Tigkat Kebahagiaan Setara Dengan Tingkat Kesulitan Mencapainya

Tingkat Kebahagiaan – Jiwa adalah harta termahal. Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri, lahir dan batin. Itulah kekayaan sejati.

Banyak orang kaya harta , tapi mukanya muram. Banyak orang yang miskin uang, tapi wajahnya berseri. Kebahagiaan memang bukan ditentukan oleh harta, tapi oleh jiwa yang ada didalam diri.

Kebahagiaan yang datang dari luar kerapkali hampa, palsu. Orang yang mengalami kondisi itu kerapkali ragu, syok, cemburu, putus harapan.

Sangat gembira jika dihujani rahmat, lupa bahwa hidup ini berputar-putar. Sangat kecewa jika ditimpa bahaya. Lupa bahwa kesenangan terletak diantara dua kesusahan dan kesusahan terletak diantara dua kesenangan. Ia juga lupa dalam senang itu tersimpan kesusahan dan dalam kesusahan telah ada unsur kesenangan.

Bertambah banyak kesenangan dan kebahagiaan yang datang dari luar diri, bertambah miskinlah orang yang diperdayakan. Ketika memperoleh pendapatan kecil, keperluan untuk menjaga yang kecil itu, itu juga kecil.

Setelah besar, berangsur besar juga keperluannya. Bertambah luas, bertambah luas pula penjagaan yang diperlukan. Karena itu, bayak orang kaya secara lahir, tapi miskin pada hakikatnya, disini nyatalah arti kekayaan dan kemiskinan.

Orang Kaya Yang Sebenarnya

tingkat kebahagiaan seorang muslim

Orang yang paling kaya, ialah yang paling sedikit keperluannya. Dan orang yang paling miskin ialah yang paling banyak keperluannya.

Kalau bahagia adalah barang yang datang dari luar, tak satupun mahluk yang kaya. Semua miskin belaka. Yang kaya hanya Allah Tuhan Semesta Alam.

Apakah kita silau melihat seorang penguasa dan pengawalnya yang banyak, pendukungnya yang banyak, istananya yang megah, harta bendanya yang mewah?

Tertipukah kita dengan penjagaan yang dilakukan oleh para pendukung penguasa itu? Tertipukah kita dengan mobil dan kendaraan yang bisa dipakai setiap saat? Jangan tertipu.

Kesengsaraan Sebagian dari orang kaya harta

penyebab kesengsaraan

Orang-orang kaya itu meskipun berpangkat dan kaya harta, boleh jadi menanggung kesengsaraan batin yang tiada terkira. Harta benda yang mahal harganya itu meskipun berharga, lama- lama dipandang sebagai pasir karena ia sudah sering menggunakannya dan membosankan.

Itulah sebabnya banyak orang kaya yang mencari kebahagiaan hidup di pedesaan atau menyendiri. Bahkan ada juga yang ingin lekas mati untuk menemui ni’mat yang abadi.

Hidup kita hanyalah pertempuran dan perjuangan. Dinamakan manusia, karena ia tidak akan sunyi dari kelemahan dan kesalahan.

Jika sejak lahir sampai masuk kubur, kita suci, bebas dari salah dan alpa, tentu tidak layak kita jadi manusia. Sebab yang seperti itu adalah tabi’at Malaikat. Kita, manusia, pasti merasakan nikmatnya istirahat sesudah lelah bekerja.

Kita juga pasti merasakan kelezatan terhadap Tuhan kelak diakhirat sehabis bertempur denagan ranjau-ranjau hidup sepanjang usia kita.

Orang yang takut menghadapi hidup, tidak akan berani menggosok dan mensucikan batinnya. Iajuga tidak akan merasakan arti kelezatan dan kebahagiaan yang hakiki.

Tak ada kebahagiaan yang dicapai oleh seseorang yang tidak menempuh berbagai kesulitan. Jika ada seorang pemuda mendapat kekayan karena warisan, ia tidak akan merasakan ni’matnya harta warisan itu sebagimana ni’mat yang dirasakan ayahnya tatkala ia hidup dengan usaha sendiri.

Seorang pahlawan, mencapai titel pahlawan, dengan darah dan senjata. Seorang pejabat, pemimpin negara dan sebagainya, Padahal mereka mencapai posisi itu dengan susah payah.

Akhir Kata

Begitulah kebahagiaan hakiki datang dari dalam diri, yakni kebahagiaan batin. Mencapai kebahagiaan batin harus melaui kesungguhan untuk mensucikan jiwa.

Dan kesungguhan mensucikan jiwa itu sulit. Tapi hasil kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh, akan serata dengan sejauh mana tingkat kesungguhan dan kesulitan yang kita lalui untuk memperoleh kebahagiaan itu.

بقد الكد تكتسب المعالي

Oleh: Ustadz Mudzakkir Arif, MA

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.