6 Rukun Iman dan Penjelasannya

Rukun iman – Setelah seseorang mengucapkan kalimat syahadat kemudian ia mengamalkan rukun-rukun islam yang lain, maka ia telah dianggap sebagi seorang muslim yang taat sehingga ia pun disebut sebagai seorang muslim.

Setelah seseorang telah muslim, maka tingkatan selanjutnya ialah Mukmin atau orang yang beriman. Untuk mencapai derajat seorang mukmin, yang pertama ialah wajib mengamalkan dan mengimani seluruh rukun iman yang terdiri dari enam perkara yang akan dibahas secara rinci pada tulisan ini.

Pembahasan ini adalah salah satu pembahasan yang sangat penting karena merupakan landasan keimanan, sehingga kita akan bahas secara terperinci setiap bagaian dari rukun iman ini.

Pengertian Rukun Iman

Iman menurut bahasa adalah menetapkan sesuatu karena membenarkannya. Sedangkan menurut istilah ialah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.

Ini merupakan pendapat jumhur ulama atau mayoritas ulama. Imam Syafi’i meriwayatkan ijma para sahabat, tabi’in, dan orang-orang sesudah mereka yang sezaman dengan beliau atas pengertian tersebut.

Iman megandung makna lebih dari sekedar membenarkan. Ia adalah pengakuan yang berkonsekuensi kepada sikap menerima berita dan tunduk kepada hukum.

Adapun rukun diambil dari bahasa arab yang artinya sisi sesuatu yang paling kuat. Sedang yang dimaksud rukun iman adalah sesuatu yang menjadi pilar tegaknya iman.

Rukun iman ini terdiri dari enam perkata, yaitu iman kepada Allah, iman kepada para malaikat, iman kepada kitab kitab Allah, iman kepada para Rasul, iman kepada hari Akhir, dan iman kepada Takdir Allah, yang baik maupun yang buruk.

Seorang muslim wajib mengimani dan mengamalkan keenam rukun iman itu sehingga ia bisa disebut sebagai seorang mukmin. Apabila salah satu dari rukun iman ini ditinggalkan, maka gugurlah keimannya.

Penjelasan 6 Rukun Iman dan Dalil-Dalinya

Pemahaman tentang rukun iman sangatlah penting, sebab ia adalah landasan dan pilar iman. Telah disebutkan di atas bahwa rukun iman terdiri dari 6 perkara, yaitu:

1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada para Malaikat
3. Iman kepada Kitab kitab Allah
4. Iman kepada para Rasul
5. Iman kepada hari Akhir
6. Iman kepada Qada dan Qadar, yang baik maupun yang buruk

Keenam rukun iman ini tidak boleh dipisahkan satu dengan yang lainnya karena bila salah satunya hilang, maka keimanan pun batal.

Berikut ini penjelasan mengenai bagian-bagian dari rukun iman:

1. Iman Kepada Allah

Beriman kepada Allah meliputi empat perkara, yakni:

1. Beriman kepada adanya Allah Azza Wajalla

2. Beriman kepada Rububiyah Allah, yakni beriman bahwa Allah satu-satunya yang menyandang hak Rububiyah

3. Beriman kepada Uluhiyah Allah, yakni beriman bahwa Allah satu-satunya yang berhak dismbah

4. Beriman kepada Asma dan Sifat Allah

Keempat hal di atas menjadi syarat terwujudnya iman. Sehingga tidak boleh hanya mengimani salah satu atau meninggalkan salah satunya.

Barangsiapa yang tidak beriman akan adanya Allah, maka ia tidak beriman atau dengan kata lain dia bukanlah seorang mukmin.

Siapa yang beriman kepada adanya Allah, tapi ia tidak beriman bahwa satu-satunya yang menyandang hak rububiyah atau yang menciptakan segala sesuatu adalah Allah, maka dia bukanlah seorang mukmin.

Barang siapa yang beriman kepada adanya Allah dan juga beriman bahwa Allah satu-satunya yang menciptakan, tapi tidak menyakini bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah, maka ia pun tidak dianggap sebagi orang beriman.

Barangsiapa yang beriman kepada adanya Allah, Rububiyah Allah, Uluhiyah Allah tapi tidak beriman kepada Asma’ dan sifat Allah, maka dia pun tidak dianggap sebagai mukmin.

Terkait dengan tidak beriman kepada Asma dan Sifat Allah, hal ini bisa menghilangkan iman secara total dan bisa juga hanya mengurangi kesempurnaan iman.

Beriman Kepada Adanya Allah

Bukti akan adanya Allah bisa dibuktikan dengan empat dalil, yakni akal, indra, fitrah dan syara’. Empat hal ini semuanya menunjukkan bahwa Allah Azza Wajalla benar-benar ada yang setiap muslim wajib meyakini hal itu.

Dalil akan adanya Allah Ta’ala dan keesaanya sangatlah banyak, diantaranya:

1. Segala sesuatu pasti ada yang menciptakannya atau mengadakannya. Hal ini diyakini oleh semua orang secara fitrah, hingga anak-anak sekalipun.

2. Semua urusan di dunia ini berjalan secara teratur dan rapi adalah salah satu bukti yang kuat bahwa adanya Allah yang maha esa mengatur alam ini.

Masih sangat banyak lagi bukti bahwa Allah benar benar ada. Dialah yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu tanpa bersekutu dengan siapa pun.

Baca Juga:
• Aqidah Imam Syafii Tentang Asmaul Husna

Beriman Kepada Rububiyah Allah

Tauhid Rububiyah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara, yaitu menciptakan, menguasai, dan mengatur.

Pembahasan ini terdiri dari beberapa poin:

1. Penjelasan makna tauhid rububiyah dan kefitrahannya serta pengakuan orang-orang musyrik terhadapnya

2. Penjelasan pengertian kata Ar-Rabb dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta bantahan terhadap mereka yang menyimpang dalam iman kepada Rububiyah Allah

3. Penjelasan tentang tunduknya Alam semesta serta ketaatannya kepada Allah

4. Penjelasan tentang tauhid Rububiyah yang mengharuskan tauhid uluhiyah

Tauhid Rububiyah dan Pengakuan Orang-orang Musyrik Terhadapnya

Sebagaimana yang telah disebutkan diatas, bahwa Tauhid Rububiyah adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam perbuatanNya dengan meyakini bahwa hanya Dia sendiri yang menciptakan segala yang ada di alam ini, Dia yang memberi rezeki, serta penguasa alam dan pengatur semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, Maha kuasa atas segala sesuatu. Pengatur perputaran siang dan malam, yang menghidupkan dan mematikan. .

Allah Azza Wajalla berfirman:

“Allah menciptakan segala sesuatu”

Beriman Kepada Uluhiyah Allah

Tauhid Uluhiyah ialah mengesakan Allah Azza Wajalla dalam ibadah, di mana seorang hamba tidak boleh menyembah selain Allah Ta’ala.

Seorang hamba tidak menyembah selain Allah, baik itu malaikat, Nabi dan Rasul, wali, syaikh, dan apapun selain Allah. Itulah tauhid uluhiyah.

Tauhid uluhiyah disebut juga dengan tauhid ibdah. Jika dilihat dari sisi Allah ta’ala, maka ia disebut tauhid uluhiyah. Bila dilihat dari sisi hamba, maka ia disebut tauhid ibadah.

Ibadah yang dikerjakan hanya boleh ditujukan untuk mengahrapkan ridho Allah, bukan untuk selainnya. Baik ibadah yang sifatnya wajib, maupun yang sifat sunnah.

Ibadah yang dikerjakan niatnya harus benar-benar ikhlas untuk Allah, seperti sholat, puasa, sedeqah, nadzar, kurban, doa, haji, umroh, zakat, tawakkal dan lainnya.

Siapa saja yang mengerjakan suatu ibadah, lalu tujuannya untuk selain Allah atau untuk Allah dan juga untuk selainnya, maka ia telah melakukan kesyirikan yang merupakan dosa paling besar.

Beriman Kepada Asma’ dan Sifat-sifat Allah Azza Wajalla

Makna Tauhid Asma’ wa sifat adalah beriman kepada nama-nama Allah ta’ala dan sifat-sifatnya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut apa yang pantas bagi Allah ta’ala, tanpa ta’wil dan ta’til, tanpa takyif dan tamtsil.

Ta’til adalah menghilangkan makna atau sifat Allah. Tahyif adalah mempersoalkan hakikat asma’ dan sifat Allah dengan bertanya “bagaimana”. Tamtsil adalah menyerupakan Allah dengan makhluknya.

Bagian tauhid asma wa sifat inilah yang paling banyak diperbincangkan. Dalam masalah ini, orang-orang terbagi menjadi tiga golongan:

1. Mumatstsil, yaitu golongan yang menyerupakan sifat Allah dengan makhluk

2. Mu’aththil, yaitu golongan yang menghilangkan makna atau mengingkari sifat Allah

3. Mu’tadil, yaitu golongan yang mengambil jalan yang adil, yaitu jalan tengah

Golongan yang pertama dan kedua bisa mendustakan atau mengubah nama dan sifat yang telah ditetapkan Allah untuk diriNya.

Bid’ah pertama yang muncul di tengah umat ini adalah bid’ah khawarij, yang mana pelopor mereka Dzul Khuwaishirah dari suku Tamim membangkan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa salllam ketika beliau membagikan harta ghanimah kepada kaum muslimin.

Dzul Khuwaishirah pada saat itu berkata kepada Nabi, “Berlaku adillah”. Inilah pembangkangan pertama yang dilakukan dalam syari’at islam.

Seterusnya fitnah mereka semakin besar di akhir masa kekhalifahan Utsman bin Affan dan pada saat terjadi fitnah antara Ali dan Muawiyah Radhiyallahu anhum.

Pada saat itu, orang khawarij mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka untuk dibunuh.

Kemudian muncullah Qadariyah, Majusi dari umat ini yang berkata bahwa perbuatan manusia di luar kehendak Allah dan bukan takdir Allah.

Kelompok ekstrim mereka bahkan mengatakan bahwa perbuatan manusia tidak diketahui oleh Allah, tidak tertulis di lauhul mahfuzh.

Mereka mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan manusia kecuali pada saat perbuatan itu terjadi. Kata mereka, “segala urusan bermula begitu saja tanpa adanya takdir”.

Qadariyah ini muncul di masa akhir periode sahabat, diantara sahabat yang masih hidup saat kemunculan paham ini adalah Abdullah bin Umar, Ubadah bin Ash-Shamit dan lainnya.

Kemudian setelah itu muncullah beberapa golongan-golongan yang sesat seperti mu’tazilah dan lainnya. Mereka semua menyimpang dalam memahami asma’ wa sifat.

Penjelasan yang lebih lengkap terkait persoalan nama dan sifat Allah bisa Anda baca pada pembahasan 99 Asmaul Husna dan Artinya

Baca Juga:
• 99 Asmaul Husna dan Artinya

Iman Kepada Para Malaikat

Beriman kepada malaikat merupakan rukun iman yang kedua, yakni meyakini dengan pasti bahwa Allah ta’ala mempunyai para malaikat yang diciptakan dari cahaya, yang tidak pernah mendurhakai apa yang diperintahkan Allah kepada mereka dan mengerjakan setiap yang Allah perintahkan kepada mereka.

Pengertian Malaikat

Al-Malaa-ikah merupakan bentuk jamak dari malak. Pendapat lain mengatakan bahwa Malaikat berasal dari kata Al-Aluukah yang artinya utusan, karena para Malaikat adalah utusan Allah yang membawa apa yang Dia kehendaki kepada makhlukNya. Pendapat inilah yang dipegang oleh mayoritas ahli bahasa dan para ulama tafsir.

Sedangkan menurut istilah malaikat ialah salah satu jenis makhluk Allah yang Dia ciptakan khusus untuk taat dan beribadah kepadaNya serta mengerjakan semua tugas-tugasNya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Beriman Kepada Malaikat Secara Global

Beriman kepada Allah, Para MalaikatNya, RasulNya, hari Akhir, dan Takdir atau ketetapanNya yang baik dan yang buruk adalah wajib secara global (umum).Tidak sah iman seseorang melainkan dengan mengimani hal tersebut.

Setiap kali ilmu seseorang bertambah mengenai rincian hal-hal tersebut, maka ia pun wajib beriman sesuai dengan kadar ilmu yang dimilikinya. Dengan bertambahnya ilmu seorang muslim, iman akan semakin bertambah pula. (QS.At-Taubah:124)

Wajib beriman kepada malaikat secara global menjadikan ilmu tentang malaikat wajib dipelajari. Karena bagaiamana mungkin seorang hamba bisa beriman dengan benar jika ia tidak memiliki ilmu terkait hal itu.

Beriman kepada para Malaikat secara global mencakup beberapa hal:

1. Mengakui keberadaan para Malaikat dan mengakui bahwa mereka merupakan salah satu makhluk Allah yang diciptakan untuk beribadah kepadaNya, juga meyakini adanya wujud mereka.

Ketidakmampuan kita melihat wujud malaikat, tidak berarti bahwa mereka tidak ada. Malaikat memiliki wujud emskipun tidak terlihat, dan setiap muslim waji mengimani hal itu sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

2. Menempatkan para Malaikat pada kedudukan yang telah Allah tetapkan untuk mereka, juga menetapkan bahwa mereka adalah hamba Allah yang diberi perintah dan kewajiban. Mereka hanya mampu melakukan sesuatu sebatas kemampuan yang Allah berikan.

Setiap muslim wajib meyakini bahwa Allah memuliakan dan meninggikan derajat mereka di sisiNya, bahkan Allah memuliakan sebagian atas sebagian yang lain.

Meskipun demikian, para malaikat tidak mampu melakukan sesuatu bagi diri mereka maupun dengan yang lain, kecuali dengan izin Allah Azza Wajalla.

Oleh karena itu, kita tidak boleh menyandarkan suatu bentuk ibadah kepada mereka, apalagi sampai menyifati mereka dengan sifat-sifat uluhiyah (ketuhanan) sebagaimana yang dilakukan orang-orang nasrani.

3. Beriman kepada apa yang terkait dengan para malaikat sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

4. Beriman kepada nama-nama Malaikat yang telah disebut Allah. Setiap muslim wajib mengakui dan meyakini bahwasanya Allah azza wajalla memiliki Malaikat-Malaikat, diantaranya adalah Jibril, Mikail, dan Israfil.

Mengimani keberadaan Malaikat yang namanya telah Allah sebutkan adalah wajib, sedangkan malaikat yang namanya tidak Allah sebutkan, maka wajib mengimaninya secara global.

Penciptaan Malaikat

Pembahasaan mengenai penciptaan malaikat akan dibagi menjadi tiga, yaitu materi penciptaan malaikat, waktu penciptaan malaikat, dan hikmah diciptakannya malaikat.

Materi Penciptaan Malaikat

Allah Azza Wajalla menciptakan Malaikat dari cahaya sebagaimana ditegaskan dalam shahih muslim. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

خلقت الملائكة من نور وخلقت الجان من مارج من نار وخلقت آدم مما وصف لكم

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari kobaran api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepada kalian”.

Cahaya yang menjadi materi penciptaan Malaikat tidak lain juga adalah makhluk ciptaan Allah Ta’al. Allah terlebih dahulu menciptakan cahaya, setelah itu Ia menciptakan Malaikat dari cahaya tersebut.

Demikian juga Allah menciptakan api, baru kemudian Dia ciptakan jin dari api itu, seperti halnya pula ketika Allah ta’ala menciptakan tanah, baru kemudian Dia menciptakan Adam alaihis salam darinya.

Dalil-dalil dan riwayat, serta pendapat mengenai penciptaan malaikat sangat banyak. Dari riwayat-riwayat tersebut terdapat beberapa perbedaan dalam hal materi penciptaan malaikat. Namun, kesimpulannya bahwa materi penciptaan malaikat adalah cahaya.

Adapun perincian lainnya yang disebutkan dalam beberapa riwayat, kesemuanya tidak shohih dan tidak boleh diamalkan ataupun diyakini. Sebaliknya, wajib bepegang pada nash-nash yang shohih tanpa menambah atau menguranginya.

Waktu Penciptaan Malaikat

Al-Qur’an maupun hadits tidak menyebutkan atau menjelaskan waktu penciptaan malaikat. Beberapa hadits hanya menjelaskan waktu penciptaan Adam alaihis salam dan makhluk lainnya tanpa menyebutkan waktu penciptaan malaikat.

Hikmah Diciptakannya Malaikat

Adapun hikmah diciptakannya para malaikat ialah untuk beribadah kepada Allah Azza Wajalla. Mereka tidak berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya, yaitu sebagai hamba Allah. (Qs.Al-Anbiya’:26-29)

Terdapat banyak nash, baik dari Al-Qur’an maupun dari As-Sunnah yang menunjukkan bahwa para Malaikat memiliki kewajiban untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dengan jumlah yang sangat banyak dan tidak akan sanggup dilakukan oleh manusia.

Jumlah Malaikat

Malaikat jumlahnya sangat banyak, sebagaimana yang ditunjukkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hanya Allah Ta’ala yang mengetahui jumlah mereka. (QS.Al-Muddatsir:31)

Ada banyak dalil yang menjelaskan akan banyaknya jumlah para malaikat dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Semata. Salah satunya adalah hadits tentang Isra’ dan Mi’raj. Rasulullah bersabda:

فرفع لي البيت المعمور فسألت جبريل فقال: هذا البيت المعمور يصلي فيه كل يوم سبعون ألف ملك إذا خرجوا لم يعدوا إليه آخر ما عليهم

“Aku pun naik ke Baitul Mkmur. Kemudian, aku bertanya kepada Jibril dan dia menjawab: ‘Ini adalah Baitul Makmur. Setiap hari terdapat 70.000 Malaikat yang sholat di dalamnya. Jika mereka keluar darinya, maka mereka tidak kembali ke dalamnya’”. HR. Al-Bukhori

Bahkan dalam sebuah hadits Nabi shallallahu alihi wa sallam menjelaskan bahwa beliau mendengar suara rintihan dari langit disebabkan beratnya para malaikat dan jumlah mereka yang sangat banyak. Silahkan lihat hadits riwayat Ahmad (V/173), At-Tirmidzi (IV/556) dan Al-Hakim (IV/579)

Dalam hadits tersebut, Nabi juga mengatakan bahwa tujuh lapis langit dipenuhi oleh para Malaikat, hingga tidak ada tempat seluas empat jari tangan melainkan di sana terdapat malaikatyang sedang beribadah kepada Allah Ta’ala.

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud:

يؤتى بجهنم يومئذ لها سبعون ألف

“Pada hari kiamat, didatangkanlah Jahannam. Ia memiliki 70.000 pengikat. Setiap talinya ditarik oleh 70.000 Malaikat”.

Hadits menunjukkan betapa banyaknya jumlah Malaikat yang detailnya hanya Allah Azza Wajalla semata yang mengetahuinya.

Nama Nama Malaikat

Nama-nama Malaikat alaihissalam telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan beberapa nama umum dan khusus.

A. Nama-nama Umum Malaikat

1. Ar-Rusul (Utusan)

Allah Azza Wajalla menamai Malaikat dengan Ar-Rusul atau para utusan dalam banyak ayat, diantaranya ialah firman Allah Ta’ala dalam QS.Al-Hajj ayat 75, QS.Fathir ayat 1 dan QS.Adz-Dzariat ayat 31-33

2. As-Safarah (Duta)

Allah Azza Wajalla juga menamai para Malaikat dengan As-Safarah atau Duta, sebagai firman Allah Ta’ala dalam QS.Abasa ayat 15-16 dan dalam hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori (IV/1882) dan Muslim dalam shohihnya (1/55)

3. AL-Junuud (Pasukan)

Malaikat juga dinamai dengan AL-Junud atau pasukan, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam QS.At-Taubah ayat 26, QS.At-Taubah ayat 40, QS.Al-Ahzab ayat 9 dan juga dalam beberapa hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

4. Al-Malaul a’laa (Kelompok yang mulia dan tinggi)

Allah Azza Wajalla juga menamai para Malaikat dengan Al-Malaul a’laa, sebagaimana firmanNya dalam QS.Ash-Shaffat ayat 8 dan QS.Shaad ayat 69

5. Al-Asyhaad (Para Saksi)

Salah satu nama umum lain bagi Malaikat yang disebutka dalam Al-Qur’an adalah Al-Asyhad. Alah Azza Wajalla berfirman dalam QS.Hud ayat 18 dan QS.Al-Mukmin ayat 51

Ibnu Katsir berkata, “AL-Asyhad adalah Malaikat”

Demikianlah beberapa diantara nama-nama Malaikat secara umum yang dijelaskan oleh Allah Azza Wajalla dalam Al-Qur’an.

B. Nama-nama Khusus Maliakat

Nama-nama Malaikat yang bersifat khusus, jumlahnya lebih sedikit dibandingkan jumlah Malaikat itu sendiri.

1. Jibril

2. Mikail

3. Israfil

4. Malik Penjaga Neraka

5. Malaikat Maut

6. Mungkar dan Nakir

7. Harut dan Marut

8. Ar-Ra’du

Nama-nama yang dinisbatkan kepada Malaikat secara tidak benar

Terdapat beberapa nama yang dinisbatkan kepada Malaikat, namun sebenarnya tidak memiliki sandaran dalil yang shohih. Baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Diantara nama-nama tersebut ialah:

1. Izrail

Sudah mahsyur di tengah-tengah masyarakat umum bahwa izrail adalah nama Malaikat pencabut nyawa. Nama tersebut tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits shohih, namun disebutkan dalam beberapa atsar para Tabiin yang (hal ini) tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.

Oleh karena itu, tidak boleh menamakan Malaikat mau atau Malaikat pencabut nyawa dengan nama izrail karena penamaan tersebut tidak didasarkan oleh dalil yang shohih. Wallahu a’lam.

2. Raqib dan Atid

Sebagian orang berpendapat bahwa Raqib dan Atid adalah nama dua Malaikat, berdasarkan Firman Allah Ta’ala dalam QS.Qaaf ayat 18.

Padahal yang benar adalah nama tersebut merupakan sifat dari kedua malaikat pencatat amal kebaikan dan amal keburukan manusia.

Apakah Iblis Termasuk Malaikat

Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah Iblis termasuk dari golongan Malaikat atau Jin. Sebagian mereka mengatakan bahwa Iblis merupakan salah satu jenis Malaikat yang diciptakan dari api yang sangat panas, sedangkan Malaikat yang lainnya diciptakan dari cahaya.

Mereka berargumen dengan perintah Allah untuk sujud. Seandainya Iblis bukan termasuk malaikat, niscaya ia tidak diperintahkan sujud kepada Adam, serta pasti Allah tidak akan mengingkari perbuatannya yang enggan untuk sujud kepada Adam.

Mereka menegaskan, “Pada prinsipnya, dalam konteks istisna’ (pengecualian), al-mustatsna (sesuatu yang dikecualikan) terdiri dari jenis yang sama dengan al-mustatsna minhu (objek asalnya)”.

Allah mengecualikan Iblis setelah menyebut Malaikat, hal itu menunjukkan bahwasanya Iblis termasuk Malaikat.

Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu Jarir rahimahullah, sebagaimana di dalam tafsirnya. Tafsir Ibnu Jarir (I/502-508), dengan tahqiq muhammad syakir

Ulama yang lainnya berpendapat bahwa, “sesungguhnya Iblis bukanlah Malaikat, tetapi termasuk golongan Jin yang diciptakan dari api, atau api yang sangat panas, atau dari bara api”. Ini berdasarkan firman Allah Azza Wajalla dalam QS.Al-Kahfi ayat 50.

Mereka berkata, “Al-Qur’an menunjukkan bahwa semua Malaikat bersujud kepada Adam, sebagaimana termaktub dalam firman Allah QS.Al-Hijr ayat 30”.

Diantara ulama yang berpegang pada pendapat ini adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Ia berkata, “Yang benar bahwa Iblis termasuk golongan Malaikat Jika dilihat dari segi bentuknya, namun termasuk golongan mereka (Jin) jika dilihat dari asal penciptaannya”. Majmu’ Fatawa (IV/346).

Sifat Sifat Fisik Malaikat

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai materi penciptaan malaikat, yaitu mereka diciptakan dari cahaya. Mereka pun memiliki fisik hakiki yang telah Allah lebihkan dengan beberapa sifat khusus dibanding manusia.

Dalam pembahasan ini insya Allah, akan kita sebutkan sifat-sifat fisik mereka dalam beberapa poin.

1. Fisik dan Kekuatan Malaikat

Malaikat memiliki fisik yang sangat besar dan kekuatan mereka sangat luar biasa. Terdapat banya nash, baik dari AL-Qur’an ataupun As-Sunnah yang menunjukkan bahwa Allah Azza Wajalla telah menciptakan para Malaikat dalam bentuk yang sangat besar dan kuat.

Bentuk fisik malaikat yang sangat besar dengan kekuatan yang luar biasa, sesuai dengan tugas-tugas agung yang Allah perintahkan kepada mereka, baik di langit maupun di bumi.

Terkait dengan fisik dan kekuatan malaikat, Allah ta’ala berfirman dalam QS.At-Tahrim ayat 6, QS.Adz-Dzariyat ayat 31-34, QS.Hud ayat 82, QS.An-Najm ayat 5-6, dan QS.At-Takwin ayat 19-21. Terdapat pula beberapa hadits yang menjelaskan dan menunjukkan akan besarnya fisik dan kekuatan Malaikat.

2. Sayap Malaikat

3. Malaikat tidak Membutuhkan Makan dan Minum

4. Malaikat tidak Menikah dan tidak Memiliki Keturunan

5. Malaikat dapat Berbicara

Kemampuan Malaikat Untuk Menampakkan Diri

Akhlak Malaikat

Allah Azza Wajalla memuliakan para Malaikat dengan menciptakan mereka dengan akhlak yang mulia dan jauh dari akhlak yang tercela. Ini adalah nikmat Allah yang sangat besar untuk hamba-hambaNya.

Para Malaikat alaihissalam memiliki kedudukan yang agung sehingga Allah menganugerahkan kepada mereka akhlak mulia. Diantara dalil yang menyebutkan akhlak para malaikat ialah firman Allah ta’ala dalam QS.Abasa ayat 15-16 dan juga dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah.

Beberapa diantara akhlak para malaikat:

1. Al-Karam (mulia)

Al-Karam adalah akhlak mulia yang mengajak pelakunya kepada setiap kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.

Ibnu Atsir berkata, “Al-Karim adalah orang yang menghimpun berbagai macam kebaikan, kemuliaan, dan keutamaan”.

2. Al-Birr (Baik)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al-Birr mengandung dua makna. Pertama, bermuamalah dan berbuat baik kepada makhluk. Kedua, melakukan segala ketaatan, baik yang bersifat lahir maupun batin”.

Kedua makna dari Al-Birr tersebut terdapat pada diri Malaikat. Malaikat berlaku ihsan (baik) dalam ibadahnya dan taat kepada Allah. Mereka tidak mendurhakai Allah dan selalu mengerjakan apa yang Dia perintahkan kepada mereka.

Mereka juga berlaku ihsan terhadap makhluk Allah dan mencintai orang-orang mukmin. Kebaikan mereka kepada orang-orang mukmin sangatlah banyak. Diantaranya ialah:

a. Doa dan permohonan ampun Malaikat kepada orang mukmin

b. Wahyu yang mereka bawa dari langit kepada para Nabi dan Rasul yang di dalam terdapat kebaikan dunia dan akhirat

c. Syafaat mereka pada hari kiamat bagi orang yang mengesakan Allah

Intinya, Al-birr atau berlaku ihsan merupakan keutamaan dan salah satu sifat mulian yang dimiliki oleh Malaikat.

3. Tawadhu

Salah satu akhlak mulia yang dimiliki Malaikat adalah sifat tawadhu terhadap kebenaran dan kepada makhluk, serta tidak bersikap sombong.

4. Malu

Sifat malu merupakan salah satu akhlak mulia yang bahlan merupakan bagian dari iman. Akhlak mulia ini juga terdapat pada diri Malaikat alaihissalam.

Melihat Malaikat

Nabi shallallahu alaihissalam pernah melihat Malaikat dalam bentuk aslinya sebagaimana Allah menciptakannya sebanyak dua kali, sebagaimana yang ditunjukkan oleh beberapa dalil.

Rasululllah juga pernah melihatnya beberapa kali dalam bentuk seorang laki-laki dan terkadang pula Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihatnya dalam bentuk Dihyah Al-Kalbi.

Melihat Malaikat dalam bentuk aslinya sebagaimana Allah menciptakannya, tidak pernah terjadi pada seorang pun selain Rasulullah, termasuk para sahabat juga tidak pernah melihat wujud asli Malaikat.

Adapun melihatnya dalam bentuk manusia, hal itu pernah terjadi sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits.

Mengenai melihat Malaikat dalam mimpi, hal itu mungkin saja terjadi. Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga pernah mengalami hal tersebut, dan mimpi para Nabi adalah pasti benar.

Melihat Malaikat dalam mimpi juga pernah dialami oleh seorang laki-laki selain Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Abdullah bin Umar. Al-Bukhori (I/1070), kitab At-Tahajud, Bab Fadhlu Qiyamul Lail. Wallahu a’lam

Kematian Malaikat

Allah maha Agung dan maha Sempurna. Salah satu diantara bentuk keagungan dan kesempurnaan Allah ialah kekekalan hanya milikNya.

Dari sejumlah dalil yang terkait dengan hal ini, tampaklah bahwa malaikat sama dengan manusia dan jin. Mereka akan mati, lalu kemudian dibangkitkan kembali.

Adapun apakah mereka mati sebelum tiupan sangkakala seperti manusia dan jin, atau apakah setelah sangkakala mulai ditiup, maka tidak ada dalil yang menjelaskan hal tersebut, sehingga yang terbaik adalah tidak membahasnya. Wallahu a’lam.

Ibadah Malaikat dan Perbuatannya

Allah menciptakan para malaikat dan memberikan kuasa kepada mereka untuk melaksanakan tugas-tugas mulia terhadap makhlukNya yang berada di langit dan bumi.

Allah menugaskan mereka untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang sangat banyak lagi agung, selaras dengan apa yang Allah karuniakan kepada mereka, yakni berupa kekuatan fisik yang sangat luar biasa.

Allah ta’ala menciptakan serta memberi mereka kekuatan untuk melaksanakan ibadah-ibadah dan tugas-tugas tersebut, agar urusan langit dan bumi berlangsung dengan baik. Allah azza wajalla juga melindungi mereka dari perbuatan maksiat.

Macam Macam Ibadah Malaikat

Allah memuliakan para Malaikat dan membebani mereka dengan berbagai macam ibadah. Ada banyak jenis ibadah yang Allah tugaskan kepada mereka, diantaranya:

1. Dzikir, Tasbih dan Doa

Dzikir, doa dan tasbih merupakan ibadah yang paling populer di kalangan para Malaikat. Hal itu banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, diantaranya firman Allah dalam QS.Al-Baqarah ayat 30, QS.Al-Baqarah ayat 32, QS.Asy-Syura ayat 5, dan lainnya.

Kebanyakan ayat mengenai Malaikat menunjukkan bahwa mereka bertasbih kepada Allah dengan maengatakan, “Mahasuci Allah dan Maha Terpuji”.

Sifat ini sangat dicintai Allah ta’ala. Oleh karena itu, Dia memilih sifat ini bagi para Malaikat untuk bertasbih mensucikanNya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah. Lihat Al-Bukhori (VI/2749), ini adalah hadits terakhir dalam kitab ini.

Adapun doa para Malaikat untuk orang-orang mukmin, hal itu telah disebutkan dalam banyak nash Al-Qur’an, baik itu yang bersifat umum untuk seluruh kaum muslimin, ataupun yang bersifat khusus untuk sebagian orang karena ia melakukan sebuah perbuatan baik.

2. Menghadiri Majelis-majelis Dzikir dan Khutbah Jum’at

Hal telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan dari Abu Hurairah. Lihat Al-Bukhori (IV/2353, no.6045) dan Muslim (IV/2170) dalam kitab “Adz-Dzikr wad Du’a”

3. Menghadiri Sholat di Masjid Masjid dan Mengucapkan Apa yang Diucapkan Oleh Makmum

Banyak nash dari Al-Qur’an maupun Hadits yang menjelaskan bahwa Malaikat menghadiri sholat di masjid-masjid. Mereka juga selalu berkumpul pada setiap sholat subuh dan sholat ashar.

Menghadiri sholat jamaah yang dilakukan oelh kaum muslimin di masjid merupakan salah dari ibadah para Malaikat.

4. Bersholawat

Sholawat dari para Malaikat ada yang berkaitan dengan dzikir yang berarti doa, seperti halnya sholawat mereka kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam firman Allah QS.Al-Ahzab ayat 56.

5. Megucapkan Salam

Menyebarkan salam dalam syariat islam adalah hal yang disukai atau disunnahkan dan sangat dianjurkan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan untuk melakukannya dalam banyak hadits.

Malaikat juga mengucapkan salam kepada kaum muslimin sebagaimana mereka mengucapkan salam kepada Nabi Adam alaihissalam. Demikian juga ucapan salam mereka kepada Nabi Ibrahim, serta ucapan salam mereka kepada Khadijah dan Aisyah melalui Nabi Shallallahu alihi wa sallam.

6. Khauf (khawatir) dan Khasy-yah (takut)

Buah Beriman Kepada Malaikat

Beriman kepada Malaikat memiliki faedah yang sangat besar dan buah yang sangat mulia yang dapat dirasakan oleh manusia di dunia dan di akhirat.

Setiap pengetahuan seorang terhadap kondisi mereka bertambah maka bertambah pula keimanannya.

1. Kebenaran Iman

Siapa saja yang beriman kepada Malaikat, berarti telah memenuhi satu rukun dari 6 rukun iman dan dia wajib memenuhi rukun-rukun lainnya. Allah tidak menerima iman seseorang terhadap satu rukun iman, kecuali dengan beriman kepada rukun iman lainnya.

2. Mengagungkan Allah ta’ala serta mengesakanNya dalam Rububiyah, Uluhiyah, serta Asma’ dan SifatNya

3. Mengetahui berbagai rahasia alam dan makhluk sehingga dapat menambah keimanan di ahri seorang mukmin

4. Mendaparkan keimanan dan ketenangan

5. Mencintai amal sholih dan tempat-tempat yang mulia

6. Membenci maksiat dan segala yang dibenci Malaikat

7. Memperbaiki amal perbuatan dengan mencontoh Malaikat

8. Banyak berdzikir dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang agung ini

Demikianlah ulasan mengenai iman kepada Malaikat yang merupakan salah satu rukun iman, yang mana iman seorang hamba tidak akan diakui oleh Allah ta’ala hingga ia meyakini dan mengamalkan semua rukun iman, termasuk iman kepada Malaikat.

Rukun Iman Ketiga: Iman Kepada Kitab Kitab Allah

Iman kepada Kitab Allah, baik Al-Qur’an ataupun kitab-kitab Allah yang lainnya merupakan rukun iman yang ketiga. Barangsiap yang mengingkarinya, maka imannya batal karena jika salah satu rukun iman gugur maka iman pun batal.

Mengingat pentingnya beriman kepada kitab-kitab Allah sebagai salah satu dari rukun iman, maka memahami kitab-kitab Allah dan hal-hal yang terkait dengan juga menjadi sebuah kewajiban.

Pengertian Kitab-kitab Allah

Secara bahasa, kutuub adalah bentuk jamak dari kitaab. Sedangkan kitaab adalah mashdar yang digunakan untuk menyatakan sesuatu yang ditulisi di dalam. Ia pada awalnya adalah nama shahifah atau lembaran bersama tulisan yang ada di dalamnya.

Sedangkan menurut syariat, kutuub adalah kalam atau Allah yang diwahyukan kepada RasulNya agar mereka menyampaikannya kepada manusia dan yang membacanya bernilai ibadah.

Wajibnya Beriman Kepada Kitab Kitab Allah

Beriman kepada kitab-kitab Allah adalah salah satu rukun iman yang enam. Maksud dari beriman kepada kitab-kitab Allah ialah membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah Azza Wajalla mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada hamba-hambaNya dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang jelas.

Setiap muslim wajib meyakini bahwa, kitab-kitab tersebut adalah kalam atau perkataan Allah yang difirmankan dengan sebenarnya, seperti yang ia kehendaki dan menurut apa yang ia inginkan.

Dalil-dalil Wajibnya Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah

Iman kepada Kitab-kitab Allah wajib secara global dalam hal yang memang bersifat umum, dan wajib beriman secara khusus dalam hal yang dirincikan.

Pembahasan ini terdiri dari beberapa bagian yang akan dijelaskan secara rinci bersama dengan dalil-dalinya.

Pertama: Dalil Wajibnya Beriman Kepada Kitab Allah Secara Global

1. Firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 136

2. Firman Allah Azza Wajalla dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 285

3. Firman Allah Azza Wajalla dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 136

4. Sabda Rasulullah shallallahu alihi wa sallam dalam hadits Jibril alaihissalam

Kedua: Dalil Wajibnya Beriman Kepada Kitab Allah Secara Rinci

Setiap muslim wajib mengimani secara rinci Kitab-kitab yang sudah disebutkan namanya oleh Allah azza wajalla, yakni Al-Qur’an dan kitab-kitab yang lain.

1. Shuhuf Ibrahim dan Musa.

Allah azza wajalla menjelaskan hal ini dalam firmannya QS.An-Najm ayat 36-37 dan QS.Al-A’la ayat 18-19

2. Taurat

Taurat adalah kitab yang diturunkan Allah ta’ala kepada Nabi Musa alaihissalam. Allah azza wajalla berfirman dalam QS.Al-Maidah ayat 44 dan QS. Ali Imran ayat 2-4

3. Zabur

Zabur adalah kitan yang Allah turunkan kepada Nabi Daud alaihissalam. Allah ta’ala berfirman dalam QS.An-Nisa ayat 163

4. Injil

Injil adalah kitan yang Allah turunkan kepada Nabi Isa alaihissalam. Allah ta’ala berfirman dalam QS.Surat Al-Maidah ayat 46

Beriman kepada kitab-kitab diatas yang telah Allah sebutkan dalam Al-Qur’an hukumnya wajib, yakni mengimani bahwa kitab-kitab tersebut adalah kitab yang Allah turunkan kepada hamba pilihannya yang berisi petunjuk dan hidayah.

Semua kitab-kitab tersebut berisi petunjuk dan mengajak untuk mengesakan Allah dalam ibadah. Meskipun setiap kitab yang Allah turunkan syariatnya berbeda, namun ushulnya tetaplah sama.

Ketiga: Kitab-kitab yang ada Pada Ahli Kitab

Sesungguhnya apa yang ada di tangan ahli kitab yang mereka namakan sebagai Kitab Taurat dan Injil dapat dipastikan bahwa hal itu tidaklah benar penisbatannya kepada para Nabi Allah.

Oleh karena itu, tidak bisa dikatakan bahwa taurat yang ada sekarang merupakan taurat yang dahulu diturunkan kepada Nabi Musa alaihissalam.

Demikian juga dengan Injil, yang ada sekarang bukanlah Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa alaihissalam.

Taurat dan Injil yang ada sekarang bukanlah kedua kitab yang Allah perintahkan mengimaninya secara rinci.

Mengimani apa yang ada dalam Taurat dan Injil saat ini tidak diperbolehkan, kecuali apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an lalu dinisbatkan kepada keduanya.

Kedua kitab tersebut telah dinasakh (dicabut masa berlakunya) dan diganti dengan Al-Qur’an. Alah ta’ala menyebutkan terjadinya pengubahan dan pemalsuan terhadap keduanya di lebih dari satu tempat dalam Al-Qur’an.

Allah ta’ala berfirman dalam QS.Al-Baqarah ayat 75 dan Al-Maidah ayat 13-15

Diantara bentuk perubahan yang dilakukan Ahli Kitab adalah penisbatan anak kepada Allah. Mahasuci Allah dari yang mereka katakan. QS.At-Taubah ayat 30

Keempat: Al-Qur’an Al-Karim

Al-Qur’an adalah kalam atau perkataan Allah azza wajalla mu’jiz yang diturunkan kepada RasulNya Muhammad dalam bentuk wahyu, yang ditulis di dalam mushaf dan dihafal di dalam dada, yang dibaca dengan lisan dan di dengar dengan telinga, yang dinukil secara mutawatir, tanpa ada keraguan dan membacanya dinilai ibadah.

Al-Qur’an adalah kalam Allah

Pemeliharaan Allah Terhadap Al-Qur’an

Menantang dengan Al-Qur’an

Rukun Iman Keempat: Beriman Kepada Para Rasul

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.