Tiada Hari Tanpa Peningkatan

Alhamdulillah, pekan pertama dari bulan mulia ramadhan telah kita jalani dengan segenap pengorbanan mulia yang sangat membahagiakan.

Kita memang telah bertekad untuk mengoptimalkan momentum bulan pembinaan ini agar kita semakin shaleh, semakin dekat dengan Allah swt.

Pendakian ramadhan ini masih panjang, menuju kepribadian taqwa haqqa tuqatih. Selama ini, masih banyak waktu yang terbuang sia sia.

Meningkatkan Kualitas diri

Masih banyak potensi diri yang belum dioptimalkan di jalan Allah. Masih sering lupa berniat ikhlas. Khusyu’ masih rendah. Muraqabah (merasakan pengawasan Allah) sering terabaikan.

Masih sering marah yang negatif. Masih malas membaca buku Islam. Masih belum berani menyampaikan nasehat kepada sesama amuslim.

Pokoknya, masih sangat banyak yang perlu kita perhatikan, agar kita benar-benar merasa mendaki ke puncak keshalehan.

Alangkah ruginya orang yang belum merasa mendidik dirinya pada bulan pendidikan ini. Itu berarti ia menjalani bulan istimewa ini dengan biasa-biasa saja, bahkan dengan kelalaian. Na’udzubillah.

Alangkah sedihnya kita menyaksikan orang yang belum memperlihatkan kesungguhan bertaubat dan kerja keras beribadah pada bulan rahmat ini.

Karena itu, kita dihimbau untuk saling menasehati, saling mengingatkan, agar kita dapat bersama sama mereguk nikmatnya iman.

Problem Kepribadian

Problem kepribadian yang dirasakan oleh banyak muslim ialah: mudah lalai. Dalam banyak bukti, dapat dikatakan bahwa secara umum kita memang pelupa. Mudah melupakan nasehat.

Cepat melupakan dosa dosa. Sangat mudah melupakan kematian. Cepat melupakan kebaikan-kebaikan orang lain. Sangat cepat melupakan hafalan hafalan Al-Qur’an.

Semua itu lebih banyak disebabkan oleh cinta kita yang sangat besar kepada dunia.

Karena itu, kita harus mencanangkan strategi kepribadian yang yang sangat mendasar, yaitu: Kurangi rasa cinta kepada dunia!

Mari kita renungkan firman-firman Allah swt:

1. QS: Al-’Adiyat: 6-8
2. QS: Al-Isra’: 83
3. QS: Asy-Syura: 27

(tolong tulis ayat2 ini & terjemahnya masing masing secara lengkap)

Ayat-ayat mulia ini menjelaskan bahwa kecintaan manusia kepada harta, membuat mereka ingkar kepada Allah swt.

Karena itu, maka kecintaan kepada harta dalam seluruh bentuknya, harus dikurangi, agar semakin rendah rasa ketergantungan kita kepada selain Allah swt.

Agar semakin khusyu’lah kita setiap kali kita mengucapkan takbir: Allahu Akbar! Agar semakin nikmatlah iman kita kepada Allah swt.

Cinta dunia yang berlebihan bersumber dari kelemahan iman. Kelemahan iman bersumber dari rendahnya ilmu iman kita.

Selain itu, rendahnya penghayatan amal ibadah yang kita laksanakan, juga turut berperan dalam kelemahan iman kita.

Sehingga pola pikir imani kita perlu dengan sungguh-sungguh dibangun atas dasar ilmu iman yang benar, ilmu tauhid yang murni, ilmu ibadah yang sahih, ilmu akhlak yang mulia.

Ilmu-ilmu inilah yang diharapkan dapat membentuk visi dan misi kepribadian yang benar dan jelas: Mempersembahkan segenap aktifitas, jiwa dan raga, pikiran dan perasaan, hidup dan mati, hanya kepada Allah swt semata.

1. QS: Al-An’am: 162-163, (tolong tulis ayat&terjemahnya)

Pentingnya Lingkungan dan Sahabat yang baik

Setelah itu, kita melakukan mujahadah tiada henti, optimalisasi ibadah tiada akhir, kesungguhan beramal shaleh tiada pernah merasa cukup, dengan senantiasa menghadirkan niat ikhlas dan rasa khusyu’.

Di sinilah kita memerlukan lingkungan yang baik. Sahabat yang shaleh, bahkan sebaiknya yang lebih shaleh.

Di sinilah kita memerlukan kehadiran ustadz yang mengamalkan ilmunya. Di sinilah kita memerlukan pengajian yang rutin dan efektif.

Di sinilah kita membutuhkan motivator yang selalu mengingatkan, menghibur dan menguatkan kita.

Di sinilah pentingnya sifat tawadhu’, agar kita dapat mengambil pelajaran dari siapa saja, di mana saja.

Pergaulan kita perlu ditata ulang agar dapat sejalan dengan peningkatan iman kita. Para sahabat dan kawan kita perlu diseleksi kembali, agar mereka semua dapat menjadi pembawa berkah dalam hidup kita.

Bahkan sebaiknya kita mencari sahabat baru yang lebih shaleh, mencari lingkungan pergaulan baru yang lebih kondusif untuk peningkatan keshalehan kita.

Bulan mulia ramadhan adalah saat yang paling tepat untuk melakukan semua itu. Mari kita mulai dengan membiasakan berlama lama di masjid dengan niat i’tikaf.

Ikhlaskan niat, lakukan introspeksi total terhadap seluruh aspek kepribadian kita dan seluruh etape perjalanan hidup kita.

Perbaharui taubat nashuha, perbanyak istighfar, perpanjang dzikir dan do’a, teruskan dan ulang-ulangi tilawah Al-Qur’an.

Perbanyak membayangkan kematian dan suasana akhirat. Dekati para jamaah di masjid.

Jalin keakraban dengan mereka. Hidupkan rasa ukhuwah Islamiyah. Bagilah rezeki dengan mereka.

Bantulah mereka yang paling memerlukan bantuan kita. Ambil pelajaran dari setiap mereka dengan cara yang cerdas.

Pokoknya, setiap hari harus ada peningkatan keshalehan, kalau kita benar-benar bertekad menjadikan bulan ini benar-benar istimewa dalam hidup kita. Fastaqim (beristiqamahlah)!

Oleh: Ustadz Mudzakkir arif, MA

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.