakin ikhlas, maka kita semakin takut berbuat dosa.

3. Menumbuhkan dan memperkuat kerinduan kepada syurga.

Yaitu dengan melakukan renungan pada kebenaran, kenikmatan dan keabadian Syurga untuk orang-orang yang dirahmati oleh Allah Swt.

Renungan seperti ini sangat penting untuk memperkuat niat ikhlas dan memotivasi kita untuk semakin taat kepada Allah Swt.

Oleh karena Allah Swt menjelaskan dalam al-Qur’an kebenaran, kenikmatan dan keabadian Syurga secara rinci, tujuanNya ialah untuk memotivasi secara kuat agar kita memperbaiki dan memperbanyak amal untuk mendapatkan Syurga.

Dan kita diajar oleh Rasulullah saw untuk berdo’a secara rutin, memohon Syurga:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu ridhaMu dan Syurga, dan aku berlindung kepadaMu dari murkaMu dan Neraka”.

Jadi kenginan untuk masuk Syurga itu tidak bertentangan dengan keikhlasan.

Tidak sama dengan pendapat sebagian ahli tasawuf bahwa beramal untuk masuk Syurga itu tidak ikhlas.

Tidak demikian !. Oleh karena keinginan untuk masuk Syurga itu adalah tanda iman.

Kerinduan pada Syurga itu diajarkan oleh Allah dan RasulNya.

Allah swt berfirman:

وَسَا رِعُوْ ا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

“Bersegeralah kamu kepada ampunan dari TuhanMu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, disiapkan untuk orang-orang yang bertaqwa “. Surah Ali Imran : 133

Dan dalam do’a di atas, Rasulullah Saw menggandengkan kata ridha dengan Syurga :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةِ

Ini berarti bahwa keduanya tidak kontradiktif, tidak bertentangan, bahkan sejalan.

Karena mustahil Allah Swt meridhai seorang hambaNya lalu tidak dimasukkan ke Syurga, dan mustahil seseorang dimasukkan ke Syurga jika Allah tidak ridha kepadanya.

Kesimpulan

Hidupkanlah kerinduan untuk masuk Syurga. Perbanyaklah membayangkan Syurga.

Karena salah satu kelalaian kita, jika dalam sehari semalam kita tidak pernah mengingat Syurga !.

Syurga adalah cita-cita tertinggi kita.

Syurga adalah tempat terakhir kita, yang abadi

Syurga tujuan seluruh amal ibadah kita.

Syurga lebih kita utamakan dari segalanya.

Demikianlah kita berniat ikhlas. Itulah tiga kiat untuk ikhlas dan semakin ikhlas.

Mari kita amalkan kiat ini, dengan penuh kesungguhan, lalu fastaqim (Beristiqamahlah) !

Oleh: Mudzakkir M. Arif, MA

Baca juga: Kumpulan Ceramah Singkat Yang Menarik

Pidato Singkat Tentang Kiat Mengurangi Kelalaian

Dalam hidup keseharian, sering kali kita terjerumus dalam ghaflah (kelalaian).

Yaitu pada saat-saat kita lupa terhadap Allah, waktu-waktu yang tidak diisi dengan dzikir, fikir, dan ibadah lainnya.

Mari kita renungkan :

Betapa banyak waktu yang kita habiskan dalam obrolan yang tidak bermanfaat ?!.

Betapa banyak usia yang kita habiskan dengan menonton tayangan yang tidak bermanfaat ?!.

Itulah kondisi lalai. Dan inilah yang dilarang oleh Allah Swt dalam ujung ayat yang mulia :

َولاَتَكُنْ مِنَ اْلغَافِلِيْنَ

“Janganlah kamu termasuk orang yang lalai”. Surah Al-A’raf 205

Selain saat-saat lalai yang disebutkan tadi, masih ada sejumlah contoh kelalaian yang lebih halus lagi, yang perlu kita cermati, seperti : Kelalaian mengingat kematian.

Kelalaian memohon syurga. Kelalaian berlindung diri kepada Allah dari syetan. Kelalaian berbuat baik terhadap kedua orang tua.

Kelalaian mengontrol lidah, menguasai mata, mengendalikan emosi, menahan keinginan untuk berbuat dosa.

Marilah kita menyadari bila dalam sehari semalam, kita tidak mengingat bahwa kita akan mati, maka kita telah lalai.

Bila dalam 24 jam kita tidak pernah berdo’a memohon syurga dan memohon dijauhkan dari neraka, niscaya kita telah lalai.

Bila tidak pernah terbetik di hati kita bahwa kita menghadapi musuh utama kita yaitu syetan, berati kita telah lalai !.

Bila dalam sehari semalam kita tidak mengingat kebaikan ibu dan bapak kita dan tidak mendo’akan mereka, berarti kita telah lalai !. Astaghfirullahal Al-Azhim.

Bila kita telah menyadari bahwa semua ini adalah kelalaian dan kita telah menyakini bahwa kelalaian itu adalah dosa, maka kewajiban kita sebagai muslim–muslimah, ialah mengurangi kelalaian. Mengalahkan kelalaian. Bangkit dari kelalaian.

Bagaimana caranya ?.

Berikut ini beberapa kiat untuk mengurangi kelalaian :

1. Menyusun Planning ibadah setiap hari

Menyusun perencanaan ibadah yang menyeluruh setiap hari, adalah satu keharusan bila kita ingin mengurangi kelalaian.

Oleh karena perencanaan ibadah yang menyeluruh berarti keinginan yang kuat untuk meningkatkan kepatuhan kepada Allah, kemauan keras untuk memperbanyak amal shaleh sepanjang hari.

Perencanaan seperti ini akan sangat memotivasi kita untuk meningkatkan ibadah dan mengurangi kelalaian.

Sebagai contoh : Orang yang merencanakan untuk shalat shubuh di masjid, tentu lebih termotivasi dibanding orang yang tidak merencanakan ibadah tersebut.

Contoh lain : orang yang merencanakan untuk membaca istighfar 100 X sehari, tentu tidak sama dengan orang yang tidak merencanakannya.

Orang yang mempunyai perencanaan ibadah, telah memiliki rujukan muhasabah/ introspeksi dan telah menapak anak tangga peningkatan yang berkesinambungan. Allah telah berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدِ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan (amal) apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Surah Al-Hasyer : 18

Ayat yang mulia ini mengandung sebuah panggilan indah buat kita para hamba Allah yang beriman, lalu disusul dengan perintah intropeksi yang diapit oleh dua perintah taqwa, kemudian ditutup dengan penegasan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan.

Penegasan ini bertujuan agar kita berusaha untuk senantiasa menghadirkan dibenak kita keyakinan bahwa kita selalu diawasi oleh Allah.

Pengamalan Ayat mulia ini tentu memerlukan planning ibadah yang menyeluruh dan berkesinambungan.

2. Selalu bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sebaiknya saya lakukan saat ini ?”

Agar kita termotivasi untuk melawan dan mengalahkan kelalaian, agar kita senantiasa terarah dan terpimpin, maka kita dianjurkan untuk selalu mengajukan pertanyaan ini kepada diri kita sendiri : “Apa yang sebaiknya saya lakukan saat ini ?”.

Sebagai contoh :

Pada saat kita mendengar adzan, kita segera bertanya pada diri kita : “Apa yang sebaiknya saya lakukan saat ini ?”.

Pertanyaan ini akan membangunkan kita dari kelalaian dan memotivasi kita untuk memenuhi panggilan adzan.

Pada saat kita di masjid, bertanyalah pada diri sendiri : “Apa yang sebaiknya saya lakukan di masjid ?”.

Pada saat kita di kendaraan, bertanyalah pada diri sendiri :”Apa yang sebaiknya saya lakukan di kendaraan ?”.

Pada saat kita di pasar, bertanyalah pada diri sendiri : “Apa yang sebaiknya saya lakukan di pasar ?”. Demikianlah seterusnya.

Pertanyaan ini sangat membantu untuk menghadirkan kasadaran akan penting dan wajibnya kita patuh dan taat kepada Allah setiap saat dan di setiap tempat.

Landasan Qur’ani pertanyaan ini ialah beberapa Ayat Al-Qur’an tentang dekatnya hari kiamat, tentang perintah untuk bersegera beramal shaleh, perintah untuk berlomba dalam kebaikan. Sebagai contoh : Firman Allah :

إِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غُفْلَةٍ مُعْرِضُوْنَ

“Telah dekat saatnya manusia dihisab, dan mereka dalam kelalaian dan mereka berpaling “. ( Surah : Al-Anbiya’ : 1 )

Pertanyaan : “Apa yang sebaiknya saya lakukan saat ini”. adalah salah satu bentuk pengamalan dari ayat yang mulia ini, agar kita mengingat hisab, mengingat akhirat, agar kita tidak lalai dan tidak berpaling. Dalam surah lain, Allah Swt berfirman :

وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

“Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, disiapkan untuk orang-orang yang bertaqwa”. (Surah : Ali –Imran : 133)

Pengamalan Ayat ini antara lain dengan selalu bertanya pada diri sendiri : “Apa yang sebaiknya saya lakukan saat ini”.

Oleh karena pertanyaan ini akan menyadarkan kita untuk bersegera beribadah, bergegas beramal, tidak menunda-nunda kebaikan.

Dalam surah lain, Allah SWT berfirman :

فَا سْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Berlombalah kamu dalam kebaikan”. Q.S. : Al-Baqarah : 148.

Kalau kita bertanya : “Apa yang sebaiknya saya lakukan saat ini ?”. Maka kita bermaksud untuk memotivasi diri kita untuk berlomba dengan orang lain dalam kebaikan dan amal shaleh.

Singkatnya : pertanyaan : “Apa yang sebaiknya saya lakukan saat ini ?” adalah kiat yang sangat baik untuk menghilangkan kelalaian, menghadirkan kesadaran dan memotivasi diri untuk beribadah dan beramal shaleh.

3. Memperbanyak dzikir

Kiat yang ketiga untuk menghilangkan kelalaian adalah: memperbanyak dzikir. Memperbanyak dzikir adalah perintah Allah Swt :

يَاأَيُّهَا اَّلذِيْنَ آمَنُوا اذْكُرُوْا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً

“Wahai sekalian orang yang beriman, berdzikirlah kamu kepada Allah dengan dzikir yang banyak, bertasbihlah kamu kepadaNya setiap pagi dan setiap petang “. Surah Al-Ahzab : 41-12

Memperbanyak dzikir berarti berdzikir sesuai dengan sunnah Nabi Saw pada setiap saat, kecuali pada saat kita di kamar mandi. Dzikir yang banyak ialah dengan mengulang ulangi kalimat-kalimat thayyibah :

سُبْحَانَ اللهُ، اَلْحَمْدُ للهِ، اللهُ أَكْبَرْ، لآ إِلَهَ إِلاَّ الله، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَةَ إِلاَّ بِاللهِ

“Maha suci Allah, segala Puji bagi Allah, Allah maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada upaya dan tidak ada kekuatan, kecuali dari Allah”.

Membaca wirid, tahlil 100 X sehari :

لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Tidak ada Tuhan selain Allah, sendiriNya, tidak ada sekutu bagiNya, miliknya seluruh kekuasaan. milikNya seluruh pujian. Dan DIA maha berkuasa atas segala sesuatu”.

Dzikir yang banyak yang sesuai dengan sunnah, sangat efektif menyambung hati kita dengan Allah yang Maha Pemurah, Maha Penyayang.

Itulah tiga kiat mengatasi kelalaian dalam hidup keseharian. Marilah kita amalkan ketiga kiat ini dengan niat ikhlas dan mujahadah yang tinggi, kemudian fastaqim ! (beristiqamalah) !

Oleh: Mudzakkir M. Arif, M

Pidato singkat Tentang Kiat Khusyu’ Dalam Sholat

Kita semua telah mengetahui bahwa khusyu’ itu substansi ibadah shalat. Sehingga kualitas shalat kita, sangat terkait dengan tingkat khusyu’ kita.

Oleh karena kita semua menegakkan shalat minimal 17 rakaat setiap hari dan malam, bahkan sebaiknya ditambah 10 atau 12 rakaat shalat rawatib.

Lebih baik lagi kalau shalat witir 3 rakaat setiap malam atau Qiyamullail bersama witir 11 rakaat.

Dan lebih sempurna lagi bila kita rutin shalat Dhuha setiap pagi minimal 2 rakaat. Jumlah keseluruhannya ialah 42 rakaat.

Semakin besar perhatian kita kepada ibadah shalat, tentu semakin besar pula kesungguhan kita untuk meningkatkan khusyu’ kita. Mengapa ? karena khusyu’ itulah yang menghidupkan shalat kita.

Khusyu’ itulah rahasia efektifitas shalat kita. Dan khusyu’ itulah ciri khas pertama orang yang beriman yang disebut oleh Allah swt pada ayat 1 dan 2 dari surah al- Mu’minun :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْ مِنُوْنَ. الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلاَ تِهِمْ خَا شِعُوْنَ

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalat mereka”. surah al- Mu’minun : 1-2 .

Itulah peranan khusyu’ dalam kehidupan kita sebagai orang yang beriman.

Pertanyaannya sekarang ialah : Apa itu khusyu’ ?

Mengapa kita perlu menanyakan hal itu ? Karena pemahaman tentang khusyu’ adalah syarat pertama dan utama untuk mengamalkannya dan meningkatkannya.

Secara bahasa, khusyu’ berarti : tunduk, merendah, dan tenang. Allah swt berfirman :

وَخَشَعَتِ اْلأَصْوَاتُ لِلرَّحْمنِ فَلاَ تَسْمَعُ إِلاَّ هَمْسًا

“Dan merendahlah semua suara kepada Tuhan yang maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali berbisik-bisikan saja”. Surah Thaha : 108.

Dalam pengertian ini, maka orang khusyu’ itu tunduk kepada Allah, merendah kepada Allah, merasakan kekecilannya dan kelemahannya di hadapan Allah.

Menghayati rasa butuhnya kepada bantuan dan pertolongan Allah.

Selain itu orang khusyu’ juga selalu bersikap tenang, terutama pada saat shalat dan pada saat bermunajat dengan Allah swt.

Dalam ayat mulia yang lain, Allah swt menjelaskan kriteria orang yang khusyu’ dalam shalat :

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesunggguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya”. surah al- Baqarah : 45-46

Ayat mulia ini menerangkan bahwa salah satu cara untuk memperoleh bantuan Allah ialah dengan menegakkan shalat.

Ini memberi isyarat agar kita menegakkan shalat dengan semangat memohon bantuan Allah swt. Dan itu adalah satu kiat untuk khusyu’.

Kemudian Allah swt menerangkan bahwa ibadah shalat itu berat dikerjakan, kecuali bagi orang yang khusyu’, maksudnya , hanya orang yang khusyu’ yang dapat menikmati ibadah shalat.

Hanya orang yang khusyu’ yang dapat bahagia dengan ibadah shalatnya. Hanya orang yang khusyu’ yang mendapatkan ketenangan dari ibadah shalatnya.

Statement/ pernyataan Allah swt ini memberi jawaban kepada kita yang sering kali tidak bahagia dengan ibadah shalat.

Kita susah sebelum shalat, tetap susah setelah shalat. Mengapa ? Kita tidak khusyu’ dalam shalat.

Ini pula jawaban atas kondisi sebagian kita yang kadang-kadang merasa malas sekali mengerjakan shalat.

Karena malasnya, sehingga shalat itu ditunda dan ditunda, sampai hampir habis waktunya. Karena malasnya sehingga tidak merasa terpanggil untuk ke masjid.

Tidak merasa menyesal bila tidak ke masjid. Tidak merasa perlu ke masjid.

Mengapa demikian?. Karena shalat itu belum dinikmati. Karena shalat di masjid itu belum dirasakan manfaatnya.

Mengapa ?. Karena belum khusyu’. Karena masih rendah khusyu’nya.

Bila kita khusyu’ niscaya shalat itu terasa sangat membahagiakan, sangat menenangkan.

Bila kita khusyu’ niscaya kita akan merasakan bahwa shalat itu indah, nikmat, lezat, menguatkan iman, mensucikan hati, dan banyak lagi manfaat lainnya.

Ayat yang mulia kemudian menjelaskan siapa itu orang khusyu’, yaitu :

الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُلاَقُوْا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

Di sini ada penghayatan iman pada hari Akhirat. Ini adalah salah satu kiat untuk khusyu’.

Dan kita yang sering merasakan sulitnya khusyu’, kita tentu memerlukan kiat-kiat praktis untuk meningkatkan khusyu’. Mari kita renungkan kiat-kiat khusyu’ berikut ini :

1.Tumbuhkan dan suburkan rasa cinta kepada ibadah shalat.

2.Tumbuhkan dan suburkan rasa cinta kepada masjid.

3.Biasakanlah untuk berwudhu’ sebelum adzan.

4.Biasakanlah berwudhu’ perlahan-lahan, hemat air, basmalah sebelumnya, bersyahadat dan berdo’a setelahnya.

5.Biasakanlah bersikat gigi sebelum berwudhu’.

6.Memakai pakaian bersih, rapih dan sopan untuk shalat. Hadirkanlah dalam hati bahwa :

“Saya akan menghadap penguasa seluruh penguasa”, “Saya akan menghadap Allah yang maha pengasih, maha perkasa”.

7.Biasakanlah menghilangkan bau badan, dan pakailah minyak wangi secukupnya. (kecuali bagi wanita yang akan ke masjid, tidak dianjurkan memakai minyak wangi).

8.Biasakanlah berdo’a dengan do’a yang diajarkan oleh Nabi setiap kali keluar dari rumah, terutama ke masjid.

9.Berjalan ke masjid dengan penghayatan bahwa setiap langkah menambah pahala dan menghapus dosa.

10.Biasakanlah berdo’a ketika berjalan ke masjid.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لِسَانِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِيْ نُوْرًا، وَمِنْ أَمَامِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِيْ نُوْرًا، وَمِنْ تَحْتِيْ نُوْرًا، اَللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ نُوْرًا

“Ya Allah, jadikanlah dalam hatiku cahaya, di lidahku ada cahaya, jadikanlah di pendengaranku cahaya, jadikanlah di penglihatanku cahaya, jadikanlah di belakangku cahaya, di depanku cahaya, jadikanlah di atasku cahaya, di bawahku cahaya. Ya Allah, berikanlah kepadaku cahaya.” HR. Muslim

11. Biasakanlah memberi salam dan menyapa orang yang kita jumpai di jalan.

12. Biasakanlah berdo’a ketika masuk masjid :

بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

“Dengan nama Allah, dan salawat serta salam kepada Rasulullah, Ya Allah bukakanlah untukku pintu-pintu rahmatMu” HR. Muslim

13. Dahulukanlah kaki kanan ketika masuk.

14. Biasakanlah shalat tahiyatul masjid 2 rakaat sebelum duduk di masjid. Upayakanlah konsentrasi mengigat Allah ketika shalat.

15. Biasakanlah menjawab adzan dengan lafazh-lafazh yang sama, kecuali pada lafazh :

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةُ . حَيَّ عَلَى اْلفَلاَح

Kita menjawab dengan ucapan :

لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّبِا للهِ

“Tidak daya dan kekuatan kecuali dari Allah”.

16. Biasakanlah berdo’a setelah adzan/ mendengar adzan.

17. Dirikanlah shalat 2 rakaat setelah adzan selesai, termasuk shalat Qabliyah, bila shalat wajib itu ada Qabliyahnya.

18.Memperbanyak do’a antara adzan dan qamat. Sebab pada saat itu,do’a dikabulkan Allah swt

19.Mengamalkan wirid-wirid sunnah seperti wirid Tahlil 100 x, Tasbih 100 x dan Istighfar 100 x.

20.Upayakan pula membaca al-Qur’an walau sedikit. Bila tidak sempat sebelum qamat, laksanakanlah tilawah itu setelah shalat.

21.Upayakanlah shalat jamaah di shaf pertama, di bagian kanan. Karena malaikat itu bershalawat kepada orang yang shalat di shaf pertama dan di bagian kanan.

22.Luruskan dan rapatkan shaf.

23.Biasakanlah menghadirkan niat ikhlas sebelum takbiratul ihram. Bahwa kita akan shalat dengan harapan mendapatkan ridha Allah swt.

24.Biasakanlah menghayati setiap bacaan shalat. Hadirkanlah terjemahan setiap bacaan itu di dalam hati. Hayatilah setiap gerakan shalat, sebagai gerakan menyembah Allah.

25.Tidak mendahului imam dan tidak terlalu terlambat dari gerakan imam.

26.Menyempurnakan dzikir ba’da shalat.

27.Menegakkan shalat Ba’diyah, bila shalat itu ada ba’diyahnya.

28.Berdo’a memohon Syurga, berdo’a untuk kedua orang tua, berdo’a agar amal ibadah kita makbul.

29.Memberi salam, menyapa dan bersilaturrahim secara singkat dengan para jamaah masjid.

30.Bahagiakan diri dengan ibadah-ibadah ini. Bayangkanlah bahwa amal kita diterima Allah swt. Do’a kita dikabulkan Allah swt.

31.Keluar dari masjid dengan mendahulukan kaki kiri, sambil berdo’a :

بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلك اَللَّهُمَّ اَعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

“Dengan Nama Allah, Shalawat dan salam untuk Rasulullah. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu karuniaMu. Ya Allah, peliharahlah aku dari syaitan yang terkutuk. HR. Muslim

32.Jauhilah uang yang haram.

33.Mengurangi menonton tayangan yang haram.

34.Mengurangi perbuatan, kegiatan, dan ucapan yang tidak berguna.

Itulah beberapa kiat untuk khusyu’. Mari mengamalkannya dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. Lalu fastaqim (beristiqamahlah)

Oleh: Mudzakkir M. Arif, MA

Contoh Pidato Singkat Menarik Tentang Hari akhirat di depan mata “Kita Semua Calon Jenazah”

Setiap muslim pasti dan wajib meyakini hari akhirat. Karena keyakinan pada keberadaan hari akhirat adalah syarat keislaman kita. Keyakinan ini adalah rukun iman yang kelima.

Penanaman dan peneguhan keyakinan ini dilakukan oleh Allah swt melalui Al-Qur’an, dalam ratusan Ayat-Nya yang mulia. Pada realitas keislaman kita, iman kepada hari akhirat sangat erat kaitannya dengan semua aspek kehidupan.

Pengertian iman kepada hari akhirat

Iman kepada hari akhirat berarti: keyakinan yang utuh, benar dan mendalam, tidak dicampuri dengan keraguan sedikitpun, tentang adanya kehidupan setelah kematian, adanya kebangkitan dari kubur dan seluruh yang terkait dengannya, termasuk keberadaan syurga dan neraka, berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih.

Hal-hal yang terkait dengan hari akhirat:

1. Kondisi sakaratul maut

2. Proses pencabutan nyawa

3. Keadaan Alam Kubur

4. Tanda-tanda hari Kiamat

5. Proses kiamat kubra

6. Proses hari bangkit

7. Keadaan di Padang Mahsyar

8. Pembagian kitab amal

9. Pengadilan yang Maha Adil

10. Penimbangan amal

11. Syafaat

12. Haudh (Telaga Nabi Muhammad saw)

13. Shirat (Jembatan di atas neraka menuju syurga

14. Keadaan Neraka dan penderitaan penghuninya

15. Keadaan syurga dan kenikmatan penghuninya

Landasan Qur’ani iman kepada hari akhirat

Iman kepada hari akhirat adalah kewajiban setiap muslim. Allah swt menjelaskan hal itu, ketika menjelaskan karakteristik orang yang bertaqwa. Salah satu karakteristik tersebut ialah:

وَبِاالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُون

Mereka yakin terhadap akhirat. QS. Al-Baqarah : 4

Al-Qur’anul Karim memberikan perhatian khusus pada penanaman dan peneguhan iman kepada hari akhirat. Mari kita merenungkan dengan seksama ayat-ayat mulia berikut ini:

أَوَلَمْ يَرَ الْإِنسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ. وَضَرَبَ لَنَا مَثَلاً وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ. قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata. Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh? Katakanlah: Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. QS. Yasin: 77-79

Ayat-ayat yang mulia ini ingin memberi kesadaran pada kita bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah swt dari setetes air mani, tampil melawan Allah swt. Melawan Allah dengan pembangkangan terhadap ajaran-ajaranNya.

Melawan Allah dengan segala kebanggaan dalam berbuat dosa. Melawan Allah dengan pengingkaran terhadap kebangkitan setelah kematian.

Setelah itu, Allah swt memberikan bukti-bukti logis dan faktual tentang kepastian hari kebangkitan.

Kematian adalah sebuah kepastian

Dalam upaya peningkatan iman kepada hari akhirat, hal pertama yang perlu diperkuat dalam diri kita ialah kesadaran yang berkesinambungan pada kepastian kematian kita semua. Membangun sikap sadar mati, sangatlah besar pengaruhnya pada keterarahan jiwa, kejernihan pikiran dan motivasi ibadah dan amal shaleh.

Kematian adalah peristiwa yang kita saksikan dan kita dengarkan hampir setiap hari. Kematian tidak mengenal usia dan status sosial. Kematian mempunyai seribu satu macam jalan.

Kematian terkadang manimpa ratusan orang, ribuan orang, bahkan puluhan ribu orang sekaligus! Luar biasa! Allahu Akbar! Allah swt berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنْ النَّا رِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُور

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. QS. Ali Imran : 185

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُّمْ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, sekalipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. QS. An-Nisa’: 78

Kita semua telah kehilangan minimal satu orang dari keluarga dekat kita, atau sahabat akrab kita, atau tetangga dekat kita, mereka semua telah mendahului kita ke alam barzakh.

Bahkan perjalanan sejarah manusia di dunia ini, mengajarkan kepada kita bahwa kita semua adalah pelaku-pelaku sejarah masa kini. Telah berlalu umat-umat dan bangsa-bangsa pelaku sejarah. Mereka semua meninggalkan dunia ini dengan amal-amal mereka masing-masing. Allah swt berfirman:

فكلا أخذنا بذنبه فمنهم من أرسلنا عليه حاصبا ومنهم من أخذته الصيحة ومنهم من حسفنا به الأرض ومنهم من أغرقنا وما كان الله ليظلمهم ولكن كانوا أنفسهم يظلمون

Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang di timpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. QS. Al-Ankabut: 40

Mareka semua telah pergi, kitapun pasti pergi.

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula. QS. Az-Zumar: 30

Mereka yang telah pergi itu, pernah sehat, kuat, berilmu, di antara mereka banyak yang kaya, berpangkat, bangsawan, dihargai, dimuliakan, ditakuti, dan disegani.

Di antara mereka yang telah pergi itu ada beberapa raja dan presiden, di antara mereka ada yang pernah menguasai dunia. Namun mereka telah tiada, dan kitapun pasti akan tiada. Kebaikan dan kejelekan mereka diceritakan dan dikenang orang, kebaikan dan kejelekan kitapun akan diceritakan dan dikenang orang lain.

Lebih dari itu, yang mesti kita sadari bahwa kematian itu adalah awal dari pengadilan akbar yang Maha Adil. Di sanalah kita akan mempertanggungjawabkan seluruh hidup kita di dunia ini.

Pada pengadilan itu, ada saatnya mulut terkunci, tak dapat berbicara, lalu tangan dan kakilah yang berbicara, menjelaskan semua perbuatan selama hidup di dunia.

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksisanlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. QS. Yasin: 65

Pada hari akhirat, kita akan mendapatkan balasan terhadap seluruh kebaikan yang telah kita kerjakan dan akan mendapatkan balasan terhadap semua kejelekan yang tidak diampuni oleh Allah swt.

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ. فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَه وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَه .

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam kedaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan lepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula. QS. Az-zalzalah: 6-8

Inilah keyakinan kita tentang kematian, yaitu bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru ia adalah awal dari segalanya. Kematian adalah pertanggunganjawab.

Kematian adalah awal sebuah pengadilan akbar yang paling adil. Kematian adalah awal dari kehidupan yang hakiki, kehidupan yang abadi.

Manfaat mengingat kematian

Atas dasar keyakinan bahwa kematian sebagai sebuah kepastian. Atas asar keyakinan bahwa kematian penuh dengan resiko dan tanggugjawab.

Atas dasar keyakinan bahwa kematian adalah awal dari kehidupan selamanya. Maka kita harus memperbanyak mengingat kamatian.

Kita harus memperpanjang masa sadar kita terhadap kematian, itulah yang memotivasi kita untuk rajin beribadah, menikmati ibadah dan amal shaleh, senang bertaubat dan bahagia dengan dzikir dan do’a.

Singkatnya, mengingat kematian sangat banyak manfaatnya, antara lain:

1.Mengurangi kecintaan terhadap dunia,

2.Memotivasi untuk rajin beribadah,

3.Menikmati ibadah dan amal shaleh,

4.Mencari dan melakukan amal-amal yang paling afdhal,

5.Memotivasi untuk bertaubat, meninggalkan dosa,

6.Menikmati indahnya istighfar, dzikir dan do’a,

7.Memotivasi untuk rajin bersedekah dan menolong orang lain,

8.Memotivasi untuk bersifat pemaaf terhadap kesalahan orang lain,

9.Selalu bersiap untuk menerima kematian setiap hari,

10.Selalu bersifat tawadhu’, tidak takabbur. Bahkan selalu meminta maaf terhadap sesama manusia.

Inilah sebagian dari manfaat mangingat kematian. Rasulullah saw memerintahkan kita untuk memperbanyak mengingat kematian. Beliau bersabda:

(أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرٍ هَاذِم اللَّذَّاتِ (الموت

Perbanyaklah mengingat pemutus semua kenikmatan (kematian). HR. Al-Bukhari

Bila dalam sehari kita tidak mengingat kematian, berarti kita dalam kelalaian. Bila dalam perjalanan kita tidak mengingat kematian, alangkah ruginya kita.

Bila kita mengunjungi orang sakit lalu kita tidak mengingat kematian, alangkah kerasnya hati kita. Bila kita melihat jenazah/ mengantar jenazah, lalu kita masih tertawa, kapan kita mau sadar?

Kita semua berjalan menuju kematian. Kita semua calon pasti untuk menjadi jenazah. Tidak ada calon yang tidak jadi dalam urusan kematian.

Marilah kita sadar. Marilah kita waspada. Marilah kita memperbaiki diri. Marilah kita mensucikan diri. Mari berjuang terus. Semoga kita bertemu di Jannatul Firdaus yang abadi. Amin.

Pidato Singkat Menarik Tentang Keistimewaan dan kecintaan Pada bulan mulia Ramadhan

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Swt yang tiada henti memberikan rahmat dan ridhaNya kepada hambaNya yang senantiasa beristiqamah dan bertaqwa dalam agamaNya, Islam.

Satu diantara nikmatnya yang terindah adalah bulan mulia Ramadhan, bulan yang penuh berkah, bulan yang termulia sepanjang tahun, dan bulan yang sangat diistimewakan oleh Allah Swt.

Apa saja keistimewaan bulan mulia Ramadhan yang tak lama lagi akan datang kepada kita? Diantara keistimewaan bulan mulia Ramadhan adalah:

1. Bulan mulia Ramadhan dipilih oleh Allah Swt untuk menjadi waktu diturunkannya kitab yang termulia, Al-Qur’an.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan (adalah bulan) yang diturunkan padanya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi semua manusia, dan (berisi) penjelasan dari petunjuk (itu) dan sebagai pembeda (antara yang al-haq dan al-bathil)”
QS. Al-Baqarah: 185

Kitab suci termulia diturunkan pada waktu termulia, pada malam termulia dari bulan termulia, melalui Malaikat termulia, diturunkan kepada nabi termulia, manusia ter-mulia, untuk menjadi pedoman hidup bagi umat termulia.
Allahu Akbar.

Inilah kemuliaan-kemuliaan yang sepatutnya kita rasakan, kita tanamkan dalam sanubari kita, agar kita memiliki kepribadian yang mulia dengan Islam, dan perjuangan untuk memuliakan umat Islam dengan agama termulia, Islam.

2. Bulan mulia Ramadhan dipilih oleh Allah Swt untuk menjadi waktu pelaksanaan ibadah puasa yang diwajibkan kepada segenap umat Islam yang beriman.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai sekalian orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” QS. Al-Baqarah: 183

Ibadah Puasa yang diwajibkan selama sebulan penuh, adalah ibadah mulia yang memuliakan, ibadah yang membahagiakan dan menyehat-kan, ibadah yang menghapus dosa dan mensucikan jiwa, ibadah yang mendidik kita untuk disiplin dan mengendalikan diri, dan ibadah yang mendidik kita untuk meningkatkan kepedulian sosial dengan memiliki simpati dan empati pada kaum dhuafa’.

3.Bulan mulia Ramadhan dipilih oleh Allah Swt untuk menjadi waktu diturunkannya malam termulia sepanjang tahun, malam yang bernilai seribu bulan, yaitu Lailatul Qadr.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ٭ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ٭ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ٭ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ٭ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar” QS. Al-Qadr: 1-5

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَة القَدْر إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang Qiyamullail pada Lailatul Qadr dengan dorongan iman dan dengan niat yang ikhlas,niscaya diampuni seluruh dosanya yang telah lalu” HR. Bukhari dan HR. Muslim

4. Bulan mulia Ramadhan dipilih oleh Allah Swt untuk mengeluarkan zakat fitrah yang tidak diperintahkan pada bulan lainnya. Rasulullah Saw bersabda:

عن ابن عمر قال : فرض رسول زكاة الفطر من رمضان على الناس صاعا من تمر او صاعا من شعير على كلّ مر او عبد ذكر او انثى من المسلم

“Dari ibnu umar bahwa Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitrah di bulan suci Ramadhan kepada setiap orang satu sha’ (3 kg) kurma atu satu sha’ gandum atas setiap orang merdeka/budak laki-laki ataupun perempuan muslim”

Allah Swt berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat itu dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan (dari kekikiran dan kecintaan oada harta benda) dan mensucikan (menyuburkan sifat kebaikan dalam hati) mereka” QS. At-Taubah: 103

5. Bulan mulia Ramadhan dipilih oleh Allah Swt untuk membuka pintu Syurga, menutup pintu Neraka, dan membelenggu Syaitan.

Rasulullah Saw bersabda:

إِذاَ دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَغُلِقَتْ أبْوَابُ جَـهَنَّمِ وَسلسلتْ الشَّيَاطِيْن

Ketika masuk bulan Ramadhan, dibuka semua pintu Syurga, ditutup semua pintu Jahannam dan dibelenggulah Syaitan-Syaitan” HR. Bukhari dan HR. Muslim

6. Bulan mulia Ramadhan dipilih oleh Allah Swt untuk menurun-kan rahmatNya yang sangat banyak dan membebaskan sejumlah besar hambaNya dari adzab Neraka. Rasulullah Saw bersabda:

وينادي مناد : يَابَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبلْ وَباَغِي الشَّرِّ أَقْصِرْ. ولله عتقاء من النا وذلك كل ليلة

“(Pada malam pertama bulan Ramadhan) berteriaklah penyeru: “Wahai pencari kebaikan, menghadaplah! Wahai pencari kejelekan, berhentilah!” Allah membebaskan banyak hambaNya dari Neraka dan itu terjadi setiap malam (dalam bulan Ramadhan)” HR. Tirmidzi, HR. Ibnu Majah, dan HR. Ibnu Khuzaimah. Dinilai hasan oleh Al-Albani.

Dengan meyakini kemuliaan bulan mulia Ramadhan, akan mendasari kecintaan pada bulan istimewa ini. Sebuah cinta tulus dan suci yang kita harapkan menjadi motivator dalam mengoptimalisasikan ibadah, tila-wah, sedekah, ukhuwah, tazkiyah, dan segenap amal shaleh pada bulan mulia tersebut.

Kecintaan pada bulan mulia Ramadhan adalah perwujudan iman pada Allah Swt, karena salah satu karakteristik muslim yang beriman adalah:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Orang yang beriman sangat cinta kepada Allah” QS. Al-Baqarah: 165

Cinta kepada Allah swt mengajarkan kita untuk cinta kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw bersabda:

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود إلى الكفر كما يكره أن يقذف في النار

“Ada tiga hal, siapa yang memilikinya niscaya dia akan merasakan manisnya iman, (1) bahwa Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) bahwa ia cinta kepada seseorang hanya karena Allah semata, (3) bahwa ia tidak mau kembali pada kekafiran sebagaimana ia tidak mau dilemparkan ke dalam Neraka” HR. Bukhari

Kecintaan pada Allah, kecintaan pada Rasulullah Saw, dan kecintaan pada sesama muslim karena Allah, serta benci pada kekafiran, adalah dasar hukum yang sangat kuat untuk menegaskan kecintaan pada bulan mulia Ramadhan, serta semakin cinta pula pada shalat, cinta masjid, cinta Qiyamullail, cinta zakat, cinta tilawah Qur’an, cinta dzikir dan do’a, cinta nasehat, cinta ceramah, cinta pengajian dan majelis ta’lim, serta cinta pada seluruh amal shaleh dan amal jariyah yang diperintahkan oleh Allah Swt dan Rasulnya Saw.

Mari kita sambut datangnya bulan mulia Ramadhan dengan menyiapkan seluruh pikiran, energi, jiwa, keikhlasan, dan mentalitas kita untuk menikmati kemuliaan yang Allah berikan kepada hambaNya yang senantiasa bertaubat dan berpegang teguh pada agamanya.

Materi Pidato Menarik Tentang Kiat Mempertahankan Kesadaran

Dalam kehidupan keislaman, kita mengalami dua kondisi yang silih berganti, yaitu:

1. Kondisi sadar.
2. Kondisi tidak sadar.

Pada kondisi sadar, kita mengingat jati diri kita sebagai hamba Allah yang wajib taat kepada Allah swt. Pada kondisi tidak sadar, kita lupa bahwa kita adalah hamba yang selalu butuh pada bantuan Allah.

Pada kondisi sadar, kita termotivasi untuk rajin beribadah, rajin beramal, rajin berbuat amal kepada orang lain. Tapi, pada kondisi tidak sadar, kita merasa malas beribadah, malas berbuat baik.

Pada kondisi sadar, kita banyak berdzikir dan berdo’a. Tapi, pada kondisi tidak sadar, kita lalai, bahkan menikmati dosa. Itulah dua kondisi hidup kita yang silih berganti.

Sebagai muslim yang berjuang untuk selalu lebih baik, kita tentu bekerja keras untuk meningkatkan kesadaran. Kita selalu berusaha agar kita senantiasa berada pada kondisi sadar. Kalau kadang-kadang kita tidak sadar, kita cepat sadar kembali. Berikut ini, beberapa kiat untuk itu:

1. Menghayati hikmah pengulang-ulangan ibadah dalam keseharian kita.

Coba kita renungkan: mengapa kita wajib mengulang-ulangi shalat lima waktu? Mengapa kita mengulang-ulangi shalat sunnah? Mengapa kita mengulang-ulangi dzikir sampai ratusan bahkan ribuan kali?

Mengapa kita mengulang-ulangi bacaan Al-Qur’an? Salah satu hikmahnya ialah: mempertahankan kesadaran! Semua pengulangan- pengulangan itu bertujuan agar kita selalu dalam kondisi sadar. Tidak lalai. Tidak lupa. Tidak malas.

Semua pengulangan-pengulangan itu seharusnya semakin menambah semangat, semakin meningkatkan sifat rajin dalam kebaikan, semakin menguatkan jiwa. Makanya jangan bosan dengan pengulangan-pengulangan itu, karena semua itu adalah kebutuhan kita setiap saat.

Kapan kita tidak memenuhi kebutuhan itu, kita pasti lemah. Mari kita renungkan: berapa kali mengulang-ulangi setiap hari do’a dalam surah Al-Fatihah ayat 6 :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”

Sangat jelas bahwa ini bertujuan untuk mempertahankan kesadaran. Karena kita sadar bahwa dalam keseharian kita, sangat banyak godaan yang cepat malalaikan kita.

Itu pula hikmahnya kita diperintahkan oleh Allah swt untuk berdzikir dengan dzikir yang banyak. Allah swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً.

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. QS: Al-Ahzab: 41-42

2. Ucapkanlah: saya sangat berbahgia dengan ibadahku ini.

Ini adalah kiat yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran. Kiat ini mendidik kita untuk menghayati ibadah, amal, kebaikan kita sebagai sumber kebahagiaan.

Jika kita benar-benar bahagia dengan kebaikan-kebaikan kita, itulah yang mendorong kita untuk selalu berbuat baik.

Sebaliknya, jika kita tidak menemukan kebahagiaan dalam amal ibadah, itulah penyebab kemalasan. Karena itulah maka kesadaran kita kadang-kadang rendah.

Konkritnya, pada saat kita shalat, katakanlah dalam hati: “Saya bahagia dengan ibadahku ini”. Pada saat kita berdzikir, katakanlah dalam hati: “Saya bahagia dengan ibadahku ini”.

Pada saat kita mendengar khutbah/ceramah, katakanlah: “Saya bahagia dengan ibadahku ini”. Demikianlah yang kita ucapkan pada setiap ibadah dan kebaikan yang kita kerjakan.

Yakinlah bahwa kita ini akan melahirkan semangat ibadah yang sangat luar biasa. Yakinlah bahwa dengan kiat ini hidup kita akan lebih bahagia dengan kesadaran yang tinggi.

Pertanyaannya sekarang: Apa yang kita bayangkan sehingga kita dapat bahagia hanya dengan ucapan: “Saya bahagia dengan ibadahku ini”? yang kita bayangkan adalah: jaminan Allah, Allah swt berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” QS: Ar-Ra’ad: 28

Yang kita bayangkan ialah pengampunan dosa-dosa kita. Yang kita bayangkan ialah kemudahan-kemudahan semua urusan kita. Yang kita bayangkan ialah syurga yang abadi.

3. Saya susah, saya sedih, saya menghadapai kesulitan, saya menghadapai problem, saya gagal, saya jatuh, saya sakit, saya kecelakaan, saya dapat musibah, semua ini adalah akibat dosa-dosaku. Karena itu saya harus taubat sekarang juga. Saya yakin bahwa Allah Maha Pengampun.

Kiat ini luar biasa pengaruhnya dalam mendongkrak kesadaran kita. Syaratnya, ucapkan kalimat-kalimat itu dengan penuh kesadaran dan penghayatan. Ucapkan kalimat-kalimat itu dengan sebagian dosa-dosa yang pernah kita lakukan.

Ucapkan kalimat-kalimat itu dengan membayangkan bahwa Allah menjewer kita dengan semua problem yang kita hadapi ini. Allah menegur kita karena Dia sayang kepada kita.

Allah menegur kita agar kita sadar. Agar kita kembali ke jalan-Nya. Allah bermaksud membersihkan kita dari noda-noda dosa kita selama ini. Mari renungkan ayat-ayat mulia ini:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنْ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” QS: An-Nisa’: 79

Penghayatan segala kejelekan yang menimpa sebagain akibat dari dosa-dosa kita, akan sangat memotivasi kita untuk bertaubat, meninggalkan dosa, menyesali dosa, berjanji tidak mengulangi dosa, memperbanyak istighfar, memperbanyak amal ibadah untuk menebus semua dosa masa lalu. Allahu Akbar.

Demikian tawaran program kerja untuk kita semua agar kita selalu mengundang hidayah Allah, bantuan Allah, kasih sayang Allah kepada kita semua.

Karena kesadaran kita hanya bersumber dari rahmat Allah swt. Kesucian kita, hanyalah karena rahmat Allah swt.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. QS. An-Nur : 21

لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. QS. Ali Imran: 159

Karena semua itulah, maka kita mempelajari program kerja yang jelas untuk meraih rahmat Allah, agar kita mempertahankan kesadaran.

Program kerja ini memerlukan semangat perjuangan. Karena itu mari kita berjuang. Selamat berjuang Saudaraku. Fastaqim! (beristiqamahlah).

Oleh: Mudzakkir M. Arif, MA.

Pidato Singkat Tentang Berkurbanlah Agar Tak Jadi Korban

Idul Adha semakin dekat. Hari raya kedua itu memiliki keistimewaan tersendiri di hati setiap muslim. Ia sangat identik dengan penyembelihan dan pembagian hewan qurban.

Sebuah ibadah yang sangat mulia dan sangat mendidik setiap yang mengamalkannya, untuk meraih kepribadian muslim hakiki.

Lebih dari itu, ibadah qurban membawa nilai-nilai pendidikan yang agung untuk masyarakat muslim, menuju masyarakat yang diridhai Allah swt.

Apa arti qurban? Secara bahasa, akar kata qurban berarti : melakukan pendekatan.
Kemudian ia berarti : melakukan persembahan kepada Allah/ tuhan/ berhala melalui sembelihan atau selainnya.

Secara istilah syar’i qurban berarti : menyembelih hewan qurban setelah shalat Idul Adha, tanggal 10 Dzulhijjah dan tiga hari sesudahnya, dengan niat ibadah.

Hewan qurban itu ialah : kambing, sapi, unta.

Nilai-nilai pendidikan kepribadian Ibadah Qurban Bagi setiap muslim:

1. Mendidik untuk membuktikan kesyukuran kepada Allah swt

Ibadah qurban perlu dihayati sebagai manifestasi kesyukuran kepada Allah swt atas segala nikmat pemberianNya kepada kita. Kesyukuran ini kita yakini sebagai sarana untuk bahagia dengan ketaatan kepada Allah, sekaligus sebagai upaya untuk mengundang tambahan nikmat dari Allah swt, sesuai dengan janjiNya yang pasti di surah Ibrahim ayat : 7

2. Mendidik untuk peduli terhadap Orang Lain. Ibadah qurban adalah latihan

peningkatan kepedulian terhadap sesama manusia. Kepedulian ini sangat dibutuhkan untuk mengurangi sifat bakhil dalam diri kita. Kepedulian ini kita jadikan sebagai sarana untuk bahagia dengan kepatuhan kepada Allah swt. Allah swt berfirman :

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. QS : Al-Hasyr : 9

3. Mendidik untuk mengurangi rasa cinta kepada harta

Ibadah qurban sangat mendidik untuk mengurangi rasa cinta kepada harta. Karena cinta harta secara berlebihan, itulah yang menghalangi seseorang untuk beribadah, menghalangi untuk taat kepada Allah, bahkan memperindah dosa di hati.

Cinta harta secara berlebihan, itulah yang membuat kita bakhil, serakah, egois, tega menipu, tega menzalimi orang lain, tega korupsi, dan sejumlah dosa sosial lainnya.

4. Mendidik untuk meningkatkan rasa cinta kepada Allah swt

Ibadah qurban adalah pengamalan perintah Allah swt dalam firmannya:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah”. QS : Al-Kautsar : 2

Pengamalan perintah Allah mendidik untuk mencintai Allah swt. Karena efektifitas setiap ibadah kita, sangat terkait dengan penghayatan cinta Allah dalam pengamalannya.

Kita beribadah kepada Allah karena cinta kepadaNya. Kita beribadah kepada Allah dengan penghayatan cinta kepadaNya. Kita beribadah kepada Allah, untuk meningkatkan cinta kepadaNya.

Bila setiap ibadah disertai penghayatan seperti ini, niscaya kita mendapatkan motivasi kuat untuk senantiasa beribadah dan berbuat baik secara konsisten dengan penuh kebahagiaan.

5. Mendidik untuk mencintai para Nabi dan Rasul

Ibadah ini mempunyai akar sejarah yang sangat kuat. Ibadah ini sudah ada sejak Nabi Adam As. Kita tentu mengingat ibadah Qurban yang dilakukan oleh Qabil dan Habil.

Kita tentu mengingat ibadah Qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As. Kita tentu mengingat ibadah Qurban yang dilakukan oleh Nabi kita Muhammad saw.

Ibadah ini menyambung hati kita dengan para Nabi yang mulia. Ibadah ini meneruskan dan melanjutkan sunnah Rasulullah saw.

Ibadah ini memotivasi kita untuk mempelajari dan menguasai sejarah Nabi Muhammad saw, sejarah Nabi Ibrahim As, dan semua sejarah Nabi dan Rasul Allah swt.

6. Mendidik untuk bekerja keras mencari nafkah yang halal

Ibadah Qurban sungguh-sungguh memotivasi setiap muslim yang cinta ibadah untuk bekerja keras mendapatkan uang agar dapat menunaikan ibadah Qurban.

Ini adalah kesempatan beribadah istimewa sekali dalam setahun. Ini adalah peluang emas untuk mendapatkan ridha dan rahmat Allah sekali dalam setahun.

Ini adalah pendidikan kepribadian muslim dengan cita rasa tersendiri yang belum tentu kita masih mendapatkannya tahun depan.

Orang yang menghayati semua ini, tentu tidak mau ketinggalan dalam ibadah ini. Ia akan mengutamakan ibadah Qurban lebih dari pakaian baru untuknya dan untuk anak-anaknya, atau perabot baru, atau persiapan makanan dan kue-kue. Bahkan ia menabung khusus untuk ibadah ini karena semangat berkurban yang sangat tinggi.

Demikianlah ibadah Qurban mendidik kepribadian kita secara komprehensif. Alangkah bahagianya kita yang bersungguh-sungguh mendidik diri untuk senantiasa lebih baik, lebih shaleh, lebih sempurna, lebih dekat dengan Allah swt.

Alangkah bahagianya kita yang telah menggunakan kesempatan ibadah yang diberikan Allah swt kepada kita. Bila renungan ibadah Qurban ini dilanjutkan, niscaya kita menemukan ibadah sosial ini, membawa nilai-nilai pendidikan sosial yang sangat mulia.

Nilai Pendidikan sosial ibadah kurban

1. Mendidik untuk mewujudkan kepedulian sosial

Ibadah Qurban berarti menyembelih hewan qurban dan membagi-bagikan dagingnya kepada fakir miskin. Ini berarti memberi kesempatan kepada fakir miskin untuk menikmati daging.

Ini berarti memberi kepedulian kepada saudara-saudara kita yang lemah. Kepedulian ini akan sangat efektif mengurangi jurang pemisah antara orang kaya dan orang miskin.

Pada gilirannya, terciptalah keharmonisan sosial yang menjamin ketenangan, keamanan dan kedamaian.

2. Mendidik untuk saling menghargai, saling mencintai

Kepedulian sosial yang dididikkan oleh ibadah Qurban, bukanlah sekedar kepedulian. Pembagian daging sapi/ kambing, bukanlah pembagian daging semata. Tapi, di sini ada saling menghargai, saling mencintai antara satu dengan yang lain. Di sini, tidak hanya memperbaiki hubungan antara si kaya dan si miskin, tapi juga memperbaiki hubungan antara sesama orang miskin dan antara sesama orang kaya. Orang miskin tidak berebutan dan bertengkar dalam menunggu pembagian daging. Tidak ada yang egois, tidak ada yang serakah, karena ibadah qurban mendidik kita semua untuk saling menghargai, saling mencintai. Orang kaya pun tidak takabbur dengan qurbannya. Tidak ada riya’, tidak ada pula ungkapan yang dapat menyakiti hati orang lain.

3. Mendidik untuk berlomba dalam ibadah

Ibadah qurban juga mendidik masyarakat untuk cinta kepada ibadah. Ketika masyarakat telah mencintai ibadah, niscaya kita akan menyaksikan ada gerakan masyarakat yang sangat kuat untuk beribadah. Nampak ada perlombaan sehat dalam kebaikan, sesuai perintah Allah :

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan”. QS : Al-Baqarah : 148

Alangkah mulianya masyarakat yang berlomba-lomba dalam ibadah. Alangkah mulianya masyarakat yang berlomba-lomba ke masjid, bersaing dalam membaca Al-Qur’an, tidak ada yang mau kalah dalam zakat, infaq, sedekah, semua berusaha keras untuk dapat berqurban sekali setahun.

Demikianlah ibadah Qurban mendidik masyarakat, sekiranya kita semua bersunguh-sungguh dalam mendidik masyarakat dengan ibadah yang mulia ini.

Sebaliknya, jika nilai-nilai pendidikan kepribadian dan pendidikan masyarakat dari ibadah qurban diabaikan niscaya kita dan masyarakat pasti akan jadi korban. Yaitu, korban kelalaian, korban kejahilan, korban kemalasan beribadah, korban bujuk rayu syetan. Na’udzubillah.

Mari kita renungkan, seberapa besar nilai pendidikan kepribadian dalam setiap ibadah, kita rasakan dalam kehidupan kita? Seberapa besar pengaruh ibadah yang kita tunaikan dalam membentuk pola pikir dan pola hidup kita?

Seberapa besar peranan ibadah yang kita tegakkan dalam menghasilkan kebahagiaan dan kemuliaan ? Semua ini sangat erat kaitannya dengan pemahaman, pengamalan dan penghayatan setiap ibadah kita.

Bila ibadah-ibadah kita, termasuk ibadah qurban, belum menghasilkan peningkatan kepribadian, belum menghasilkan kebahagiaan, belum menghasilkan akhlak yang lebih baik, berarti kita masih dalam kelalaian, dalam kejahilan, dalam kemalasan.

Lebih khusus pada ibadah qurban. Orang yang sanggup berqurban tapi tidak menunaikannya, berarti ia telah menjadi korban egoismenya, korban kebakhilannya, korban kekerasannya, korban cintanya kepada dunia. Na’udzubillah.

Olehnya itu, berqurbanlah, agar tidak menjadi korban. Selamat mendidik diri dan masyarakat dengan ibadah dan amal shaleh. Fastaqim (beristiqamalah)!

Oleh: Mudzakkir M. Arif, MA

Pidato Singkat Tentang Dasar Dasar Rumah Tangga Islami

DASAR – DASAR
ILMU RUMAH TANGGA ISLAMI

a.TUJUAN UMUM
Mengantar Rumah Tangga kepada Ibadah sejati kepada Allah SWT menuju Ridha, rahmat dan Jannah yang abadi
Melahirkan generasi Islam yang bertakwa dan berjihad di jalan Allah SWT menuju kemuliaan Islam dan ummat Islam
Menjadikan seluruh aktifikas rumah tangga sebagai sarana Ibadah yang menyeluruh menuju rumah tangga bahagia, mulia, kuat dan selamat

b.TUJUAN KHUSUS
1.Mewujudkan kesatuan visi rumah tangga Islami diantara segenap anggota keluarga menuju kesatuan misi, kesatuan langkah dan semangat
2.Mewujudkan kerjasama positif untuk belajar Islami, Ibadah, Akhlak, da’wah dan pembangunan ekonomi keluarga
3.Mewujudkan perhatian yang timbal balik antar segenap anggota keluarga yang ditandai dengan penghargaan yang timbal balik, keterbukaan yang beradab, nasehat yang timbal balik dan keharmonisan yang menyeluruh

c.MODAL RUMAH TANGGA ISLAMI
1.Aqidah Islamiyah yang kuat / Tauhid suci yang diterapkan.
(Tak ada azimat, tak ada satupun bentuk syirik dan amalan bid’ah. Tidak mengenal tukang ramal, para normal, tak ada sihir, mantra, tenaga dalam, tak ada hasad, tak ada kultus individu, tak ada fanatisme keluarga / golongan, tawakkal yang kuat, syukur, sabar, dst..)
2.Cinta tulus yang diucapkan dan senantiasa diperbaharui.
(Aku cinta padamu, aku saying padamu, aku selalu siap membantu, aku selalu siap berkorban, aku menerima keluargaku apa adanya, aku memaafkan kesalahanmua, aku ingin memberi perhatian yang lebih, aku ingin anda lebih baik, aku perlu pengawasanmu, aku perlu nasehatmu dst..)

3.Perhatian yang besar kepada Ilmu, Ibadah dan Akhlak
(Majelis Ta’lim, sekolah, kursus, bimbingan belajar, membaca bacaan yang bermanfaat, Ibadah wajib, Ibadah Sunnah, Tilawah Al Qur’an, Birril Walidain, silaturrahmi keluarga, Ihsan terhadap tetangga, berkawan dengan yang shaleh, menjauhi kawan yang buruk, tidak pacaran, tidak merokok, tidak malas, tidak bertengkar, dst..)
4.Pemahaman tentang kewajiban dan tanggung jawab kepala keluarga, Ibu rumah tangga, anak-anak dan segenap anggota keluarga dan kesungguhan dalam pelaksanaannya
5.Rasa tanggung jawab dan kesungguhan untuk meningkatkan kualitas rumah tangga, menghindari / meminimalisir problem dalam rumah tangga dan menyelesaikan dengan segera setiap permasalahan yang dihadapi oleh setiap anggota keluarga.

Sentuhan :
Rumah tangga yang masih mempunyai keyakinan syirik, masih mengamalkan pengamalan bid’ah, masih mempercayai mistik, masih jauh dari kesyukuran dan kesabaran, berarti keluarga ini masih kehilangan modal untuk menjadi rumah tangga Islami yang diridhai Allah dan yang akan masuk Jannah !
Rumah tangga yang belum merasakan ada cinta yang timbal balik antar segenap anggota keluarga. Ada diantara mereka yang merasa tidak dicintai, tidak disayangi, tidak diperhatikan. Ada diantara mereka yang merasa diperlakukan tidak adil. Disana tidak ada keterbukaan. Semua takut untuk berbicara. Disana tidak ungkapan kasih saying. Disana tidak ada penghargaan yang timbal balik.
Berarti rumah tangga ini masih kehilangan modal untuk menjadi rumah tangga Islami yang bahagia, mulia, kuat dan selamat
Rumah tangga yang belum mempunyai perhatian yang besar kepada peningkatan ilmu Islam segenap anggota keluarga. Tak ada perhatian kepada pengajian, tak ada kewajiban untuk belajar Al Qur’an, kurang perhatian kepada Shalat fardhu, kurang pendidikan tentang akhlak. Sang bapak hanya mampu menarik nafas panjang melihat kenakalan anaknya, sang ibu hanya menggelengkan kepala melihat penyimpangan anaknya. Bapak dan Ibu berbeda pendapat dan cara mendidik anak. Keduanya sering bertengkar didepan anak.
Berarti rumah tangga ini kehilangan modal utama dalam usaha untuk membentuk rumah tangga Islami yang bahagia, mulia, kuat, selamat dibawah ridha dan rahmat Allah SWT.
Rumah tangga yang didalamnya ada Bapak yang tidak memahami kewajibannya dengan baik, kurang bertanggung jawab, tidak mendidik anggota keluarga, tidak dapat menjadi teladan dalam rumah tangga. Kemudian disana ada pula Ibu yang tidak memahami kewajibannya dengan baik, kurang bertanggung jawab, pemalas, lebih memperhatikan urusan diluar rumah daripada urusan dalam rumah, peramah terhadap orang lain, pemarah terhadap suami dan anak, mencontohkan hal-hal yang negatif terhadap anak-anaknya. Tidak berlaku adil dalam menghadapi anak anaknya. Selalu membela anak sendiri jika berbeda pendapat / bertengkar dengan anak orang lain, tidak mendidik anak dengan baik.
Sungguh rumah tangga ini adalah rumah tangga yang lalai, sangat jauh dari pemahaman tentang modal rumah tangga Islami. Rumah tangga ini dalam bahaya.
Bagaimana dengan anak-anaknya ?
Anak-anak dirumah ini akan menjauh dari ibu dan bapaknya. Mereka akan menghabiskan waktunya dengan kawan-kawan sebayanya. Mereka akan berlaku kasar terhadap anggota keluarga. Mereka akan berontak terhadap ibu bapaknya. Mereka akan melakukan kenakalan-kenakalan sebagai tindakan balas dendam terhadap suasana rumah yang tidak menyenangkan.
Rumah tangga yang tidak memiliki program bersama untuk peningkatan dan kemajuan yang menyeluruh. Rumah tangga yang hanya memperhatikan makan, minum, pakaian, perabot, kendaraan, pekerjaan dan hiburan. Atau rumah tangga yang sudah sangat puas dengan pelaksanaan Ibadah wajib atau ditambah lagi dengan tilawah Al Qur’an dan akhlak yang mulia. Rumah tangga yang merasa sudah lepas tanggung jawabnya setelah anaknya berkeluarga. Rumah tangga yang melihat dirinya lebih baik dari rumah tangga yang lain. Rumah tangga yang tidak merasa perlu menyelesaikan problem yang ada dalam rumah tangganya. Rumah tangga yang senantiasa menganggap kecil seluruh masalah, tidak mau mengakui kesalahan dan kekurangan.
Maaf.. Rumah tangga ini masih kekurangan modal untuk menjadi rumah tangga Islami yang maju, yang ideal, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Bila sebuah rumah tangga kehilangan satu modal rumah tangga Islami, berarti ia telah kehilangan sebuah pilar yang sangat menentukan
Bagaimana bila rumah tangga itu kehilangan seluruh modal yang lima itu ?. Bagaimana suasana rumah itu ? Tentu rumah itu mesti memulai perjuangan yang panjang, mulai dari Nol…

Berikut ini beberapa sarana dan program yang penting untuk diterapkan dengan penuh kesungguhan untuk meraih modal Rumah Tangga Islami, lalu dengan modal itu kita meneruskan perjuangan untuk mewujudkan tujuan khusus Rumah Tangga Islami, kemudian tujuan umum Insya Allah …

Sarana Pembangunan Rumah Tangga Islami :
1.Pelaksanaan Resep Bahagia secara runtut dan berkesinambungan atas seluruh anggota keluarga. Kepala rumah tangga sebagai penanggung jawab program.
2.Tadarrus Al Qur’an bersama 1 kali sepekan
3.Hari kerja sama 1 kali sepekan. (Pembersihan, perapihan, cucian, memasak, merawat tanaman, makan bersama, dst..)
4.Rekreasi keluarga 1 kali sebulan
5.Bimbingan belajar anak-anak 1 kali sepekan oleh bapak & ibu
6.Pembagian tugas seluruh anggota keluarga dan jadwal wajibat harian dikontrol oleh kepala keluarga.
7.Ucapan cinta dan kasih saying dari segenap anggota keluarga secara timbal balik, minimal 2 kali sepekan
8.Kecupan dan belaian kasih saying kepada anak-anak menjelang tidur / sementara tidur, minimal 2 kali sepekan
9.Nasehat kepala keluarga 1 kali sepekan (tentang syukur, sabar, tawakkal, akhlak, saling pengertian, saling menghargai, dst..)
10.Pembiasaan keterbukaan antar segenap anggota keluarga (melalui musyawarah, curhat, dialog dari hati ke hati, konseling, dst..)
11.Perhatian khusus kepada anak-anak pada usia anak-anak terakhir (kelas 6 SD) dan pada usia pubertas, hingga kelas 3 SMA.
12.Perhatian khusus pada keterampilan tertentu, pada segenap anggota keluarga (seperti : pertanian, peternakan, pertukangan, listrik, komputer, seni Islami, olah raga, bela diri, bahasa asing, memasak dst.. melalui kursus, membaca buku dan praktek)
13.Menghubungkan segenap anggota keluarga dengan majelis ta’lim dan organisasi Islam seperti Remaja masjid, TPA dan melakukan acara-acara menarik untuk anak-anak bersama rekan-rekan sebayanya, dirumah. (Acara anak-anak seperti syukuran kecil-kecilan, pemberian hadiah kepada anak dihadapan rekan-rekannya, pengajian anak-anak, dst..)
14.Pemberian hadiah menarik atas setiap prestasi setiap anak dihadapan rekan-rekan sebayanya seperti : Rajin ke masjid selama sebulan, khatam Al Qur’an, baru pandai membaca Al Qur’an, menghafal beberapa surah, puasa Ramadhan secara sempurna, prestasi di sekolah, prestasi di TPA, rajin kepada ibu dan bapaknya, dst..
15.Mengadakan perpustakaan keluarga yang berisi mushaf sejumlah anggota keluarga, buku-buku Islam, bulletin da’wah, lembaran da’wah, majalah dan tabloid Islam, Koran, dst..
Perpustakaan ini diaktifkan dengan penataan yang rapih, kontrol dan motivasi untuk membaca.

Modal Rumah Tangga :
1.Cinta tulus yang diungkapkan dan senantiasa diperbaharui. (perhatian, penerimaa maaf).
2.Aqidah Islamiyah yang bertumpuh pada tauhid yang suci. ( Tidak ada azimat, tidak pergi ketukan Ramal, tidak ada sihir, tidak ada hasad, tidak ada kultus individu, tawakkal yang kuat, syukur, shabar, dst )…
3.Perhatian kepada Ilmu Ibadah dan akhlak. (Majelis ta’lim, sekolah, kursus, bimbingan belajar, Ibadah wajib, Ibadah sunnah, tilawah Al-Qur’an, birrul walidaeni, silaturahmi, Ihsanul Jar, menjauhi kawan yang buruk tidak pacaran, dst ).
Dengan modal inirumah tangga berusaha untuk mewujudkantujuan khusus. Dari tujuan khusus RTI berusaha mewujudkantujuan umum. Untuk mewujudkan modal ini, diperlukan usaha dan sarana.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.