Batas-Batas Waktu Sholat Fardhu

Waktu Sholat – Dalam mengerjakan ibadah, ada sejumlah hal yang mesti diperhatikan agar ibadah sholat diterima oleh Allah dan tidak sia-sia, seperti rukun, syarat, wajib sholat dan lainnya.

Salah satu syarat diterimanya sholat yang wajib diperhatikan ialah waktu sholat, terutama sholat lima waktu yang terdiri sholat subuh, sholat dzuhur, sholat ashar, sholat magrib dan sholat isya.

Kaum muslimin sepakat bahwa sholat lima waktu dalam sehari memiliki waktu pelaksanaan tersendiri, yang mengharuskan kita melakukannya pada waktunya.

Bila dikerjakan di luar waktunya, maka sholat tersebut dianggap batal dan tidak sah. Dasar hal ini adalah firman Allah Azza Wajalla,

“Sesunggguhnya Sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. Qs. An Nisa’: 103.

Berikut ini penjelasan mengenai waktu waktu sholat lima waktu

Waktu Sholat Dzuhur

Dzuhur berarti waktu tergelincir, dan yang dimaksud adalah tergelincirnya matahari dari titik tengah langit hingga bergerak ke arah barat. Al Mugni (1/372)

Ketika melaksakan sholat dzuhur, seseorang harus tepat berada di waktu dzuhur. Dinamakan ‘dzuhur’ karena ia adalah sholat pertama yang dilakukan oleh malaikat jibril bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, sholat ini juga dinamakan dengan Al-Hajirah dan Al-Ula.
Diriwayatkan dari Abu Barzah, ia berkaa bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan sholat Al-Hajirah atau yang disebut dengan Al-Ula, ketika matahari begeser ke barat atau ketika tergelincir.

Awal Waktu Dzuhur

Awal waktu dzuhur adalah ketika matahri tergelincir, atau condongnya matahari ke arah barat.

Hal itu berdasarkan kesepakatan ulama yang didasarkan pada pemberitahuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana tersebut dalam hadits Barzah.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وقت الظهر، إذا زالت الشمس وكان ظل الرجل كطوله مالم يحضر العصر، ووقت العصر مالم تصفر الشمس، ووقت صلاة المغرب مالم يغب الشفق، ووقت صلاة العشاء إلى نصف الليل الأوسط، ووقت صلاة الصبح من طلوع الفجر مالم تطلع الشمس، فإذا طلعت الشمس فأمسك عن الصلاة، فإنها تطلع بين قرني شيطان.

“Waktu dzuhur adalah ketika matahari tergelincir, saat bayangan seseorang sama dengan tinggginya (postur aslinya), selama belum masuk waktu ashar.

Waktu ashar adalah selagi matahari belum berwarna kekuning-kuningan. Waktu sholat magrib adalah selama cahaya merah belum sirna.

Waktu sholat isya adalah setelah habisnya waktu magrib hingga pertengahan malam.

Waktu sholat subuh dimulai dari munculnya fajar hingga terbit matahari. Apabila matahari telah menyingsing, maka janganlah kau sholat, sesungguhnya ia muncul di antara dua tanduk setan”. HR. Muslim no.612

Akhir Waktu Dzuhur

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, namun pendapat yang benar adalah yang menyatakan bahwa akhir waktu sholat dzuhur adalah ketika bayangan sesuatu sama dengan asalnya.

Apabila bayangan telah tergelincir melebihi benda aslinya, maka itu pertanda telah masuknya waktu ashar.

Namun pendapat ini bertentangan dengan apa yang diyakini oleh Abu Hanifah, bahwa akhir waktu dzuhur adalah ketika bayangan sesuatu itu dua kali lipat panjangnya, kecuali bayangan saat tergelincir.

Adapun dasar yang dipakai oleh para ulama sebagai berikut:

1. Hadits Ibnu Umar, sebagaimana yang telah disebutkan di atas

2. Hadits Jabir bin Abdillah Al Anshari, ia berkata,

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sall pernah keluar dari rumah, kemudian melaksanakan sholat dzuhur ketika matahari telah tergelincir,

dan panjang bayangan sama dengan tali sandal, lalu beliau mengerjakan sholat ashar ketika bayangan sama dengan kadar tali sandal dan panjang orang,

kemudian beliau mnegerjakan sholat magrib ketika matahari tenggelam, kemudian beliau mengerjakan sholat isya ketika cahaya-cahaya menghilang, lalu beliau mengerjakan sholat Fajar ketika fajar menyingsing.

Kemudian beliau melaksanakan sholat dzuhur pada esok harinya ketika bayangan orang sama ketika bayangan orang sama dengan panjang orang,

kemudian beliau melaksanakan sholat ashar ketika bayangan seseorang dua kali lipat panjang orang, seperti kadar seorang penunggang hewan tunggangannya menuju ke Dzil Hulaifah,

kemudian beliau melaksanakan sholat magrib ketika matahri telah tenggelam, lalu melaksanakan sholat isya pada sepertiga malam atau tengah malam – di sini Abu zaid merasa ragu – kemudian beliau melaksanakan sholat fajar saat waktu telah terang”. HR> An-Nas’i (1/261), dan Al-Irwa’ (1/270)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sall selesai melaksanakan sholat dzuhur ketika panjang bayangan segala sesuatu sama dengannya,

dan sholat ashar pada hari pertama adalah ketika panjang bayangan juga sama dengannya. Dari penjelasan ini tidak ada kesamaan antara keduanya. Nail Al Authar (1/374)

Tidak dikatakan bahwa jika panajang bayangan sesuatu sama dengannya adalah tanda masuk waktu sholat ashar, tapi saat itu belum keluar dari waktu sholat zuhur,

dan masih bisa melaksanakan sholat empat rakaat dzuhur, setelah itu waktu ashar masuk, seperti inilah yang diyakini oleh sebagian orang.

Dalam melaksanakan sholat zuhur, disunnahkan mengerjakannya di awal waktu, hal ini seperti yang dijelaskan dalam hadits jabir bin samrah, ia berkata,

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan sholat dzuhur saat matahari tergelincir”. HR. Muslim no.618 dan lainnya.

Yang dimaksud tergelincir dalam hadits di atas adalah ketika matahari lebih condong ke barat.

Namun ketika cuaca panas, disunnahkan untuk mengakhirkannya, hal ini berdasarkan pada hadits, bahwa ketika cuaca sedang dingin, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera melaksanakan sholat dan ketika cuaca sedang panas, beliau mengakhirkan pelaksanaannya. HR. Al Bukhori no.906, 534

Abu Dzar berkata, “Kami pernah dalam perjalanan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian muadzdzin ingin mengumandangkan adzan dzuhur, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata;

“Tunggulang hingga dingin”, lalu muadzin ingin mengumandangkan adzan lagi, maka beliau berkata, “Tunggulah hingga dingin” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi dua kali atau tiga kali, kemudian bersabda:

“Panas yang memuncak adalah dari kobaran api neraka jahannam, jika matahari sangat panas, maka tundalah sholat hingga cuaca lebih dingin”. HR. Al Bukhori no.539 dan Muslim no.616

Batas menunggu cuaca menjadi dingin antara satu tempat dengan tempat yang lain tidak sama, yang terpenting adalah tidak sampai akhir waktu sholat dzuhur.

Baca Juga:
Waktu Terbaik Sholat Tahajud

Waktu Sholat Ashar

Ashar adalah kata yang dipakai untuk menunjukkan waktu sore, atau ketika langit berwarna kemerah-merahan, dan saat tersebut menunjukkan akhir dari waktu siang.

Karena itu, pelaksanaannya harus tepat berada pada waktu ashar. Sholat ini juga disebut sholat Al-Wustha.

Sholat ini merupakan sholat yang sangat berat bagi orang-orang munafik. Mereka tidak mengerjakannya kecuali waktu sholat ashar akan habis sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits.

Olehnya itu, hendaknya seorang muslim mengerjakan sholat ashar tepat waktu, yakni mengerjakannya di awal waktunya.

Awal Waktu Sholat Ashar

Waktu sholat ashar dimulai saat panjang bayangan sama seperti wujud asli suatu benda – pendapat ini adalah menurut jumhur ulama kecuali Madzhab Hanafi -.

Adapun yang menjadi dalil pendapat ini adalah seperti yang telah dijelaskan.

Awal waktu sholat yakni ketika waktu dzuhur telah habis, yang mana akhir waktu dzuhur adalah ketika panjang bayangan suatu benda sama dengan tinggi benda aslinya.

Akhir Waktu Sholat Ashar

Ada beberapa hadits yang menunjukkan hal ini, yang diambil dari berbagai macam periwayatan;

– Hadits yang diriwayatkan dari Jabir dalam pembahasan tentang imamah Jibril terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah melaksanakan sholat ashar di hari pertama,

ketika ukuran bayangan sama dengan wujud asli suatu benda, dan di hari kedua ketika ukuran bayangan dua kali lebih panjang dari wujud asli suatu benda… kemudian beliau bersabda, “Waktu – Sholat dzuhur – adalah antara dua waktu itu”.

Dalam hal As-Syafi’i berpendapat demikian (meskipun boleh memilih salah satu dari dua waktu tersebut), juga Imam Malik, ia memilih salah satu dari dua riwayat tersebut. Bidayatul Mujtahid (1/126)

– Dalam hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, yang diriwayatkan secara marfu’, dijelaskan “Waktu sholat ashar adalah ketika matahari belum berwarna kekuning-kuningan”.

Hadits itulah yang menjadi dasar dari pendapat Ahmad, Abu Tsaur, dan riwayat ini adalah dari Malik. Al-Mughni (1/376)

– Ada juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu MUSa, dalam sebuah cerita seseorang yang bertanya tentang waktu sholat…Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan sholat ashar pada hari pertama saat matahri sedang tinggi,

dan pada hari kedua beliau melaksanakan sholat ashar pada akhir waktu ashar. Namun ada yang mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakannya ketika matahari berwarna kemerah-merahan…”. HR. Muslim no.614, Abu Daud no. 395, dan An-Nasa’i (1/260)

– Hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
“Siapa yang mendapatkan satu rakaat sari sholat ashar sebelum matahari terbenam, maka ia dianggap mendapati sholat ashar”. HR. Al Bukhori no.579 dan Muslim (163/260)

Ishak dan para pendukung madzhab Dzohiry berpendapat, “Akhir waktu sholat ashar adalah satu rakaat sebelum terbenamnya matahari”. Bidayatul Mujtahid (1/126)

Kesimpulan

Dalil-dalil yang digunakan sebagai dasar, semua mengacu pada hadits Jibril yang menerangkan waktu pilihan untuk sholat dan hadits Ibnu Umar yang menjelaskan tentang waktu yang diperbolehkannya sholat,

serta hadits Abu Hurairah yang menjelaskan ketika ada udzur atau hal-hal yang belum jelas.

Dari uraiaan ini bisa disimpulkan bahwa bahwa sholat ashar dibagi menjadi:

1. Waktu Utama Sholat Ashar/ Awal waktu sholat Ashar, yaitu ketika panjang bayangan sama dengan tinggi benda sampai panjang bayangan dua kali dari tinggi benda.

2. Waktu Mubah sholat ashar / boleh dan tidak makruh, yakni mulai ketika panjang bayangan telah mencapai dua kali panjang benda hingga matahri menguning.

3. Waktu Makruh Sholat Ashar, yaitu saat matahari menguning hingga mendekati tenggelam.

4. Waktu Haram sholat Ashar, yaitu mengakhirkan sholat ashar hingga waktu yang tidak diperkenankan.

Sholat Ashar yang dikerjakan pada waktu yang telah disebutkan di atas disebut dengan adaa-an / bukan qodho’,

Sebagaimana yang dijelaskan dalam kifayatul akhyar, hal.80 dan juga disebutkan dalam Al-Iqna’ (1/197) yang menyebut waktu ashar sampai tujuh waktu.

Adapun orang yang suka menunda sholat ashar sampai matahri menjelang tenggelam, maka itulah yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sholatnya orang munafik. Rasulullah bersabda:

“Itulah sholat orang munafik, ia duduk menanti matahari di antara dua tanduk setan, lalu ia berdiri dan melaksanakan sholat empat rakaat dengan cepat. Tidaklah ia mengingat Allah kecuali seidkit”. HR. Muslim no.622

Disunnahkan Menyegerakan Sholat Ashar

Hadits Anas, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan sholat ashar ketika matahari tinggi dan terik, lalu orang-orang pergi ke Al-Awali dan mereka sampai ketika matahari masih tinggi”. (HR. Al-Bukhori no. 550 dan Muslim no. 621).

Sebagian dari daerah Awali berada sekitar empat mil dari Madinah

Dari Rafi’ bin Hudaij, ia berkata, “Kami pernah melaksanakan sholat Ashar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kami menyembelih kambing, lalu kami bagi menjadi sepuluh bagian, kami memasaknya lalu memakan daging matang sebelum matahari terbenam.

Meyegerakan Sholat Ashar Ketika Cuaca Gelap

Pada saat cuaca gelap sangat memungkinkan adanya percampuran dua cuaca yang tidak jelas, sehingga seseorang tidak mengetahui bahwa waktu yang ada telah habis, karena ketidak-tahuan, atau bisa jadi matahari telah berubah menjadi kekuning-kuningan sebelum ia melaksanakan sholat.

Diriwayatkan dari abu Al-Malih, ia berkata, “Kami pernah bersama Buraidah pada saat perang, waktu itu cuaca sedang gelap, lalu ia berkata, ‘segeralah melaksanakan sholat ashar, sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من ترك صلاة العصر فقد حبط عمله

“Barangsiapa meninggalkan sholat ashar, amak amalnya sia-sia”. HR. Al-Bukhori no.553, An-Nasa’i (1/83), dan Ahmad (5/349)

Kabar gembira bagi yang melaksanakan sholat ashar dan kabar duka bagi yang meninggalkannya.

– Allah Ta’ala berfirman, “Peliharalah segala Sholatmu dan peliharalah Sholat wustha. Berdirilah karena Allah dalam sholatmu dengan khusyu’”. Qs. Al-Baqarah: 238.

Yang dimaksud dengan sholat wustha adalah sholat ashar –menurut pendapat yang benar- hal berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

شغلونا عن الصلاة الوسطى: صلاة العصر

“ Kami telah disibukkan dari sholat AL Wustha; Sholat ashar”. HR. Al Bukhori no.2931 dan Muslim no.627 dan lafas hadits adalah miliknya.

– Dari Abu Bashrah Al-Gifari Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kami pernah melaksanakan sholat Ashar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makhmash, lalu bersabda:

إن هذه الصلاة عرضت على من كان قبلكم فضيعوها، فمن حافظ عليها، كان له أجره مرتين، ولا صلاة بعدها حتى يطلع الشاهد

“Sesungguhnya Sholat ini pernah diperintahkan kepada ummat sebelum kalian, namun mereka menyia-nyiakannya, barangsiapa yang menjaganya,

maka ia mendapatkan dua kali lipat pahala, dan tidak ada sholat baginya hingga saksi –malam hari (bintang)- nampak”. HR. Muslim no.830

– Dari Imarah bin Ru’aibah Radhiyallahu anhu berkata, saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لن يلج النار أحد صلى قبل طلوع الشمس وقبل غروبها

“Tidak akan tersentuh api neraka seseorang yang sholat sebelum matahari terbit (Fajar) dan sebelum terbenamnya (Ashar)”. HR. Muslim no.634

– Hadits Buraidah yang diriwayatkan secara marfu’, “Siapa yang meninggalkan sholat ashar, maka amalnya sia-sia”.

Ibnu Qoyyim berkata, yang bisa difahami dari hadits tersebut adalah bahwa meninggalkan sholat terbagi menjadi dua bagian, pertama, menunggalkan tanpa terkecuali, maka yang inilah yang dapat membuat amal ibdaha sia-sia secara keseluruhan.

Yang kedua, meninggalkan sholat tertentu pada hari tertentu, maka hal ini membuat amal dan ibadah di hari tertentu itu sia-sia.

Hal ini berlaku untuk orang yang meninggalkannya karena menyia-nyiakannya dan memandang remeh karena waktunya masih tersisa, padahal ia sanggup melaksanakannya dengan segera.

– Dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang yang meninggalkan sholat Ashar, maka ia seperti telah dirampas / kehilangan keluarga dan hartanya”. HR. Al-Bukhori no. 552 dan Muslim 626/200

Baca Juga:
Waktu Terbaik Sholat Witir

Waktu Sholat Magrib

Magrib berarti terbenamnya matahari, atau ketika amtahari tenggelam. Adapun kata ‘magrib’ menurut bahasa berarti waktu terbenam dan tempatnya. Saat-saat seperti itulah dipakai untuk pelaksanaan sholat magrib. Al Misbah Al Munir dan Kasysyaf Al Qana’ (1/253)

Namun waktu yang demikian itu, disamping dipakai untuk sholat magrib, dipakai juga untuk menunjukkan waktu sholay isya.

Namun hal ini tidak disukai karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana yang tersebut dalam As-Shohihain:

لا تغلبنكم الأعراب على اسم صلاتكم المغرب

“Jangan sampai orang-orang Badui mengalahkan kalian dalam menamakan sholat magrib”.

Mereka menamakan sholat magrib dengan sholat isya.

Awal Waktu Sholat Magrib

Waktu sholat magrib dimulai ketika matahari terbenam dan hilang secara sempurna. Hal ini seperti yang dimaksud ole Ijma’ ulama.

Tanda lain juga bisa diketahui, yaitu dengan hilangannya cahaya dari atas gunung dan datangnya gelap malam dari arah timur serta munculnya bintang-bintang. Al-Bada’i’ (1/123)

Akhir Waktu Sholat Magrib

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat, yang terbagi menjadi dua golongan:

1. Sholat magrib hanya memiliki satu waktu, ayitu setelah terbenamnya matahri, dengan perkiraan, persiapan untuk sholat / bersuci, menutup aurat, adzan, yang dikumandangkan untuk sholat, hal ini menurut Madzhab Malik, Al-Auza’i, dan Asy-Syafi’i.

Adapun dalil yang mereka pergunakan adalah hadits tentang imamah malaikat Jibril bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada hari pertama dan kedua pelaksanaannya dalam satu rentan waktu.

Dalil mereka yang lain ialah hadits yang diriwayatkan oleh Suwaid bin Ghufnah, ia berkata, saya mendengar Umar bin Khoththab berkata, “Sholatlah kalian dengan sholat ini pada saat jalanan dalam keadaan terang; sholat magrib”.

2. Akhir dari waktu sholat magrib adalah ketika cahaya merah telah hilang.

Ini adaalh pendapat Ats_tasaur, Ahmad, Abu Tsur dan Pengikut Imam Asy-Syafi’i. Pendapat ini juga dishohihkan oleh An-Nawawi dan dipilih oleh Ibnu Mundzir.

Mereka mengatakan bahwa inilah pendapat yang shahih. Adapun dalil yang mendasarinya adalah sebagai berikut:

– Hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan secara marfu’, “Waktu sholat Magrib adalah selagi cahaya merah belum hilang…”

– Hadits Abu Musa, tentang pertanyaan seseorang yang berkenaan dengan waktu-waktu sholat,

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan sholat magrib di hari pertama ketika matahari tenggelam, dan pada hari kedua waktu akhir sholat magrib adalah ketika cahaya merah matahri telah hilang…” dan seperti ini juga hadits yang didiwayatkan Abu Buraidah. HR. Muslim no.613 dan lainnya.

– Hadits Zaid bin Tsabit, bahwa ia berkata untuk Marwan, “Mengapa kamu menegerjakan sholat Magrib dengan surat ang pendek dan Al-Mufashshal? Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan sholat dengan surat thuli Thulain (Al-A’raf)”. HR. Al-Bukhori no.764, An-Nasa’i (2/170)

Seperti yang diketahui bahwa cara baca Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tartil, huruf perhuruf dengan rukuk dan sujud yang sempurna,

Hal ini menunjukkan bahwa waktu sholat Magrib terbentang hingga hilangnya cahaya merah matahari.

– Hadits Anas, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda:

إذا قدّم العشاء فابدءوا به قبل صلاة المغرب، ولا تجعلوا عن عشائكم

“Jika makan malam telah dihidangkan, maka mulailah dengannya untuk makan sebelum sholat Magrib, dan janganlah kalian mempercepat makan malam kalian”. HR. Al-Bukhori no.672 dan Muslim no.557

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah yaitu,

إذا أقمت الصلاة وحضر العشاء، فابدءوا بالعشاء

“Apabila iqamah telah didirikan (hendaklah dilaksanakan sholat) dan makan malam telah dihidangkan, maka mulailah dengan makan malam (terlebih dahulu)”. HR. Al-Bukhori no.671

Hal ini menunjukan bolehnya mengakhirkan sholat Magrib hingga menyantap hidangan makan malam.

– Hadits Muadz, ia pernah melaksanakan sholat Magrib bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menemui kaumnya dan mengimaminya. HR. Al-Bukhori no.711 dan Muslim no.465

Disunnahkan Menyegerakan Sholat Magrib

– Diriwayatkan dari Rafi’ bin Hudaj, ia berkata, “Kami pernah melaksanakan sholat Magrib bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu salah seorang dari kami berlalu karena ia melihat tempat anak panahnya. HR. Bukhori no.559 dan Muslim no.637

– Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تزال أمتي بخير –أو قال: على الفطرة- مالم يؤخروا المغرب إلى أن تشتبك النجوم

“Ummatku akan tetap dalam keadaan baik, -atau beliau bersabda, tetap dalam fitrah- selama mereka tidak mengakhirkan sholat magrib hingga bintang-bintang bermunculan”. HR. Abu Daud no.414 dan Ahmad (4/147), dishohihkan oleh Al-Albani

Baca Juga:
• Waktu Sholat Hajat

Waktu Sholat Isya

Isya’ adalah awal dari kondisi gelap setelah waktu Magrib hingga kondisi benar-benar gelap gulita . dinamakan demikian karena sholat ini dikerjakan pada saat-saat tersebut.

Nama lain dari sholat ini adalah Isya’ yang terakhir (Isya’ Al-Akhirat) seperti tersebut dalam Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أيما امرأة أصابت بخورا فلا تشهد معنا العشاء الآخرة

“Wanita mana saja yang mengenakan wewangian, maka ia tidak boleh ikut meyaksikan sholay isya bersama kami”. HR. Muslim no.444, Abu Daud no.4175, dan An-Nasa’i no.5128

Awal Waktu Sholat Isya

Para ulama sepakat bahwa awal waktu sholat isya al-akhirah adalah ketika syafaq (cahaya merah matahari) benar-benar telah hilang.

Namun dalam hal ini mereka berbeda pendapat, apa warna yang dimaksud?, jumhur ulama berpendapat bahwa ia adalah yang berwarna merah. Al-Auza’i, Abu Hanifah dan Zafar berpendapat bahwa ia adalah warna putih setelah merah.

Catatan:

Pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran adalah pemdapat pertama, sebab dialah yang berdalil, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan sholat ketika syafaq benar-benar telah hilang.

Sebab bagi mereka yang memiliki ilmu astrologi berpendapat bahwa warna putih terang tidak akan hilang, kecuali pada sepertiga malam pertama. Nail Al-Authar (2/16)

Dalil lainnya adalah seperti yang tersebut dalam hadits Aisyah bahwa mereka pernah melaksanakan sholat antara hilangnya Syafaq hingga sepertiga malam pertama. HR. Al-Bukhori no. 569 dan Muslim no.218

Dengan demikian maka dapat kita simpulkan bahwa syafaq adalah yang berwarna merah bukan yang berwarna putih. Wallahu a’lam.

Akhir Waktu Sholat Isya

Dalam hal penetuan akhir waktu sholat isya, para ulama berbeda pendapat, dimana mereka terbagi menjadi tiga kubu:

1. Akhir waktunya adalah hingga sepertiga malam.

Pendapat ini yang diyakini oelh Asy-Syafi’i dalam Ijtihad terbarunya (qaulul jadid) namun baginya akhir waktu ini adalah bersifat pilihan, karena dalam kitabnya, Al Umm, ia tidak berpendapat bahwa ketika seseorang sudah lewat batas waktu sepertiga dianggap telah kehilangan waktunya, demikian halnya dengan Abu Hanifah serta pendapat masyhur dai madzhab Maliki. Al-Ausath (2/343)

Adapun dalil yang mereka jadikan dasar adalah hadits tentang imamah malaikat Jibril terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Bahwa sesungguhnya ia melaksanakan sholat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari kedua pada sepertiga waktu malam”.

2. Waktu akhirnya adalah separuh dari waktu malam.

Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, Ishak, Abu Tsur, dan Asy-Syafi’i dalam pendapat lamanya (qaulul qodim, boleh melaksanakan sholat isya setelah, namun hal itu adalah sesuatu yang makruh)

Dan menurut Asy-Syafi’i, hal itu adalah waktu pilihan, seseorang boleh melakukannya hingga waktu fajar datang, demikian juga dengan pendapat Ibnu Hazm.

Dalil yanh mereka jadikan dasar adalah hadits Ibnu Umar, “Waktu sholat isya adalah hingga pertengahan malam…”

3. Akhir waktu sholat isya adalah hingga munculnya fajar shodiq / walaupun seseorang tidak berada dalam kondisi darurat.

Ini adalah pendapat dari Atha’, Thawus, Ikrimah, dan Daud Adz-Dzahiri.
Dalil yang mereka gunakan adalah riwayat yang diambil dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma dan Abu Hurairah. Hal ini juga dipilih oleh Ibnu Mundzir. Al-Ausath (2/3465).

Dan diantara dalil yang mereka gunakan adalah sebagai berikut:

– Hadits Abu Qotadah yang diriwayatkan secara marfu’, “Sesungguhnya kecerobohan itu bagi orang yang tidak melaksanakan sholat hingga datang waktu sholat yang berikutnya”.

– Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لولا أن أشق على أمتي لأخرت العشاء إلى شطر الليل

“Kalau saja tidak karena takut memberatkan ummatku, niscaya aku akhirkan sholat Isya hingga pertengahan malam”.

Pendapat yang benar

Hadits yang paling kuat dijadikan dasar dari batsan waktu sholat isya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, hal ini juga dianggap benar oleh Asy-Syaukani, anmun ia menjadikan akhir dari waktu ini bersifat pilihan.

Adapun waktu diperbolehkan melaksanakan sholat isya ialah hingga terbitnya fajar, hal ini berdasarkan hadits yang dibawa oleh Abu Qotadah, ia berkata,

“Yang jelas adalah waktu isya itu hingga masuknya waktu sholat yang berikutnya, kecuali waktu untuk sholat fajar, sebab ia dikhususkan dari waktu-waktu yang lain, dan inilah ijma’ ulama”.

Waktu Sholat Subuh / Fajar

Fajar adalah cahaya merah Matahari, dan yang dimaksud adalah cahaya pagi. Fajar di akhir malam adalah seperti cahaya merah di awal waktunya.
Fajar terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Fajar Kadzib

persegi panjang berwarna berwarna putih yang terlihat di langit, kemudian menghilang dan berganti dengan kegelapan.

2. Fajar Shadiq

warna putih yang bergaris dan terlihat di ufuk, cahayanya bertambah terang hingga matahri terbit. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

لا يمنعنكم من سحور كم أذان بلال ولا الفجر المستطيل، ولكن الفجر المستطير في الأفق

“Tidaklah mencegah kalian dari makan sahur kalian, adzan bilal maupun Fajar horizontal (fajar kadzib), melainkan fajar vertikal (fajar shadiq) yang melintang di ufuk (pertanda masuknya waktu sholat subuh)”. HR. Muslim no.1094

Pada Fajar yang kedua inilah semua hukum bergantung, hingga sholat Fajar pun dinamakan demikian, karena ia dilakukan pada waktu fajar, walaupun ia juga dinamakan dengan sholat subuh dan sholat Ghadat.

Awal Waktu Sholat Subuh

Akhir Waktu Sholat Subuh

Disunnahkan Menyegerakan Sholat Subuh

Permasalahan yang Berkaitan Dengan Waktu-waktu Sholat

Waktu adalah bagian sholat yang paling ditekankan

– Melaksanakan sholat pada waktunya adalah yang ditekankan, sebab waktu adalah kewajiban sholat.

Seseorang tidak boleh mengakhirkan waktu sholat, walaupun seseorang dalam keadaan junub, terkena najis di bajunya, dan lain-lain.

– Allah memuji orang-orang yang menjaga sholat tepat pada waktunya.

– Sholat yang dilaksanakan pada waktunya tergolong amalan yang terbaik, dan itulah yang dicintai oleh Allah.

– Peringatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya agar tidak mengikuti umara’ dalam mengakhirkan sholat

– Anas bin Malik menceritakan bahwa mangakhirkan sholat dari waktunya tanpa ada udzur yang jelas adalah menyalahi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ia sama dengan telah menyia-nyiakan sholat.

Dengan Apa Sholat Diketahui Tepat Pada Waktunya

Dalam masalah ini ada perbedaan pandangan di kalangan ulama menjadi dua:

a. Ia dapat diketahui dengan adanya takbiratul ihram.

Yang berpendapat demikian adalah mereka yang mengikuti madzhab Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan yang masyhur dari madzhab Ahmad.

b. seseorang bisa mengetahui sholat dengan melihat satu rakaat penuh.

Pendapat ini dipilih oleh Malik dan riwayat dari Ahmad. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Taimiyah, karena pendapat ini yang paling kuat.

Udzur / Alasan Yang Membolehkan Untuk Mengakhirkan Sholat

1. Tidur

2. Lupa

3. Dipaksa

4. Menjama’ dua sholat bagi yang diperbolehkan untuk menjama’

5. Dalam kondisi sangat takut

Hal-Hal Yang Menggugurkan Pelaksanaan Sholat Secara Tertib

1. Sempitnya waktu sholat

2. Khawatir waktu pelaksanaan waktu sholat jamaah terlewat

3. Hilangnya sholat yang tidak mungkin diqadha, seperti sholat jumat

4. Lupa

5. Karena ketidaktahuan

Kesimpulan

Demikian penjelasan mengenai waktu sholat fardhu yang wajib diperhatikan oleh setiap muslim.

Bagi orang yang sulit mengetahui masuk dan habisnya waktu sholat, hendaknya melihat dan menjadikan waktu sholat yang telah disusun oleh kementrian agama sebagai patokan untuk mengerjakan sholat.

Semoga tulisan singkat ini bisa memberikan tambahan ilmu untuk menjalankan kewajiban kita sebagai hamba dengan sebaik-baiknya.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.