Kisah Umar bin Abdul Aziz

Umar Bin Abdul Aziz – Kali ini kita akan membahas biografi seorang khalifah yang zuhud, imam, ahli ibadah, yakni Umar bin Abdul Aziz rahimahullah.

Bila kita bersikap obyektif, niscaya biografi beliau pantas ditulis di awal-awal dari buku yang menjelaskan biografi para ulama, karena beliau lebih utama dalam kemulian daripada sejumlah tokoh sebelumnya.

Beliaulah Pembaharu pertama dalam agama islam di penghujung seratus tahun pertama, orang yang paling harum perjalanan hidupnya, dan paling mulian hatinya.

Beliau memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezhaliman. Beliau memenuhi bumi dengan keadilan dalam masa kepemimpinannya yang hanya berjalan dua tahun lima bulan.

Dan tidak ada orang yang membaca sejarah imam ini, lalu hatinya tidak dipenuhi dengan kecintaan kepadanya, karena beliau telah menghimpun berbagai keutamaan dan hatinya jauh dari kelalaian dan kehinaan.

Nama Lengkap Umar Bin Abdul Aziz

Beliau adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Mannaf bin Qushai bin Kilab, Seorang Imam, hafizh, allamah, mujtahid, ahli zuhud, ahli ibadah, sayyid, Amirul Mukminin.

Nama panggilan beliau adalah Abu Hafs, AL-Quraysi, Al-Umawi, Al-Madani, Kemudian Al-Mishri, Seorang khalifah yang zuhud, lurus dan digelari Al-Asyaj yaitu yang terdapat tanda bekas luka di wajahnya dari kalangan bani Umayyah.

Kelahiran Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz dilahirkan di Hulwan, sebuah desa di Mesir. Ayahnya adalah Gubernur di sana pada tahun 61 (Ada yang mengatakan tahun 63) dan ibunya adalah Ummu Ashim bin Ashim bin Umar bin Al-Khatthab.

Al-Fallas mengatakan, Aku mendengar Al-Khurabi mengatakan, ‘A-Amasy, Hisyam bin Urwah, Umar bin Abdul Aziz, dan Thalhah bin Yahya dilahirkan pada tahun terbunuhnya Husain, yakni tahun 61 H. Lihat siyar A’lam An-Nubala 5/115

Ciri-Ciri Fisik Umar bin Abdul Aziz

Said bin Ufair Mengatakan, “Ia berkult cokelat, berwajah lembut, menawan, bertubuh kurus, berjenggot bagus, bermata lebar, pada wajahnya terdapat bekas luka tendangan kuku (kaki) hewan”.

Hamzah in said mengatakan, “Umar bin Abdul Aziz pernah masuk ke kandang milik ayahnya dia masih kecil, maka dia ditendang seekor kuda hingga membuat kepala terluka. Ayahnya pun mengusap darah darinya seraya berkata, ‘jika engkau adalah orang yang kepalanya terdapat luka dari kalangan bani Umayyah, maka sesungguhnya engkau benar-benar bahagia”. Lihat Siya A’lam An-Nubala, 5/115,116

Perjalanan Menuntut Ilmu dan Pengangkatan Umar bin Abdul Aziz Sebagai Khalifah

Dari Az-Zubair bin Bakkar, dari Al-Utbi, dia mengatakan, “Sesungguhnya proses pertama kali Umar bin Abdul Aziz menuntut ilmu ialah saat ayahnya menjadi gubernur di Mesir, sementara dia masih beliau. Tidak jelas, apakah dia sudah baligh atau belum.

Ketika ayahnya ingin membawanya keluar, Umar berkata, ‘Wahai ayah, mungkin lebih bermanfaat bagiku dan bagimu bila engkau mengirimku ke Madinah, sehingga aku bisa duduk di majelis para ahli fikih Madinah dan beradab dengan adab-adab mereka’.

Ayahnya pun mengirimnya ke ke Madinah. Di sana dia menjadi masyhur dengan ilmu dan akalnya, meskipun usianya masih belia. Kemudia Abdul Malik bin Marwan mengirim utusan kepadanya agar pulang saat ayahnya meninggal, lalu membaurkannya dengan anak-anaknya, dan mengutamakannya dibandingkan sebagian dari mereka, dan menikahkannya dengan putrinya, Fathimah yang dikatakan mengenainya,

Putri Khalifah dan Khalifah adalah kakeknya
Saudari perempuan khalifah dan khalifah adalah suaminya

Abu Mushir mengatakan, “Umar menjadi gubernur Madinah pada pemerintahan Al-Walid, dari tahun 86 hingga 93 H”.

As-Suyuti mengatakan, “Ia sudah hafal Al-Qur’an sejak masih kecil. Ayahnya mengirimkannya ke Madinah agar belajar di sana. Dia pergi bolak balik ke rumah Ubaidullah bin Abdullah untuk mendengar ilmu darinya.

Ketika ayahnya meninggal, Abdul Malik memintanya pergi ke Damaskus, dan menikahkannya dengan putrinya Fatimah. Sebelum menjadi khalifah, Abdul Malik juga unggul dalam keshalihan, hanya saja dia berlebihan dalam bergelimang kenikmatan dan congkak ketika berjalan.

Ketika Al-Walid menduduki tampuk kekhalifahan, dia mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai gubernur Madinah. Dia pun menjadi gubernur di sana sejak tahun 86 hingga 93 H. Setelah Al-Walid memcatnya, di pergi ke Syam.

Kemudian Al-Walid bertekad untuk mencopot saudara, Sulaiman, dari statusnya sebagai putera mahkota, dan bermaksud mengangkat puteranya sebagai putera mahkota.

Banyak dari pemuka menaatinya, baik suka rela maupun terpaksa, tapi Umar bin Abdul Aziz menolaknya seraya berkata, ‘Ada bai’at di leher kami untuk sulaiman’.

Mendengar hal itu, Al-Walid pun murka dan mengurung Umar dalam kamar tertutup. Kemudian dia diberi keringanan setelah tiga hari dan mereka mendapatinya dalam keadaan lehernya telah lemas lunglai.

Ketika hal itu diberitahukan kepada Sulaiman, maka dia memutuskan akan menjadikannya sebagai calon pengganti setelahnya.

Dari Raja’ bin Haiwah, dia mengatakan, “Tatkala Hari Jum’at, Sulaiman bin Abdul Malik memakai pakaian tenun berwarna hijau, dan memandang di cermin seraya mengatakan, ‘Aku, demi Allah, adalah penguasa yang masih muda’.

Kemudian dia pergi ke tempat sholat untuk memimpin manusia melaksanakan sholat Jum’at. Tubuhnya mulai terasa panas karena demam sebelum dia pulang.

Ketika tubuhnya sudah berat, dia menulis surat pengangkatan putera mahkota kepada puteranya, Ayyub sedangkan dia adalah anak yang belum baligh.

Maka aku katakan, ‘Apakah yang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?Sesungguhnya yang menjadikan seorang khalifah terpelihara di kuburnya ialah mengangkat seseorang yang shalih sebagai khalifah’.

Dia mengatakan, ‘Ini adalah surat yang karena aku terus beristikharah kepada Allah. Aku mencermatinya dan aku belum memastikannya’.

Dia pun berdiam sehari atau dua hari, lalu dia membakarnya. Kemudia dia memanggilku seraya berkata, ‘Bagaimana pendapatmu tentang Dawud bin Sulaiman?’

Aku menjawab, ‘Ia hilang di Konstantinopel sementara engkau tidak tahu apakah ia masih hidup ataukah sudah mati?’

Dia mengatakan, ‘Wahai Raja’, lalu siapakah yang engkau pandang?’

Aku katakan, ‘Menurut pendapatmu wahai Amirul Mukminin, sementara akulah yang menilai siapa yang engkau sebutkan’.

Dia mengatakan, ‘Bagaimana pendapatmu tentang Umar bin Abdul Aziz?’

Aku menjawab, ‘Aku mengetahuinya –demi Allah- sebagai orang yang utama, terbaik, Muslim’.

Dia mengatakan, ‘Dia, demi Allah, memang demikian. Namun, jika aku mengangkatnya sementara aku tidak mengangkat seorang pun dari anak Abdul Malik, niscaya hal itu akan menjadi fitnah, dan mereka tidak akan membiarkannya selamanya untuk memimpin mereka. Kecuali bila aku menjadikan salah seorang dari mereka setelah Umar –dan Yazid bin Abdul Malik saat itu hilang di Mausim-‘.

Dia mengatakan, ‘Kalau begitu, aku jadikan Yazid bin Abdul Malik setelah Umar, jika membuat mereka tenang dan ridho’.

Aku katakan, ‘Pendapatmu benar’. Dia pun menulis dengan tangannya,

Amanat Sulaiman kepada Umar

Bismillahirrahmanirrahim

Ini adalah surat dari hamba Allah, Sulaiman, Amirul Mukminin, kepada Umar bin Abdul Aziz. Sesungguhnya aku mengangkatnya sebagai khalifah sesudahku, dan sesudahnya adalah Yazid bin Abdul Malik. Maka dengarlah dia dan taatilah, bertakwalah kepada Allah dan janganlah berselisih sehingga timbul ketamakan (musuh) kepada kalian”.

Dari Sahl bin Yahya bin Muhammad Al-Marwazi, dia mengatakan, Ayahku mengabarkan kepadaku dari Abdul bin bin Umar bin Abdul Aziz, dia mengatakan,

“ Ketika Umar bin Abdul Aziz mengubur Sulaiman bin Abdul Malik dan naik dari tempat kuburnya, dia mendengar tanah bergemuruh, maka dia bertanya, ‘Suara apakah ini?’.

Orang-orang yang ada di sekitarnya menjawab, ‘Ini suara kendaraan kekhalifahan, wahai Amirul Mukminin. Kendaraan ini didekatkan agar Anda menungganginya’.

Dia mengatakan, ‘Aku tidak punya urusan dengan kendaraan itu, jauhkanlah dariku. Bawalah keledaiku kepadaku’. Keledai beliau pun dibawakan kepada beliau, lalu beliau menunganginya.

Ketika pengawal datang berjalan di depannya dengan membawa tombak, maka dia mengatakan, ‘Menjauhlah dariku, aku tidak punya urusan denganmu. Aku hanyalah seorang Muslim’.

Kemudian dia berjalan, sedangkan orang-orang berjalan bersamanya hingga masuk masjid. Kemudian dia naik ke atas mimbar, dan orang-orang berkumpul kepadanya, beliau berkata:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diuji dengan urusan ini tanpa terpikir olehku, tanpa memintanya, dan tanpa pula musyawarah dari kaum muslimin. Sesungguhnya aku telah melepas bai’atku dari leher kalian, maka silahkan kalian pilih untuk diri kalian sendiri’.

Orang-orang pun berteriak dengan teriakan yang sama, ‘Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukminin, dan kami ridha kepadamu, maka pimpinlah urusan kami dengan penuh keberkahan’.

Ketika dia melihat suara tenang, dan manusia telah ridha kepadanya, maka dia memuji Allah dan menyanjungnya serta bershalawat kepada Nabi shallallahu alihi wa sallam, seraya mengatakan,

“Aku berpesan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah adalah pengganti dari segala sesuatu, sedangkan ketakwaan kepada Allah itu tidak memiliki pengganti. Beramallah untuk akhirat kalian, karena barangsiapa beramal untuk akhiratnya, maka Allah Azza Wajalla mencukupi urusan dunianya. Perbaikilah batin kalian, niscaya Yang Maha Pemurah akan memperbaiki zahir kalian. Perbanyaklah mengingat kematian, dan persiapkanlah dengan baik sebelum kematian datang kepada kalian, karena kematian adalah penghancur kenikmatan dunia. dan sesungguhnya barangsiapa yang tidak mengenang bapak yang masih hidup dari kalangan bapak-bapaknya (kakek buyutnya) antara dia dengan Nabi Adam, niscaya itu menyebabkannya berkeringat dalam kematian. Sesungguhnya umat ini tidak berselisih tentang Rabb mereka, tidak tentang Nabi mereka, serta tidak pula tentang Kitab Suci mereka, tetapi mereka berselisih tentang dinar dan dirham. Sesungguhnya, demi Allah, tidak akan memberi satu dirham pun yang bathil kepada seseorang, dan tidak pula menghalangi seseorang dari haknya”.

Dia mengeraskan suaranya hingga semua orang mendengar perkataannya;

“Wahai manusia, barangsiapa menaati Allah, maka dia wajib ditaati. Dan barangsiapa bermaksiat kepada Allah, maka tidak ada ketaatan kepadanya. Taatilah aku selama aku menaati Allah. Jika aku durhaka kepada Allah, maka kalian tidak wajib menaatiku”.

Pujian Para Ulama dan Kecintaan Manusia kepada Umar bin Abdul Aziz

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Khalifah itu ada lima; Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Umar bin Abdul Aziz”.

Dari Zaid bin Aslam, dari Anas radhiyallahu anhu berkata, “Aku tidak pernah shalat di belakang seorang imam pun sesudah Rasulullah shallallahu alihi wa sallam yang lebih mirip shalatnya dengan shalat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dibanding pemuda ini, yakni Umar bin Abdul Aziz, yang saat menjabat sebagai gubernur Madinah. Zaid bin Aslam berkata, “Ia menyempurnakan ruku’ dan sujud, meringankan berdiri dan duduk”.

Muhammad bin Al-Husain pernah ditanya tentang Umar bin Abdul Aziz, maka dia mengatakan, “Dia adalah orang yang paling mulia dari Bani Umayyah, dan dia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat sebagai umat seorang diri”.

Dari Sufyan, dia mengatakan, “Para Ulama bersama Umar bin Abdul Aziz adalah bagaikan murid-muridnya”.

Ketika datang berita wafatnya Umar bin Abdul Aziz, maka Al-Hasan berkata, “Orang terbaik telah meninggal”.

Abu Sa’id Al-Firyabi berkata, dia mengatakan, Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Sesungguhnya Allah mendatangkan kepada manusia pada setiap penghujung seratus tahun (satu abad) orang yang mengajarkan sunnah-sunnah kepada mereka, dan menghilangkan kedustaan dari Rasulullah. Kami memperhatikan, ternyata di penghujung seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul Aziz, dan di penghujung dua ratus tahun (seratus tahun kedua) aalah Imam Asy-Syafi’i”.

Masih banyak lagi pujian-pujian dari para ulama kepada beliau yang menunjukkan keutamaan beliau dalam ilmu dan akhlaknya.

Rasa Takut Kepada Allah dan Tangisan Umar bin Abdul Aziz

Al-Mughirah bin Hakim berkata, “Fathimah bin Abdul Malik mengatakan kepadaku, ‘Wahai Mughirah, mungkin di antara kaum laki-laki terdapat orang yang lebih banyak shalat dan puasanya daripada Umar. Tetapi aku tidak melihat seorang pun dari manusia yang lebih takut kepada Rabbnya daripada Umar. Apabila masuk rumah, dia menjatuhkan dirinya di tempat sujudnya, lalu dia tidak henti-hentinya menangis dan berdoa hingga tertidur. Kemudian dia bangun lalu melakukan hal itu sepanjang malamnya”.

Abdul Aziz bin Al-Walid bin Abi As-Sa’ib mengatakan, “Aku mendengar ayahku mengatakan, ‘Aku tidak melihat seorang pun di mana sebuah rasa takut atau khusyu’ lebih tampak pada wajahnya daripada Umar bin Abdul Aziz”.

Mazid bin Hausyab –saudara Al-Awwam-, berkata, “Aku tidak melihat orang yang lebih takut kepada Allah daripada Al-Hasan dan Umar bin Abdul Aziz. Seakan-akan neraka tidak diciptakan kecuali untuk mereka berdua”.

Kezuhudan Umar bin Abdul Aziz

Maslamah bin Abdul Malik berkata, “Aku menemui Umar bin Abdul Aziz untuk menjenguknya saat sakit, ternyata beliau hanya memakai pakaian kotor, maka aku katakan kepada Fathimah binti Abdul Malik (istri beliau), ‘Wahai Fathimah, cucilah baju Amirul Mukminin’. Fathimah berkata, ‘Aku akan melakukannya, insya Allah’. Kemudian aku kembali lagi, ternyata baju tersebut masih tetap seperti sediakala. Maka aku berkata, ‘Wahai Fathimah, bukankah aku menyuruhmu agar mencuci baju Amirul Mukminin? Karena banyak orang yang akan menjenguknya’. Fahimah berkata, ‘Demi Allah, dia tidak memiliki baju selainnya”.

Dari Sa’id bin suwaid bahwa Umar bin Abdul Aziz mengimami mereka shalat Jum’at, kemudian duduk, dan dia memakai baju yang sudah bertambal di kerah lehernya dari depan dan belakangnya, maka seorang laki-laki berkata kepadanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah memberimu, maka alangkan baiknya bila engkau memakai pakaian yang layak’. Umar pun diam dan menunduk beberapa saat, kemudian mengangkat kepalanya seraya berkata, “Sebaik-baik kesederhanaan adalah pada saat berlebihan dan sebaik-baiknya permberian maaf ialah pada saat memiliki kemampuan untuk membalas”.

Malik bin Dinar berkata, “Orang-orang berkata, ‘Malik adalah orang yang zuhud’, tetapi orang yang benar-benar zuhur adalah Umar bin Abdul Aziz, yaitu orang yang datang dunia kepadanya tetapi dia meninggalkannya”.

Abu Umayyah Al-Khasyi, budak Umar berkata,”Suatu hari aku menemui tuan putriku, lalu dia memberiku makan Adas, maka aku bertanya, ‘Setiap hari makan Adas?’ Dia menjawab, ‘Wahai anakku, ini adalah makanan tuanmu, Amirul Mukminin”.

Ahmad bin Abu Al-Hawari mengatakan, “Aku mendengar Abu Sulaiman Ad-Darani dan Abu Shafwan berdebat tentang Umar bin Abdul Aziz dan Uwais Al-Qarni. Abu Sulaiman berkata kepada Abu Shafwan, ‘Umar bin Abdul Aziz lebih zuhud daripada Uwais’. Abu Shafwan berkata kepadanya, ‘Mengapa?’ Dia menjawab, ‘Karena Umar adalah Raja dunia, lalu dia berzuhud di dalamnya’. Abu Shafwan berkata kepadanya, ‘Seandainya Uwais adalah raja dunia, niscaya dia berzuhud padanya sebagaimana yang dilakukan Umar’. Abu Sulaiman berkata, ‘Jangan menjadikan orang yang sudah mengalaminya sama sebagaimana orang yang belum pernah mengalaminya. Sesungguhnya orang yang dunia mengalir di kedua tangannya tapi tidak memiliki tempat di hatinya lebih utama daripada orang yang dunia tidak pernah mengalir di kedua tangannya, meskipun itu tidak memiliki tempat di hatinya”.

Sikap Wara’ Umar bin Abdul Aziz

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.